LOGIN
"Ayo To! Cepet angkat semua karung-karungnya ke dalam! Udah mau hujan ini!"
Suara lantang Pak Joko menggema di sudut pasar, mengalahkan riuh rendah klakson dan tawar-menawar hari itu. Tangannya yang memegang buku catatan panjang berayun-ayun di udara, memberi isyarat kepada para kuli yang seketika bergerak panik. "Iya, Pak," sahut Yanto pendek. Sudah hampir dua tahun Yanto bertahan di tempat ini, menjadi samsak amukan Pak Joko hampir setiap hari. Di antara belasan kuli panggul yang mencari sesuap nasi di pasar ini, Yanto memang yang paling mencolok dalam arti yang menyedihkan. Pria berusia 26 tahun itu memiliki proporsi tubuh yang sama sekali tidak ideal untuk pekerjaan kasar. Badannya kurus kering layaknya mie biting, dengan tulang iga yang menyembul jelas dari balik kaos oblong tipisnya yang sudah bolong-bolong. Kulitnya legam terbakar matahari, pipinya kempis karena jarang menyentuh makanan bergizi, dan rambutnya selalu acak-acakan penuh debu. "Iya-iya terus dari tadi! Kerjaanmu loh yang paling lelet di sini. Lihat temenmu, yang lain sudah dapat sepuluh sak, kamu setengahnya aja belum selesai. Kamu mau tak pecat, hah?!" bentak Pak Joko lagi, matanya melotot seolah ingin keluar. Yanto seketika menghentikan langkahnya, mencengkeram erat ujung karung beras di pundaknya. "Y-ya jangan toh, Pak. Nanti kalau saya dipecat, kerja apa lagi? Tolong, Pak," ratap Yanto dengan raut panik yang tak bisa disembunyikan. Baginya, cacian Pak Joko adalah makanan harian, namun kehilangan pekerjaan ini adalah hukuman mati. Menjadi anak yatim piatu di desa terpencil tanpa koneksi dan ijazah membuatnya tidak memiliki pilihan selain pasrah dan menelan harga dirinya bulat-bulat. "Makanya, kalau kerja yang sat-set! Ndak usah kakean omong!" titah Pak Joko tak sabaran, lalu berbalik sambil terus menggerutu, meninggalkan Yanto yang hanya bisa menghela napas panjang menatap punggung melengkung sang mandor. Di saat ia baru saja menurunkan karung beras terakhir dari atas bak truk, suara cempreng knalpot vespa matic modifikasi memecah keheningan di dekat area bongkar muat. "Yanto!" panggil pemuda itu dengan nada meremehkan. Yanto menoleh, menyeka keringat di dahinya dengan lengan kaos. Namun, perhatiannya teralih sepenuhnya pada sosok gadis yang turun dari boncengan vespa tersebut. Jantung Yanto berdesir hebat, rasa lelahnya mendadak menguap digantikan oleh rasa tidak percaya. "Dik Sinta?" Ia melangkah mendekat, matanya terpaku pada wajah gadis yang telah menemaninya sejak bangku SMA itu. Sinta adalah idaman banyak para pemuda di sekolahnya dulu, parasnya cantik, kulitnya kuning langsat mulus, rambut hitam panjang bergelombang, mata bulat indah, bibirnya tipis merah alami, dan tubuhnya proporsional dengan pinggang ramping serta dada yang selalu membuat cowok-cowok melirik ke arahnya. Dan hari ini, dia mengenakan blouse putih ketat yang memperlihatkan lekuk tubuhnya yang aduhai bak gitar spanyol. Dipadukan dengan rok pendek denim, dan sepatu hak yang membuat kakinya terlihat jenjang. Penampilan yang jauh lebih modis dan mahal dibandingkan Yanto yang hanya memakai kaos bolong dan celana kerja lusuh nan kumuh. Rasa penasaran menyeruak di dadanya. "Dik, kamu kenapa datang ke sini? Apa ada sesuatu?" tanya Yanto. Ada nada khawatir terbesit di sana. Namun sebelum Yanto sempat menyentuh jemari Sinta, pemuda berjaket kulit itu dengan cepat merangkul pinggang sang gadis, menarik tubuhnya dengan posesif. "Dak-dik! Dak-dik! Jangan sembarangan panggil, ya! Yang sopan kamu sama calon mantunya juragan! Panggil dia Non Sinta!" sembur