Home / Fantasi / Mas Yanto Kuli Idaman / Bab 04: Keberanian Seorang Gawok

Share

Bab 04: Keberanian Seorang Gawok

Author: Nytheria_Blue
last update publish date: 2026-07-15 17:56:11

Suasana pagi di desa masih diwarnai riak angin dingin yang membawa aroma tanah basah. Yanto sedang membereskan sisa pecahan gedebog pisang di halaman belakang ketika telinganya menangkap suara isak tangis dari arah dalam rumah. Suara memohon itu terdengar begitu menyayat hati.

"Pak, tolong jangan lakukan ini! Ugh... To—tolong beri kami waktu."

Yanto menghentikan kegiatannya seketika. "Itu kan suaranya Mbak Dewi?" Pria itu menajamkan pendengarannya, memastikan jika yang barusan dia dengar benar suara tetangganya. Alisnya sampai berkerut ke dalam saking fokusnya.

"Mbak Dewi kenapa? Kok kayak ketakutan gitu?" Dipenuhi rasa penasaran bercampur gejolak protektif di dadanya, Yanto melangkah cepat menuju pintu belakang yang sedikit terbuka. Ia menyapu bekas getah pisang di tangannya pada celana pendeknya sebelum mengintip ke dalam.

Di ruang tengah yang sempit, seorang lelaki paruh baya bertubuh gemuk dengan kemeja motif bunga-bunga sedang berdiri mengintimidasi. Wajahnya merah padam, menunjuk-nunjuk murka ke arah dua wanita yang bersimpuh di lantai.

"Hah? Itu kan Pak Karto?" Yanto membelalakkan kedua matanya. Ia mengenali betul pria berkumis tebal itu—Karto, lintah darat yang tak kenal ampun di desa ini.

"Pak Karto, tolong beri kami waktu sedikit lagi! Sekarang kami benar-benar nggak ada uang," pinta Dewi di antara isaknya yang tertahan.

Bu Ningsih yang berlutut pasrah di sebelah putrinya ikut bersuara, "Iya, Pak. Kami mohon beri kami keringanan sedikit lagi."

Bukannya luluh, emosi Pak Karto justru kian meledak. Dengan tendangan kasar, ia menghantam piring seng di atas meja hingga terlempar dan menimbulkan bunyi nyaring yang mengejutkan.

"Minta waktu lagi? Opo kalian ini nggak ingat sudah berapa kali aku ngasih kalian keringanan? Aku ini bukan panitia bansos!" bentak Pak Karto dengan nada medok bernada melecehkan.

"Pak Karto... kami mohon sekali, Pak. Beri kami waktu!" Bu Ningsih menunduk hingga dahinya hampir menyentuh lantai, merelakan sisa harga dirinya demi melindungi sang anak.

"Wis! Nggak bisa! Aku udah terlalu sabar!" sahut Pak Karto dingin dan tanpa belas kasihan.

"Pak, tolong kasihani kami! Kami nggak punya pekerjaan tetap, buat makan sehari-hari juga susah," lirih Dewi sambil memberanikan diri memegang ujung sepatu boots Pak Karto.

Gadis polos itu mendongak. Air mata membahasi pipinya yang mulus, memancarkan kepasrahan yang teramat sangat. Kalau bukan karena desakan ekonomi yang kian mencekik, dia juga rasanya tak sudi berhubungan dengan rentenir keji itu. "Pak, tolong beri kami waktu lagi!"

Pandangan Pak Karto tertuju pada Dewi. Tatapan murkanya perlahan berubah menjadi sorot mata mesum dan penuh gairah terutama saat matanya menyusuri tubuh molek gadis muda di depannya.

Kulit kuning langsat yang bersih, bibir tipis kemerahan, serta bentuk dada padat terbungkus kaos tipis yang naik turun seirama napasnya yang memburu. Dalam benak licik Pak Karto, gadis perawan ini adalah komoditas berharga tinggi jika dijual ke juragan yang ada di kota.

"Ya wis, gini aja!" ujar Pak Karto dengan senyum culas yang membuat bulu kuduk berdiri. "Aku beri kalian waktu seminggu. Uang yang kalian pinjam harus sudah ada saat aku datang lagi."

Bu Ningsih dan Dewi sempat bernapas lega mendengarnya. Namun, kelegaan itu buyar seketika oleh kalimat berikutnya.

"Tapi kalau dalam seminggu uangnya belum ada, terpaksa kamu tak bawa ke kota buat dijual ke juragan!" imbuh Pak Karto seraya mencengkeram lembut dagu Dewi. Ia menjilat bibir bawahnya sendiri, menikmati ekspresi ketakutan gadis itu. "Lumayan, perawan mulus gini pasti harganya mahal."

