/ Fantasi / Sentuhan Ajaib Mas Yanto / Bab 93: Trauma Yang Terungkap

공유

Bab 93: Trauma Yang Terungkap

작가: Nytheria_Blue
last update 게시일: 2026-09-07 20:49:00

Belum sempat menyelesaikan kalimat, dunia tiba-tiba berputar. Keranjang di tangannya terlepas, jatuh menghantam tanah hingga daun teh berhamburan. Tubuh Dewi ambruk tak berdaya.

"Dewi! Astaga, Wi!" Lina berteriak histeris. Ia langsung berlutut dan menepuk pui-pipi sahabatnya. "Tolong! Ada yang pingsan!"

Beberapa pekerja berlari mendekat. Seorang lelaki tua bergegas menyangga kepala Dewi, sementara yang lain mengambilkan air.

"Ya ampun, Mbak Dewi," cetus salah satu pekerja penuh cemas.

"Cepat ba
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 102: Hukuman Yang Berbeda

    Temaram lampu semprong di meja kayu menyinari gurat-gurat kelelahan sekaligus keharuan di wajah Dewi. Di dalam ruang tengah rumah kontrakan Yanto yang hening, angin malam berhembus lembut menembus celah ventilasi papan.Usai efek racun obat perangsang benar-benar meluntur dan menyisakan kesadaran murni, Dewi memeluk erat kain kemeja tebal Yanto yang mendekap tubuhnya. Air matanya seketika menetes menembus permukaan kain kemeja tersebut."Mas Yanto..." isak Dewi sesenggukan, suaranya terdengar begitu parau dan bergetar hebat.Yanto yang masih berlutut di samping kasur busa memiringkan kepalanya sedikit. Jemari besarnya yang hangat terulur mengusap puncak kepala Dewi dengan lembut. "Kenapa menangis, Mbak Dewi? Racunnya kan sudah hilang, badannya juga sudah ndak panas lagi, toh?""A-aku malu banget sama Mas Yanto... hikss..." bisik Dewi seraya makin membenamkan wajahnya yang membara merah ke balik kain. Pikirannya yang kembali jernih terus memutar ulang ingatan saat ia kehilangan kendali

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 101: Efek Yang Tertinggal

    Sepanjang jalan setapak menyusuri pematang sawah yang temaram, malam benar-benar telah turun membungkus desa. Langkah kaki Yanto terasa mantap meski ia harus membopong tubuh Dewi yang terkulai lemas di dekapannya. Gadis itu terbungkus rapi kemeja tebal Yanto. Namun, pertempuran di dalam tubuh Dewi belum sepenuhnya usai. Dosis obat perangsang racikan dukun yang dipaksa masuk ke tenggorokannya tadi masih menyisakan sisa-sisa hawa panas. Di sepanjang perjalanan, gumpalan napas hangat Dewi memburu cepat, membasahi leher bidang Yanto. "Uhh... hh... Mas... Yanto..." rintih Dewi parau, suara manisnya terdengar terputus-putus dan amat manja. Tubuhnya sesekali menggeliat pelan dalam panggulan Yanto, sementara jemari halusnya meremas dada Yanto tanpa sadar. Yanto mempercepat langkah kakinya menuju rumah kontrakannya sendiri. Dia sengaja tidak membawa Dewi langsung ke rumah Bu Ningsih. Kondisi Dewi yang masih terpengaruh obat dan terus mendesahkan hawa panas hanya akan membuat Bu Ningsih pani

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 100: Tidak Terima

    Mata hitam Yanto yang pekat mengunci satu pemandangan di sudut gudang: Bos kebun teh berbadan gempal itu sedang membungkuk di atas tumpukan karung, dengan tangan kasarnya yang berada dekat dengan leher dan bahu Dewi. Sementara itu, Dewi terkulai lemas di atas karung-karung teh, wajah ayunya merah padam bermandi keringat dan napasnya memburu terengah-engah akibat pengaruh obat racikan yang membakar kesadarannya."Asu kowe!" suara Yanto meluncur rendah, berat, dan sarat akan ancaman membunuh. "Lepasin tangan kotormu dari Mbak Dewi!"Si bos kebun teh membeku seketika. Pria gempal bermandi keringat itu memutar kepalanya pelan, terperanjat melihat keberadaan sang kuli pasar. Namun, sebelum niat jahat di otaknya sempat mengintruksikan tubuhnya untuk berdiri atau melawan, Yanto sudah lebih dulu mengikis jarak bagaikan kilat.Brak!Satu ayunan kaki tegap Yanto mendarat telak di bagian tengah dada pria gempal itu. Dentuman keras terdengar saat tubuh gemuk sang bos terpental dua meter ke belaka

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 99: Bos Mau Ngapain?