pria itu dengan sinis. Yanto terpaku di tempatnya, mulutnya sedikit terbuka karena syok. "Calon mantu?" "Iya! Calon mantu! M-A-N-T-U!" tekan pemuda alay itu dengan tawa mengejek yang kentara. "Piye-piye? Aku kok nggak paham. Kalian ini... pacaran ta? Kamu selingkuh dariku toh, Dik?" suara Yanto bergetar, dadanya mulai terasa sesak oleh kenyataan yang menghantamnya bertubi-tubi. Sinta melipat kedua tangannya di dada, mengangkat dagunya tinggi-tinggi dengan ekspresi sombong yang belum pernah Yanto lihat sebelumnya. "Ya sorry to say ya, Mas. Aku bukan bermaksud jahat atau gimana. Cuman, kalau ada pria yang lebih baik dari kamu dan bisa menawarkan masa depan yang cerah, ya masa aku tolak?" "Tapi ya nggak gini caranya toh, Dik?" ungkap Yanto memelas, melangkah maju satu kali lagi. "Kita kan belum putus? Kenapa kamu tega?" imbuhnya. Mendengar pertanyaan Yanto, bukannya merasa berdosa Sinta justru berkata, "Makanya itu aku ke sini buat minta putus! Biar kamu nggak ngejar-ngejar aku lagi dan tahu diri!" ucapnya tanpa perasaan. "Tapi, Dik, hubungan kita udah bertahun-tahun—" Sinta mengibaskan tangannya dengan guratan jijik di wajahnya. "Kamu itu seharusnya ngaca! Kamu ini siapa kok berharap bisa jadi suamiku? Kamu itu cuma kuli panggul di pasar, fisik juga nggak ada bagus-bagusnya. Kurus kayak kerangka hidup, bau keringat, hitam, miskin lagi! Kalau aku lanjutin hubungan sama kamu, yang ada aku merusak masa depanku sendiri!" Kata-kata Sinta bagaikan belati yang dihujamkan tepat di ulu hati Yanto. Pikirannya melayang pada malam-malam panjang di mana ia merelakan waktu istirahatnya untuk mengambil lembur, menahan lapar berhari-hari hanya demi membelikan barang-barang mewah yang Sinta minta agar gadis itu tidak minder bergaul dengan teman-temannya. Semua pengorbanan itu, semua tetes keringatnya, ternyata hanya dihargai dengan sebutan "kerangka hidup yang miskin". Dan lagi, ada satu hal yang mengganjal pikirannya, "Kenapa harus di sini ngomongnya? Kenapa nggak ketemu berdua aja? Apa dia sengaja mau mempermalukanku di depan orang banyak?" batinnya nelangsa. Di samping Sinta, pemuda berjaket kulit itu tertawa puas, menikmati pemandangan di mana Yanto kehilangan harga dirinya sebagai seorang pria di depan umum. "Sebulan lagi aku sama pacarku mau nikah. Aku berharap kamu nggak nyariin aku apalagi minta balikan. Kita move on sambil introspeksi diri aja, Mas," punggung Sinta menegak, seolah ia baru saja menyelesaikan kewajiban yang berat. Nikah? Sinta memilih menikah dengan pacar barunya? Mendengar itu, ketahanan mental Yanto runtuh total. Rasa sakit di dadanya berubah menjadi luapan kekecewaan yang tak tertahankan. Sinta yang dulu selalu dia perjuangkan keinginannya, yang selalu dia harapkan bisa menjadi pendamping hidupnya, kini justru mengabarkan akan menikah dengan pria lain. Apa ini balasan dari semua kerja kerasnya? Apa ini hadiah dari Sinta atas cintanya yang besar itu? Memilih menikah dengan laki-laki lain demi uang? "Kamu tega, Dik? Apa sih yang nggak aku kasihkan ke kamu dulu? Apa sih permintaan kamu yang nggak pernah aku turuti?! Sekarang pas ada pria yang lebih kaya, kamu—" DUG! "Akh!" Sebuah tendangan keras mendarat telak di perut kurus Yanto sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya. Orang-orang di sekitar pasar yang menyaksikan kejadian itu tidak ada yang bergerak untuk menolong. Sebaliknya, beberapa dari mereka justru berbisik-bisik sambil tertawa kecil, menganggap penderitaan kuli miskin itu sebagai tontonan gratis yang menghibur di sela-sela penatnya hari. "Yanto, Yanto! Baru