"Jangan, Pak! Tolong jangan bawa anak saya!" jerit Bu Ningsih histeris. Janda itu berlutut sembari memegangi sepatu berujung lancip milik Pak Karto. Tangis Bu Ningsih makin menjadi meratapi nasib putri semata wayangnya. "Jangan jual Dewi, Pak! Biar saya saja yang kerja keras cari uangnya, asal jangan sentuh anak saya!"

"DIAAAM!" Pak Karto mengibaskan kakinya kasar hingga Bu Ningsih terdorong ke lantai. Tangannya kembali menyentuh pipi Dewi seraya berkata, "Keputusanku nggak bisa diganggu gugat! CAMKAN ITU!" Ia mengusap-usap wajah Dewi dengan kilatan penuh nafsu, di mata pria tua sepertinya melihat gadis perawan menangis begitu justru membuat miliknya tegang.

Sementara itu, Dewi tampak kaku. Tubuhnya gemetaran akibat sentuhan pria tua berkumis tebal di hadapannya. Ia ingin menepis tangan itu, tapi rasa takut meredam semua kekuatannya hingga ia hanya bisa menangis dan pasrah.

Dan dari balik sela pintu dapur yang sempit, pandangan Yanto terkunci pada adegan itu. Menyaksikan Bu Ningsih yang bersimpuh histeris dan Dewi yang dilecehkan secara terang-terangan, darah Yanto mendidih hebat. Aura dominan Sang Gawok dalam jiwanya mendadak bangkit begitu liar. Jemari Yanto meremas kencang bingkai pintu kayu di depannya hingga kayu tua itu berderit tajam.

"Kampret!"

BRRAAKK!

Tanpa memikirkan risiko yang harus dia dapat nantinya, Yanto menendang pintu dapur itu dan masuk dengan langkah tegap dan berat. Tubuhnya yang kini jauh lebih bugar langsung berdiri kokoh di depan Dewi dan Bu Ningsih, pasang badan membentengi mereka berdua dari pandangan mesum dan otoriter Pak Karto.

"Pak Karto!" teriak Yanto mantap.

"Sopo maneh iki?" Pak Karto memijat pelipisnya, tampak terkejut melihat keberanian kuli yang biasanya berbadan ringkih itu.

"Aku Yanto! Aku yang bakal melunasi semua utang Mbak Dewi dan Bu Ningsih!" tegas Yanto dengan tatapan mata mengunci lawan bicaranya.

"Loh-loh? Sangar ngene awakmu?" Pak Karto terkekeh meremehkan seraya maju selangkah. "Nggak usah sok jadi pahlawan kamu, dasar miskin!"

"Aku nggak akan biarkan orang seperti Bapak menindas wanita seenak jidat!" balas Yanto. Suaranya berat dan berwibawa, memancarkan aura dominasi yang tak pernah ia miliki sebelumnya.

Bu Ningsih dan Dewi yang kaget langsung beranjak berdiri di belakang punggung lebar Yanto. "Mas Yanto, jangan Mas! Kamu nggak tahu lagi berhadapan sama siapa!" bisik Dewi panik seraya memegang lengan tegap Yanto.

"Biarin, Mbak! Orang picik kaya gini harus diberi pelajaran biar nggak semena-mena sama orang kecil," jawab Yanto tanpa mengalihkan pandangan tajamnya dari Pak Karto. Rahangnya mengeras kukuh.

Pak Karto tertawa terbahak-bahak hingga perut buncitnya bergoyang keras. "Bocah kemarin sore sudah sok jagoan!" Pak Karto mencengkeram kerah kaos Yanto, mencoba mengintimidasi.

Namun, Yanto sama sekali tak bergeming. Postur fisiknya yang tegap membuat gertakan Pak Karto seolah tak berarti apa-apa. "Ya sudah, kalau kamu mau sok pahlawan, kamu tak kasih waktu 3 hari buat lunasi utang mereka!" tantang Pak Karto penuh ejekan.

"Oke! Tiga hari!" sahut Yanto tegas, tanpa sedikit pun keraguan di matanya.

"Mas Yanto, jangan!" jerit Bu Ningsih panik dari balik punggungnya.

Pak Karto terkekeh sinis. Ia mencoba menepuk dada Yanto dengan kasar untuk merendahkan pemuda itu. Namun, bukannya goyah, Yanto merasa tepukan barusan tak berarti apa-apa.

Sebelum tangan gemuk itu menepuk lagi, jemari Yanto bergerak cepat menangkap pergelangan tangan Pak Karto lalu mencengkeramnya secara presisi di titik saraf meridian panggul atas.

