LOGINYanto mendekat lalu duduk perlahan di tepi ranjang mewah itu. Aroma wangi parfum mahal bercampur kehangatan tubuh Bu Broto mendadak menusuk indra penciumannya. Yanto menyunggingkan senyum tipis. 'Guendeng, kasurnya empuk banget. Kapan ya punya kasur gini di kontrakan?'
Pemuda yang hanya memakai kaos polos dan celana panjang itu memperhatikan Bu Broto sekali lagi. Sekilas ia teringat pada momen Gawok dan Raden Ayu yang muncul semalam. Ia menyeringai dalam hati dan bergumam, 'Hari ini, keangkuhanmu bakal meleleh di bawah tanganku.' "Heh? Kenapa malah ngelamun?" tegur Bu Broto tegas, memecah kesunyian. "Buruan pijit! Kepalaku rasanya kaya mau pecah!" "Iya Bu." Yanto menghela napas tenang, mengontrol konsentrasinya. Ia merenggangkan jemarinya, lalu menempelkan kedua telapak tangannya di titik meridian pelipis Bu Broto. Energi hangat Sang Gawok mulai dialirkan secara presisi. "Hhh..." Bu Broto merintih pelan. Rasa tegang yang mencekat kepalanya perlahan luntur, berganti sensasi hangat menenangkan yang merayap masuk ke balik lapisan kulitnya. Jari-jari Yanto bergerak luwes, menekan titik-titik saraf penting dengan ritme yang stabil. Setiap putaran jemarinya mengalirkan gelombang panas magis yang kian meresap dalam. 'A-apa ini? Kenapa pijatan kuli ini terasa beda banget?' batin Bu Broto panik. Wanita kaya itu beberapa kali menelan ludah. Hawa panas dari tangan Yanto menembus otot-otot tegangnya hingga menyentuh saraf terdalam. Migrain kronis yang menyiksanya perlahan lenyap, digantikan gelombang nikmat liar yang tak sanggup ia tahan. "Y-Yantooo!" desahan halus lolos begitu saja dari bibir bergincu merah Bu Broto. "Tahan sedikit nggih, Bu!" balas Yanto tenang seraya memutar jemarinya di pelipis. Wajah Bu Broto yang semula pucat kini merona merah padam. 'Ada apa ini? Kenapa tubuhku jadi panas dan gemetar gini?' bisik Bu Broto dalam hati. Ia mulai menggelinjang gelisah di atas ranjang. Jemari Yanto bergerak turun menyusuri leher jenjang Bu Broto, lalu merayap ke pangkal tengkuk. Energi Gawok mengalir bak aliran sungai hangat yang membasahi setiap simpul saraf sensitifnya. DEG! Tubuh Bu Broto tersentak hebat. Pinggul bahagian bawahnya melengkung refleks, membuat dadanya yang padat di balik daster sutra tipis menekan kasur kuat-kuat. Daster sutra tanpa bra itu kini basah oleh keringat halus, menempel ketat dan mencetak jelas bentuk gundukan dadanya yang masih mengkal dan kencang di usia 45 tahun. "Aah, Yanto! Tangan kamu—ahhh... di situ..." rintih wanita itu tanpa sanggup mengontrol suaranya lagi. Sensasi panas menyeruak dari kepala, leher, hingga merayap turun ke perut bawah dan pangkal pahanya. Area paling sensitif yang bertahun-tahun tak tersentuh kini berdenyut-denyut hebat, menegang dan membasahi celana dalamnya. "Aaaa... Hhhh..." Bu Broto melenguh keras. Suaranya yang semula angkuh berubah serak dan manja. Bokong sintal dan pinggul lebarnya bergoyang pelan mengikuti ritme usapan tangan Yanto, merapat pasrah ke arah paha Yanto. Keringat halus bermandi di celah dadanya yang terbuka. Melihat pemandangan liar itu, celana Yanto mendadak makin menonjol sesak. Darahnya mendidih, tetapi Yanto tetap mempertahankan senyum dominannya. Sambil memiringkan kepala, Yanto menekan titik meridian pemicu di pangkal tengkuk Bu Broto, lalu menyalurkan lonjakan energi Gawok yang lebih kuat. "Gimana, Bu? Enak nggak pijatan saya?" tanya Yanto lirih, pandangannya mengunci bibir merah Bu Broto yang ternganga. "Ahhh! Yanto... Aaa... Pijatan kamu enak banget, Yan... A-aku nggak tahan!" jerit Bu Broto pasrah. Mata Bu Broto merem-melek menikmati sensasi puncak. Napasnya memburu cepat, membuat dadanya yang seperti pepaya Thailand naik turun dengan cepat. Kedua paha mulusnya saling merapat dan menjepit kencang saat denyutan di area selangkangannya kian tak tertahankan. "Aah, Yanto! Tunggu—aku... AAAHHH!" Dengan satu sentakan halus terakhir di titik lehernya, gelombang kenikmatan itu meledak hebat. Bu Broto mencapai puncaknya hanya dari stimulasi meridian kepala dan leher. Tubuh sintalnya menegang hebat, paha mulusnya bergetar gemetar selama beberapa detik, diiringi erangan panjang penuh kepuasan yang memenuhi