Masuk“Ini kan rumahnya, Mbak?” tanya Birru sambil mencondongkan tubuh sedikit, memastikan nomor rumah. Ia pernah ke sini sekali, bertahun-tahun lalu, ketika dirinya masih berseragam putih abu-abu.
Mobil yang dikemudikan Birru melambat, lalu benar-benar berhenti di depan sebuah rumah sederhana dua lantai dengan pagar hitam yang catnya sudah mulai mengelupas dimakan cuaca. Jennar tersenyum kecil. “Iya. Makasih, Ru. Ternyata benar kamu pernah ke sini.” Ia merapikan tasnya, hendak membuka pintu mobil. “Aku nggak diajak mampir?” goda Birru, suaranya ringan tapi ada sesuatu yang mendesak di balik itu. Jennar menoleh cepat, tiba-tiba gugup. “Eh? Kamu mau mampir?” Birru tertawa pelan, menggeleng. “Enggak, Mbak. Bercanda. Mending Mbak masuk dan istirahat. Wajah Mbak cape banget.” Ucapan itu dikeluarkan Birru tanpa memikirkan dampaknya. Begitu selesai bicara, ia justru terdiam, tercengang pada dirinya sendiri dan berpikir sejak kapan dia peduli pada seorang perempuan? Jennar hanya menghela napas. “Ya sudah. Makasih, ya. Hati-hati pulangnya.” “Ya, Mbak.” Birru memperhatikan Jennar turun dari mobil. Cara langkahnya pelan, sedikit gontai, membuat Birru ingin turun juga dan memastikan ia sampai dengan baik, tetapi ia menahan diri. Jennar membuka pagar dan menghilang di balik pintu rumah. Begitu pintu itu tertutup, Birru menghela napas panjang. Pandangannya turun pada jok penumpang. Aroma parfum Jennar yang tipis masih tertinggal, manis, tidak memaksa tapi menempel. “Sial,” umpatnya lebih pada perasaan aneh yang semakin mendesak di dada. Pria berusia dua puluhan itu menekan pedal gas lagi, tapi hatinya seakan tertinggal di depan pagar rumah Jennar. Sementara itu di ruang keluarga yang televisinya menyala, Ghea hampir melompat dari sofa saat mendengar pintu ruang tamu dibuka. “Itu pasti Mbak Jennar pulang!” serunya bersemangat. Jennar yang muncul dari lorong ruang tamu, hanya melirik singkat. Pengalaman mengajarinya kalau semakin besar senyum Ghea, semakin besar kemungkinan ada permintaan menyusul. “Ghea, Mbak mandi dulu, ya,” ucap Jennar, lebih mirip peringatan daripada permohonan. Tidak sampai tiga detik, suara Priska, ibunya, melengking dari arah dapur. “Baguuus! Anak perawan pertama Mama baru pulang? Tidur di mana kamu?!” Ia berjalan mendekat sambil membawa mangkuk bubur kacang hijau, yang langsung disodorkan ke Ghea. Jennar berbalik, menghadap sang ibu. “Aku tidur di tempat Alexa, Ma. Maaf nggak ngabarin, HP lowbat semalam.” Priska mengenduskan hidungnya. “Kamu bau sekali! Kamu tidur di rumah Alexa atau kamu jadi anak nakal, hah?!” Ghea tersentak kecil . “Maksud Mama … Mbak Jennar mabuk?” “Lihat aja penampilan kakakmu itu. Kusut, bau,” gerutu Priska. Jennar mengepal rahang. Setiap pulang, selalu begini. Tidak pernah ada ruang untuk menjelaskan, tidak pernah ada ruang untuk sekadar dipahami. Hanya tuntutan, hanya penilaian. Seolah-seolah ia selalu menjadi anak yang salah dan terkadang ia berpikir bukan anak kandung. “Ma, sudahlah. Jennar pusing dan lengket. Jennar ke kamar dulu,” katanya singkat, memilih mundur daripada membalas. Jennar naik ke lantai dua dengan langkah cepat. Begitu sampai di dalam kamar, ia mengembuskan napas lega karena ruang paling aman dalam hidupnya hanya kamar tidurnya yang tidak terlalu luas ini. Perempuan bertubuh ramping itu melepas pakaiannya satu per satu, dan aroma alkohol langsung menyergap hidungnya. Baju itu berbau klub, berbau putus asa, dan tiba-tiba saja ia merasa itu sedikit berbau Birru? Ia langsung menggelengkan kepalanya. Jennar buru-buru meraih handuk dan masuk ke kamar mandi. Begitu air hangat menyentuh kulitnya, tubuhnya otomatis merileks, tapi pikirannya tetap liar berlari. Tampak kilasan wajah Daniel dengan senyum yang dulu ia percaya, pelukan yang membuatnya merasa aman, dan semua itu kini berubah