"Ugh!" Pak Karto merintih kecil. Sensasi tersetrum dan linu yang mendadak menusuk sampai ke sendi lengannya membuat napas pria gemuk itu tertahan seketika.

Yanto menatap lurus ke dalam manik mata Pak Karto dengan senyum tipis yang meremehkan. Suaranya terdengar dingin dan dalam, memancarkan aura dominan Sang Gawok yang menekan.

"Camkan ini ya, Pak! Dalam tiga hari, aku akan melunasi hutang mereka," bisik Yanto pelan, tetapi sanggup membuat bulu kuduk rentenir tua itu berdiri. "Dan jika aku berhasil menepati janji, pastikan kalau Bapak nggak akan ganggu mereka berdua lagi!" Yanto makin memperketat cengkeramannya sebentar sebelum melepaskannya dengan sentakan halus.

Pak Karto menarik tangannya dengan panik sambil mengelus pergelangan tangannya yang terasa kebas berdenyut. Keringat dingin mendadak menetes di pelipis rentenir tua itu.

"K-kamu... awas ya! Tiga hari lagi tak tunggu di sini!" ancam Pak Karto terbata-bata, mencoba menutupi rasa gentar yang mendadak menjalar di dadanya sebelum berbalik dan bergegas melangkah pergi melintasi pintu depan.

Setelah kepergian rentenir itu, Bu Ningsih terduduk lemas di kursi kayu. Wajahnya pucat pasi. "Kamu kok malah nantangin dia sih, To? Sekarang kita harus gimana?" celetuk Bu Ningsih dengan nada putus asa.

Dewi yang masih mengusap air matanya menimpali, "Dari mana kita bisa dapat uang sebanyak itu dalam tiga hari, Mas?"

Yanto tidak langsung menjawab. Ia bersandar pada dinding kayu ruangan, bersedekap dada sambil memejamkan mata.

Di balik diamnya, ingatan dan ilmu meridian Sang Gawok berputar cepat di kepalanya. Naluri prianya meyakinkannya bahwa keahlian tangan magisnya adalah kunci utama untuk mendapatkan uang cepat dari para wanita kaya.

'Ayo Yanto, mikir! Keahlian Gawok ini harus bisa jadi uang dalam tiga hari!'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 150

    Dewi duduk di tepi tempat tidur kayu berseprai halus. Wajah ayunya memancarkan rona kelelahan yang manis usai seharian penuh mengawasi administrasi dan melayani rombongan ibu-ibu pejabat yang berobat di ruang pendaftaran depan. Pintu kamar berderit pelan lalu terkunci dengan suara klek yang halus. Yanto melangkah masuk dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap. Pemuda mantan kuli panggul pasar itu membawa mangkuk kecil berisi minyak zaitun racikan herbal Gawok yang beraroma wangi melati. "Mbak Dewi capek ya hari ini?" tegur Yanto rendah, suaranya bernada bass dalam yang amat menenangkan batin sang istri. Dewi mendongak, menyunggingkan senyum manisnya walau mata jernihnya tampak agak sayu. "Lumayan, Mas..." cicit Dewi halus seraya merapikan daster batik sutranya. "Bahuku agak pegal-pegal gara-gara duduk lama mengurus buku pendaftaran tadi." Yanto mendudukkan diri di atas tempat tidur, meletakkan mangkuk minyak herbal di atas meja rias. "Sini... membelakangi saya," perintah Yanto

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 149: Hari Hari Damai

    "Mas Yanto!" panggil Dewi lembut seraya melangkah mendekati pagar balkon lantai dua. "Ibu sama Mbak Sari sudah menunggu di meja makan!" Yanto memalingkan pandangannya dari lanskap gemerlap kota yang membentang luas. Pemuda mantan kuli panggul itu menyunggingkan senyum miring berkarisma maskulin, membusungkan dadanya yang bidang berbalut kemeja batik rapi. "Iya, Mbak Dewi... Saya langsung ke dalam," sahut Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema hangat di udara pagi. Dewi tersenyum manis, menyusupkan jemari lentiknya yang berhiaskan cincin emas pernikahan ke dalam genggaman tegap Yanto. Pendar halus energi murni Gawok mengalir tipis dari telapak tangan Yanto, menyebarkan kehangatan dan kebahagiaan mutlak di dada sang kembang desa. Sinar mentari pagi yang memancar keemasan menembus kaca balkon, menyinari seluruh sudut gedung ruko dua lantai yang megah. Di sepanjang pekarangan marmer luar, deretan karangan bunga papan ucapan selamat dari para pejabat provinsi, Pak Wal

