공유

Bab 03:

작가: Nytheria_Blue
last update 게시일: 2026-07-15 17:55:20

"Iya, Yanto... Di situ... emphmm... Ke bawah dikit lagi To! Aah..." Janda berbody sintal itu semakin tidak bisa mengendalikan suaranya. Matanya setengah terpejam, menikmati sentuhan si pemuda.

Yanto sebenarnya ingin menuruti keinginan Bu Ningsih, bahkan tangannya sudah berada di pangkal tulang ekor janda cantik itu. Yang artinya, jika tangannya turun sedikit lagi saja, itu berarti dia dihadapkan oleh dua pilihan: Paha bawah atau malah naik sedikit ke atas menuju bagian intimnya.

Bahkan sekarang ini, gerakan tangan Yanto mulai melemah karena kurang fokus, pikirannya mulai melayang ke mana-mana. 'Gimana ya rasanya anuin janda? Orang-orang di pasar bilang, janda itu lebih pro soal goyangan?'

Matanya kembali memandangi pinggang sintal Bu Ningsih. Dengan proporsi badan yang tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk, wanita ini jelas membuat Yanto penasaran. 'Pegang dikit aja, nggak papa kali ya?' Yanto memperhatikan ibu kandung Dewi itu sekali lagi. Suara desahan beliau, serta gerakan pantatnya yang sensual membuat pemuda itu menelan ludah beberapa kali.

Tangannya hampir saja menyentuh bagian paha Bu Ningsih, akan tetapi…

'T-tidak! Tidak! Apa yang aku pikirkan?! Yanto! Kamu ini gila apa?'

Yanto segera menepis pikirannya dan cepat-cepat menyelesaikan pijat tersebut dengan urut jempol dari tengkuk atas hingga tulang ekor bawah. "Dikit lagi, Bu Ningsih, kurang satu titik."

Bukannya menjawab, Bu Ningsih malah mendesah makin keras. "Aaah, Yanto… Kenapa pijatanmu bisa seenak ini?"

Entah sial atau beruntung, pijatan Yanto ternyata membangkitkan rasa yang dirindukan Bu Ningsih. Rasa yang sudah lama tidak ia rasakan sejak suaminya meninggal lima tahun lalu.

Aneh memang, dari pijatan bisa membuat seorang wanita sampai basah dan mendapatkan puncak pelepasan tertinggi. Pun bagi Yanto, dia hanya memijat biasa, tanpa tahu jika sambaran petir kemarin telah membangkitkan kekuatannya sendiri: kekuatan asli Yanto di masa lampau.

Pijat Gawok.

Pijat yang bisa membangkitkan sensualitas wanita-wanita kesepian seperti Bu Ningsih.

"Astaga Bu, di sini uratnya tegang banget." Yanto mengecek urat-urat kaku wanita itu, sekali lagi dia dibuat keringat dingin karena setiap sentuhan, selalu membuat Bu Ningsih menggeliat.

Janda cantik bercepol satu itu makin tak terkendali, tubuhnya gemetar hebat saat rasa nyaman dan kenikmatan luar biasa itu menyebar. Bagian sensitif di tubuhnya terus-menerus berdenyut, hingga ia harus berpegang pada pinggiran kursi untuk menahan semua sensasi itu.

"Ahh, Yanto..." Bu Ningsih menggeliat semakin liar, dan gilanya Yanto tak berhenti di sana. Ia justru kembali menekan titik paling sensitif Bu Ningsih hingga wanita itu menggelinjang hebat dan mengerang keras.

"Aaahhhh…" Yanto terkesiap kaget ketika Bu Ningsih mendesah kuat. Tubuh janda itu bergetar hebat dengan napas yang memburu cepat. Dadanya yang padat dan sintal tampak naik turun mengikuti irama tarikan napasnya yang berat.

"B-bu Ningsih nggak papa ta? A-apa saya mijitnya terlalu keras?" tanya Yanto gugup.

Ketakutan menyergap benaknya. Ia khawatir jemarinya justru membuat janda semok di depannya itu kesakitan.