menjadi racun. “Enam tahun, Daniel…” gumamnya lirih, suara bergetar. Air shower jatuh deras, seolah menertawakan ketidaktahuannya. Jennar mengangkat tangan, memukul dinding dengan pelan namun penuh emosi yang terpendam. “Pantes selalu nunda rencana pernikahan. Ternyata ada orang lain yang bisa dia peluk…” Suara itu menggantung di udara dan terlalu pahit untuk dilanjutkan. Kakinya melemas. Jennar perlahan merosot, duduk di lantai kamar mandi, memeluk lututnya. Air hangat mengucur lewat rambutnya, bercampur dengan air mata yang akhirnya tak bisa ia tahan lagi. Tangisnya lirih, tertahan, tapi pecah pada setiap helaan napas. Waktu seperti mengalir tanpa suara di sekitar Jennar. Saat gelombang amarahnya mulai mereda, pikirannya tiba-tiba berbelok ke arah yang tak terduga—ke seseorang yang seharusnya tak pernah ia pikirkan, Birru. Jennar menutup wajahnya dengan kedua tangan. “Apa aku sebinal itu?!” Wajahnya memerah bukan hanya karena air hangat, tapi juga karena malu yang merayap hingga ke dada. Ia menggeleng cepat, berusaha mengusir bayangan itu. Namun bayangan itu justru semakin jelas, semakin nyata, dan semakin mengikat. Ironisnya, Jennar tak menyadari bahwa momen memalukan yang ingin ia lupakan itulah yang tanpa sadar mulai mengikatnya pada Birru. *** Jennar menarik napas dalam, mencoba merapikan lipatan kerah blazer merah yang sudah dia pakai sejak pagi. Matanya masih saja terasa sembab, bekas air mata semalaman yang tumpah tak henti, mengingat Daniel. Gadis cantik itu memaksakan diri bekerja, meskipun tumpukan dokumen di meja hanya membuat denyut kepalanya semakin nyaring, tapi diam di rumah akan lebih menyiksa. “Kayaknya aku butuh kopi deh…” bisiknya pelan, seperti membujuk diri yang hampir runtuh. Matanya menoleh ke arah Helena, atasannya yang sedang sibuk mengetik tanpa suara. Jennar berharap, perempuan itu tak keberatan kalau dia izin sebentar keluar membeli kopi. Belum sempat ia bangkit, ponselnya bergetar keras. Nama Alexa memenuhi layar. “Ya, halo, Lex?” suaranya keluar dengan nada berat dan enggan. “Lo ngantor hari ini?” Alexa langsung tanya tanpa basa-basi. Jennar menarik napas dalam, mencoba menyembunyikan gelisah. “Hmm. Gue nggak mungkin ambil cuti. Di rumah makin kepikiran. Mending kerja,” jawabnya, berusaha terdengar tegar walau hatinya berkecamuk. “Tapi dengan Lo ke kantor, bukannya nanti ketemu Daniel. Lo siap?” Alexa terdengar cemas. Jennar meraih dompet dari tasnya, menahan napas sejenak. “Harus siap. Lagian, waktu pacaran aja jarang ketemu. Dia di lantai delapan, gue di lantai lima.” Kata-katanya terdengar seperti pembelaan yang rapuh. “Pokoknya kalau ketemu dia, lo harus tunjukin kalau lo kuat. Jangan roboh, Jen.” Alexa menyemangati, suaranya bergetar penuh perhatian. Jennar memasang senyum tipis yang dipaksakan, meskipun sahabatnya tak bisa melihat. "Iya, Lex. Thanks buat sarannya." “Ya udah, bye. Take care, Jen.” ”Lo juga, Lex. Bye...” Telepon terputus, Jennar bersiap untuk turun. Jennar akhirnya keluar dari ruangan divisinya setelah pamit singkat pada Helena, melewati plakat NeoLand Development yang terpajang besar dan beberapa rekan kerja yang menatapnya iba karena mendengar berita gosip di kantor tentang percintaannya. Setibanya di lift, ia menghembuskan napas panjang dan kali ini lebih lega. Setidaknya beberapa menit ke depan, ia jauh dari dokumen, tatapan orang, dan beban yang menempel di bahunya. “Aku benar-benar butuh kopi,” bisiknya lelah. Sampai di lobi, ia menuju kafe kecil bernama Roasted Coffee yang ada di sudut. Lampu hangat, aroma biji kopi panggang, dan suasana sore yang lengang membuat tempat itu terasa aman. Jennar memesan Americano panas lalu menunggu di dekat kasir, memainkan sedotan kecil sambil menatap barista yang menyiapkan pesanannya. “Satu Americano panas buat Kak Jennar,” kata si