LOGINJennar terbangun tepat pukul lima pagi ketika udara di kamarnya menusuk tajam, merayap dari sela-sela jendela hingga ke tulang. Ia menggeliat kecil, lalu refleks menahan napas saat menyadari ada lengan yang melingkar erat di pinggangnya.Sesaat jantungnya berdegup kencang.Namun begitu ingatan tentang malam panas menyusul, Jennar mengendur. Ia tersenyum kecil. Di belakangnya, ada Birru. Pria yang selalu berhasil membuatnya merasa pulang.Gerakan kecil Jennar rupanya cukup terasa.“Kamu udah bangun?” bisik Birru, suaranya masih serak oleh sisa tidur.“Udah, Ruu,” jawab Jennar lirih.Birru mengeratkan pelukannya, menarik tubuh Jennar lebih dekat hingga punggungnya menempel sempurna ke dada pria itu. Ujung hidung Birru menyentuh rambut Jennar.“Dingin banget, Sayang…” gumamnya malas.“Hmm. Makanya aku kebangun.”Birru menggeser tangannya, mengusap lengan Jennar perlahan, seolah ingin memindahkan hangat tubuhnya ke sana. “Mau tidur lagi?”Jennar menghela napas kecil, ragu. “Ruu… kamu ngga
Birru menarik napas dalam-dalam sebelum bibirnya perlahan terlepas dari ciuman di antara remang lampu kamar yang redup. Mereka masih duduk berdampingan di tepi ranjang, bibir mereka masih basah bekas ciuman yang tadi. Pipi Jennar memerah saat hembusan napas hangat Birru mengusap halus kulitnya.“Kamu tau, aku sudah menahan rindu sejak hari pertama di Bandung,” bisik Birru, tangan kanannya pelan menyentuh lengan bagian atas Jennar, mulai dari pergelangan tangan sampai ke bagian atas bahunya. Jari-jarinya mengelus perlahan, lembut, tidak terlalu kuat tapi cukup membuat Jennar merasakan setiap lekukan ujung jarinya.Jennar menghela napas pelan, matanya menatap Birru. “Aku juga rindu kamu, Ruu.”“Aku tau, Sayang.”“Ruu...”Birru tersenyum tipis. “Hmm? Apa Sayang? Kamu sadar nggak kalau kulit kamu itu lembut banget.” Bibirnya mulai merambat ke leher Jennar, mengusap-ngusap bagian belakang telinganya yang mulai memerah.“Boleh aku sentuh yang lain?” suaranya pelan, menggoda.Jennar menelan
Tok. Tok. Ketukan itu terdengar lagi, kali ini lebih jelas dan lebih dekat. Jennar mundur satu langkah, punggungnya menempel erat pada dinding. Jantungnya berdegup kencang sampai telinganya berdenging. Tangannya gemetar saat meraih gagang pintu. “Kalau ini cuma bercanda, gue sumpahin lo sial seumur hidup,” gumamnya lirih, berusaha menenangkan diri sendiri. Ia menarik napas panjang, lalu membuka pintu dengan gerakan cepat. “Aaaaarrgh!” Jeritannya pecah seketika. Sosok tinggi di depan pintu langsung bergerak refleks. Dua lengan kuat melingkar, menahan tubuh Jennar yang hampir limbung. “Sayang! Ini aku, Birru!” suara itu terdengar panik sekaligus familiar. Jennar terdiam sesaat. Hidungnya menangkap aroma yang sangat dikenalnya. Bahu lebar itu, dan detak jantung yang terasa di dadanya. “Birru…?” suaranya bergetar, nyaris tak terdengar. Begitu kesadarannya menyusul, tangisnya meledak tanpa bisa ditahan. “Ya ampun, Sayang…” Birru segera menutup pintu, lalu mendorong Jennar masuk
Sambil berbincang ringan, Jennar dan Alexa berjalan perlahan memasuki restoran villa yang terbuka di satu sisi, menghadap hamparan hijau dengan pepohonan pinus yang berdiri tenang. Di dalam, meja-meja kayu tertata rapi dan bersih. Angin sepoi-sepoi masuk bebas, membawa aroma nasi hangat dan lauk rumahan yang menggoda. Keduanya langsung berdiri di depan meja prasmanan untuk memilih lauk. “Wah, gue suka nih! Lauknya Indonesia banget,” gumam Jennar sambil meraih piring. “Iya, Jen. Gue sengaja request. Masa gathering LUXE makannya salad semua,” sahut Alexa. Jennar terkekeh kecil. Ia mengambil nasi putih, ayam goreng, tumis buncis, sambal, dan sedikit tahu. Alexa lebih santai mengisi piringnya dengan nasi, rendang, perkedel, dan sambal agak banyak. “Besok kita outbound,” kata Alexa sambil menuang kuah ke piringnya. “Ada flying fox, fun games tim, sama jelajah kecil ke hutan pinus. Santai kok.” “Flying fox?” Jennar melirik ragu. Alexa menyengir. “Tenang, tali pengamannya lengkap. Lo
“Hai, Jen!”Jennar mengangkat wajahnya, senyum langsung mengembang saat melihat Alexa berdiri di depannya. Perempuan itu tampak bersinar dengan kaus merah menyala bertuliskan LUXE Fun Day di punggungnya, membuat auranya semakin mencolok.“Gila, kece juga kaosnya,” celetuk Alexa sambil menunjuk kaus yang sama yang dikenakan Jennar. “Cocok di lo. Emang nggak salah gue ajak lu, Jen.”Jennar tertawa kecil. “Gue bisa berkamuflase kayak karyawan LUXE, ya?”“Bener, Jen.”“Udah rame, ya?” ucap Jennar sambil melihat kerumunan di depannya.Padahal matahari belum sepenuhnya naik, tapi area parkir sudah hidup. Beberapa panitia mondar-mandir dengan clipboard di tangan, menyebut satu per satu nama karyawan. Ada yang masih sibuk merapikan tas, ada yang tertawa keras meski mata mereka jelas belum sepenuhnya sadar.Tatapan Alexa turun ke ransel kecil di punggung Jennar. “Lo cuma bawa itu?”“Iya. Lo bilang cuma dua hari.”“Dua hari, tapi padat,” balas Alexa cepat. “Fun games di villa, tapi ada sedikit
Jennar sibuk melipat dua kaus polos dari dalam lemari, tangannya cekatan sambil kain katun itu ia ratakan di atas kasur sebelum dimasukkan ke dalam travel bag berwarna krem. Dua hari lagi, gathering tim LUXE Aesthetic akan digelar, dan malam ini dia memulai packing.“Kaus buat main air belum, ya?” gumamnya pelan sambil berdiri dan kembali membuka lemari. Tangannya segera meraih satu kaus hitam longgar. Kaus itu ia masukkan terakhir, ditekan perlahan agar muat sebelum resleting ditarik.“Sayangnya Birru nggak bisa ikut,” bisiknya, lebih pada dirinya sendiri. “Masih di Bandung…”Sudah empat hari Birru berada jauh darinya. Dan rindu itu sudah mengendap seperti beban kecil di dada.Tiba-tiba, pintu diketuk pelan. Jennar langsung menutup resleting tasnya dan menoleh. "Siapa?!"“Aku, Mbak.”“Masuk, Ghea.”Ghea mendorong pintu, melangkah masuk dengan alis mengernyit saat matanya jatuh ke travel bag yang tergeletak di atas kasur.“Mbak mau ke mana?”“Ke Puncak. Ada acara bareng Alexa.”“Ooh…







