Home / Romansa / Sentuhan Adik Sahabatku / Bab 06. Godaan Belum Usai.

Share

Bab 06. Godaan Belum Usai.

Author: eslesta
last update Huling Na-update: 2025-12-10 16:43:44

Cantik?

Apa-apaan ini?

Sejak kapan ia bisa disini?

Jennar berjalan pelan di samping Birru, tumit stilettonya memantul nyaring di lantai marmer lobi.

Dia bisa merasakan tatapan Daniel yang masih menempel di punggungnya dari dalam kafe—tatapan yang menusuk, seolah Daniel punya hak atas hidupnya setelah semua pengkhianatan itu.

Untung tadi Birru datang tepat waktu, menyudahi potensi drama murahan antara dia dan Kinanti. Dan untungnya— kenapa juga dia ada disini?

“Sama-sama…” ucapan itu tiba-tiba terlepas dari bibir Birru tanpa beban. Tangan kanannya santai memegang paper cup kopi Americano milik Jennar, sementara tangan kiri masuk dalam saku celana.

Jennar menatapnya dengan mata terbelalak, ragu. “Maksudnya?” suaranya pelan, seperti menunggu jawaban yang aneh.

Birru melirik setengah malas.

“Oh, ya ampun. Kalau gitu makasih ya, Birru,” jawab Jennar, nadanya datar, pikirannya masih tertinggal di masa lalu yang remuk itu.

“Mbak memang susah banget bilang makasih, ya?”

Jennar hanya menggeleng pelan, pikirannya masih melayang ke kejadian di kafe tadi. Wajah Daniel terus terbayang, sosok yang dulu begitu dikenalnya—teman, pasangan, hingga pemimpi masa depan. Kini, dia merasa seperti tidak mengenal pria itu lagi.

“Mbak…” tegur Birru, frustrasi.

Birru menghela napas panjang, jari-jarinya segera menekan tombol panel lift. “Tadi aku bilang, aku nggak cukup cuma denger ‘terima kasih’. Harus ada reward-nya juga.”

Jennar memicingkan mata, setengah tak percaya. “Hah? Emang kamu bilang gitu?”

“Makanya jangan ngelamun mulu,” sahut Birru tepat saat pintu lift terbuka, menyelamatkannya dari bantahan.

Keduanya melangkah masuk ke dalam lift, hanya berdua dalam kotak besi yang bergetar pelan. Jennar dengan santai menekan angka lima di panel. Birru tetap diam, tangannya erat menggenggam paper cup kopi yang belum tersentuh.

“Btw, kamu ke sini mau apa?” tanya Jennar, mencoba menyembunyikan rasa penasaran. “Terus kenapa kamu bisa disini?”

Birru menoleh sesaat, matanya mencuri pandang ke pantulan wajah Jennar di cermin lift. “Meeting,” jawabnya pelan.

Jennar berbalik menghadapi Birru, alisnya berkerut. “Di lantai berapa?”

“Lima,” jawab Birru singkat, tanpa melepas genggaman di cangkir kopi.

“Meeting sama siapa?” Jennar mendesak, tatapannya semakin ingin tahu.

“Helena Salim. Head of Architect & Design Development.”

Mata Jennar membesar dan Birru, sialnya, menikmati reaksi itu.

”Itu atasanku! Kamu? Jangan bilang kamu yang punya Flexity?!” serunya setengah terkejut.

Birru hanya mengangguk, wajahnya tipis tersenyum.

Jennar mengusap dahinya pelan, lalu tertawa kecil. “Ya Tuhan! Jadi, kamu yang tadi dibicarakan Mbak Helena sebelum aku turun.”

Birru hanya bisa terkekeh kecil. “Kenapa sih mbak kaget gitu?”

“Kamu masih kecil loh, Ru. Flexity itu kan perusahaan besar?”

“Mbak.” tukasnya berhenti. “Itu kan punya keluargaku.”

Jennar membeku. Ah… iya kah?

Keduanya keluar bersamaan, langkah kaki mereka beriringan di lorong yang sepi.

Namun, tepat sebelum berpisah ke arah yang berbeda, tangan Birru tiba-tiba meraih pergelangan Jennar dan itu cukup untuk membuat jantungnya berhenti sepersekian detik.

“Pulang kerja nanti, aku tunggu di apartemen Kak Alexa. Masakin makan malam sebagai ucapan terima kasih buat tadi. Tenang aja, Kak Alexa pulang malem. Kita aman kok. Eh, makasih juga buat kopinya,” suara Birru santai tapi penuh maksud.

Jennar membeku, matanya sekilas menatap Birru yang sudah mulai melangkah santai menuju meja resepsionis dengan plakat NeoLand Development yang berkilauan di bawah lampu, untuk konfirmasi kedatangannya.

