로그인Hujan menggantung di langit sore, menetes pelan di balik kaca besar ruang praktik Leah Caldwell. Aroma kopi hitam yang sudah mendingin bercampur dengan wangi antiseptik yang menenangkan namun sejak kemarin, aroma itu tak terasa menenangkan lagi.
Pikirannya Leah dipenuhi potongan-potongan yang tak menyatu.
Berita tentang keluarga Arden yang selalu Leah hindari mendadak ia telusuri hingga pagi.
Leah menghela napas panjang, menatap langit abu-abu di luar. Lima tahun ia berus
Infimary Hospital, Edinburgh Skotlandia“Semuanya tampak normal, Nona. Tidak ada tanda-tanda penyakit menular atau infeksi serius” ucap Dr. Alice sembari menatap layar monitor.Valeriah menghela napas lega, namun senyum tipis itu langsung memudar saat dokter menambahkan dengan nada hati-hati“Hanya… ada bekas lecet di dinding rahim. Sepertinya ini dari aktivitas seksual sebelumnya. Tidak ada yang membahayakan kesehatan Anda secara keseluruhan, tapi memang cukup signifikan sehingga perlu istirahat dan perhatian.”Wajah Valeriah langsung memerah, bukan hanya karena malu, tapi juga karena semua yang baru saja terjadi kembali menghantam pikirannya. Napasnya tercekat, dan tangannya menggenggam bawahn dress di pangkuannya lebih erat, seolah ingin menutupi rasa malu dan frustasi yang menderanya.“Terima kasih dokter” Ucap ValeriahValeriah keluar dari ruang periksa dengan langkah pelan, masih memegangi dre
Sosok lelaki dengan tampang rupawan itu menyodorkan tumpukan chip ke dealer dengan tangan tegas, matanya hijau menatap tajam ke atas meja judi. Cahaya lampu temaram memantul di permukaan gelas kristal dan meja hijau, menambah atmosfer ketegangan di ruangan. Setiap gerakan Kaelmore Roderic terlihat penuh kendali, presisi, dan sedikit misterius.“All In” Suara Kaelmore terdengar datar, tapi tegas, menembus riuh musik dan percakapan di klub. Dealer mengangkat alis, sedikit terkejut dengan taruhan yang begitu besar.Di sekeliling meja, tiga perempuan seksi dengan pakaian minim dan wangi parfum yang memikat. Mereka berdiri dekat Kaelmore, tahu jika pria itulah yang paling memikat disana.Tubuh mereka menempel lembut, tangan mereka sesekali menyentuh lengannya, mengusap bahu atau lengan, seolah ingin menggoda sekaligus menunjukkan kekuasaan dunia malam di sekitar pria itu. Tapi Kaelmore tetap tenang. Sorot matanya tetap dingin, menatap kartu dengan fokus t
“Pergilah Larisa” usir KaelPerempuan bergaun merah itu merengut. Bibir tebalnya yang dibalut dengan lipstik merah mengerucut “Aku Melisa bukan Larisa”Valeriah menahan napas, hampir tersedak menahan tawa di balik sorot matanya yang masih menatap Kaelmore. Ia tak bisa menahan bayangan dalam kepalanya: lelaki itu berdiri tegap, tatapan hijau menusuk, tapi dengan mudahnya mengusir perempuan yang jelas ingin mendekatinya.Dalam hatinya, Valeriah bergumam sinis: “Tentu saja. Lelaki ini pasti punya banyak wanita yang bermain-main di sekitarnya. Tampan, kaya, dan penuh wibawa… siapa yang tidak ingin?”Tanpa aba-aba, Valeriah mengambil langkah disisi kanan perempuan itu. Mengabaikan tatapan Kael yang terus mengikutinyaDi ujung koridor, di dekat pintu keluar utama, Morgan sudah berdiri menunggunya. Pengawal setia itu tetap tenang, ekspresinya datar tapi waspada, memindai setiap sudut seolah bisa merasakan bahaya