sekali tendang udah roboh. Banci ta kamu ini? LEMAH!" ejek pemuda itu sambil meludah ke samping. Sinta tertawa semakin keras, bergelayut manja di lengan kekasih barunya. "Dasar miskin! Untung aja aku cepat sadar dan milih cowok yang bener." "Udah Sayang, ayo tinggalin cowok letoy ini! Nggak ada gunanya kita lama-lama di sini, bikin bau jaketku aja," ajak pemuda itu seraya menaiki vespanya. Saat motor itu melesat pergi, roda belakangnya sengaja menggilas genangan air, mencipratkan lumpur hitam tepat ke wajah Yanto yang masih terduduk lemas di tanah. Dan gilanya, langit seolah mengerti kehancuran hati Yanto. Begitu ia bangkit dan melangkah keluar dari area pasar, rintik hujan langsung berubah menjadi guyuran yang deras. Yanto berjalan kaki menuju rumahnya di bawah amukan badai, mengabaikan tubuhnya yang basah kuyup dan kedinginan. Toh, itu tidak sebanding dengan luka hatinya barusan. Rasa malu, marah, sedih, dan putus asa bergolak menjadi satu di dalam dadanya, menciptakan badai batin yang jauh lebih mengerikan daripada badai di sekitarnya. "Kenapa jadi seperti ini? Kenapa aku lahir miskin, Gusti?! Kenapa aku nggak ganteng?!" teriak Yanto, suaranya parau beradu dengan suara gemuruh guntur. Di tengah hamparan sawah yang luas, Yanto justru berdiri di tengah jalan setapak. Kepalanya mendongak seolah menantang langit gelap di atas sana. "Nggak adil! Ini semua nggak adil!" Ia kembali memaki, merutuki takdirnya. "Hidup nggak karuan, nggak ada masa depan! Mending aku mati disambar petir daripada kayak gini! Mati yo ben, ketimbang—" CTARRR!!Mata hitam Yanto yang pekat mengunci satu pemandangan di sudut gudang: Bos kebun teh berbadan gempal itu sedang membungkuk di atas tumpukan karung, dengan tangan kasarnya yang berada dekat dengan leher dan bahu Dewi. Sementara itu, Dewi terkulai lemas di atas karung-karung teh, wajah ayunya merah padam bermandi keringat dan napasnya memburu terengah-engah akibat pengaruh obat racikan yang membakar kesadarannya."Asu kowe!" suara Yanto meluncur rendah, berat, dan sarat akan ancaman membunuh. "Lepasin tangan kotormu dari Mbak Dewi!"Si bos kebun teh membeku seketika. Pria gempal bermandi keringat itu memutar kepalanya pelan, terperanjat melihat keberadaan sang kuli pasar. Namun, sebelum niat jahat di otaknya sempat mengintruksikan tubuhnya untuk berdiri atau melawan, Yanto sudah lebih dulu mengikis jarak bagaikan kilat.Brak!Satu ayunan kaki tegap Yanto mendarat telak di bagian tengah dada pria gempal itu. Dentuman keras terdengar saat tubuh gemuk sang bos terpental dua meter ke belaka
“Mbak Dewi gerah ya?” suaranya rendah. “Sini, Pak Bos bantu dinginin.”Dewi hanya mampu menatapnya dengan mata sayu. Pikirannya kosong. Yang keluar hanyalah napas pendek-pendek.Bos itu semakin mendekat. Tangannya yang besar menyentuh punggung tangan Dewi yang bersandar di karung, mengusap pelan. Lalu naik ke lengan, gerakan lambat dan hati-hati."Ahhh..."“Tenang saja… aku akan bantu kamu buat pendinginan,” bisiknya.Jari-jarinya naik ke pipi Dewi, mengusap lembut rona merah di kulitnya. Dewi mengerjap lemah, tubuhnya sedikit menegang, tapi tidak punya tenaga untuk menolak. Napasnya semakin cepat.Pria itu menunduk sedikit. Ibu jarinya menyentuh bibir Dewi yang terbuka karena terengah-engah, mengusap pelan sudutnya. "Ya ampun... Bibir kamu lembut banget, Mbak? Pasti rasanya manis banget ini. Mengalahkan gula dari tebu manapun."Usapan pria mesum itu turun ke dagu, dan akhirnya ke leher yang sudah basah keringat.“Hnn… ahh…” desah Dewi pelan saat jari-jari itu mengusap sisi lehernya.