"E-enggak... hhh... Pijatan kamu enak kok, To. Ibu udah lama nggak ngerasain ini," balas Bu Ningsih di antara deru napasnya. Tubuhnya melengkung pasrah. Pinggulnya yang padat bergoyang pelan, menikmati tiap tekanan meridian yang disalurkan Yanto.

Sebagai pria muda yang normal, pandangan Yanto otomatis terkunci pada lekuk tubuh di depannya. Jakunnya naik turun, menelan ludah yang terasa tersangkut di tenggorokan.

'Ke-kenapa Bu Ningsih jadi kayak orang—ah, enggak! Enggak! Itu pasti perasaanku aja.' Yanto menggeleng pelan, mencoba menepis gejolak gairah yang mulai membakar naluri kelelakiannya.

Sialnya, pemandangan janda bermandi keringat dengan daster tipis itu terlalu sukar untuk diabaikan begitu saja.

"Aahhh, Yanto..." Bu Ningsih kembali menggelinjang kecil. Desahan demi desahan lolos begitu saja dari bibir basahnya. Yanto yang mulai panik dan takut kebablasan refleks hendak menarik tangannya.

"Bu, saya—"

Sebelum jemari Yanto lepas, Bu Ningsih justru mencengkeram pergelangan tangan pemuda itu. Wanita itu menariknya kembali, memandu telapak tangan Yanto tepat di atas lekuk pinggangnya.

"Jangan berhenti dulu Yanto, tanggung nih!" pinta Bu Ningsih dengan suara tertahan, berusaha mengontrol intonasinya agar tak terdengar terlalu memohon.

"T-tapi..." Yanto ragu. Sebagai laki-laki, disentuh dan diminta bertahan seperti itu jelas menguji iman dan ketahanannya.

Bu Ningsih melirik pemuda yang masih tampak limbung itu. "Ssst... Kamu toh yang tadi nawarin buat mijat? Sekarang ayo selesaikan!"

Yanto tak berkutik. Tatapan sayu wanita paruh baya itu meruntuhkan pertahanan dirinya.

Ia kembali menggerakkan jemarinya di atas pinggang Bu Ningsih. Namun, sapuan sensual serta erangan halus dari wanita di depannya membuat fokus Yanto kian buyar.

"Aah, enak To... Mmmm... Yanto... Aaah..."

Saat jemari Yanto tak sengaja menekan titik meridian sensitif di panggul bawah, Bu Ningsih mengerang keras.

Suara itu mengejutkan Yanto hingga ia serta-merta menarik diri dan mundur beberapa langkah. Napasnya memburu. Ditambah rasa pening yang hebat menghantam kepalanya waktu kepingan ingatan asing berdesakan masuk.

Memori itu membawa sosok Gawok Istana Jawa Kuno yang gagah perkasa—seorang legenda yang menguasai seni penyembuhan meridian sekaligus ilmu olah asmara. Sosok yang mampu memoles dan memanjakan tubuh para putri keraton hingga mencapai kenikmatan puncak.

"A-apa itu tadi?" bisik Yanto dengan dada kembang kempis.

'Gawok? Opo iku Gawok? Siapa sebenarnya orang itu? Kenapa ingatannya bisa masuk ke otakku?'

"Yanto? Kok berhenti?"

Belum sempat Yanto merespons pertanyaan Bu Ningsih, langkah kaki dari arah luar terdengar mendekat.

Pintu terbuka dan Dewi melangkah masuk membawa kantong plastik berisi makanan.

"Bu, Mas Yanto, aku belikan tempe sama sayur asem nih. Masih a—"

Kalimat Dewi terputus. Gadis polos itu mengerutkan kening begitu melihat ibunya tersengal-sengal dengan wajah kemerahan dan tubuh basah oleh keringat.

"Ibu kenapa? Kok mukanya merah?" tanya Dewi polos. Kelopak mata dengan bulu mata lentiknya berkedip beberapa kali sementara bibirnya sedikit mengerucut tanpa sadar.

