Home / Fantasi / Sentuhan Ajaib Mas Yanto / Bab 118: Strategi Pengacara Kota

Share

Bab 118: Strategi Pengacara Kota

Author: Nytheria_Blue
last update publish date: 2026-09-20 16:23:11

Deru mesin mobil sedan perak Bu Broto melaju pelan menyusuri jalanan tanah desa yang temaram, membelah kesunyian malam menuju ruko "Gawok Sehat". Suara pintu mobil ditutup rapat beradu dengan derap langkah kaki terburu-buru di atas teras kayu.

Yanto melangkah tegap menyambut Bu Broto di balik tirai depan ruko. Di belakang sang nyonya besar, dua pria bersetelan jas rapi memegang tas dokumen berbahan kulit tebal mengekor dengan raut wajah sangat serius.

"Yanto! Kumpul sebentar di ruang tengah,"
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bqb 123: Perihal Sertifikat Tanah

    Pintu mobil jeep hitam milik Bu Broto dibanting keras. Nyonya besar tengkulak itu melangkah tegap melintasi halaman ruko "Gawok Sehat", mengibaskan kipas lipatnya dengan hembusan napas gusar.Dua kuli pasar berbadan kekar yang diboyong Bu Broto dari pasar langsung bersiap menata kembali pot bunga yang sempat dipecahkan preman suruhan Haji Rojali."Yanto! Kamu ndak apa-apa, toh?" cecar Bu Broto cepat sewaktu Yanto melangkah menyambutnya di ambang pintu. "Anak buahku di pasar bilang ada empat preman tengik yang berani-beraninya mengacau di rukomu!"Yanto menyunggingkan senyum miring yang berwibawa, membusungkan dadanya yang tegap. "Saya ndak apa-apa, Bu Broto. Preman-preman itu sudah melenceng lari ketakutan usai saya totok simpul meridiannya."Bu Broto bernapas lega, melipat tangannya tepat di bawah dadanya yang padat. "Baguslah! Rojali itu memang makin nekat karena tahu Kejaksaan Negeri sudah mulai mengusut laporan sengketa tanah kita! Makanya dia ngirim preman pasar buat menakut-naku

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 122: Preman Yang Berniat Buruk

    Sinar mentari siang terik memancar di atas teras ruko "Gawok Sehat", menyinari antrean warga desa dan pasien yang sedang menunggu giliran terapi. Dewi duduk telaten di balik meja kasir kayu, mencatat nama-nama warga seraya menyunggingkan senyum ramah.Brak!Suara pecahan pot bunga di pelataran teras mendadak mengejutkan seluruh warga yang mengantre.Empat orang pria berbadan tegap mengenakan jaket kulit dan membawa kayu tumpul melangkah masuk secara serampangan, menggebrak meja kayu pendaftaran. Wajah-wajah mereka keras, dipenuhi tato di lengan, memancarkan aura intimidasi yang membuat ibu-ibu pasien seketika menjerit panik."Bubar! Bubar semua!" bentak pria berambut gondrong yang menjadi pimpinan preman tersebut seraya melayangkan kayu tumpulnya ke udara. "Tempat pijat cabul ini ndak punya izin! Siapa yang nekat berobat di sini bakal kami seret!"Dewi tersentak berdiri, mukanya pucat pasi namun berusaha memberanikan diri membela rukonya. "M-Mas... jangan bikin keributan di sini! Kami

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 121: Janji Di Teras Ruko

    Deru halus mesin sedan perak milik Bu Broto membelah kesunyian jalanan tanah yang temaram. Di dalam kabin mobil yang harum aroma wewangian mawar, Yanto duduk tegap menyandar di dekat jendela. Pak Danu—pengacara senior yang diboyong Bu Broto dari kota—memutar badannya dari kursi depan."Mas Yanto," ujar Pak Danu seraya merapikan map cokelat tebal di pangkuannya. "Gugatan atas pencemaran lingkungan sumur umum, pemalsuan sertifikat tanah warga, dan pengoperasian kasino terselubung milik Haji Rojali malam ini resmi diterima oleh Kejaksaan Negeri Kabupaten."Yanto menyunggingkan senyum miring yang sangat dingin dan berwibawa. "Berarti orang bernama Broto itu ndak bisa lagi pasang badan di tingkat kecamatan, Pak?""Ndak akan bisa, To!" potong Bu Broto tegas. Nyonya besar itu merapatkan posisi duduknya di samping Yanto, menyilangkan kedua tangannya tepat di bawah dadanya yang padat. "Kejaksaan Negeri langsung menurunkan tim penyidik khusus dari kabupaten! Begitu bukti aliran dana dari depot