Sementara itu, Jennar melangkah cepat ke lorong menuju ruang divisinya.

Jennar menjatuhkan diri ke kursi beroda, menghela napas panjang. Apa yang harus dia masak malam ini?

Namun pikirannya justru terusik oleh sosok laki-laki yang baru dua hari terakhir muncul tiba-tiba di mana-mana, entah kenapa selalu bersinggungan dengan hidupnya.

“Tuhan… kenapa Birru terus ada di sekelilingku?” gumamnya kesal sambil menyalakan laptop.

“Aku kira kemarin itu pertemuan terakhir…” desahnya pelan.

Cahaya layar laptop menyala, menyorot wajahnya yang letih akan tetapi matanya tetap kosong. Satu nama kini berputar terus di kepalanya: Birru.

***

Malam menyergap lebih cepat dari biasanya saat Jennar berdiri di depan pintu apartemen mewah Alexa dengan kepala pusing akibat pengaruh alkohol. Setelah melihat kemesraan Daniel dan Kinanti di kafe tadi, akhirnya ia melarikan diri lagi pada minuman.

Jari Jennar menekan PIN di panel pintu dengan gemetar, dan pintu terbuka pelan. Ia melangkah masuk, nyaris tersandung langkahnya yang goyah.

Aroma alkohol menyusup sebelum tubuhnya sepenuhnya terlihat—rambut berantakan, pipi memerah, dan matanya yang setengah kosong namun penuh gejolak emosi.

Begitu pintu tertutup di belakangnya, ia melepaskan stilettonya sembarangan.

“Lex.” katanya dengan senyum miring yang tampak rapuh. “Udah pulang belum?”

Birru yang sejak tadi santai duduk di sofa, kakinya terlipat tanpa beban, tiba-tiba menegakkan badan saat mendengar pintu terbuka dengan suara nyaring.

Ia cepat-cepat berdiri, kaus putih tipis membalut lengan kekarnya yang tegas, celana pendek rumahnya membuat sosoknya terlihat lebih muda.

Jennar yang kini berdiri di ambang ruang keluarga, menatapnya dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu menelan ludah berat.

“Birru…” Jennar memicingkan mata sambil setengah tertawa. “Kenapa kamu … kok gede banget hari ini?”

Birru kaget. Mata yang ia tatap sayu, dan… lelah. “Mbak mabuk?”

Jennar menggeleng dengan langkah goyah, tumit kakinya tak beraturan saat berjalan. “Enggak. Aku cuma...,” katanya sambil melirik nakal. “Lagipula, kamu kan janji mau masak bareng aku. Eh, bukan, aku yang masak... buat kamu...”

Jennar berhenti tepat di depan Birru, jarak mereka begitu dekat sampai Birru bisa merasakan hangat napasnya dan aroma manis alkohol yang tercium samar.

Jennar menggoda, "Kenapa kaus kamu gitu banget, Ru?”

Birru memejamkan mata, menarik napas panjang. “Mbak … tidur aja.”

Jennar malah menyeringai kecil, telapak tangannya menekan dada Birru dengan santai. “Ototmu keras banget, ya? Sejak kapan kamu gym—”

“Mbak Jennar.” Birru memegang pergelangan tangannya, lembut tapi tegas. “Jangan begitu. Mbak lagi nggak sadar penuh.”

“Aku sadar,” bantah Jennar cepat. “Aku sadar kamu keliatan… hmm.” Matanya menelusuri Birru lagi.

Birru menelan ludah, dadanya berdebar. Sial, dia benar-benar goyah kali ini.

Tanpa berkata lebih lanjut, Birru menggenggam lengan Jennar, membimbingnya perlahan. “Mbak tidur di kamar tamu atau mau di kamarku? Mbak istirahat aja. Rencana masaknya kita batalkan dulu.”

Jennar mengikuti dengan langkah goyah, terkekeh kecil lalu hampir tersandung. “Kamu marah?”

“Nggak.”

Ia mendongak. “Kenapa?”

“Aku kira Mbak udah nggak akan sentuh minuman lagi,” gumam Birru, hampir tak terdengar.

Jennar terdiam sejenak, kemudian tertawa getir, matanya redup.

Akhirnya mereka melangkah masuk ke kamar tamu, disambut oleh cahaya lampu kuning yang hangat dan lembut.

Birru menunduk pelan, tangannya sigap membantu Jennar melepas blazer-nya. Jennar diam, matanya tak berkedip mengikuti setiap gerak Birru—cara pemuda itu menahan napasnya, tangan yang berusaha hati-hati agar tak menyentuh kulitnya terlalu lama, seolah takut melanggar batas tak terlihat.

“Kalau aku tidur di kamar kamu…” gumam Jennar lirih.”Kamu mau tidur samaku, nggak?”

