Home / Fantasi / Mas Yanto Kuli Idaman / Bab 07: Puncak Gairah Bu Broto

Share

Bab 07: Puncak Gairah Bu Broto

Author: Nytheria_Blue
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-25 20:58:23

Yanto mendekat lalu duduk perlahan di tepi ranjang mewah itu. Aroma wangi parfum mahal bercampur kehangatan tubuh Bu Broto mendadak menusuk indra penciumannya. Yanto menyunggingkan senyum tipis. 'Guendeng, kasurnya empuk banget. Kapan ya punya kasur gini di kontrakan?'

Pemuda yang hanya memakai kaos polos dan celana panjang itu memperhatikan Bu Broto sekali lagi. Sekilas ia teringat pada momen Gawok dan Raden Ayu yang muncul semalam. Ia menyeringai dalam hati dan bergumam, 'Hari ini, keangkuhanmu bakal meleleh di bawah tanganku.'

"Heh? Kenapa malah ngelamun?" tegur Bu Broto tegas, memecah kesunyian. "Buruan pijit! Kepalaku rasanya kaya mau pecah!"

"Iya Bu." Yanto menghela napas tenang, mengontrol konsentrasinya. Ia merenggangkan jemarinya, lalu menempelkan kedua telapak tangannya di titik meridian pelipis Bu Broto. Energi hangat Sang Gawok mulai dialirkan secara presisi.

"Hhh..." Bu Broto merintih pelan. Rasa tegang yang mencekat kepalanya perlahan luntur, berganti sensasi hangat menenangkan yang merayap masuk ke balik lapisan kulitnya.

Jari-jari Yanto bergerak luwes, menekan titik-titik saraf penting dengan ritme yang stabil. Setiap putaran jemarinya mengalirkan gelombang panas magis yang kian meresap dalam.

'A-apa ini? Kenapa pijatan kuli ini terasa beda banget?' batin Bu Broto panik.

Wanita kaya itu beberapa kali menelan ludah. Hawa panas dari tangan Yanto menembus otot-otot tegangnya hingga menyentuh saraf terdalam. Migrain kronis yang menyiksanya perlahan lenyap, digantikan gelombang nikmat liar yang tak sanggup ia tahan.

"Y-Yantooo!" desahan halus lolos begitu saja dari bibir bergincu merah Bu Broto.

"Tahan sedikit nggih, Bu!" balas Yanto tenang seraya memutar jemarinya di pelipis.

Wajah Bu Broto yang semula pucat kini merona merah padam. 'Ada apa ini? Kenapa tubuhku jadi panas dan gemetar gini?' bisik Bu Broto dalam hati. Ia mulai menggelinjang gelisah di atas ranjang.

Jemari Yanto bergerak turun menyusuri leher jenjang Bu Broto, lalu merayap ke pangkal tengkuk. Energi Gawok mengalir bak aliran sungai hangat yang membasahi setiap simpul saraf sensitifnya.

DEG!

Tubuh Bu Broto tersentak hebat. Pinggul bahagian bawahnya melengkung refleks, membuat dadanya yang padat di balik daster sutra tipis menekan kasur kuat-kuat.

Daster sutra tanpa bra itu kini basah oleh keringat halus, menempel ketat dan mencetak jelas bentuk gundukan dadanya yang masih mengkal dan kencang di usia 45 tahun.

"Aah, Yanto! Tangan kamu—ahhh... di situ..." rintih wanita itu tanpa sanggup mengontrol suaranya lagi.

Sensasi panas menyeruak dari kepala, leher, hingga merayap turun ke perut bawah dan pangkal pahanya. Area paling sensitif yang bertahun-tahun tak tersentuh kini berdenyut-denyut hebat, menegang dan membasahi celana dalamnya.

"Aaaa... Hhhh..." Bu Broto melenguh keras.

