Mag-log in“Beneran Kak?” ucap Dini lagi, saat melihat Rey hanya terdiam dan kembali memandangnya dengan raut wajahnya yang tegang.Merasa lidahnya kelu. Rey memutuskan tetap terdiam, tanpa kata dan suara.Tau dengan pasti, apa arti keterdiaman pria yang berada tak jauh dari posisinya itu. Dini tentu saja, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dan memandang Rey dengan tatapan yang tak percaya. “Itu pasti ga bener kan, Kak?” tanyanya lagi yang tetap merasa sulit percaya dengan fakta yang ada di depannya.Tak langsung menjawab, tampak Rey selama beberapa menit hanya terdiam dan menatap Dini dengan tatapannya yang tak bisa diartikan.Dini yang tak kunjung mendengar jawaban Rey, tentu saja kelama-lamaan mulai merasa kesal. Karena kekesalannya itu, ia akhirnya berteriak. “Kak Rey! Jawab!”Dengan mengusap wajahnya kasar, Rey menatap Dini dengan tatapannya yang tajam. “Terserah kamu mau berpikir seperti apa! Karena menurut saya, saya itu ga ada sedikitpun kewajiban untuk menjelaskan hal itu p
“Na!” panggil Amel lagi yang merasa heran dengan Aina yang malah terdiam, tanpa kata dan suara.Mendapat panggilan Amel, Aina yang masih shock dan tak percaya. Mulai menatap sahabatnya itu dengan tatapannya yang entah sejak kapan sudah berkaca-kaca. “Itu… beneran Mel?” tanyanya dengan sedikit terbata-bata.Dengan senyuman manis di wajah manisnya, Amel menganggukan kepalanya pelan.Mendapat anggukan kepala Amel, tanpa diduga air mata Aina mulai turun membasahi kedua pipinya.Melihat sahabatnya itu menangis, Amel dengan cepat membawa tubuh Aina ke dalam pelukannya. “Congrats… ya Na!” ucapnya di sela pelukan erat mereka.Mendapati ucapan selamat dari Amel. Aina bukannya menjawab, tampak wanita bertubuh mungil itu mulai terisak dan mengencangkan lagi pelukan mereka.Tau dengan pasti, saking bahagianya sahabatnya itu, sampai-sampai membuat sang sahabat tak bisa menjawab. Amel hanya bisa terdiam dan mengelus-elus punggung Aina dengan lembut.***Jika Aina dan Amel sedang berpelukan dalam ke
“Aina!” terdengar suara samar seorang wanita di teling Aina, di saat ia mulai membuka pejaman matanya.“Mel!”panggil Aina dengan suara lirih, saat ia berhasil membuka matanya dan sosok sahabatnya, Amel. Berada di sampingnya dan sedang menatapnya dengan senyuman lega. “Gue di mana? Ko gue bisa ada di sini?” ucapnya lagi di saat menyadari, bahwa sekarang dirinya sedang berbaring di ruangan yang bernuansa putih.Dengan menghela napasnya pelan, Amel menjawab. “di rumah sakit! Karena tadi lo jatuh pingsan waktu di Cafe!”Aina yang baru mengingat dengan jelas, di saat tadi dirinya memergoki Rey yang sedang bersama Dini, tiba-tiba saja dirinya merasakan kepalanya pusing serta berputar-putar dan berakhir dengan pandangannya yang menjadi gelap. Hanya bisa menghela napas dengan pelan.Melihat Aina hanya menghela napas dan tak kembali berkata. Amel akhirnya memutuskan lagi-lagi mengeluarkan suaranya untuk berbicara. “Lo sekarang udah gapapa kan? Ga ngerasa pusing ataupun sakit apapun?’Dengan me
“Na!” panggil Amel dengan raut wajah yang serius, setelah beberapa menit mereka sama-sama terdiam. Mendengar panggilan Amel, Aina mulai menatap wajah sahabatnya itu dengan tatapan yang bertanya-tanya. “Kayanya gue tau lo kenapa?” ucap Amel dengan raut wajah yang masih serius. Aina mengernyitkan dahinya. “Kenapa?” Dengan mengalihkan tatapan matanya pada perut Aina, Amel berkata. “Kayanya lo berubah karena ada baby di perut lo.” Mendengar itu, Aina tentu saja merasa terkejut. Lalu setelahnya, ia mulai menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. “itu ga mungkin Mel.” Amel yang merasa heran dengan Aina yang tiba-tiba berkata bahwa hal itu tidak mungkin. Mulai bertanya. “Kenapa ga mungkin? Lo kan tau, lo sering ngelakuin itu. Jadi ya ga menutup kemungkinan kalo lo lagi ham—” “Sekitar dua minggu yang lalu, gue baru menstruasi.” Potong Aina dengan cepat memotong ucapan Amel yang belum selesai. “Jadi hal itu, beneran ga bakalan mungkin kan?” tambahnya lagi yang sekarang menatap Amel dengan t
Esok siangnya. Tampak di dalam Cafe, Aina dan Amel sedang duduk berdua di salah satu sudut meja, dengan suasana hening yang mengelilingi mereka.“Jadi lo mau ngomongin apa?” tanya Amel yang berhasil memecahkan keheningan di antara mereka.Dengan menghela napas pelan. Aina menatap Amel dengan tatapannya yang dalam. “Mel... akhir-akhir ini menurut lo, perilaku dan sikap gue keliatan aneh ga si?”Amel mengernyitkan dahinya. “Kenapa tiba-tiba nanya hal kaya gitu?”Bukannya mendapat jawaban. Aina yang malah mendapatkan pertanyaan balik dari sahabat baiknya itu. Hanya bisa mendengus dengan kesal. “Jawab aja si, apa susahnya!” ucapnya dengan suara yang ketus.“Tapi Na—” “Mel!” potong Aina dengan cepat memotong ucapan Amel yang belum selesai.Tau jika ia tetap menyanggah, akan membuatnya dan sang sahabat bertengkar. Amel hanya bisa menghela napas. “ Oke gue jawab…” ucapnya yang mulai menatap Aina dengan tatapan yang tajam. “sepenglihatan gue selama akhir-akhir ini kita ketemu. Kayaknya eman
Hans tentu saja terkejut dengan ucapan yang dilontarkan istrinya itu. “Ga bisa gitu, Aina!”Dengan raut wajahnya yang tampak masih marah, Aina menatap Hans dengan tatapannya yang tajam. “Kenapa ga bisa?”“Karena—”Mendapati Hans tak bisa melanjutkannya ucapannya. Aina yang tak sabar mulai bertanya. “Karena apa?”Dengan memalingkan wajahnya, Hans menjawab. “Itu karena, bukannya kamu udah janji ga bakal nun—”Aina yang tau kemana arah pembicaraan Hans, dengan cepat memotong ucapan Hans yang belum selesai. “Kamu lupa Hans? Aku janji hal itu, Jika kamu izinin aku sewa Rey jadi gigolo pribadiku sampai aku hamil! Tapi sekarang...” Ucap Aina, yang di mana setelah mengatakan hal itu. Ia mulai menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Mendengar ucapan Aina, Rey secara refleks kembali memandang wajah istrinya itu. “Aku tau! Aku udah nyuruh kamu akhiri hubungan sama Rey sebelum kamu benar-benar hamil. Tapi Aina, bukannya dengan aku izinin kamu tidur bareng Rey aja. Itu udah seharusnya bikin kamu, t







