공유

Bab 02:

작가: Nytheria_Blue
last update 게시일: 2026-07-15 17:54:29

CTAAAAR!!!

Belum sempat kutukan itu selesai terucap dari bibirnya, sebuah kilatan cahaya putih benderang membelah langit dan menghantam tepat di dekat kaki Yanto. Yanto mengejang hebat, seluruh syarafnya mati rasa, dan tubuh kurusnya ambruk menghantam tanah berlumpur.

Di ambang batas antara hidup dan mati, saat kesadarannya perlahan meredup, dunia di sekitar Yanto mendadak hening. Hujan dan guntur seolah melambat.

Di dalam kegelapan pandangannya, lamat-lamat muncul siluet seorang pria gagah berusia sekitar 40 tahunan. Pria itu berdiri tegak dengan wibawa yang luar biasa besar, mengenakan setelan kain keraton Jawa kuno yang agung.

"Le, Tole, sekarang waktunya Mbah ambil alih. Orang tulus kayak kamu ndak seharusnya dihina dan dicampakkan seperti itu…"

Dalam sepersekian detik, bayangan pria gagah itu meledak menjadi seberkas cahaya keemasan sebelum melesat cepat dan menghantam tepat di tengah dada Yanto. Seketika kilatan memori asing satu per satu membanjiri otaknya.

"Akhhhhh!!!" Tubuh Yanto mengejang bersamaan dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya. Seolah tulang-tulangnya direformasi dan ototnya ditarik paksa hingga mengencang.

"Aaakh..." Dengan satu desahan terakhir, tubuh Yanto terkulai lemas dan jatuh pingsan.

Aroma minyak kayu putih dan tanah basah menyengat indra penciuman Yanto saat kesadarannya pulih sepenuhnya. Ia mendapati dirinya terbaring di atas risban bambu beralaskan kasur kapuk tipis.

"Mas Yanto, kamu udah sadar?" Suara lembut itu memecah keheningan.

Yanto menoleh ke arah pintu. Seorang gadis muda dengan kulit kuning langsat yang bersih dan rambut hitam yang dikuncir sederhana melangkah masuk. Wajah ayunya menyiratkan rasa khawatir yang tulus.

"Mbak Dewi?" desis Yanto. Suaranya terdengar lebih berat dan dalam dari biasanya, membuat Dewi sempat mengerjap sesaat, merasa asing dengan intonasi itu.

"Iya, Mas. Kemarin aku sama Ibu nemuin kamu pingsan di jalanan pas badai. Gosong sih enggak, tapi kamu nggak bangun-bangun. Kami minta tolong warga buat gotong kamu ke rumah ini," jelas Dewi seraya mendekat. "Badanmu ada yang sakit nggak, Mas? Mau kupanggilkan Pak Mantri?"

Yanto tidak langsung menjawab. Ia menggerakkan jemarinya, lalu perlahan bangkit untuk duduk. Sensasi aneh menjalar di sekujur tubuhnya. Ia baru saja dihantam kilatan petir yang mematikan.

Memang tidak ada rasa linu atau luka bakar. Bahkan tubuhnya jadi terasa seringan kapas, namun padat setelahnya. Saat ia mengepalkan tangan, otot-otot lengannya yang dulu kurus kering kini terasa keras seperti baja, menyimpan potensi kekuatan yang masif.

'Disambar petir sekeras itu— kenapa aku malah merasa sebugar ini?' batin Yanto bingung. 'Apa ini mukjizat? Atau...' Pria itu meraba dadanya yang tak lagi terasa sesak, lalu mengangkat kedua telapak tangannya sendiri.

Ketika Yanto perlahan memejamkan mata, kepingan ingatan asing mendadak menghantam otaknya dengan kuat. Di dalam kegelapan matanya, ia melihat bayangan dirinya sendiri di masa lampau—seorang pria gagah berbusana Jawa Kuno yang sedang membaca susunan kitab-kitab pengobatan jaman dulu. Ingatan itu berputar cepat, menampilkan rahasia aliran energi meridian dan seni pemijatan sensual tingkat tinggi.