Suaranya yang semula angkuh berubah serak dan manja. Bokong sintal dan pinggul lebarnya bergoyang pelan mengikuti ritme usapan tangan Yanto, merapat pasrah ke arah paha Yanto. Keringat halus bermandi di celah dadanya yang terbuka.

Melihat pemandangan liar itu, celana Yanto mendadak makin menonjol sesak. Darahnya mendidih, tetapi Yanto tetap mempertahankan senyum dominannya.

Sambil memiringkan kepala, Yanto menekan titik meridian pemicu di pangkal tengkuk Bu Broto, lalu menyalurkan lonjakan energi Gawok yang lebih kuat.

"Gimana, Bu? Enak nggak pijatan saya?" tanya Yanto lirih, pandangannya mengunci bibir merah Bu Broto yang ternganga.

"Ahhh! Yanto... Aaa... Pijatan kamu enak banget, Yan... A-aku nggak tahan!" jerit Bu Broto pasrah.

Mata Bu Broto merem-melek menikmati sensasi puncak. Napasnya memburu cepat, membuat dadanya yang seperti pepaya Thailand naik turun dengan cepat. Kedua paha mulusnya saling merapat dan menjepit kencang saat denyutan di area selangkangannya kian tak tertahankan.

"Aah, Yanto! Tunggu—aku... AAAHHH!" Dengan satu sentakan halus terakhir di titik lehernya, gelombang kenikmatan itu meledak hebat.

Bu Broto mencapai puncaknya hanya dari stimulasi meridian kepala dan leher. Tubuh sintalnya menegang hebat, paha mulusnya bergetar gemetar selama beberapa detik, diiringi erangan panjang penuh kepuasan yang memenuhi kamar ber-AC tersebut.

"Ahhhh..." Tubuh sinyalnya langsung ambruk lemas di atas kasur, tersengal-sengal menatap langit-langit kamar. Wajah cantiknya merah padam sampai ke telinga, dan bagian bawah dasternya basah kuyup oleh cairan kenikmatan yang menembus kain.

"Y-Yanto..." desis Bu Broto lirih. Ia menutup wajahnya dengan sebelah lengan, tak berani menatap Yanto karena rasa malu bercampur candu yang luar biasa.

Yanto menarik tangannya perlahan. Ia memperbaiki posisi celananya yang makin sesak, lalu mengatur napas agar tetap terlihat penuh wibawa sebagai pria dominan.

"Gimana, Bu? Migrainnya sudah mendingan?" tanya Yanto lembut.

Bu Broto mengangguk lemah di antara deru napasnya. "E-enak banget, Yanto. Pijatan kamu luar biasa..."

Yanto tersenyum puas, lalu dengan sigap memegang bahu mulus Bu Broto untuk membantunya duduk. Sakit kepala kronis yang diderita janda kaya itu hilang tanpa bekas, meninggalkan rasa ringan dan segar di sekujur tubuhnya.

"Hati-hati, Bu," tutur Yanto ramah.

"Kamu benar-benar ajaib, Yanto. Sakit kepalaku langsung hilang total. Dan badanku..." Bu Broto menunduk, menyembunyikan pipinya yang memanas dan dadanya yang masih tersengal. "...rasanya jadi segar dan enteng banget."

Yanto menggeser duduknya sedikit, menatap penuh percaya diri. "Syukurlah kalau Bu Broto cocok sama pijatan saya."

Pandangan Bu Broto pada Yanto berubah total. Rasa sangsi dan ejekannya menguap, berganti rasa kagum, hormat, serta keterikatan batin akibat efek magis pemicu candu dari energi Gawok.

"Jujur, aku puas banget," kata Bu Broto. Ia membuka laci meja di samping tempat tidur, mengambil dompet kulitnya, lalu mengulurkan beberapa lembar uang ratusan ribu yang tebal ke tangan Yanto. "Ambil ini sebagai bayaran awal!"

Yanto menerima lembaran uang itu. Hatinya lega karena target untuk melunasi utang Pak Karto kini makin dekat. "Maturnuwun, Bu Broto. Terima kasih banyak," ujar Yanto sopan.