Barista, menyerahkan pesanannya. Jennar meraih paper cup itu. Ketenangannya tiba-tiba pecah saat suara lembut seorang wanita terdengar dari belakang. “Oh, God! Kamu lihat nggak barusan? Matanya sembab. Kasihan banget, pasti dia nangis semalaman,” kata wanita itu. “Masa?” balas suara seorang pria yang familiar. Jennar refleks menoleh singkat. Akan tetapi ia langsung menelan saliva, dan menyesalinya. Namun rasanya mustahil untuk tidak melihat saat nama-nama itu muncul di belakangnya. Jennar akhirnya memutar tubuhnya. Dan benar saja, Daniel dan Kinanti berdiri hanya beberapa langkah darinya. Kinanti menebar senyum anggun ke arahnya. “Oh, hai, Jennar.” Tangan Daniel tiba-tiba menyisip erat menggenggam tangan Kinanti, seolah ingin mempertegas sesuatu. “Kamu sendirian aja, Jen?” suaranya terdengar ringan, tapi nada tajamnya, menusuk ke dalam. Jennar mengangkat dagu, berusaha menahan gejolak dalam dada. Ingin ia tunjukkan, Alexa benar bahwa ia kuat, tak mudah runtuh. Namun kata-kata itu terkunci rapat, tak mampu terucap. Tiba-tiba, sebuah kehangatan menyentuh bahunya. Seseorang berdiri di sampingnya, begitu dekat—seolah memang tempatnya berada di sana. “Kamu kok beli kopi lama banget?” suara lembut itu berbisik di telinganya, tenang dan natural, jauh dari kepura-puraan. Jennar menoleh tanpa sadar. Suaranya tercekat. Birru membalas senyum kecil, dengan lembut meraih paper cup kopi dari tangan Jennar dan menarik tangannya. “Ayo, aku harus ke atas. Meeting sebentar lagi mulai. Jangan sampai kamu bikin aku telat.” lanjutnya seraya mengelus rambutnya. “Ngomong-ngomong, kamu kok cantik banget hari ini?” Bersambung...Jennar duduk di depan cermin dengan rambut yang masih sedikit basah setelah mandi, helaiannya jatuh lembut di bahu. Ujung sisir bergerak perlahan, tapi pikirannya justru melayang kembali pada malam lalu. Pada malam panas yang mereka lalui di villa ini untuk menikmati bulan madu.Sudut bibirnya terangkat tipis tanpa sadar.Pintu kamar tiba-tiba berderit pelan.“Udah bangun?” suara Birru terdengar hangat.Jennar menatap pantulan pria itu di cermin, tatapannya penuh cinta.“Udah, Mas. Kenapa nggak bangunin aku?” gumam Jennar pelan.Birru tidak langsung menjawab. Ia hanya mendekat, mengambil sisir dari tangan Jennar, lalu mulai menyisir rambut istrinya dengan gerakan yang lembut.“Kamu tidurnya nyenyak banget tadi. Aku nggak tega.”“Oh ya?”“Iya. Dan sarapan sudah siap,” lanjut Birru. “Habis itu kita jalan-jalan, naik kuda. Ada track kecil sampai ke sungai. Katanya bagus banget.”Jennar mengernyit kecil, menatapnya lewat cermin. “Aku belum pernah naik kuda, Mas. Itu aman nggak?”Birru ter
Disclaimer: Bab ini mengandung konten dewasa. Harap di skip jika tidak suka.Malam mulai merayap dengan udara yang pekat di Puncak saat Jennar memutar keran shower. Tubuhnya terasa segar, rambutnya masih basah, wajah bersih tanpa bekas make-up pengantin. Ia melangkah ke sudut kamar mandi, matanya melebar saat melihat rak itu kosong tanpa handuk."Eh!? Kok nggak ada handuk?!" suaranya mendadak panik.Matanya berkeliling. Tak ada lemari kecil hanya ada rak handuk di sudut dan itu kosong. Napasnya mulai tersendat."Ya Tuhan... gimana ini? gaun pengantin udah basah kena air," bisiknya sambil menggigit bibir bawah, cemas menyapu pandangan ke arah pintu.Dia memutar handle pintu dan melirik ke arah Birru. Suaminya itu duduk di tepian kasur, mengusap rambutnya yang basah dengan handuk. Birru juga baru selesai mandi di kamar mandi dekat perapian."Mas," panggil Jennar dengan suara sedikit gemetar.Birru menoleh, senyum ringan di bibirnya. "Apa, Sayang?""Boleh tolong ambilkan handuk?" pinta J
