LOGIN"Iya, Yanto... Di situ... emphmm... Ke bawah dikit lagi To! Aah..." Janda berbody sintal itu semakin tidak bisa mengendalikan suaranya. Matanya setengah terpejam, menikmati sentuhan si pemuda.
Yanto sebenarnya ingin menuruti keinginan Bu Ningsih, bahkan tangannya sudah berada di pangkal tulang ekor janda cantik itu. Yang artinya, jika tangannya turun sedikit lagi saja, itu berarti dia dihadapkan oleh dua pilihan: Paha bawah atau malah naik sedikit ke atas menuju bagian intimnya. Bahkan sekarang ini, gerakan tangan Yanto mulai melemah karena kurang fokus, pikirannya mulai melayang ke mana-mana. 'Gimana ya rasanya anuin janda? Orang-orang di pasar bilang, janda itu lebih pro soal goyangan?' Matanya kembali memandangi pinggang sintal Bu Ningsih. Dengan proporsi badan yang tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk, wanita ini jelas membuat Yanto penasaran. 'Pegang dikit aja, nggak papa kali ya?' Yanto memperhatikan ibu kandung Dewi itu sekali lagi. Suara desahan beliau, serta gerakan pantatnya yang sensual membuat pemuda itu menelan ludah beberapa kali. Tangannya hampir saja menyentuh bagian paha Bu Ningsih, akan tetapi… 'T-tidak! Tidak! Apa yang aku pikirkan?! Yanto! Kamu ini gila apa?' Yanto segera menepis pikirannya dan cepat-cepat menyelesaikan pijat tersebut dengan urut jempol dari tengkuk atas hingga tulang ekor bawah. "Dikit lagi, Bu Ningsih, kurang satu titik." Bukannya menjawab, Bu Ningsih malah mendesah makin keras. "Aaah, Yanto… Kenapa pijatanmu bisa seenak ini?" Entah sial atau beruntung, pijatan Yanto ternyata membangkitkan rasa yang dirindukan Bu Ningsih. Rasa yang sudah lama tidak ia rasakan sejak suaminya meninggal lima tahun lalu. Aneh memang, dari pijatan bisa membuat seorang wanita sampai basah dan mendapatkan puncak pelepasan tertinggi. Pun bagi Yanto, dia hanya memijat biasa, tanpa tahu jika sambaran petir kemarin telah membangkitkan kekuatannya sendiri: kekuatan asli Yanto di masa lampau. Pijat Gawok. Pijat yang bisa membangkitkan sensualitas wanita-wanita kesepian seperti Bu Ningsih. "Astaga Bu, di sini uratnya tegang banget." Yanto mengecek urat-urat kaku wanita itu, sekali lagi dia dibuat keringat dingin karena setiap sentuhan, selalu membuat Bu Ningsih menggeliat. Janda cantik bercepol satu itu makin tak terkendali, tubuhnya gemetar hebat saat rasa nyaman dan kenikmatan luar biasa itu menyebar. Bagian sensitif di tubuhnya terus-menerus berdenyut, hingga ia harus berpegang pada pinggiran kursi untuk menahan semua sensasi itu. "Ahh, Yanto..." Bu Ningsih menggeliat semakin liar, dan gilanya Yanto tak berhenti di sana. Ia justru kembali menekan titik paling sensitif Bu Ningsih hingga wanita itu menggelinjang hebat dan mengerang keras. "Aaahhhh…" Yanto terkesiap kaget ketika Bu Ningsih mendesah kuat. Tubuh janda itu bergetar hebat dengan napas yang memburu cepat. Dadanya yang padat dan sintal tampak naik turun mengikuti irama tarikan napasnya yang berat. "B-bu Ningsih nggak papa ta? A-apa saya mijitnya terlalu keras?" tanya Yanto gugup. Ketakutan menyergap benaknya. Ia khawatir jemarinya justru membuat janda semok di depannya itu kesakitan. "E-enggak... hhh... Pijatan kamu enak kok, To. Ibu udah lama nggak ngerasain ini," balas Bu Ningsih di antara deru napasnya. Tubuhnya melengkung pasrah. Pinggulnya yang padat bergoyang pelan, menikmati tiap tekanan meridian yang disalurkan Yanto. Sebagai pria muda yang normal, pandangan Yanto otomatis terkunci pada lekuk tubuh di depannya. Jakunnya naik turun, menelan ludah yang terasa tersangkut di tenggorokan. 