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 120: Menyebar Sampai Kecamatan

    Suasana di dalam ruang tengah ruko "Gawok Sehat" seketika hening usai Ibu Ratna dan sopirnya pamit meluncur pulang. Suara deru mesin mobil mewah wanita itu perlahan memudar dari pelataran teras, meninggalkan kehangatan yang amat kontras di dalam ruko. Dewi masih berdiri di dekat meja kasir, memandangi lembaran uang kertas bernominal merah tebal dan kartu undangan bertepi tinta emas yang ditinggalkan Ibu Ratna. "Mas Yanto..." cicit Dewi parau, menoleh menatap Yanto dengan raut wajah campur adu antara bangga dan cemas. "Ibu Ratna itu beneran istri pejabat dari kecamatan?" Yanto melangkah mendekati meja kayu, mengambil kartu undangan beraroma wangi mawar tersebut. Iris matanya membaca cetakan huruf timbul di atasnya. "Inggih, Mbak Dewi. Suaminya pengawas wilayah di kantor kecamatan," sahut Yanto rendah, suaranya bernada bass dalam yang sangat mantap dan menenangkan. Bu Ningsih yang sejak tadi memperhatikan dari balik tirai dapur melangkah keluar dengan raut cemas. Janda matang itu m

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 119: Pasien Dari Luar Desa

    Sinar mentari pagi yang hangat menembus celah kaca ruko "Gawok Sehat", memantulkan pendar terang di atas meja kasir kayu yang rapi. Aroma terapi serai dan rebusan daun sirih buatan Bu Ningsih menyeruak lembut, memberikan rasa rileks yang menenangkan. Dewi duduk telaten di meja pendaftaran, merapikan lembaran buku catatan pasien dengan jemarinya yang lentik. Di sudut bilik terapi, Yanto sedang membantu Bu Ningsih menyusun botol-botol minyak herbal hasil racikan mereka. "Mas Yanto... lihat ini," bisik Dewi ceria seraya memamerkan buku catatannya sewaktu Yanto melangkah mendekat. "Baru buka satu jam, daftar antrean buat sore nanti sudah terisi lima orang!"Yanto menyunggingkan senyum hangat yang sarat akan karisma pria sejati. Jemari besarnya terulur mengusap pelan puncak kepala Dewi. "Semua ini juga gara-gara Mbak Dewi yang rajin dan telaten mengatur pendaftaran."Dewi menunduk malu, pipinya merona merah merona bagai buah tomat matang. "Mboten apa-apa, Mas... Aku seneng banget bisa ba

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 118: Strategi Pengacara Kota

    Deru mesin mobil sedan perak Bu Broto melaju pelan menyusuri jalanan tanah desa yang temaram, membelah kesunyian malam menuju ruko "Gawok Sehat". Suara pintu mobil ditutup rapat beradu dengan derap langkah kaki terburu-buru di atas teras kayu. Yanto melangkah tegap menyambut Bu Broto di balik tirai depan ruko. Di belakang sang nyonya besar, dua pria bersetelan jas rapi memegang tas dokumen berbahan kulit tebal mengekor dengan raut wajah sangat serius. "Yanto! Kumpul sebentar di ruang tengah," tegas Bu Broto seraya melipat kedua tangannya di bawah dada. "Pak Danu dan tim pengacara dari kota yang aku panggil sudah tiba membawa seluruh berkas sengketa tanah dan catatan jaringan judi milik Haji Rojali!"Yanto menyunggingkan senyum berwibawa, memberi isyarat tangan agar mereka duduk di sekitar meja kayu bundar. Dewi dengan telaten menyodorkan cangkir teh hangat untuk para tamu sebelum bergeser duduk merapat di sebelah lengan tegap Yanto. "Jadi gimana hasil penelusuran berkas di kantor k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status