“Bukan saatnya, Mbak Jennar,” balas Birru, menahan diri dari godaan.

“Kenapa? Karena aku mabuk?” Jennar tersenyum, pahit. “Atau karena kamu takut sama aku?”

Birru berhenti sejenak, dadanya berdegup lebih cepat, lalu dengan hati-hati membimbing Jennar duduk di tepi kasur.

Tepat saat ia hendak menjauh, Jennar meraih pergelangan tangannya dengan cepat, kuat, tak terduga, lalu menariknya.

“Sshh—”

Birru tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Tubuh mereka terjatuh berbarengan di atas kasur, terpental lembut. Terdengar tawa kecil dari Jennar, tapi tawa itu seperti menyembunyikan luka yang tak terucap dan logika yang terbalik.

Birru cepat-cepat mencoba bangkit, tapi Jennar menggenggam ujung kaus putihnya erat, menariknya kembali. Wajah mereka berjarak hanya beberapa inci—dekat, terlalu dekat.

“Birru…” bisik Jennar pelan, matanya tampak berkabut tapi jujur. “Kenapa kamu selalu ada saat aku butuh?”

Birru menahan napas, dadanya berdebar. “Karena aku … memang selalu ada di sini.” Suaranya hampir tak terdengar.

Jennar melemparkan senyum samar yang menyimpan bahaya lebih dalam dari godaan mana pun yang pernah Birru rasakan.

“Jangan pergi dulu,” pintanya lirih.

Birru memejamkan mata, berusaha meredam getaran di seluruh tubuhnya, menahan segala hasrat yang hampir meluap. “Mbak Jennar, kamu tidur aja. Mbak lagi gak—”

Ucapan Birru langsung terhenti ketika bibir Jennar tiba-tiba menyambar bibirnya begitu saja, dan mulai menciumnya.

Bersambung...

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 75. Akhirnya Sah!

    Napas Birru mengembun tipis di kaca jendela mobil saat kendaraan yang dikemudikan Alexa berbelok memasuki kompleks perumahan Jennar.Birru meremas ujung beskap putih gading yang dikenakannya. Kainnya halus, tapi telapak tangannya dingin dan lembap.“Rileks, Ru,” suara Dania lembut, jemarinya mengusap pundak putranya.Birru menelan salivanya. “Nggak bisa, Ma…”Alexa melirik dari balik kemudi. “Coba pikirkan hal yang menyenangkan.”Birru mengembuskan napas kasar. Menyenangkan? Dadanya seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang menabrak-nabrak tulang rusuknya.“Pikirkan waktu pertama kali kamu sadar kamu jatuh cinta sama Jennar,” lanjut Alexa dengan suara lebih pelan. “Ingat kenapa kamu yakin dia itu wanita yang tepat.”Kalimat itu terasa seperti tangan tak kasatmata yang menahan pundaknya agar tak runtuh.Wajah Jennar terlintas—senyumnya yang teduh, cara dia menyebut namanya dengan lembut, tatapan matanya yang selalu jujur.Namun, mobil tiba-tiba berhenti.Di depan sana, tenda putih membent

  • Sentuhan Adik Sahabatku   bab 74. Sebelum Akad.

    Rumah sederhana milik keluarga Jennar pagi itu berubah menjadi sangat ramai. Biasanya, halaman depan hanya diisi suara sapu lidi dan tawa anak-anak tetangga. Kini, tenda panjang bernuansa emas dan putih membentang gagah, kainnya berayun pelan diterpa angin pagi. Tiang-tiangnya dihiasi rangkaian bunga segar yang aromanya semerbak. Kursi-kursi tamu berjajar rapi, dengan pita-pita kecil di sandarannya yang menambah cantik suasana. Dari dalam rumah terdengar denting sendok, suara memanggil nama, dan tawa yang saling bersahutan. Di ruang tamu, meja akad sudah siap. Taplak putih membentang tanpa noda, di atasnya tersusun Al-Qur’an dan seperangkat alat ijab kabul. Kursi-kursi berbalut kain putih dan pink berdiri manis, dengan bunga hidup di tengahnya yang masih berembun. Di depan rumah, pelaminan berdiri anggun, seolah menunggu dua insan yang akan duduk berdampingan sebagai suami istri beberapa jam lagi. “Jen!” suara Priska menyusup ke dapur. Jennar berdiri sambil memegang cangkir, menu

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 73. Jelang Pernikahan.