"Ahh!" Dewi sedikit terperanjat ketika tangannya tiba-tiba ditarik oleh si kuli. Genggaman kuli itu cukup kuat hingga membuat Dewi sedikit mengaduh. "Kamu kenapa to, Wi? Ini loh cuma minuman biasa?" gertak sang bos, raut ramah buatannya seketika luntur, berganti menjadi tatapan penuh intimidasi yang mengerikan. "Cepat ambil airnya, Wi! Ojo nolak rezeki dari bosmu sendiri!" "Lepas, Pak! Lepaskan saya!" jerit Dewi histeris. Ia memutar badannya, mencoba menendang dan mengayunkan keranjang bambu di punggungnya demi membela diri. Namun, si kuli gemuk yang bersiaga di belakangnya bergerak lebih cepat. Dengan kasar, kuli itu mencengkeram kedua bahu Dewi dari belakang, mengunci pergerakan gadis itu rapat-rapat. "Uwes, Mbak! Ojo kakehan pola!" desis si kuli seraya menarik kepala Dewi ke belakang, memaksa leher gadis itu mendongak tertekuk. Dewi memberontak liar, kakinya menendang-nendang udara. "Ka— kalian mau ngapain? Tolong! Tolooong...." Sebelum teriakan Dewi tuntas, bos kebun te
Suara jangkrik sore mulai bersahutan di sela-sela rimbunnya daun teh. Langit di atas perbukitan berubah jingga keemasan. Sebagian besar buruh petik teh sudah mulai merapikan keranjang bambu mereka dan berjalan menyusuri jalan setapak untuk menyetorkan hasil panen ke pos timbangan. Dewi mengelap keringat di dahinya dengan ujung lengan baju longgarnya. Keranjang di punggungnya sudah terisi penuh oleh pucuk teh muda. "Mbak Dewi, mau barengan ke pos timbangan?" sapa Yu Sum, salah satu buruh wanita paruh baya yang berjalan melintas di sampingnya. Dewi menyunggingkan senyum manis yang dipaksakan, mencoba menutupi gelisah yang masih menggelayuti dadanya sejak siang tadi. "Enggak dulu, Yu. Iki keranjangku sek agak kurang rapi, tak benahi sebentar. Duluan wae." "Oalah, ya wis. Ojo kemalaman yo, Mbak. Buru-buru pulang, sebentar lagi gelap," pesan Yu Sum ramah sebelum berlalu meninggalkan Dewi sendirian di area kebun bagian barat yang mulai sepi. Tanpa Dewi sadari, di balik semak-semak poho
Sementara itu di sudut pasar desa yang riuh, siang terasa begitu menyengat. Yanto sedang berkumpul bersama para kuli panggul di balik warung kayu sederhana. Mereka duduk berderet menikmati es teh hangat untuk melepas lelah. Di tengah kebisingan pasar, salah satu kuli berbadan tegap, Mas Sapri, menghela napas panjang lalu membuka suara. “Kalian sudah dengar kabar soal bos kebun teh di perbukitan barat?” “Bos yang perutnya gendut dan berkepala botak itu?” sahut kuli lain menanggapi. “Iya, siapa lagi,” balas Mas Sapri. “Katanya dia lagi kebelet cari istri muda lagi. Sudah punya empat istri di rumah, masih kurang aja itu orang.” Yanto yang semula hanya diam menyimak sambil memegangi gelasnya, mendadak menegakkan posisi duduknya. Sorot matanya menajam. Mas Sapri melanjutkan dengan nada bersungut-sungut, “Orangnya culas banget. Suka godain gadis-gadis pengetik teh yang masih perawan. Kalau sudah naksir, dia bakal pakai segala cara kotor buat dapatin korbannya. Ada yang bilang, bulan la
"Hah? Istri kelima? Sampeyan serius?" “Iyo, aku serius!” Bos itu menjilat bibir bawahnya yang basah secara perlahan, memancarkan aura ketagihan. “Perempuan seperti Dewi itu tipeku banget. Masih muda, masih perawan, wajahnya manis manis lugu. Aku beneran naksir. Apalagi sikapnya yang jual mahal dan sombong itu, makin bikin penasaran. Nggak kayak gadis-gadis kampung sini yang gampang dikasih umpan.” "Coba dirayu pakai duit segepok, Bos. Pasti langsung melunak dia." Pria berparut perut buncit itu mendesis geli. "Udah pernah. Tapi tetep nggak mempan. Makanya aku jadi makin gatal pengen naklukin dia." “Tapi Yanto gimana, Pak? Jangan salah langkah..." peringat si kuli ragu. “Yanto itu urusan sepele! Sekali kibas juga beres,” potong sang bos arogan. Ia akhirnya menoleh pada bawahannya, memperlihatkan cengiran mesum yang melekat penuh kepercayaan diri. “Yang terpenting itu aku harus dapetin Dewi. Pengen banget aku ngerasain keperawanannya." Kuli itu sampai menelan ludah berat mendengar