Bu Ningsih yang kaget buru-buru merapikan dasternya. Ia berusaha bersikap sealami mungkin di hadapan putrinya.

"E-enggak kok, Nduk. Ibu barusan cuma dipijitin sama si Yanto. Pijitannya enak banget sampai encok Ibu langsung sembuh total," kilih Bu Ningsih cepat.

Yanto hanya bisa terkekeh canggung seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Di dalam hati, ia sendiri masih syok dengan luapan ingatan yang baru saja menghantamnya.

"Ya wes, ayo makan bareng. Aku ambilkan piring dulu!" ajak Dewi tanpa rasa curiga sedikit pun.

Bu Ningsih menatap Yanto yang tampak canggung dan tegang. Wajahnya masih memerah bahkan wanita 43 tahun itu beberapa kali menelan ludah karena sensasi nikmat yang belum sepenuhnya hilang. Namun ia mencoba untuk rileks agar Dewi tak curiga dan Yanto tak merasa sungkan.

Dan malam itu, mereka bertiga akhiri dengan makan malam yang hangat dan diselingi obrolan ringan.

Keesokan paginya, matahari pagi baru saja terbit ketika Yanto terbangun. Suasana desa masih diselimuti udara segar dan embun pagi.

Yanto mendapati fisiknya terasa jauh lebih bugar dibanding hari kemarin. Rasa lelah dan lemas akibat tersambar petir mendadak sirna tanpa bekas.

Ia berdiri di depan cermin kusam di kamarnya.

Secara sekilas, penampilan fisiknya tidak berubah banyak. Namun, badannya terasa lebih padat, otot-ototnya kencang, dan pipinya tak lagi sekempot kemarin.

"Badanku kok enakan, yo? Jadi lebih berisi gitu," gumam Yanto sambil meraba bisepnya.

Ia menepuk-nepuk tangannya dengan takjub.

"Kalau badannya begini, mau ngangkat seribu sak beras sehari juga kayaknya sanggup."

Rasa penasaran membuat Yanto melangkah keluar menuju halaman belakang rumahnya yang sepi.

"Sek. Aku mau tes tenaga dulu!"

Dengan percaya diri, Yanto mendekati deretan pohon pisang yang tumbuh subur di batas pekarangan. Ia mengelus batang salah satu pohon, menarik napas dalam-dalam, lalu memusatkan tenaganya.

BUGH!

Dalam satu kali pukulan telak, batang pohon pisang itu tumbang seketika.

"Cuuk. Guendeng! Nggak nyangka aku bisa sekuat ini," seru Yanto tak percaya. "Gila, badanku beneran ke-upgrade! Kemampuan Gawok ini emang jos!"

Semangat Yanto makin membara. Ia kembali melayangkan pukulan ke batang-batang pohon pisang di sebelahnya untuk menguji batas kekuatannya.

Yanto terlalu asyik berlatih hingga tidak menyadari ada sepasang mata yang sedang mengawasinya dari balik tirai jendela rumah sebelah.

Bu Ningsih berdiri di balik jendela, menggigit bibir bawahnya saat menyaksikan tubuh Yanto yang mendadak atletis dan bertenaga.

Bayangan sentuhan hangat jemari Yanto kemarin sore mendadak kembali berputar di otaknya, membuat wajah janda itu memanas dan gairahnya kembali bangkit.

"Piye iki, To? Rasa-rasanya aku mulai ketagihan sama pijatanmu..." bisik Bu Ningsih lirih pada dirinya sendiri. Ia merapatkan kedua pahanya, menahan sensasi geli berdesir yang mendadak muncul di area sensitifnya.

BRAAKK!

Lamunan liar Bu Ningsih buyar seketika oleh suara gedoran pintu depan yang dihantam kasar dari luar.

"Ningsih! Keluar kowe! Jangan pura-pura nggak denger yah!" teriakan berat bernada mengancam menggema hingga ke pekarangan belakang.