"Jangan senang dulu, To. Aku belum selesai."

Yanto mengerutkan keningnya, menatap sang janda kaya. "Maksudnya gimana, Bu?"

Bu Broto berdeham pelan, lalu menggeser duduknya semakin rapat ke arah Yanto, hingga paha mulusnya menempel ke lutut Yanto.

"Yanto, aku..."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 150

    Dewi duduk di tepi tempat tidur kayu berseprai halus. Wajah ayunya memancarkan rona kelelahan yang manis usai seharian penuh mengawasi administrasi dan melayani rombongan ibu-ibu pejabat yang berobat di ruang pendaftaran depan. Pintu kamar berderit pelan lalu terkunci dengan suara klek yang halus. Yanto melangkah masuk dengan postur tubuhnya yang tinggi tegap. Pemuda mantan kuli panggul pasar itu membawa mangkuk kecil berisi minyak zaitun racikan herbal Gawok yang beraroma wangi melati. "Mbak Dewi capek ya hari ini?" tegur Yanto rendah, suaranya bernada bass dalam yang amat menenangkan batin sang istri. Dewi mendongak, menyunggingkan senyum manisnya walau mata jernihnya tampak agak sayu. "Lumayan, Mas..." cicit Dewi halus seraya merapikan daster batik sutranya. "Bahuku agak pegal-pegal gara-gara duduk lama mengurus buku pendaftaran tadi." Yanto mendudukkan diri di atas tempat tidur, meletakkan mangkuk minyak herbal di atas meja rias. "Sini... membelakangi saya," perintah Yanto

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 149: Hari Hari Damai

    "Mas Yanto!" panggil Dewi lembut seraya melangkah mendekati pagar balkon lantai dua. "Ibu sama Mbak Sari sudah menunggu di meja makan!" Yanto memalingkan pandangannya dari lanskap gemerlap kota yang membentang luas. Pemuda mantan kuli panggul itu menyunggingkan senyum miring berkarisma maskulin, membusungkan dadanya yang bidang berbalut kemeja batik rapi. "Iya, Mbak Dewi... Saya langsung ke dalam," sahut Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema hangat di udara pagi. Dewi tersenyum manis, menyusupkan jemari lentiknya yang berhiaskan cincin emas pernikahan ke dalam genggaman tegap Yanto. Pendar halus energi murni Gawok mengalir tipis dari telapak tangan Yanto, menyebarkan kehangatan dan kebahagiaan mutlak di dada sang kembang desa. Sinar mentari pagi yang memancar keemasan menembus kaca balkon, menyinari seluruh sudut gedung ruko dua lantai yang megah. Di sepanjang pekarangan marmer luar, deretan karangan bunga papan ucapan selamat dari para pejabat provinsi, Pak Wal

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 148: Pesta Syukuran

    "Ayo, Mbak Dewi... Semua barang perbekalan dari desa sudah siap di bagasi SUV," panggil Yanto seraya membetulkan kancing kemeja batiknya di pelataran teras. Dewi melangkah keluar dari pintu kayu rumah Bu Ningsih, membetulkan letak selendang batik cantiknya dengan binar mata bahagia. "Sebentar, Mas Yanto!" sahut Dewi manis. "Ini aku lagi pamitan sama Bu RT sama ibu-ibu pengajian yang ikut mengantar di teras." Bu Ningsih dan Bu RT tersenyum haru, mengusap pelan bahu mungil kembang desa yang kini telah resmi disunting oleh pemuda paling berwibawa di kabupaten tersebut. "Hati-hati di kota ya, Dewi, Bu Ningsih..." bisik Bu RT penuh rasa hormat. "Jaga baik-baik Mas Yanto, kebanggaan desa kita." Yanto membusungkan dadanya yang bidang, membukakan pintu depan SUV hitam berkilat untuk sang istri. "Nggih, matur nuwun semuanya... Kami pamit kembali ke tempat praktik di kota." SUV hitam itu pun perlahan meluncur mulus membelah keheningan desa, melintasi hamparan sawah hijau menuju Jala