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 148: Pesta Syukuran

    "Ayo, Mbak Dewi... Semua barang perbekalan dari desa sudah siap di bagasi SUV," panggil Yanto seraya membetulkan kancing kemeja batiknya di pelataran teras. Dewi melangkah keluar dari pintu kayu rumah Bu Ningsih, membetulkan letak selendang batik cantiknya dengan binar mata bahagia. "Sebentar, Mas Yanto!" sahut Dewi manis. "Ini aku lagi pamitan sama Bu RT sama ibu-ibu pengajian yang ikut mengantar di teras." Bu Ningsih dan Bu RT tersenyum haru, mengusap pelan bahu mungil kembang desa yang kini telah resmi disunting oleh pemuda paling berwibawa di kabupaten tersebut. "Hati-hati di kota ya, Dewi, Bu Ningsih..." bisik Bu RT penuh rasa hormat. "Jaga baik-baik Mas Yanto, kebanggaan desa kita." Yanto membusungkan dadanya yang bidang, membukakan pintu depan SUV hitam berkilat untuk sang istri. "Nggih, matur nuwun semuanya... Kami pamit kembali ke tempat praktik di kota." SUV hitam itu pun perlahan meluncur mulus membelah keheningan desa, melintasi hamparan sawah hijau menuju Jala

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 147: Bisikan Panas

    "Mas Yanto... kunci pintunya sudah di-slot belum?" bisik Dewi pelan seraya membetulkan tali gaun tidur sutra merah mudanya di tepi tempat tidur kayu. Yanto berbalik dari arah pintu kamar. Pemuda itu menyunggingkan senyum miring berkarisma maskulin, membusungkan dadanya yang bidang berbalut sarung tenun tanpa kemeja. "Sudah rapat, Mbak Dewi," jawab Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema hangat di dalam kamar beraroma melati. "Ndak bakal ada yang mengganggu kita malam ini." Pipi mulus Dewi seketika membara merah merona. Gadis kembang desa yang kini resmi menjadi istri sah Sang Master Terapi itu menunduk malu, meremas ujung selimut dengan jemari lentiknya yang gemetar halus. Yanto memangkas jarak, melangkah tegap hingga lututnya menyentuh tepi kasur busa. Tanpa ragu, telapak tangan besarnya yang hangat terulur merengkuh lembut pinggul mungil Dewi, menarik tubuh molek sang istri merapat ke dalam dekapannya. Deg. Tubuh Dewi bergetar halus sewaktu dadanya yang s

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 146: Hari-Hari Pengantin Baru

    Sinar mentari pagi yang hangat menembus celah-celah jendela kayu rumah Bu Ningsih di Desa Karanganyar. Aroma harum rebusan nasi tiwul, sayur lodeh, dan jahe rempah menyelimuti seluruh area dapur belakang yang bersih. Dewi berdiri anggun di tepi meja kayu, menyeduh teh hangat ke dalam beberapa cangkir seng. Langkah kakinya kini tampak amat tegap dan mantap, memancarkan pendar kebahagiaan murni seorang wanita yang telah resmi menjadi istri sah Sang Master Terapi. Bu Ningsih melangkah mendekat seraya membawa piring penganan tiwul manis, menatap putri tunggalnya dengan mata berbinar haru. "Pripun rasane dadi bojone Mas Yanto, Nduk?" goda Bu Ningsih manis dengan binar mata bahagia. "Wis bahagia toh atimu?" Pipi mulus Dewi seketika membara merah merona bagai buah tomat matang. Gadis itu menunduk malu, merapatkan cangkir tehnya. "I-Ibu ini..." cicit Dewi parau nan manis. "Mas Yanto itu beneran pria sejati, Bu... Sangat lembut, pengertian, dan selalu bikin aku ngerasa aman." Yanto

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 145: Ijab Kabul

    "Pripun, Mas Yanto? Sudah siap?" tanya Penghulu ramah seraya membuka kitab catatan nikah resmi.Yanto duduk bersila tegap di pelaminan kayu jati rumah Bu Ningsih, membusungkan dadanya yang bidang berbalut beskap batik keemasan."Inggih, Pak Penghulu," jawab Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema mantap. "Saya siap."Dewi melangkah keluar dari kamar dalam dituntun oleh Bu Ningsih dan Mbak Sari. Gadis kembang desa itu tampil amat cantik berbalut kebaya pengantin putih keemasan dengan paes dan ronce melati segar.Dewi mendudukkan diri secara anggun di samping Yanto, meremas pelan kain jariknya dengan jemari yang gemetar halus oleh keharuan mendalam.Penghulu menjabat erat cengkeraman tangan tegap Yanto. Suasana terop janur kuning pekarangan seketika hening mencekik, seluruh warga menahan napas khidmat."Saudara Yanto bin Ahmad," ucap Penghulu dengan suara tegas nan mantap. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Dewi Novitasari binti Sukardi, dengan mas kawin seper

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status