Samar, ia juga bisa mendengar suara bisikan Kakek yang tadi memanggilnya "Tole". Seolah memicu ingatan jiwanya yang terlelap.

Yanto terkesiap kecil saat menyadari kenyataan itu. 'A-aku bukan sekadar kuli panggul biasa? Aku ini reinkarnasi seorang Gawok zaman dulu?' Ia buru-buru menarik napas panjang dan menekan ingatan luar biasa itu dalam-dalam, berusaha mencerna takdir barunya.

Saat sedang tertegun sembari memandang telapak tangannya, teguran halus membuyarkan lamunan Yanto.

"Mas Yanto? Kok malah ngelamun sambil mandangi badan sendiri?" tegur Dewi heran.

Yanto tersentak kecil, lalu buru-buru menurunkan kaos oblongnya.

"E-eh, enggak, Mbak Dewi. Aku nggak apa-apa kok," balas Yanto cepat. Ia melempar senyum, berusaha bersikap senormal mungkin agar tidak memicu kecurigaan.

"Yakin, Mas?" Dewi memastikan, sepasang mata indahnya menatap lekat-lekat.

"Beneran, Mbak. Cuma pusing dikit aja, tapi aman. Udah biasa kena hantaman," gurau Yanto, menyindir nasib sialnya kemarin di pasar, meski kini rasa sakit hati akibat Sinta entah mengapa terasa begitu hambar. Jiwa baru di dalam dirinya membuat urusan cinta remaja itu terasa sangat sepele.

Belum sempat Dewi membalas, langkah kaki yang berat terdengar dari arah dapur.

"Loh, Yanto? Kamu udah bangun?"

Seorang wanita paruh baya masuk membawa nampan berisi segelas teh hangat. Itu adalah Bu Ningsih, ibu kandung Dewi yang sudah lima tahun menjanda. Wanita berusia 43 tahun itu memiliki tubuh yang terawat dan sintal.

Jika bersanding dengan Dewi, mereka lebih terlihat seperti kakak-adik ketimbang ibu dan anak. Namun hari ini, wajah cantiknya nampak agak pucat menahan nyeri. Langkahnya miring ke kiri, dengan satu tangan terus memegangi pinggangnya.

"Bu Ningsih..." Yanto menunduk hormat, menyunggingkan senyum tipis.

"Ini tehnya diminum dulu, To, biar badanmu anget," ujar Bu Ningsih. Ia mencoba tersenyum, namun sudut bibirnya berkedut menahan nyeri yang teramat sangat saat mencoba meletakkan nampan ke atas meja kayu usang.

"Inggih, Bu. Maturnuwun sanget," sahut Yanto. Matanya menyipit secara otomatis.

Entah bagaimana, pandangan Yanto mendadak seperti bisa melihat menembus kulit Bu Ningsih. Di matanya, tampak jalur udara dan darah di area pinggang wanita itu tersumbat parah, berwarna kemerahan pekat pertanda peradangan.

"Bu Ningsih sakit? Kok jalannya kayak gitu?" tanya Yanto.

Dewi yang sedang merapikan selimut di ujung risban menyahut sambil terkekeh sungkan, "Iya, Mas. Ibu encoknya kambuh parah banget dari kemarin. Maklum, faktor U."

"Wong Ibu masih kelihatan muda dan ayu gini kok dibilang faktor U. Ngawur kamu, Mbak," balas Yanto spontan.

Pujian jujur yang keluar dengan nada santai namun penuh percaya diri itu seketika membuat pipi Bu Ningsih merona merah. Janda matang itu berdehem salah tingkah, sementara Dewi hanya tersenyum menggoda ibunya.

Tak lama kemudian, Dewi pamit keluar sebentar untuk membeli sarapan di depan gang, meninggalkan Yanto dan Bu Ningsih di ruang tengah.

"Aduh!" Baru saja Bu Ningsih hendak berdiri untuk kembali ke dapur, pekikan kecil lolos dari bibirnya. Rasa ngilu yang luar biasa seperti menusuk tulang belakangnya, membuat tubuh sintalnya limbung dan hampir terjatuh.