'Ke-kenapa Bu Ningsih jadi kayak orang—ah, enggak! Enggak! Itu pasti perasaanku aja.' Yanto menggeleng pelan, mencoba menepis gejolak gairah yang mulai membakar naluri kelelakiannya. Sialnya, pemandangan janda bermandi keringat dengan daster tipis itu terlalu sukar untuk diabaikan begitu saja. "Aahhh, Yanto..." Bu Ningsih kembali menggelinjang kecil. Desahan demi desahan lolos begitu saja dari bibir basahnya. Yanto yang mulai panik dan takut kebablasan refleks hendak menarik tangannya. "Bu, saya—" Sebelum jemari Yanto lepas, Bu Ningsih justru mencengkeram pergelangan tangan pemuda itu. Wanita itu menariknya kembali, memandu telapak tangan Yanto tepat di atas lekuk pinggangnya. "Jangan berhenti dulu Yanto, tanggung nih!" pinta Bu Ningsih dengan suara tertahan, berusaha mengontrol intonasinya agar tak terdengar terlalu memohon. "T-tapi..." Yanto ragu. Sebagai laki-laki, disentuh dan diminta bertahan seperti itu jelas menguji iman dan ketahanannya. Bu Ningsih melirik pemuda yang masih tampak limbung itu. "Ssst... Kamu toh yang tadi nawarin buat mijat? Sekarang ayo selesaikan!" Yanto tak berkutik. Tatapan sayu wanita paruh baya itu meruntuhkan pertahanan dirinya. Ia kembali menggerakkan jemarinya di atas pinggang Bu Ningsih. Namun, sapuan sensual serta erangan halus dari wanita di depannya membuat fokus Yanto kian buyar. "Aah, enak To... Mmmm... Yanto... Aaah..." Saat jemari Yanto tak sengaja menekan titik meridian sensitif di panggul bawah, Bu Ningsih mengerang keras. Suara itu mengejutkan Yanto hingga ia serta-merta menarik diri dan mundur beberapa langkah. Napasnya memburu. Ditambah rasa pening yang hebat menghantam kepalanya waktu kepingan ingatan asing berdesakan masuk. Memori itu membawa sosok Gawok Istana Jawa Kuno yang gagah perkasa—seorang legenda yang menguasai seni penyembuhan meridian sekaligus ilmu olah asmara. Sosok yang mampu memoles dan memanjakan tubuh para putri keraton hingga mencapai kenikmatan puncak. "A-apa itu tadi?" bisik Yanto dengan dada kembang kempis. 'Gawok? Opo iku Gawok? Siapa sebenarnya orang itu? Kenapa ingatannya bisa masuk ke otakku?' "Yanto? Kok berhenti?" Belum sempat Yanto merespons pertanyaan Bu Ningsih, langkah kaki dari arah luar terdengar mendekat. Pintu terbuka dan Dewi melangkah masuk membawa kantong plastik berisi makanan. "Bu, Mas Yanto, aku belikan tempe sama sayur asem nih. Masih a—" Kalimat Dewi terputus. Gadis polos itu mengerutkan kening begitu melihat ibunya tersengal-sengal dengan wajah kemerahan dan tubuh basah oleh keringat. "Ibu kenapa? Kok mukanya merah?" tanya Dewi polos. Kelopak mata dengan bulu mata lentiknya berkedip beberapa kali sementara bibirnya sedikit mengerucut tanpa sadar. Bu Ningsih yang kaget buru-buru merapikan dasternya. Ia berusaha bersikap sealami mungkin di hadapan putrinya. "E-enggak kok, Nduk. Ibu barusan cuma dipijitin sama si Yanto. Pijitannya enak banget sampai encok Ibu langsung sembuh total," kilih Bu Ningsih cepat. Yanto hanya bisa terkekeh canggung seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Di dalam hati, ia sendiri masih syok dengan luapan ingatan yang baru saja menghantamnya. "Ya wes, ayo makan bareng. Aku ambilkan piring dulu!" ajak Dewi tanpa rasa curiga sedikit pun. Bu Ningsih menatap Yanto yang tampak canggung dan tegang. Wajahnya masih memerah bahkan wanita 43 tahun itu beberapa kali menelan ludah karena sensasi nikmat yang belum sepenuhnya hilang. Namun ia mencoba untuk rileks agar Dewi tak curiga dan Yanto tak merasa sungkan. Dan malam itu, mereka bertiga akhiri dengan makan malam yang hangat dan diselingi obrolan ringan. Keesokan paginya, matahari pagi baru saja terbit ketika Yanto terbangun. Suasana desa masih diselimuti udara segar dan embun pagi. Yanto mendapati fisiknya terasa jauh lebih bugar dibanding hari kemarin. Rasa lelah dan lemas akibat tersambar petir mendadak sirna tanpa bekas. Ia berdiri di depan cermin kusam di kamarnya. Secara sekilas, penampilan fisiknya tidak berubah banyak. Namun, badannya terasa lebih padat, otot-ototnya kencang, dan pipinya tak lagi sekempot kemarin. "Badanku kok enakan, yo? Jadi lebih berisi gitu," gumam Yanto sambil meraba bisepnya. Ia menepuk-nepuk tangannya dengan takjub. "Kalau badannya begini, mau ngangkat seribu sak beras sehari juga kayaknya sanggup." Rasa penasaran membuat Yanto melangkah keluar menuju halaman