kamar ber-AC tersebut. "Ahhhh..." Tubuh sinyalnya langsung ambruk lemas di atas kasur, tersengal-sengal menatap langit-langit kamar. Wajah cantiknya merah padam sampai ke telinga, dan bagian bawah dasternya basah kuyup oleh cairan kenikmatan yang menembus kain. "Y-Yanto..." desis Bu Broto lirih. Ia menutup wajahnya dengan sebelah lengan, tak berani menatap Yanto karena rasa malu bercampur candu yang luar biasa. Yanto menarik tangannya perlahan. Ia memperbaiki posisi celananya yang makin sesak, lalu mengatur napas agar tetap terlihat penuh wibawa sebagai pria dominan. "Gimana, Bu? Migrainnya sudah mendingan?" tanya Yanto lembut. Bu Broto mengangguk lemah di antara deru napasnya. "E-enak banget, Yanto. Pijatan kamu luar biasa..." Yanto tersenyum puas, lalu dengan sigap memegang bahu mulus Bu Broto untuk membantunya duduk. Sakit kepala kronis yang diderita janda kaya itu hilang tanpa bekas, meninggalkan rasa ringan dan segar di sekujur tubuhnya. "Hati-hati, Bu," tutur Yanto ramah. "Kamu benar-benar ajaib, Yanto. Sakit kepalaku langsung hilang total. Dan badanku..." Bu Broto menunduk, menyembunyikan pipinya yang memanas dan dadanya yang masih tersengal. "...rasanya jadi segar dan enteng banget." Yanto menggeser duduknya sedikit, menatap penuh percaya diri. "Syukurlah kalau Bu Broto cocok sama pijatan saya." Pandangan Bu Broto pada Yanto berubah total. Rasa sangsi dan ejekannya menguap, berganti rasa kagum, hormat, serta keterikatan batin akibat efek magis pemicu candu dari energi Gawok. "Jujur, aku puas banget," kata Bu Broto. Ia membuka laci meja di samping tempat tidur, mengambil dompet kulitnya, lalu mengulurkan beberapa lembar uang ratusan ribu yang tebal ke tangan Yanto. "Ambil ini sebagai bayaran awal!" Yanto menerima lembaran uang itu. Hatinya lega karena target untuk melunasi utang Pak Karto kini makin dekat. "Maturnuwun, Bu Broto. Terima kasih banyak," ujar Yanto sopan. "Jangan senang dulu, To. Aku belum selesai." Yanto mengerutkan keningnya, menatap sang janda kaya. "Maksudnya gimana, Bu?" Bu Broto berdeham pelan, lalu menggeser duduknya semakin rapat ke arah Yanto, hingga paha mulusnya menempel ke lutut Yanto. "Yanto, aku..."Mata hitam Yanto yang pekat mengunci satu pemandangan di sudut gudang: Bos kebun teh berbadan gempal itu sedang membungkuk di atas tumpukan karung, dengan tangan kasarnya yang berada dekat dengan leher dan bahu Dewi. Sementara itu, Dewi terkulai lemas di atas karung-karung teh, wajah ayunya merah padam bermandi keringat dan napasnya memburu terengah-engah akibat pengaruh obat racikan yang membakar kesadarannya."Asu kowe!" suara Yanto meluncur rendah, berat, dan sarat akan ancaman membunuh. "Lepasin tangan kotormu dari Mbak Dewi!"Si bos kebun teh membeku seketika. Pria gempal bermandi keringat itu memutar kepalanya pelan, terperanjat melihat keberadaan sang kuli pasar. Namun, sebelum niat jahat di otaknya sempat mengintruksikan tubuhnya untuk berdiri atau melawan, Yanto sudah lebih dulu mengikis jarak bagaikan kilat.Brak!Satu ayunan kaki tegap Yanto mendarat telak di bagian tengah dada pria gempal itu. Dentuman keras terdengar saat tubuh gemuk sang bos terpental dua meter ke belaka
“Mbak Dewi gerah ya?” suaranya rendah. “Sini, Pak Bos bantu dinginin.”Dewi hanya mampu menatapnya dengan mata sayu. Pikirannya kosong. Yang keluar hanyalah napas pendek-pendek.Bos itu semakin mendekat. Tangannya yang besar menyentuh punggung tangan Dewi yang bersandar di karung, mengusap pelan. Lalu naik ke lengan, gerakan lambat dan hati-hati."Ahhh..."“Tenang saja… aku akan bantu kamu buat pendinginan,” bisiknya.Jari-jarinya naik ke pipi Dewi, mengusap lembut rona merah di kulitnya. Dewi mengerjap lemah, tubuhnya sedikit menegang, tapi tidak punya tenaga untuk menolak. Napasnya semakin cepat.Pria itu menunduk sedikit. Ibu jarinya menyentuh bibir Dewi yang terbuka karena terengah-engah, mengusap pelan sudutnya. "Ya ampun... Bibir kamu lembut banget, Mbak? Pasti rasanya manis banget ini. Mengalahkan gula dari tebu manapun."Usapan pria mesum itu turun ke dagu, dan akhirnya ke leher yang sudah basah keringat.“Hnn… ahh…” desah Dewi pelan saat jari-jari itu mengusap sisi lehernya.