Melihat itu, Yanto buru-buru bangun dan mendekat, seraya menyentuh pundak Bu Ningsih.

"Wah, kayaknya Ibu ada salah urat ini? Mau Yanto bantu pijat?"

"Emang... kamu bisa mijit, To?" tanyanya sambil menutupi bibirnya, malu karena desahan spontannya tadi.

"Yah nggak ahli-ahli banget, Bu. Cuman kalau soal ngurut saya lumayan bisa," jawab Yanto dengan nada tenang yang menghanyutkan.

Bu Ningsih sebenarnya agak ragu, tapi karena rasa sakit di pinggangnya sudah tidak tertahankan, Hingga akhirnya, wanita paruh baya itu mengangguk pasrah.

"Ya wes, To. Tapi pelan-pelan aja, yo!"

Yanto mengambil posisi di belakang Bu Ningsih yang kini duduk menyamping di kursi kayu. Saat Yanto menarik napas dalam-dalam, tubuhnya terasa seperti disengat listrik. Ternyata, setiap kali Yanto ingin memijat, ingatan seputar Yanto di zaman dahulu masuk ke dalam dirinya, sehingga Yanto bisa langsung tahu titik mana saja yang harus dipijat.

Mata Yanto melihat beberapa titik merah di punggung Bu Ningsih, menandakan bahwa ada aliran darah tersumbat di sana.

Sadar atau tidak, Yanto yang sudah bereinkarnasi, perlahan memperoleh kekuatannya kembali di masa lalu.

Jiwa kuno di dalam dirinya seolah mengambil alih kendali jemarinya. Kedua telapak tangannya yang kini terasa hangat mulai menempel di otot pinggang Bu Ningsih yang kaku.

'Titik pinggang belakang… pintu energi pinggul…' Sebuah pengetahuan kuno berbisik di kepala Yanto.

Yanto mulai menekan perlahan dengan ibu jarinya, memanipulasi titik utama di punggung bawah Bu Ningsih. Saat tekanan itu diberikan, Yanto menyalurkan energi murni hasil benturan petir kemarin ke dalam tubuh sang janda.

"Hhh-ahhh..." Bu Ningsih spontan menghela napas panjang, kepalanya mendongak dengan mata terpejam. Rasa sakit yang semula menusuk-nusuk, mendadak leleh seketika begitu jemari Yanto bergerak. Aliran hangat seperti air mengalir menyapu bersih rasa linu di tubuhnya.

Namun, efeknya tidak berhenti di situ. Energi yang disalurkan Yanto tanpa sengaja menyentuh titik sensitif yang terhubung dengan gairah dasar manusia.

"Ke bawah sedikit, Yanto... Emmhh..." Pinta Bu Ningsih dengan suara yang kian lirih dan serak. Tubuhnya mulai menggeliat pelan, merespons sentuhan ajaib yang terasa begitu nikmat di kulitnya. "Iya... yang belah situ. Ahhh... enak sekali, To..."

Mendengar desahan yang kian intens itu, sebenarnya Yanto ingin menegur. Tapi mengingat urat-urat Bu Ningsih lumayan kaku, desahan tadi mungkin terdengar wajar.

Tapi sebagai pemuda 26 tahun yang normal, sedekat ini dengan wanita matang bertubuh sintal yang sedang mengerang di bawah jemarinya jelas menguji imannya.

Apalagi daster tipis yang dikenakan Bu Ningsih mulai agak tersingkap karena gerakannya yang gelisah. Ditambah payudaranya yang penuh naik-turun, serta pinggulnya lebar bergoyang pelan. Katakan! Pemuda mana yang nggak khilaf melihat pemandangan semantap itu?

"Ahhh…"

Yanto melirik wajah Bu Ningsih dari samping. Wajah yang tadinya pucat kini telah berubah menjadi merah padam dikuasai sensasi pekat. Napas wanita itu memburu dan tubuhnya mulai bergetar halus setiap kali jemari Yanto menekan.