Bu Ningsih terkesiap. Wajahnya yang semula merona gairah mendadak pucat pasi mengenali suara bentakan itu.

Dengan napas tersengal karena panik, janda itu bergegas merapikan dasternya lalu berlari kecil menuju ruang depan untuk menemui sang penagih utang.

Sementara itu di pekarangan, Yanto mulai membersihkan puing-puing batang pisang yang hancur. Namun tepat saat pekerjaannya hampir selesai, telinga Yanto menangkap sebuah suara…

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 06:

    Hampir sore saat Yanto menyusuri jalan setapak menuju rumah Bu Broto. Pemuda dengan kaos oblong serta celana kain longgar itu berjalan ditemani Bu Ningsih dan Dewi."Jadi ini rumahnya?" Itulah yang terlontar dari bibir Yanto ketika tiba di tempat tujuan. Kedua matanya dibuat melotot melihat rumah Bu Broto yang memang tergolong mewah dan besar untuk ukuran orang desa. Halamannya luas lengkap dengan tanaman hias. Temboknya dibuat tinggi dengan pagar besi di bagian depan."Iya, Mas Yanto. Ini rumahnya," balas Dewi sambil mengetuk-ketuk gembok ke pagar agar dibukakan pintu. Tak lama seorang wanita yang dikenal sebagai orang kepercayaan Bu Broto keluar, namanya Lastri. Dia menyambut ketiga orang itu dengan alis terangkat sebelah, tampak kurang suka."Oh, jadi ini to tukang pijat yang kamu ceritain?" tanya Lastri sambil memperhatikan penampilan Yanto dari atas ke bawah. Ekspresinya tampak jijik seperti melihat kotoran. Apalagi ketika melihat penampilan Yanto yang kurang meyakinkan, dengan s

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 05:

    "Ayo, Yanto! Berpikir! Pikirkan ide yang bisa membantu Bu Ningsih dan Mbak Dewi!" gumam Yanto pada dirinya sendiri.Ia memejamkan mata rapat-rapat. Napasnya ditarik dalam, lalu diembuskan perlahan.Di tengah kebuntuan itu, pikirannya mulai menyusuri serpihan-serpihan ingatan yang terasa asing sekaligus familiar. Memori yang bukan sepenuhnya milik raga kuli panggul ini.Perlahan, bayangan masa lalu bermunculan.Yanto menyaksikan sosok lelaki gagah berpakaian khas Istana Jawa Kuno. Kedua tangannya bergerak luwes, menelusuri tiap lekuk dan titik meridian seorang wanita bangsawan. Setiap usapan hangatnya bukan sekadar menghilangkan rasa sakit, melainkan juga mengalirkan kenikmatan tiada tara.Lelaki itu adalah Sang Gawok—pewaris keahlian pijat sensual legendaris yang sangat disegani.Konon, sentuhan magisnya sanggup menaklukkan hati para selir dan putri keraton hingga mereka berlutut dan selalu mendambakan kehangatan jemarinya.Semakin dalam Yanto menyusuri lorong ingatan itu, kepingan me

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 04:

    Suasana pagi di desa masih diwarnai riak angin dingin yang membawa aroma tanah basah. Yanto sedang membereskan sisa pecahan gedebog pisang di halaman belakang ketika telinganya menangkap suara isak tangis dari arah dalam rumah. Suara memohon itu terdengar begitu menyayat hati."Pak, tolong jangan lakukan ini! Ugh... To—tolong beri kami waktu."Yanto menghentikan kegiatannya seketika. "Itu kan suaranya Mbak Dewi?" Pria itu menajamkan pendengarannya, memastikan jika yang barusan dia dengar benar suara tetangganya. Alisnya sampai berkerut ke dalam saking fokusnya."Mbak Dewi kenapa? Kok kayak ketakutan gitu?" Dipenuhi rasa penasaran bercampur gejolak protektif di dadanya, Yanto melangkah cepat menuju pintu belakang yang sedikit terbuka. Ia menyapu bekas getah pisang di tangannya pada celana pendeknya sebelum mengintip ke dalam.Di ruang tengah yang sempit, seorang lelaki paruh baya bertubuh gemuk dengan kemeja motif bunga-bunga sedang berdiri mengintimidasi. Wajahnya merah padam, menunju