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 147: Bisikan Panas

    "Mas Yanto... kunci pintunya sudah di-slot belum?" bisik Dewi pelan seraya membetulkan tali gaun tidur sutra merah mudanya di tepi tempat tidur kayu. Yanto berbalik dari arah pintu kamar. Pemuda itu menyunggingkan senyum miring berkarisma maskulin, membusungkan dadanya yang bidang berbalut sarung tenun tanpa kemeja. "Sudah rapat, Mbak Dewi," jawab Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema hangat di dalam kamar beraroma melati. "Ndak bakal ada yang mengganggu kita malam ini." Pipi mulus Dewi seketika membara merah merona. Gadis kembang desa yang kini resmi menjadi istri sah Sang Master Terapi itu menunduk malu, meremas ujung selimut dengan jemari lentiknya yang gemetar halus. Yanto memangkas jarak, melangkah tegap hingga lututnya menyentuh tepi kasur busa. Tanpa ragu, telapak tangan besarnya yang hangat terulur merengkuh lembut pinggul mungil Dewi, menarik tubuh molek sang istri merapat ke dalam dekapannya. Deg. Tubuh Dewi bergetar halus sewaktu dadanya yang s

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 146: Hari-Hari Pengantin Baru

    Sinar mentari pagi yang hangat menembus celah-celah jendela kayu rumah Bu Ningsih di Desa Karanganyar. Aroma harum rebusan nasi tiwul, sayur lodeh, dan jahe rempah menyelimuti seluruh area dapur belakang yang bersih. Dewi berdiri anggun di tepi meja kayu, menyeduh teh hangat ke dalam beberapa cangkir seng. Langkah kakinya kini tampak amat tegap dan mantap, memancarkan pendar kebahagiaan murni seorang wanita yang telah resmi menjadi istri sah Sang Master Terapi. Bu Ningsih melangkah mendekat seraya membawa piring penganan tiwul manis, menatap putri tunggalnya dengan mata berbinar haru. "Pripun rasane dadi bojone Mas Yanto, Nduk?" goda Bu Ningsih manis dengan binar mata bahagia. "Wis bahagia toh atimu?" Pipi mulus Dewi seketika membara merah merona bagai buah tomat matang. Gadis itu menunduk malu, merapatkan cangkir tehnya. "I-Ibu ini..." cicit Dewi parau nan manis. "Mas Yanto itu beneran pria sejati, Bu... Sangat lembut, pengertian, dan selalu bikin aku ngerasa aman." Yanto

  • Mas Yanto Kuli Idaman   Bab 145: Ijab Kabul

    "Pripun, Mas Yanto? Sudah siap?" tanya Penghulu ramah seraya membuka kitab catatan nikah resmi.Yanto duduk bersila tegap di pelaminan kayu jati rumah Bu Ningsih, membusungkan dadanya yang bidang berbalut beskap batik keemasan."Inggih, Pak Penghulu," jawab Yanto rendah, suaranya bernada bass berat yang bergema mantap. "Saya siap."Dewi melangkah keluar dari kamar dalam dituntun oleh Bu Ningsih dan Mbak Sari. Gadis kembang desa itu tampil amat cantik berbalut kebaya pengantin putih keemasan dengan paes dan ronce melati segar.Dewi mendudukkan diri secara anggun di samping Yanto, meremas pelan kain jariknya dengan jemari yang gemetar halus oleh keharuan mendalam.Penghulu menjabat erat cengkeraman tangan tegap Yanto. Suasana terop janur kuning pekarangan seketika hening mencekik, seluruh warga menahan napas khidmat."Saudara Yanto bin Ahmad," ucap Penghulu dengan suara tegas nan mantap. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Dewi Novitasari binti Sukardi, dengan mas kawin seper

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status