belakang rumahnya yang sepi. "Sek. Aku mau tes tenaga dulu!" Dengan percaya diri, Yanto mendekati deretan pohon pisang yang tumbuh subur di batas pekarangan. Ia mengelus batang salah satu pohon, menarik napas dalam-dalam, lalu memusatkan tenaganya. BUGH! Dalam satu kali pukulan telak, batang pohon pisang itu tumbang seketika. "Cuuk. Guendeng! Nggak nyangka aku bisa sekuat ini," seru Yanto tak percaya. "Gila, badanku beneran ke-upgrade! Kemampuan Gawok ini emang jos!" Semangat Yanto makin membara. Ia kembali melayangkan pukulan ke batang-batang pohon pisang di sebelahnya untuk menguji batas kekuatannya. Yanto terlalu asyik berlatih hingga tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang mengawasinya dari balik tirai jendela rumah sebelah. Bu Ningsih berdiri di balik jendela, menggigit bibir bawahnya saat menyaksikan tubuh Yanto yang mendadak atletis dan bertenaga. Bayangan sentuhan hangat jemari Yanto kemarin sore mendadak kembali berputar di otaknya, membuat wajah janda itu memanas dan gairahnya kembali bangkit. "Piye iki, To? Rasa-rasanya aku mulai ketagihan sama pijatanmu..." bisik Bu Ningsih lirih pada dirinya sendiri. Ia merapatkan kedua pahanya, menahan sensasi geli berdesir yang mendadak muncul di area sensitifnya. BRAAKK! Lamunan liar Bu Ningsih buyar seketika oleh suara gedoran pintu depan yang dihantam kasar dari luar. "Ningsih! Keluar kowe! Jangan pura-pura nggak denger yah!" teriakan berat bernada mengancam menggema hingga ke pekarangan belakang. Bu Ningsih terkesiap. Wajahnya yang semula merona gairah mendadak pucat pasi mengenali suara bentakan itu. Dengan napas tersengal karena panik, janda itu bergegas merapikan dasternya lalu berlari kecil menuju ruang depan untuk menemui sang penagih utang. Sementara itu di pekarangan, Yanto mulai membersihkan puing-puing batang pisang yang hancur. Namun tepat saat pekerjaannya hampir selesai, telinga Yanto menangkap sebuah suara…Dewi duduk di tepi tempat tidur kayu berseprai halus. Wajah ayunya memancarkan rona kelelahan yang manis usai seharian penuh mengawasi administrasi dan melayani rombongan ibu-ibu pejabat yang berobat di ruang pendaftaran depan. Pintu kamar berderit pelan lalu terkunci dengan suara klek yang halus. Yanto melangkah masuk dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap. Pemuda mantan kuli panggul pasar itu membawa mangkuk kecil berisi minyak zaitun racikan herbal Gawok yang beraroma wangi melati. "Mbak Dewi capek ya hari ini?" tegur Yanto rendah, suaranya bernada bass dalam yang amat menenangkan batin sang istri. Dewi mendongak, menyunggingkan senyum manisnya walau mata jernihnya tampak agak sayu. "Lumayan, Mas..." cicit Dewi halus seraya merapikan daster batik sutranya. "Bahuku agak pegal-pegal gara-gara duduk lama mengurus buku pendaftaran tadi." Yanto mendudukkan diri di atas tempat tidur, meletakkan mangkuk minyak herbal di atas meja rias. "Sini... membelakangi saya," perintah Yanto
"Mas Yanto!" panggil Dewi lembut seraya melangkah mendekati pagar balkon lantai dua. "Ibu sama Mbak Sari sudah menunggu di meja makan!" Yanto memalingkan pandangannya dari lanskap gemerlap kota yang membentang luas. Pemuda mantan kuli panggul itu menyunggingkan senyum miring berkarisma maskulin, membusungkan dadanya yang bidang berbalut kemeja batik rapi. "Iya, Mbak Dewi... Saya langsung ke dalam," sahut Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema hangat di udara pagi. Dewi tersenyum manis, menyusupkan jemari lentiknya yang berhiaskan cincin emas pernikahan ke dalam genggaman tegap Yanto. Pendar halus energi murni Gawok mengalir tipis dari telapak tangan Yanto, menyebarkan kehangatan dan kebahagiaan mutlak di dada sang kembang desa. Sinar mentari pagi yang memancar keemasan menembus kaca balkon, menyinari seluruh sudut gedung ruko dua lantai yang megah. Di sepanjang pekarangan marmer luar, deretan karangan bunga papan ucapan selamat dari para pejabat provinsi, Pak Wal