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 03:

    "Iya, Yanto... Di situ... emphmm... Ke bawah dikit lagi To! Aah..." Janda berbody sintal itu semakin tidak bisa mengendalikan suaranya. Matanya setengah terpejam, menikmati sentuhan si pemuda.Yanto sebenarnya ingin menuruti keinginan Bu Ningsih, bahkan tangannya sudah berada di pangkal tulang ekor janda cantik itu. Yang artinya, jika tangannya turun sedikit lagi saja, itu berarti dia dihadapkan oleh dua pilihan: Paha bawah atau malah naik sedikit ke atas menuju bagian intimnya.Bahkan sekarang ini, gerakan tangan Yanto mulai melemah karena kurang fokus, pikirannya mulai melayang ke mana-mana. 'Gimana ya rasanya anuin janda? Orang-orang di pasar bilang, janda itu lebih pro soal goyangan?'Matanya kembali memandangi pinggang sintal Bu Ningsih. Dengan proporsi badan yang tidak terlalu kurus dan tidak terlalu gemuk, wanita ini jelas membuat Yanto penasaran. 'Pegang dikit aja, nggak papa kali ya?' Yanto memperhatikan ibu kandung Dewi itu sekali lagi. Suara desahan beliau, serta gerakan pa

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 02:

    CTAAAAR!!!Belum sempat kutukan itu selesai terucap dari bibirnya, sebuah kilatan cahaya putih benderang membelah langit dan menghantam tepat di dekat kaki Yanto. Yanto mengejang hebat, seluruh syarafnya mati rasa, dan tubuh kurusnya ambruk menghantam tanah berlumpur.Di ambang batas antara hidup dan mati, saat kesadarannya perlahan meredup, dunia di sekitar Yanto mendadak hening. Hujan dan guntur seolah melambat.Di dalam kegelapan pandangannya, lamat-lamat muncul siluet seorang pria gagah berusia sekitar 40 tahunan. Pria itu berdiri tegak dengan wibawa yang luar biasa besar, mengenakan setelan kain keraton Jawa kuno yang agung."Le, Tole, sekarang waktunya Mbah ambil alih. Orang tulus kayak kamu ndak seharusnya dihina dan dicampakkan seperti itu…"Dalam sepersekian detik, bayangan pria gagah itu meledak menjadi seberkas cahaya keemasan sebelum melesat cepat dan menghantam tepat di tengah dada Yanto. Seketika kilatan memori asing satu per satu membanjiri otaknya."Akhhhhh!!!" Tubuh Y

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 01:

    "Ayo To! Cepet angkat semua karung-karungnya ke dalam! Udah mau hujan ini!"Suara lantang Pak Joko menggema di sudut pasar, mengalahkan riuh rendah klakson dan tawar-menawar hari itu. Tangannya yang memegang buku catatan panjang berayun-ayun di udara, memberi isyarat kepada para kuli yang seketika bergerak panik."Iya, Pak," sahut Yanto pendek.Sudah hampir dua tahun Yanto bertahan di tempat ini, menjadi samsak amukan Pak Joko hampir setiap hari. Di antara belasan kuli panggul yang mencari sesuap nasi di pasar ini, Yanto memang yang paling mencolok dalam arti yang menyedihkan. Pria berusia 26 tahun itu memiliki proporsi tubuh yang sama sekali tidak ideal untuk pekerjaan kasar.Badannya kurus kering layaknya mie biting, dengan tulang iga yang menyembul jelas dari balik kaos oblong tipisnya yang sudah bolong-bolong. Kulitnya legam terbakar matahari, pipinya kempis karena jarang menyentuh makanan bergizi, dan rambutnya selalu acak-acakan penuh debu."Iya-iya terus dari tadi! Kerjaanmu lo

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status