LOGINMobil itu membawa mereka kembali ke hotel tempat mereka menginap, melewati hiruk-pikuk jalanan pagi yang mulai padat. Di dalam kendaraan yang hangat dan senyap itu, Valesco tertidur sambil memeluk Leah, tubuhnya sedikit meringkuk seperti seseorang yang baru saja selamat dari serangan badai.
Wajahnya tampak damai dalam tidur, tapi masih ada sisa-sisa kelelahan di sekitar matanya. Nafasnya berat, tapi stabil. Tangannya tetap melingkari tubuh Leah, seolah alam bawah sadarnya pun menolak u
Sosok lelaki dengan tampang rupawan itu menyodorkan tumpukan chip ke dealer dengan tangan tegas, matanya hijau menatap tajam ke atas meja judi. Cahaya lampu temaram memantul di permukaan gelas kristal dan meja hijau, menambah atmosfer ketegangan di ruangan. Setiap gerakan Kaelmore Roderic terlihat penuh kendali, presisi, dan sedikit misterius.“All In” Suara Kaelmore terdengar datar, tapi tegas, menembus riuh musik dan percakapan di klub. Dealer mengangkat alis, sedikit terkejut dengan taruhan yang begitu besar.Di sekeliling meja, tiga perempuan seksi dengan pakaian minim dan wangi parfum yang memikat. Mereka berdiri dekat Kaelmore, tahu jika pria itulah yang paling memikat disana.Tubuh mereka menempel lembut, tangan mereka sesekali menyentuh lengannya, mengusap bahu atau lengan, seolah ingin menggoda sekaligus menunjukkan kekuasaan dunia malam di sekitar pria itu. Tapi Kaelmore tetap tenang. Sorot matanya tetap dingin, menatap kartu dengan fokus t
“Pergilah Larisa” usir KaelPerempuan bergaun merah itu merengut. Bibir tebalnya yang dibalut dengan lipstik merah mengerucut “Aku Melisa bukan Larisa”Valeriah menahan napas, hampir tersedak menahan tawa di balik sorot matanya yang masih menatap Kaelmore. Ia tak bisa menahan bayangan dalam kepalanya: lelaki itu berdiri tegap, tatapan hijau menusuk, tapi dengan mudahnya mengusir perempuan yang jelas ingin mendekatinya.Dalam hatinya, Valeriah bergumam sinis: “Tentu saja. Lelaki ini pasti punya banyak wanita yang bermain-main di sekitarnya. Tampan, kaya, dan penuh wibawa… siapa yang tidak ingin?”Tanpa aba-aba, Valeriah mengambil langkah disisi kanan perempuan itu. Mengabaikan tatapan Kael yang terus mengikutinyaDi ujung koridor, di dekat pintu keluar utama, Morgan sudah berdiri menunggunya. Pengawal setia itu tetap tenang, ekspresinya datar tapi waspada, memindai setiap sudut seolah bisa merasakan bahaya
Langkah-langkah Valeriah terdengar tergesa di sepanjang koridor marmer. Ia meninggalkan ruang lelang yang masih bergemuruh dengan sorak dan tepuk tangan, berusaha menyingkir dari tatapan penasaran para tamu.Nafasnya masih tersengal, pikiran campur aduk antara kagum dan cemas. Semua lukisan yang Valeriah ciptakan kini berada di tangan satu orang. Kaelmore Roderic, lelaki itu.“Pergi tanpa menyapaku, kitten?”Tubuh Valeriah membeku. Perlahan ia menoleh. Di ujung koridor yang diterangi cahaya lampu gantung, Kaelmore berdiri. Tinggi, tegap, dingin, dengan jas hitam sempurna yang seakan menelan seluruh cahaya di sekitarnya. Tatapan hijaunya, menusuk langsung ke dalam diri Valeriah.“Kenapa kau disini?”Kaelmore melangkah mendekat, langkahnya tenang tapi penuh kepastian, membuat marmer di bawah kakinya seakan bergetar halus di telinga Valeriah.“Aku mengikutimu, tentu saja.” Bisik Kaelmore, suara dalam dan ding