"Ah... Yanto..." Bu Ningsih menggeliat semakin dalam, merapatkan tubuhnya ke arah jemari Yanto seolah mendambakan tekanan yang lebih kuat.

Suara parau yang lolos dari bibir Bu Ningsih membuat darah Yanto berdesir hebat. Di bawah sana, "Yanto Junior" sudah menegang maksimal, berontak di balik celana kainnya.

Sentuhan Yanto yang semula bertujuan murni untuk menyembuhkan, kini mulai membakar gairah tersembunyi di dalam ruangan itu.

"Enak... iya, ke bawah lagi, To! Lebih bawah... ahh… To— aku udah..."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 06:

    Hampir sore saat Yanto menyusuri jalan setapak menuju rumah Bu Broto. Pemuda dengan kaos oblong serta celana kain longgar itu berjalan ditemani Bu Ningsih dan Dewi."Jadi ini rumahnya?" Itulah yang terlontar dari bibir Yanto ketika tiba di tempat tujuan. Kedua matanya dibuat melotot melihat rumah Bu Broto yang memang tergolong mewah dan besar untuk ukuran orang desa. Halamannya luas lengkap dengan tanaman hias. Temboknya dibuat tinggi dengan pagar besi di bagian depan."Iya, Mas Yanto. Ini rumahnya," balas Dewi sambil mengetuk-ketuk gembok ke pagar agar dibukakan pintu. Tak lama seorang wanita yang dikenal sebagai orang kepercayaan Bu Broto keluar, namanya Lastri. Dia menyambut ketiga orang itu dengan alis terangkat sebelah, tampak kurang suka."Oh, jadi ini to tukang pijat yang kamu ceritain?" tanya Lastri sambil memperhatikan penampilan Yanto dari atas ke bawah. Ekspresinya tampak jijik seperti melihat kotoran. Apalagi ketika melihat penampilan Yanto yang kurang meyakinkan, dengan s

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 05:

    "Ayo, Yanto! Berpikir! Pikirkan ide yang bisa membantu Bu Ningsih dan Mbak Dewi!" gumam Yanto pada dirinya sendiri.Ia memejamkan mata rapat-rapat. Napasnya ditarik dalam, lalu diembuskan perlahan.Di tengah kebuntuan itu, pikirannya mulai menyusuri serpihan-serpihan ingatan yang terasa asing sekaligus familiar. Memori yang bukan sepenuhnya milik raga kuli panggul ini.Perlahan, bayangan masa lalu bermunculan.Yanto menyaksikan sosok lelaki gagah berpakaian khas Istana Jawa Kuno. Kedua tangannya bergerak luwes, menelusuri tiap lekuk dan titik meridian seorang wanita bangsawan. Setiap usapan hangatnya bukan sekadar menghilangkan rasa sakit, melainkan juga mengalirkan kenikmatan tiada tara.Lelaki itu adalah Sang Gawok—pewaris keahlian pijat sensual legendaris yang sangat disegani.Konon, sentuhan magisnya sanggup menaklukkan hati para selir dan putri keraton hingga mereka berlutut dan selalu mendambakan kehangatan jemarinya.Semakin dalam Yanto menyusuri lorong ingatan itu, kepingan me

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 04:

    Suasana pagi di desa masih diwarnai riak angin dingin yang membawa aroma tanah basah. Yanto sedang membereskan sisa pecahan gedebog pisang di halaman belakang ketika telinganya menangkap suara isak tangis dari arah dalam rumah. Suara memohon itu terdengar begitu menyayat hati."Pak, tolong jangan lakukan ini! Ugh... To—tolong beri kami waktu."Yanto menghentikan kegiatannya seketika. "Itu kan suaranya Mbak Dewi?" Pria itu menajamkan pendengarannya, memastikan jika yang barusan dia dengar benar suara tetangganya. Alisnya sampai berkerut ke dalam saking fokusnya."Mbak Dewi kenapa? Kok kayak ketakutan gitu?" Dipenuhi rasa penasaran bercampur gejolak protektif di dadanya, Yanto melangkah cepat menuju pintu belakang yang sedikit terbuka. Ia menyapu bekas getah pisang di tangannya pada celana pendeknya sebelum mengintip ke dalam.Di ruang tengah yang sempit, seorang lelaki paruh baya bertubuh gemuk dengan kemeja motif bunga-bunga sedang berdiri mengintimidasi. Wajahnya merah padam, menunju

