LOGINAina yang mendengarkan ucapan suaminya itu, sekarang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah tak terima. “Ga bisa gitu dong Hans!”Hans menatap datar wajah Aina. “Kenapa ga bisa? Bukannya kesepakatan awal, emang kaya gitu ya?”Dengan menggigit bibir bawahnya dengan keras, Aina berkata. “Iya kesepakatan kita memang begitu, cuma—”“Cuma?” tanya Hans tidak sabar dengan ucapan lanjutan Aina.Merasa semakin gugup, tentu saja membuat Aina hanya bisa semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Kenapa kamu malah diam?” tanya Hans lagi dengan suara yang sangat keras.Mendengar pertanyaan suaminya, Aina tetap tak bersuara dan terus menundukkan kepalanya.Mendapati perilaku Aina yang seperti itu, Hans mulai mendengus. “Oke kalo kamu ga mau jawab. Berarti sekarang udah fine kan, kalo hubungan kamu sama Rey itu ud—”“Ga bisa gitu Hans!” potong Aina dengan cepat sambil mulai kembali memandang wajah Hans.Lagi-lagi mendapati ucapan yang sama seperti tadi, Hans mulai tersenyum s
Jika Rey sedang merasa resah. Tampak di tempat lain, lebih tepatnya di ruang rawat Aina. Amel dengan wajahnya yang mulai jengah. Karena pelukan kedua orang di depannya yang tak kunjung lepas. Mulai berdehem dengan keras. “Hemm!”Aina yang memang shock dengan pelukan Rey. Tentu saja langsung tersadar, di saat ia mendengar deheman Amel yang sangat keras. “Ah, kenapa Mel?” tanyanya, setelah berhasil melepaskan pelukan suaminya, Hans.Mendengar Aina yang malah bertanya ada apa dengan dirinya. Amel hanya bisa menghela napasnya dengan pelan. “Gapapa si Na. Cuma mau nyadarin lo aja.” ucapnya dengan ambigu.Aina yang juga merasa heran dengan ucapan ambigu Amel. Hanya bisa mengernyitkan dahinya tanpa mengeluarkan suara.Melihat sahabatnya yang tak peka, Amel kembali menghela napas dan berkata. “Udahlah ga usah dilanjutin lagi pembicaraannya!”Mendengar itu, Aina dengan masih tanpa kata dan suaranya. Hanya bisa menatap Amel dengan tatapannya yang tak terbaca.Sedangkan di sisi lain, Hans yang t
Hans yang memang tadi hanya diberitahukan oleh orang suruhannya bahwa Aina jatuh pingsan dan dibawa ke rumah sakit oleh Rey. Tentu saja merasa terkejut, saat mengetahui alasan istrinya itu pingsan, karena sedang hamil.“Pak Hans!” panggil Rey lagi, di saat melihat Hans hanya terdiam dengan raut wajah yang tampak sangat terkejut.Mendengar panggilan Rey. Hans yang tersadar dari rasa terkejutnya, berkata. “Kamu ga bohong kan?”Rey menghela napas. “Saya sama sekali ga bohong Pak. Saya serius dan jika Bapak memang tidak percaya pada ucapan saya, silahkan tanyakan langsung pada Bu Aina.”Dengan raut wajahnya yang datar, Hans tanpa kata dan suara. Mulai berdiri dari jongkokannya dan dengan cepat, berjalan menuju pintu ruang rawat inap Aina.Melihat kepergian Hans, Rey lagi-lagi menghela napas. Lalu setelahnya, dengan perlahan ia mulai berdiri dari duduknya di lantai dan mengikuti langkah Hans yang ada di depannya.***Sedangkan di sisi lain, lebih tepatnya di dalam ruangan. Tampak Aina deng
“Beneran Kak?” ucap Dini lagi, saat melihat Rey hanya terdiam dan kembali memandangnya dengan raut wajahnya yang tegang. Merasa lidahnya kelu. Rey memutuskan tetap terdiam, tanpa kata dan suara. Tau dengan pasti, apa arti keterdiaman pria yang berada tak jauh dari posisinya itu. Dini tentu saja, hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pelan dan memandang Rey dengan tatapan yang tak percaya. “Itu pasti ga bener kan, Kak?” tanyanya lagi yang tetap merasa sulit percaya dengan fakta yang ada di depannya. Tak langsung menjawab, tampak Rey selama beberapa menit hanya terdiam dan menatap Dini dengan tatapannya yang tak bisa diartikan. Dini yang tak kunjung mendengar jawaban Rey, tentu saja kelama-lamaan mulai merasa kesal. Karena kekesalannya itu, ia akhirnya berteriak. “Kak Rey! Jawab!” Dengan mengusap wajahnya kasar, Rey menatap Dini dengan tatapannya yang tajam. “Terserah kamu mau berpikir seperti apa! Karena menurut saya, saya itu ga ada sedikitpun kewajiban untuk menjelaskan hal i
“Na!” panggil Amel lagi yang merasa heran dengan Aina yang malah terdiam, tanpa kata dan suara.Mendapat panggilan Amel, Aina yang masih shock dan tak percaya. Mulai menatap sahabatnya itu dengan tatapannya yang entah sejak kapan sudah berkaca-kaca. “Itu… beneran Mel?” tanyanya dengan sedikit terbata-bata.Dengan senyuman manis di wajah manisnya, Amel menganggukan kepalanya pelan.Mendapat anggukan kepala Amel, tanpa diduga air mata Aina mulai turun membasahi kedua pipinya.Melihat sahabatnya itu menangis, Amel dengan cepat membawa tubuh Aina ke dalam pelukannya. “Congrats… ya Na!” ucapnya di sela pelukan erat mereka.Mendapati ucapan selamat dari Amel. Aina bukannya menjawab, tampak wanita bertubuh mungil itu mulai terisak dan mengencangkan lagi pelukan mereka.Tau dengan pasti, saking bahagianya sahabatnya itu, sampai-sampai membuat sang sahabat tak bisa menjawab. Amel hanya bisa terdiam dan mengelus-elus punggung Aina dengan lembut.***Jika Aina dan Amel sedang berpelukan dalam ke
“Aina!” terdengar suara samar seorang wanita di teling Aina, di saat ia mulai membuka pejaman matanya.“Mel!”panggil Aina dengan suara lirih, saat ia berhasil membuka matanya dan sosok sahabatnya, Amel. Berada di sampingnya dan sedang menatapnya dengan senyuman lega. “Gue di mana? Ko gue bisa ada di sini?” ucapnya lagi di saat menyadari, bahwa sekarang dirinya sedang berbaring di ruangan yang bernuansa putih.Dengan menghela napasnya pelan, Amel menjawab. “di rumah sakit! Karena tadi lo jatuh pingsan waktu di Cafe!”Aina yang baru mengingat dengan jelas, di saat tadi dirinya memergoki Rey yang sedang bersama Dini, tiba-tiba saja dirinya merasakan kepalanya pusing serta berputar-putar dan berakhir dengan pandangannya yang menjadi gelap. Hanya bisa menghela napas dengan pelan.Melihat Aina hanya menghela napas dan tak kembali berkata. Amel akhirnya memutuskan lagi-lagi mengeluarkan suaranya untuk berbicara. “Lo sekarang udah gapapa kan? Ga ngerasa pusing ataupun sakit apapun?’Dengan me