Pesta akhirnya mereda ketika jarum jam mendekati pukul empat sore. Tenda yang sejak pagi dipenuhi tawa, doa, dan kilatan kamera perlahan kembali tenang. Para tamu satu per satu berpamitan, meninggalkan jejak kebahagiaan yang masih terasa menggantung di udara.Di antara pelukan terakhir dan ucapan selamat yang tak ada habisnya, Birru dan Jennar kini berdiri berdampingan. Mereka masih dalam balutan busana pengantin, masih dengan senyum yang sesekali gemetar karena lelah bercampur bahagia. Tapi, rasa lelah itu akan hilang karena mereka sedang berpamitan untuk menuju villa, menikmati malam pengantin.“Birru, tolong jaga Jennar baik-baik, ya. Jennar itu super manja sebenarnya,” pesan Priska sambil memeluk putrinya sekali lagi. Suaranya lembut, tapi matanya berbinar penuh kelegaan.“InsyaAllah, Ma,” jawab Birru mantap. Tangannya otomatis meraih tangan Jennar, seolah itu refleks yang tak perlu dipikirkan lagi.Surya menepuk bahu Birru pelan. Tidak banyak kata, tapi tatapan itu adalah tatapa
Napas Birru mengembun tipis di kaca jendela mobil saat kendaraan yang dikemudikan Alexa berbelok memasuki kompleks perumahan Jennar.Birru meremas ujung beskap putih gading yang dikenakannya. Kainnya halus, tapi telapak tangannya dingin dan lembap.“Rileks, Ru,” suara Dania lembut, jemarinya mengusap pundak putranya.Birru menelan salivanya. “Nggak bisa, Ma…”Alexa melirik dari balik kemudi. “Coba pikirkan hal yang menyenangkan.”Birru mengembuskan napas kasar. Menyenangkan? Dadanya seperti dipenuhi ribuan kupu-kupu yang menabrak-nabrak tulang rusuknya.“Pikirkan waktu pertama kali kamu sadar kamu jatuh cinta sama Jennar,” lanjut Alexa dengan suara lebih pelan. “Ingat kenapa kamu yakin dia itu wanita yang tepat.”Kalimat itu terasa seperti tangan tak kasatmata yang menahan pundaknya agar tak runtuh.Wajah Jennar terlintas—senyumnya yang teduh, cara dia menyebut namanya dengan lembut, tatapan matanya yang selalu jujur.Namun, mobil tiba-tiba berhenti.Di depan sana, tenda putih membent
Rumah sederhana milik keluarga Jennar pagi itu berubah menjadi sangat ramai. Biasanya, halaman depan hanya diisi suara sapu lidi dan tawa anak-anak tetangga. Kini, tenda panjang bernuansa emas dan putih membentang gagah, kainnya berayun pelan diterpa angin pagi. Tiang-tiangnya dihiasi rangkaian bunga segar yang aromanya semerbak. Kursi-kursi tamu berjajar rapi, dengan pita-pita kecil di sandarannya yang menambah cantik suasana. Dari dalam rumah terdengar denting sendok, suara memanggil nama, dan tawa yang saling bersahutan. Di ruang tamu, meja akad sudah siap. Taplak putih membentang tanpa noda, di atasnya tersusun Al-Qur’an dan seperangkat alat ijab kabul. Kursi-kursi berbalut kain putih dan pink berdiri manis, dengan bunga hidup di tengahnya yang masih berembun. Di depan rumah, pelaminan berdiri anggun, seolah menunggu dua insan yang akan duduk berdampingan sebagai suami istri beberapa jam lagi. “Jen!” suara Priska menyusup ke dapur. Jennar berdiri sambil memegang cangkir, menu
“Ru… Papa kabur.”Sendok kecil di tangan Birru berhenti setengah jalan. Saus Padang merah menyala menetes kembali ke piring, meninggalkan jejak lengket di keramik putih.Dia mengunyah sangat pelan, seolah butuh waktu untuk mencerna bukan hanya kepiting di mulutnya, tapi juga kalimat itu.“Kakak tahu dari mana?” tanyanya akhirnya, dengan suara datar.Alexa berdiri di seberang meja island, jemarinya masih menggenggam tisu yang tadi dipakai untuk membersihkan tangan. “Mama telepon. Waktu aku ke kamar tadi.” Ia menelan saliva. “Papa ke luar negeri, Ru. Beberapa hari lalu.”Sendok Birru berbunyi pelan saat diletakkan. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap dinding beberapa detik sebelum kembali mengambil capit kepiting di piringnya. Cangkangnya ia patahkan sedikit lebih keras, retakannya terdengar tajam.“Oh,” gumamnya. Hanya satu suku kata, tapi rahangnya mengeras.Daging kepiting ia congkel keluar, lalu dimasukkan ke mulut tanpa benar-benar dinikmati. Tangannya penuh saus, tapi ia ta







