Beranda / Fantasi / Sentuhan Ajaib Mas Yanto / Bab 20: Bisikan Panas Sang Janda

Share

Bab 20: Bisikan Panas Sang Janda

Penulis: Nytheria_Blue
last update Tanggal publikasi: 2026-08-02 19:01:55
“Kok pintunya ditutup, Bu?”

Bu Ningsih menjilat bibir bawahnya pelan. Senyum tipis yang penuh arti terukir di wajahnya. “Biar nggak ada yang ganggu, To.”

Yanto terdiam sejenak. Jantungnya berdetak sedikit lebih kencang. Energi Gawok di dalam tubuhnya kembali berdenyut, seolah sudah tahu apa yang akan terjadi sebentar lagi.

Bu Ningsih menutup pintu pelan, lalu memutar kunci dari dalam. Bunyi kunci yang berputar terdengar sangat jelas di ruangan yang sepi.

“Sini, To!” perintahnya sambil me
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 100: Tidak Terima

    Mata hitam Yanto yang pekat mengunci satu pemandangan di sudut gudang: Bos kebun teh berbadan gempal itu sedang membungkuk di atas tumpukan karung, dengan tangan kasarnya yang berada dekat dengan leher dan bahu Dewi. Sementara itu, Dewi terkulai lemas di atas karung-karung teh, wajah ayunya merah padam bermandi keringat dan napasnya memburu terengah-engah akibat pengaruh obat racikan yang membakar kesadarannya."Asu kowe!" suara Yanto meluncur rendah, berat, dan sarat akan ancaman membunuh. "Lepasin tangan kotormu dari Mbak Dewi!"Si bos kebun teh membeku seketika. Pria gempal bermandi keringat itu memutar kepalanya pelan, terperanjat melihat keberadaan sang kuli pasar. Namun, sebelum niat jahat di otaknya sempat mengintruksikan tubuhnya untuk berdiri atau melawan, Yanto sudah lebih dulu mengikis jarak bagaikan kilat.Brak!Satu ayunan kaki tegap Yanto mendarat telak di bagian tengah dada pria gempal itu. Dentuman keras terdengar saat tubuh gemuk sang bos terpental dua meter ke belaka

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 99: Bos Mau Ngapain?

    “Mbak Dewi gerah ya?” suaranya rendah. “Sini, Pak Bos bantu dinginin.”Dewi hanya mampu menatapnya dengan mata sayu. Pikirannya kosong. Yang keluar hanyalah napas pendek-pendek.Bos itu semakin mendekat. Tangannya yang besar menyentuh punggung tangan Dewi yang bersandar di karung, mengusap pelan. Lalu naik ke lengan, gerakan lambat dan hati-hati."Ahhh..."“Tenang saja… aku akan bantu kamu buat pendinginan,” bisiknya.Jari-jarinya naik ke pipi Dewi, mengusap lembut rona merah di kulitnya. Dewi mengerjap lemah, tubuhnya sedikit menegang, tapi tidak punya tenaga untuk menolak. Napasnya semakin cepat.Pria itu menunduk sedikit. Ibu jarinya menyentuh bibir Dewi yang terbuka karena terengah-engah, mengusap pelan sudutnya. "Ya ampun... Bibir kamu lembut banget, Mbak? Pasti rasanya manis banget ini. Mengalahkan gula dari tebu manapun."Usapan pria mesum itu turun ke dagu, dan akhirnya ke leher yang sudah basah keringat.“Hnn… ahh…” desah Dewi pelan saat jari-jari itu mengusap sisi lehernya.

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 98: Bukan Minuman Biasa

    "Ahh!" Dewi sedikit terperanjat ketika tangannya tiba-tiba ditarik oleh si kuli. Genggaman kuli itu cukup kuat hingga membuat Dewi sedikit mengaduh. "Kamu kenapa to, Wi? Ini loh cuma minuman biasa?" gertak sang bos, raut ramah buatannya seketika luntur, berganti menjadi tatapan penuh intimidasi yang mengerikan. "Cepat ambil airnya, Wi! Ojo nolak rezeki dari bosmu sendiri!" "Lepas, Pak! Lepaskan saya!" jerit Dewi histeris. Ia memutar badannya, mencoba menendang dan mengayunkan keranjang bambu di punggungnya demi membela diri. Namun, si kuli gemuk yang bersiaga di belakangnya bergerak lebih cepat. Dengan kasar, kuli itu mencengkeram kedua bahu Dewi dari belakang, mengunci pergerakan gadis itu rapat-rapat. "Uwes, Mbak! Ojo kakehan pola!" desis si kuli seraya menarik kepala Dewi ke belakang, memaksa leher gadis itu mendongak tertekuk. Dewi memberontak liar, kakinya menendang-nendang udara. "Ka— kalian mau ngapain? Tolong! Tolooong...." Sebelum teriakan Dewi tuntas, bos kebun te