    “Ru… Papa kabur.”Sendok kecil di tangan Birru berhenti setengah jalan. Saus Padang merah menyala menetes kembali ke piring, meninggalkan jejak lengket di keramik putih.Dia mengunyah sangat pelan, seolah butuh waktu untuk mencerna bukan hanya kepiting di mulutnya, tapi juga kalimat itu.“Kakak tahu dari mana?” tanyanya akhirnya, dengan suara datar.Alexa berdiri di seberang meja island, jemarinya masih menggenggam tisu yang tadi dipakai untuk membersihkan tangan. “Mama telepon. Waktu aku ke kamar tadi.” Ia menelan saliva. “Papa ke luar negeri, Ru. Beberapa hari lalu.”Sendok Birru berbunyi pelan saat diletakkan. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap dinding beberapa detik sebelum kembali mengambil capit kepiting di piringnya. Cangkangnya ia patahkan sedikit lebih keras, retakannya terdengar tajam.“Oh,” gumamnya. Hanya satu suku kata, tapi rahangnya mengeras.Daging kepiting ia congkel keluar, lalu dimasukkan ke mulut tanpa benar-benar dinikmati. Tangannya penuh saus, tapi ia ta

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 72. Grand Opening.

    Jam dinding baru menunjukkan pukul 09.12 ketika suara sepatu beradu cepat di lantai keramik TRIPLE BREAK BILLIARD.“Banner depan udah lurus belum? Jangan miring lagi!” seru Tommy dari balik bar sambil memasang botol-botol minuman satu per satu ke rak tertinggi.Raka, salah satu staf, berlari kecil sambil menggendong gulungan kabel tambahan, wajahnya tampak sedikit kesal karena angin yang kencang. “Udah, Bang! Tapi tadi anginnya bener-bener bikin susah,” katanya dengan nafas tersengal.Di sisi lain ruangan, Jordi berdiri goyah di atas kursi, kedua tangan sibuk merapikan balon hitam-hijau yang membingkai pintu masuk dengan bentuk melengkung. Vanya, kekasihnya, menahan kursi di bawah kaki Jordi agar tak tergelincir.“Baby, kalau aku jatuh, kamu yang pegangin ya,” celetuk Jordi sambil tersenyum nakal.Vanya mendengus pelan, matanya menatap tajam. “Turun aja kalau kamu takut.”Jordi terkekeh, menurunkan pandangan, “Enggak, aku cuma wanti-wanti aja.”Tak jauh dari mereka, Birru bergerak cep

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 71. Kabur Dari Masalah.

    Birru berdiri di lantai dua, kedua tangannya menekan pagar besi hitam berlapis doff. Matanya tak lepas menatap hiruk-pikuk lantai satu TRIPLE BREAK BILLIARD—suara gesekan bola yang saling bertubrukan, dentingan logam stik yang diuji coba, dan aroma kayu baru yang masih bercampur dengan bau cat basah memenuhi udara.Lampu gantung bergaya industrial menyala hangat, memantulkan cahayanya ke permukaan meja hijau yang mengkilap. Di atas bar, spanduk Grand Opening terbentang rapi meski banner promosi di sudut masih sedikit miring, sementara para staf sibuk mengelap gelas dan menyusun kursi.Napasnya tersendat. Sepuluh hari lagi ia akan menikah, dan besok tempat ini akan dibuka untuk umum—mimpi yang sempat terasa mustahil, apalagi setelah kejadian beberapa minggu lalu yang hampir menghancurkan segalanya.Birru menarik napas dalam-dalam, bibirnya bergetar pelan. “Semoga besok nggak ada yang meledak lagi... semoga semuanya lancar seperti yang kuharap,” gumamnya sambil menengok ke meja hijau ya

  • Sentuhan Adik Sahabatku   Bab 70. Perlawanan Alexa.

    Jennar baru saja melintas di depan ruang keluarga ketika suara ibunya menghentikan langkahnya.“Jen.”Nada itu tidak keras, tapi cukup membuatnya berhenti. Priska duduk lebih tegak di sofa, buku kecil bersampul cokelat sudah terbuka di pangkuannya.Jennar menoleh. “Ya, Ma?”“Ada waktu sebentar? Mama mau bahas persiapan nikah kamu.”Jennar menggeser tali tas selempangnya yang hampir melorot, lalu berjalan mendekat. Ia duduk di ujung sofa, meletakkan tasnya pelan di samping. “Ada kok, Ma. Kenapa?”Priska menghela napas kecil, jari-jarinya merapikan halaman catatan yang dipenuhi angka dan lingkaran tinta biru.“Tadi pihak tenda sama dekorasi datang. Minta uang muka.” Ia menyebutkan angka-angka itu pelan, seolah takut membuatnya terasa berat. “Mama sudah kasih tujuh juta. Sisanya lima juta nanti setelah pesta.”Ia mendongak, mencari reaksi di wajah putrinya. “Make-up pengantin dan keluarga juga sudah Mama lunasi, dua juta. Nggak apa-apa, kan?”Jennar tersenyum, “Nggak apa-apa, Ma. Makasih

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status