Langkah-langkah Valeriah terdengar tergesa di sepanjang koridor marmer. Ia meninggalkan ruang lelang yang masih bergemuruh dengan sorak dan tepuk tangan, berusaha menyingkir dari tatapan penasaran para tamu.Nafasnya masih tersengal, pikiran campur aduk antara kagum dan cemas. Semua lukisan yang Valeriah ciptakan kini berada di tangan satu orang. Kaelmore Roderic, lelaki itu.“Pergi tanpa menyapaku, kitten?”Tubuh Valeriah membeku. Perlahan ia menoleh. Di ujung koridor yang diterangi cahaya lampu gantung, Kaelmore berdiri. Tinggi, tegap, dingin, dengan jas hitam sempurna yang seakan menelan seluruh cahaya di sekitarnya. Tatapan hijaunya, menusuk langsung ke dalam diri Valeriah.“Kenapa kau disini?”Kaelmore melangkah mendekat, langkahnya tenang tapi penuh kepastian, membuat marmer di bawah kakinya seakan bergetar halus di telinga Valeriah.“Aku mengikutimu, tentu saja.” Bisik Kaelmore, suara dalam dan ding
Edinburgh, SkotlandiaSuasana sore di Edinburgh dipenuhi cahaya keemasan yang jatuh dari jendela kaca besar galeri tua yang berdiri anggun di jantung kota. Dari luar, bangunan itu tampak megah, dengan pilar-pilar batu abu-abu yang kokoh, menyimpan sejarah panjang seni dan kebudayaan. Begitu pintu kaca besar dibuka, aroma khas cat minyak, kayu tua, dan anggur mahal segera menyergap hidung para tamu yang hadir.Ruangan utama galeri itu dipenuhi percakapan berbahasa Inggris dengan berbagai aksen Eropa. Gaun-gaun mahal bergoyang anggun, jas hitam dengan dasi kupu-kupu berkilau, serta sepatu kulit yang berderap ringan di lantai marmer. Para tamu melangkah perlahan, sebagian berhenti di depan lukisan, sebagian lain berfoto dengan sampanye di tangan.Di salah satu sudut ruangan, Valeriah berdiri. Gaun panjang satin berwarna biru gelap membungkus tubuhnya, kontras dengan kulitnya yang pucat dan rambut hitam panjang yang digelung rendah. Ada sesuatu dalam tatapannya mala
Awalnya Valeriah datang ke Washington guna menghibur diri dan melupakan ingatan kelamnya tentang malam ia kehilangan keperawanan. Tapi setelah dirinya pikirkan lagi, semua itu sama sekali tak penting.Masa bodo.Lagipula siapa yang mau menghakimi? Dunia Eropa tempat ia tumbuh dan bersosialisasi jauh lebih liar dari sekadar itu. Gadis seusianya bercampur dengan lelaki yang lebih tua, pesta wine dan musik hingga fajar, rahasia yang disimpan dalam hotel-hotel mewah yang hanya mereka tahu.Jadi, apa artinya satu malam kelam dibandingkan semua topeng yang pernah ia pakai?Ia tersenyum miring di depan cermin besar di kamarnya. Jemarinya menyusuri garis leher, lalu berhenti di kalung kecil pemberian ibunya. Dari pantulan kaca, sorot matanya terlihat dingin, jauh berbeda dengan wajah manja yang biasanya ia tunjukkan pada keluarganya.Menghibur diri?Tidak.Ia datang ke Washington bukan hanya untuk itu. Ia butuh pelarian. Butuh ruang
Mobil Valesco meluncur cepat keluar dari halaman Rumah Kasih. Tak ada kata yang terucap di antara mereka. Hanya deru mesin dan detak di dada Leah yang masih belum beraturan.Leah duduk diam di kursi penumpang, wajahnya setengah menoleh ke luar jendela. Tapi pikirannya tidak ada di luar. Ia
Tak lama setelah kejadian itu, mereka kembali masuk ke ruang utama.Leah mengajak Valesco duduk di lantai, di antara anak-anak dan orang dewasa dengan berbagai kondisi. Rey duduk tak jauh dari mereka, menggambar mobil dan pesawat di atas kertas lecek. Seorang wanita tua memeluk bantal dan
“Kau benar-benar menerima tawaran Kenneth Arden?” tanya Seleste setelah menarik Leah menuju ruang pribadi miliknya. Sebuah ruangan hangat berisi rak-rak buku tua, pot tanaman berdaun hijau segar, dan aroma teh melati yang samar. Di sudut, kursi rotan menghadap jendela besar yang mengh
Valesco mematung.Ciuman Leah di keningnya terasa seperti cahaya kecil yang masuk ke celah temboknya yang selama ini tertutup rapat. Bukan seperti panasnya gairah, tapi kehangatan yang asing dan justru karena itu, terasa menakutkan.Matanya tetap terpaku pada wajah Leah yang kini su