    “Mbak Dewi gerah ya?” suaranya rendah. “Sini, Pak Bos bantu dinginin.”Dewi hanya mampu menatapnya dengan mata sayu. Pikirannya kosong. Yang keluar hanyalah napas pendek-pendek.Bos itu semakin mendekat. Tangannya yang besar menyentuh punggung tangan Dewi yang bersandar di karung, mengusap pelan. Lalu naik ke lengan, gerakan lambat dan hati-hati."Ahhh..."“Tenang saja… aku akan bantu kamu buat pendinginan,” bisiknya.Jari-jarinya naik ke pipi Dewi, mengusap lembut rona merah di kulitnya. Dewi mengerjap lemah, tubuhnya sedikit menegang, tapi tidak punya tenaga untuk menolak. Napasnya semakin cepat.Pria itu menunduk sedikit. Ibu jarinya menyentuh bibir Dewi yang terbuka karena terengah-engah, mengusap pelan sudutnya. "Ya ampun... Bibir kamu lembut banget, Mbak? Pasti rasanya manis banget ini. Mengalahkan gula dari tebu manapun."Usapan pria mesum itu turun ke dagu, dan akhirnya ke leher yang sudah basah keringat.“Hnn… ahh…” desah Dewi pelan saat jari-jari itu mengusap sisi lehernya.

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 98: Bukan Minuman Biasa

    "Ahh!" Dewi sedikit terperanjat ketika tangannya tiba-tiba ditarik oleh si kuli. Genggaman kuli itu cukup kuat hingga membuat Dewi sedikit mengaduh. "Kamu kenapa to, Wi? Ini loh cuma minuman biasa?" gertak sang bos, raut ramah buatannya seketika luntur, berganti menjadi tatapan penuh intimidasi yang mengerikan. "Cepat ambil airnya, Wi! Ojo nolak rezeki dari bosmu sendiri!" "Lepas, Pak! Lepaskan saya!" jerit Dewi histeris. Ia memutar badannya, mencoba menendang dan mengayunkan keranjang bambu di punggungnya demi membela diri. Namun, si kuli gemuk yang bersiaga di belakangnya bergerak lebih cepat. Dengan kasar, kuli itu mencengkeram kedua bahu Dewi dari belakang, mengunci pergerakan gadis itu rapat-rapat. "Uwes, Mbak! Ojo kakehan pola!" desis si kuli seraya menarik kepala Dewi ke belakang, memaksa leher gadis itu mendongak tertekuk. Dewi memberontak liar, kakinya menendang-nendang udara. "Ka— kalian mau ngapain? Tolong! Tolooong...." Sebelum teriakan Dewi tuntas, bos kebun te

  • Sentuhan Ajaib Mas Yanto   Bab 97: Mangsa di Depan Mata

    Suara jangkrik sore mulai bersahutan di sela-sela rimbunnya daun teh. Langit di atas perbukitan berubah jingga keemasan. Sebagian besar buruh petik teh sudah mulai merapikan keranjang bambu mereka dan berjalan menyusuri jalan setapak untuk menyetorkan hasil panen ke pos timbangan. Dewi mengelap keringat di dahinya dengan ujung lengan baju longgarnya. Keranjang di punggungnya sudah terisi penuh oleh pucuk teh muda. "Mbak Dewi, mau barengan ke pos timbangan?" sapa Yu Sum, salah satu buruh wanita paruh baya yang berjalan melintas di sampingnya. Dewi menyunggingkan senyum manis yang dipaksakan, mencoba menutupi gelisah yang masih menggelayuti dadanya sejak siang tadi. "Enggak dulu, Yu. Iki keranjangku sek agak kurang rapi, tak benahi sebentar. Duluan wae." "Oalah, ya wis. Ojo kemalaman yo, Mbak. Buru-buru pulang, sebentar lagi gelap," pesan Yu Sum ramah sebelum berlalu meninggalkan Dewi sendirian di area kebun bagian barat yang mulai sepi. Tanpa Dewi sadari, di balik semak-semak poho

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status