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 03:

    "Iya, Yanto... Di situ... emphmm... Ke bawah dikit lagi To! Aah..." Janda berbody sintal itu semakin tidak bisa mengendalikan suaranya. Matanya setengah terpejam, menikmati sentuhan si pemuda.Yanto sebenarnya ingin menuruti keinginan Bu Ningsih, bahkan tangannya sudah berada di pangkal tulang ekor janda cantik itu. Yang artinya, jika tangannya turun sedikit lagi saja, itu berarti dia dihadapkan oleh dua pilihan: Paha bawah atau malah naik sedikit ke atas menuju bagian intimnya.Bahkan sekarang ini, gerakan tangan Yanto mulai melemah karena kurang fokus, pikirannya mulai melayang ke mana-mana. 'Gimana ya rasanya anuin janda? Orang-orang di pasar bilang, janda itu lebih pro soal goyangan?'Matanya kembali memandangi pinggang sintal Bu Ningsih. Dengan proporsi badan yang tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk, wanita ini jelas membuat Yanto penasaran. 'Pegang dikit aja, nggak papa kali ya?' Yanto memperhatikan ibu kandung Dewi itu sekali lagi. Suara desahan beliau, serta gerakan pa

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 02:

    CTAAAAR!!!Belum sempat kutukan itu selesai terucap dari bibirnya, sebuah kilatan cahaya putih benderang membelah langit dan menghantam tepat di dekat kaki Yanto. Yanto mengejang hebat, seluruh syarafnya mati rasa, dan tubuh kurusnya ambruk menghantam tanah berlumpur.Di ambang batas antara hidup dan mati, saat kesadarannya perlahan meredup, dunia di sekitar Yanto mendadak hening. Hujan dan guntur seolah melambat.Di dalam kegelapan pandangannya, lamat-lamat muncul siluet seorang pria gagah berusia sekitar 40 tahunan. Pria itu berdiri tegak dengan wibawa yang luar biasa besar, mengenakan setelan kain keraton Jawa kuno yang agung."Le, Tole, sekarang waktunya Mbah ambil alih. Orang tulus kayak kamu ndak seharusnya dihina dan dicampakkan seperti itu…"Dalam sepersekian detik, bayangan pria gagah itu meledak menjadi seberkas cahaya keemasan sebelum melesat cepat dan menghantam tepat di tengah dada Yanto. Seketika kilatan memori asing satu per satu membanjiri otaknya."Akhhhhh!!!" Tubuh Y

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 01:

    "Ayo To! Cepet angkat semua karung-karungnya ke dalam! Udah mau hujan ini!"Suara lantang Pak Joko menggema di sudut pasar, mengalahkan riuh rendah klakson dan tawar-menawar hari itu. Tangannya yang memegang buku catatan panjang berayun-ayun di udara, memberi isyarat kepada para kuli yang seketika bergerak panik."Iya, Pak," sahut Yanto pendek.Sudah hampir dua tahun Yanto bertahan di tempat ini, menjadi samsak amukan Pak Joko hampir setiap hari. Di antara belasan kuli panggul yang mencari sesuap nasi di pasar ini, Yanto memang yang paling mencolok dalam arti yang menyedihkan. Pria berusia 26 tahun itu memiliki proporsi tubuh yang sama sekali tidak ideal untuk pekerjaan kasar.Badannya kurus kering layaknya mie biting, dengan tulang iga yang menyembul jelas dari balik kaos oblong tipisnya yang sudah bolong-bolong. Kulitnya legam terbakar matahari, pipinya kempis karena jarang menyentuh makanan bergizi, dan rambutnya selalu acak-acakan penuh debu."Iya-iya terus dari tadi! Kerjaanmu lo

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status