"Ahh!" Dewi sedikit terperanjat ketika tangannya tiba-tiba ditarik oleh si kuli. Genggaman kuli itu cukup kuat hingga membuat Dewi sedikit mengaduh. "Kamu kenapa to, Wi? Ini loh cuma minuman biasa?" gertak sang bos, raut ramah buatannya seketika luntur, berganti menjadi tatapan penuh intimidasi yang mengerikan. "Cepat ambil airnya, Wi! Ojo nolak rezeki dari bosmu sendiri!" "Lepas, Pak! Lepaskan saya!" jerit Dewi histeris. Ia memutar badannya, mencoba menendang dan mengayunkan keranjang bambu di punggungnya demi membela diri. Namun, si kuli gemuk yang bersiaga di belakangnya bergerak lebih cepat. Dengan kasar, kuli itu mencengkeram kedua bahu Dewi dari belakang, mengunci pergerakan gadis itu rapat-rapat. "Uwes, Mbak! Ojo kakehan pola!" desis si kuli seraya menarik kepala Dewi ke belakang, memaksa leher gadis itu mendongak tertekuk. Dewi memberontak liar, kakinya menendang-nendang udara. "Ka— kalian mau ngapain? Tolong! Tolooong...." Sebelum teriakan Dewi tuntas, bos kebun te
Suara jangkrik sore mulai bersahutan di sela-sela rimbunnya daun teh. Langit di atas perbukitan berubah jingga keemasan. Sebagian besar buruh petik teh sudah mulai merapikan keranjang bambu mereka dan berjalan menyusuri jalan setapak untuk menyetorkan hasil panen ke pos timbangan. Dewi mengelap keringat di dahinya dengan ujung lengan baju longgarnya. Keranjang di punggungnya sudah terisi penuh oleh pucuk teh muda. "Mbak Dewi, mau barengan ke pos timbangan?" sapa Yu Sum, salah satu buruh wanita paruh baya yang berjalan melintas di sampingnya. Dewi menyunggingkan senyum manis yang dipaksakan, mencoba menutupi gelisah yang masih menggelayuti dadanya sejak siang tadi. "Enggak dulu, Yu. Iki keranjangku sek agak kurang rapi, tak benahi sebentar. Duluan wae." "Oalah, ya wis. Ojo kemalaman yo, Mbak. Buru-buru pulang, sebentar lagi gelap," pesan Yu Sum ramah sebelum berlalu meninggalkan Dewi sendirian di area kebun bagian barat yang mulai sepi. Tanpa Dewi sadari, di balik semak-semak poho
Sementara itu di sudut pasar desa yang riuh, siang terasa begitu menyengat. Yanto sedang berkumpul bersama para kuli panggul di balik warung kayu sederhana. Mereka duduk berderet menikmati es teh hangat untuk melepas lelah. Di tengah kebisingan pasar, salah satu kuli berbadan tegap, Mas Sapri, menghela napas panjang lalu membuka suara. “Kalian sudah dengar kabar soal bos kebun teh di perbukitan barat?” “Bos yang perutnya gendut dan berkepala botak itu?” sahut kuli lain menanggapi. “Iya, siapa lagi,” balas Mas Sapri. “Katanya dia lagi kebelet cari istri muda lagi. Sudah punya empat istri di rumah, masih kurang aja itu orang.” Yanto yang semula hanya diam menyimak sambil memegangi gelasnya, mendadak menegakkan posisi duduknya. Sorot matanya menajam. Mas Sapri melanjutkan dengan nada bersungut-sungut, “Orangnya culas banget. Suka godain gadis-gadis pengetik teh yang masih perawan. Kalau sudah naksir, dia bakal pakai segala cara kotor buat dapatin korbannya. Ada yang bilang, bulan la
"Hah? Istri kelima? Sampeyan serius?" “Iyo, aku serius!” Bos itu menjilat bibir bawahnya yang basah secara perlahan, memancarkan aura ketagihan. “Perempuan seperti Dewi itu tipeku banget. Masih muda, masih perawan, wajahnya manis manis lugu. Aku beneran naksir. Apalagi sikapnya yang jual mahal dan sombong itu, makin bikin penasaran. Nggak kayak gadis-gadis kampung sini yang gampang dikasih umpan.” "Coba dirayu pakai duit segepok, Bos. Pasti langsung melunak dia." Pria berparut perut buncit itu mendesis geli. "Udah pernah. Tapi tetep nggak mempan. Makanya aku jadi makin gatal pengen naklukin dia." “Tapi Yanto gimana, Pak? Jangan salah langkah..." peringat si kuli ragu. “Yanto itu urusan sepele! Sekali kibas juga beres,” potong sang bos arogan. Ia akhirnya menoleh pada bawahannya, memperlihatkan cengiran mesum yang melekat penuh kepercayaan diri. “Yang terpenting itu aku harus dapetin Dewi. Pengen banget aku ngerasain keperawanannya." Kuli itu sampai menelan ludah berat mendengar