Edinburgh, SkotlandiaSuasana sore di Edinburgh dipenuhi cahaya keemasan yang jatuh dari jendela kaca besar galeri tua yang berdiri anggun di jantung kota. Dari luar, bangunan itu tampak megah, dengan pilar-pilar batu abu-abu yang kokoh, menyimpan sejarah panjang seni dan kebudayaan. Begitu pintu kaca besar dibuka, aroma khas cat minyak, kayu tua, dan anggur mahal segera menyergap hidung para tamu yang hadir.Ruangan utama galeri itu dipenuhi percakapan berbahasa Inggris dengan berbagai aksen Eropa. Gaun-gaun mahal bergoyang anggun, jas hitam dengan dasi kupu-kupu berkilau, serta sepatu kulit yang berderap ringan di lantai marmer. Para tamu melangkah perlahan, sebagian berhenti di depan lukisan, sebagian lain berfoto dengan sampanye di tangan.Di salah satu sudut ruangan, Valeriah berdiri. Gaun panjang satin berwarna biru gelap membungkus tubuhnya, kontras dengan kulitnya yang pucat dan rambut hitam panjang yang digelung rendah. Ada sesuatu dalam tatapannya mala
Awalnya Valeriah datang ke Washington guna menghibur diri dan melupakan ingatan kelamnya tentang malam ia kehilangan keperawanan. Tapi setelah dirinya pikirkan lagi, semua itu sama sekali tak penting.Masa bodo.Lagipula siapa yang mau menghakimi? Dunia Eropa tempat ia tumbuh dan bersosialisasi jauh lebih liar dari sekadar itu. Gadis seusianya bercampur dengan lelaki yang lebih tua, pesta wine dan musik hingga fajar, rahasia yang disimpan dalam hotel-hotel mewah yang hanya mereka tahu.Jadi, apa artinya satu malam kelam dibandingkan semua topeng yang pernah ia pakai?Ia tersenyum miring di depan cermin besar di kamarnya. Jemarinya menyusuri garis leher, lalu berhenti di kalung kecil pemberian ibunya. Dari pantulan kaca, sorot matanya terlihat dingin, jauh berbeda dengan wajah manja yang biasanya ia tunjukkan pada keluarganya.Menghibur diri?Tidak.Ia datang ke Washington bukan hanya untuk itu. Ia butuh pelarian. Butuh ruang
Setelah makan siang dan menghabiskan waktu dengan mamanya, Valeriah berjalan menuju studio lukisnya.Bangunan berbentuk kubah dengan diameter hampir lima belas meter itu berdiri di sisi kanan Mansion Maximoff, terhubung dengan taman mawar putih yang selalu dirawat Leah dengan penuh cinta.Dinding luarnya didominasi kaca transparan, sehingga sinar matahari sore bisa menembus masuk dan memandikan ruang itu dengan cahaya keemasan.Begitu membuka pintu, aroma khas cat minyak dan terpentin langsung menyambutnya.Di dalam, kanvas-kanvas setengah jadi berderet tak teratur, sebagian hanya berupa coretan kasar, sebagian lagi nyaris selesai namun ditinggalkan begitu saja. Di tengah ruangan, ada sebuah kanvas besar yang masih kosong. Putih polos, seakan menantangnya.Valeriah meletakkan sketsa bukunya di meja kayu panjang yang penuh noda cat, lalu melepas sweater tipis yang tadi Ia kenakan. Ia menggulung lengan bajunya, mengambil kuas, dan mulai mencampur war
Sudah hampir tiga jam lamanya Leah duduk di halte bus dengan mata yang menatap lurus kedepan. Angin mulai berubah arah, mengangkat debu-debu halus dari jalanan dan membuat matanya perih.“Sialnya aku..” Gumam Leah memeluk dirinya sendiri. Tubuhnya terasa mengigil namun pandanga
Mobil Valesco meluncur cepat keluar dari halaman Rumah Kasih. Tak ada kata yang terucap di antara mereka. Hanya deru mesin dan detak di dada Leah yang masih belum beraturan.Leah duduk diam di kursi penumpang, wajahnya setengah menoleh ke luar jendela. Tapi pikirannya tidak ada di luar. Ia
Tak lama setelah kejadian itu, mereka kembali masuk ke ruang utama.Leah mengajak Valesco duduk di lantai, di antara anak-anak dan orang dewasa dengan berbagai kondisi. Rey duduk tak jauh dari mereka, menggambar mobil dan pesawat di atas kertas lecek. Seorang wanita tua memeluk bantal dan
“Kau benar-benar menerima tawaran Kenneth Arden?” tanya Seleste setelah menarik Leah menuju ruang pribadi miliknya. Sebuah ruangan hangat berisi rak-rak buku tua, pot tanaman berdaun hijau segar, dan aroma teh melati yang samar. Di sudut, kursi rotan menghadap jendela besar yang mengh