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 97: Mangsa di Depan Mata

    Suara jangkrik sore mulai bersahutan di sela-sela rimbunnya daun teh. Langit di atas perbukitan berubah jingga keemasan. Sebagian besar buruh petik teh sudah mulai merapikan keranjang bambu mereka dan berjalan menyusuri jalan setapak untuk menyetorkan hasil panen ke pos timbangan. Dewi mengelap keringat di dahinya dengan ujung lengan baju longgarnya. Keranjang di punggungnya sudah terisi penuh oleh pucuk teh muda. "Mbak Dewi, mau barengan ke pos timbangan?" sapa Yu Sum, salah satu buruh wanita paruh baya yang berjalan melintas di sampingnya. Dewi menyunggingkan senyum manis yang dipaksakan, mencoba menutupi gelisah yang masih menggelayuti dadanya sejak siang tadi. "Enggak dulu, Yu. Iki keranjangku sek agak kurang rapi, tak benahi sebentar. Duluan wae." "Oalah, ya wis. Ojo kemalaman yo, Mbak. Buru-buru pulang, sebentar lagi gelap," pesan Yu Sum ramah sebelum berlalu meninggalkan Dewi sendirian di area kebun bagian barat yang mulai sepi. Tanpa Dewi sadari, di balik semak-semak poho

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 96: Kecurigaan Yanto

    Sementara itu di sudut pasar desa yang riuh, siang terasa begitu menyengat. Yanto sedang berkumpul bersama para kuli panggul di balik warung kayu sederhana. Mereka duduk berderet menikmati es teh hangat untuk melepas lelah. Di tengah kebisingan pasar, salah satu kuli berbadan tegap, Mas Sapri, menghela napas panjang lalu membuka suara. “Kalian sudah dengar kabar soal bos kebun teh di perbukitan barat?” “Bos yang perutnya gendut dan berkepala botak itu?” sahut kuli lain menanggapi. “Iya, siapa lagi,” balas Mas Sapri. “Katanya dia lagi kebelet cari istri muda lagi. Sudah punya empat istri di rumah, masih kurang aja itu orang.” Yanto yang semula hanya diam menyimak sambil memegangi gelasnya, mendadak menegakkan posisi duduknya. Sorot matanya menajam. Mas Sapri melanjutkan dengan nada bersungut-sungut, “Orangnya culas banget. Suka godain gadis-gadis pengetik teh yang masih perawan. Kalau sudah naksir, dia bakal pakai segala cara kotor buat dapatin korbannya. Ada yang bilang, bulan la

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 95: Rencana Kotor

    "Hah? Istri kelima? Sampeyan serius?" “Iyo, aku serius!” Bos itu menjilat bibir bawahnya yang basah secara perlahan, memancarkan aura ketagihan. “Perempuan seperti Dewi itu tipeku banget. Masih muda, masih perawan, wajahnya manis manis lugu. Aku beneran naksir. Apalagi sikapnya yang jual mahal dan sombong itu, makin bikin penasaran. Nggak kayak gadis-gadis kampung sini yang gampang dikasih umpan.” "Coba dirayu pakai duit segepok, Bos. Pasti langsung melunak dia." Pria berparut perut buncit itu mendesis geli. "Udah pernah. Tapi tetep nggak mempan. Makanya aku jadi makin gatal pengen naklukin dia." “Tapi Yanto gimana, Pak? Jangan salah langkah..." peringat si kuli ragu. “Yanto itu urusan sepele! Sekali kibas juga beres,” potong sang bos arogan. Ia akhirnya menoleh pada bawahannya, memperlihatkan cengiran mesum yang melekat penuh kepercayaan diri. “Yang terpenting itu aku harus dapetin Dewi. Pengen banget aku ngerasain keperawanannya." Kuli itu sampai menelan ludah berat mendengar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status