"Ayo, Mbak Dewi... Semua barang perbekalan dari desa sudah siap di bagasi SUV," panggil Yanto seraya membetulkan kancing kemeja batiknya di pelataran teras. Dewi melangkah keluar dari pintu kayu rumah Bu Ningsih, membetulkan letak selendang batik cantiknya dengan binar mata bahagia. "Sebentar, Mas Yanto!" sahut Dewi manis. "Ini aku lagi pamitan sama Bu RT sama ibu-ibu pengajian yang ikut mengantar di teras." Bu Ningsih dan Bu RT tersenyum haru, mengusap pelan bahu mungil kembang desa yang kini telah resmi disunting oleh pemuda paling berwibawa di kabupaten tersebut. "Hati-hati di kota ya, Dewi, Bu Ningsih..." bisik Bu RT penuh rasa hormat. "Jaga baik-baik Mas Yanto, kebanggaan desa kita." Yanto membusungkan dadanya yang bidang, membukakan pintu depan SUV hitam berkilat untuk sang istri. "Nggih, matur nuwun semuanya... Kami pamit kembali ke tempat praktik di kota." SUV hitam itu pun perlahan meluncur mulus membelah keheningan desa, melintasi hamparan sawah hijau menuju Jala
"Mas Yanto... kunci pintunya sudah di-slot belum?" bisik Dewi pelan seraya membetulkan tali gaun tidur sutra merah mudanya di tepi tempat tidur kayu. Yanto berbalik dari arah pintu kamar. Pemuda itu menyunggingkan senyum miring berkarisma maskulin, membusungkan dadanya yang bidang berbalut sarung tenun tanpa kemeja. "Sudah rapat, Mbak Dewi," jawab Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema hangat di dalam kamar beraroma melati. "Ndak bakal ada yang mengganggu kita malam ini." Pipi mulus Dewi seketika membara merah merona. Gadis kembang desa yang kini resmi menjadi istri sah Sang Master Terapi itu menunduk malu, meremas ujung selimut dengan jemari lentiknya yang gemetar halus. Yanto memangkas jarak, melangkah tegap hingga lututnya menyentuh tepi kasur busa. Tanpa ragu, telapak tangan besarnya yang hangat terulur merengkuh lembut pinggul mungil Dewi, menarik tubuh molek sang istri merapat ke dalam dekapannya. Deg. Tubuh Dewi bergetar halus sewaktu dadanya yang s
Sinar mentari pagi yang hangat menembus celah-celah jendela kayu rumah Bu Ningsih di Desa Karanganyar. Aroma harum rebusan nasi tiwul, sayur lodeh, dan jahe rempah menyelimuti seluruh area dapur belakang yang bersih. Dewi berdiri anggun di tepi meja kayu, menyeduh teh hangat ke dalam beberapa cangkir seng. Langkah kakinya kini tampak amat tegap dan mantap, memancarkan pendar kebahagiaan murni seorang wanita yang telah resmi menjadi istri sah Sang Master Terapi. Bu Ningsih melangkah mendekat seraya membawa piring penganan tiwul manis, menatap putri tunggalnya dengan mata berbinar haru. "Pripun rasane dadi bojone Mas Yanto, Nduk?" goda Bu Ningsih manis dengan binar mata bahagia. "Wis bahagia toh atimu?" Pipi mulus Dewi seketika membara merah merona bagai buah tomat matang. Gadis itu menunduk malu, merapatkan cangkir tehnya. "I-Ibu ini..." cicit Dewi parau nan manis. "Mas Yanto itu beneran pria sejati, Bu... Sangat lembut, pengertian, dan selalu bikin aku ngerasa aman." Yanto
"Pripun, Mas Yanto? Sudah siap?" tanya Penghulu ramah seraya membuka kitab catatan nikah resmi.Yanto duduk bersila tegap di pelaminan kayu jati rumah Bu Ningsih, membusungkan dadanya yang bidang berbalut beskap batik keemasan."Inggih, Pak Penghulu," jawab Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema mantap. "Saya siap."Dewi melangkah keluar dari kamar dalam dituntun oleh Bu Ningsih dan Mbak Sari. Gadis kembang desa itu tampil amat cantik berbalut kebaya pengantin putih keemasan dengan paes dan ronce melati segar.Dewi mendudukkan diri secara anggun di samping Yanto, meremas pelan kain jariknya dengan jemari yang gemetar halus oleh keharuan mendalam.Penghulu menjabat erat cengkeraman tangan tegap Yanto. Suasana terop janur kuning pekarangan seketika hening mencekik, seluruh warga menahan napas khidmat."Saudara Yanto bin Ahmad," ucap Penghulu dengan suara tegas nan mantap. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Dewi Novitasari binti Sukardi, dengan mas kawin seper







