LOGINMendengar itu. Entah apa yang dipikirkan Rey, tampak pria itu hanya diam, tanpa kata dan suara. Aina yang melihat Rey terdiam, kembali berkata. “Saya janji bakal secepatnya ko!” raut wajahnya tampak sangat serius saat mengatakannya. Tanpa diduga, Rey mulai memperlihatkan senyum manisnya. “Ibu ga usah janji, karena saya emang bakal nunggu.” “Beneran?” Dengan masih mempertahankan senyum manisnya, Rey menganggukkan kepalanya pasti. Mendengar itu, Aina mulai menghela napas lega. “Syukurlah kalo gitu, saya tadi sempat ngira kamu bakal ga mau disuruh nunggu dan bakal nyari kerjaan lain.” Senyum manis di wajah Rey mulai surut. Lalu dengan menatap serius wajah Aina, ia membalas. “Iyu hal yang ga mungkin, karena saya kan masih dapat uang dari Ibu untuk biaya pengobatan Key.” Aina hanya terdiam, tanpa kata dan suara. Melihat Aina yang terdiam, Rey juga tidak kembali mengeluarkan suaranya. Karena kedua orang itu sama-sama terdiam, tentu saja membuat keheningan di sekeliling mereka, kem
Mendapati pelukan Aina secara tiba-tiba, apalagi sampai wanita itu juga menggunakan bahasa yang tak formal saat berbicara dengannya. Tentu saja membuat Rey merasa amat-sangat terkejut. Bahkan tampak tak hanya Rey. Terlihat Amel, yang masih ada di belakang Aina. Tak kalah terkejutnya dari Rey.Di sisi lain, Aina yang tak mendapatkan balasan dari Rey. Apalagi, ia juga merasakan suasana di sekelilingnya juga tak nyaman. Tentu saja membuatnya dengan terpaksa melepaskan pelukannya dan setelah terlepas, dirinya mulai menatap Rey dengan tatapan yang tajam. “Kenapa malah diam? Kenapa ga bales?” tanyanya secara membabi buta.Rey tentu saja langsung tersadar dari rasa terkejutnya. “Ah… Maaf Bu. Saya kaya gitu, karena ngerasa speechless aja sama perilaku Ibu yang ga kaya biasanya.” Jawabnya dengan suara yang terdengar tak enak.Aina hanya terdiam. Saat mendengar ucapan Rey itu. Dirinya baru sadar, bahwasanya perilaku yang ditunjukkannya saat bertemu Rey tadi, seperti bukan perilaku ia yang bias
Hani tentu saja hanya merespon ucapan Aina itu, dengan lagi-lagi mengangguk-anggukan kepalanya.Sedangkan Hans yang juga mendengar ucapan Aina. Tentu saja merasa terkejut sekaligus curiga bahwasanya Aina memiliki rencana yang akan membuatnya kesal. “Kenapa raut wajahnya sangat mencurigakan?" gumamnya di dalam hati sambil menatap tajam wajah sang istri.“Kenapa Hans, ada yang mau kamu omongin?” tanya Aina secara tiba-tiba di saat menyadari tatapan tajam suaminya. Dengan berusaha menetralkan kembali raut wajahnya, Hans berkata. “Ah… ga ada.”Tampak Aina dengan raut wajahnya yang tak terbaca, mulai memperlihatkan senyum manisnya.Sedangkan Hani yang melihat kelakuan aneh kedua sejoli itu, tentu saja merasa heran. Namun, tak lama kemudian. Ia yang teringat masih memiliki urusan, akhirnya berkata. “Aina, Hans!” panggilnya pada putra serta menantunya.“Iya Mah.” Balas Aina dan Hans secara berbarengan.Dengan menatap silih berganti pada keduanya, Hani berkata. “Mamah kayanya harus pulang se
“Hans kamu kenapa malah diam?” tanya Hani yang merasa heran dengan sang putra yang malah terdiam, tak membalas ucapannya.Hans yang memang tadi hanya bergumam di dalam hati. Tentu saja merasa terkejut, di saat mendengar ucapan Hani barusan. “Ah… Hans, cuma lagi mikirin pekerjaan yang tadi ditinggalin.” Bohongnya dengan refleks.Hani mendengus. “Hans, Mamah kan udah bilang. Kamu itu harus lebih perhatiaan sama istri kamu, bukannya perhatian sama pekerjaan.”Tau dirinya salah memberikan alasan. Hans akhirnya berkata. “Tapi kan Mah, Hans sibuk kerja juga buat masa depan anak Han—”“Jangan jadiin cucu Mamah sebagai alasan! Lagian juga, saat kamu ngeluangin waktu buat jaga istri dan cucu Mamah. Perusahaan kita ga mungki bangkrut Hans.” Ucap Hani dengan cepat memotong ucapan Hans yang belum selesai.Hans yang tau tak bisa membalas ucapan tajam sang Ibu. Akhirnya hanya bisa menghela napas dengan kasar.Sedangkan di sisi lain, Aina yang dari tadi hanya menyimak perdebatan antara Ibu dan anak
“Mamah!” ucap Aina yang merasa terkejut atas kedatangan Ibu mertuanya itu. Mendengar panggilan menantunya itu. Hani Dengan raut wajahnya yang tak terbaca, berjalan cepat menghampiri Aina.Mendapati Hani yang berjalan menghampirinya. Aina dengan cepat mematikan panggilannya dengan Rey.“Kenapa Mamah datang secepat ini? Dia denger ga ya, ucapan aku tadi?” gumamnya dengan raut wajah yang sekarang mulai khawatir.Sedangkan Hani, saat langkahnya sudah sampai di depan Aina. Tanpa aba-aba, ia bergegas memeluk menantunya itu dengan erat.Mendapatkan pelukan itu, Aina tentu saja merasa terkejut sekaligus dejavu. Lalu di saat lima menit berlalu dalam keterdiaman dengan Hani yang memeluk tubuh Aina. Terdengar suara wanita tua itu berkata. “Kamu beneran hamil Na?” tanyanya sambil melepaskan pelukan eratnya.Aina dengan sedikit paksaan, memperlihatkan senyum manisnya. Lalu setelahnya, ia dengan pelan mulai menganggukan kepalanya pelan.Mendapati anggukan kepala Aina. Tanpa diduga, Hani mulai men
Selepas tiga menit kepergian Hans. Aina mulai menghela napas. Lalu setelahnya, ia mulai mengambil ponselnya yang memang sepertinya tadi diletakan Amel di atas nakas sampingnya. “Rey angkat!” gumamnya dengan pelan, di saat dirinya ternyata mengambil ponselnya itu untuk menghubungi Rey.“Hallo… Bu Aina.“Ucap Rey yang ada di seberang dengan suaranya yang datar di saat panggilan mereka berdua tersambung.Dengan senyum manis terpancar cerah di wajahnya, Aina berkata. “Akhirnya kamu angkat juga.”Terdengar helaan napas dari arah seberang panggilan yang tentunya berasal dari sosok Rey. “Ada apa Ibu hubungi saya?” ucapnya dengan suara yang tak bersahabat.Mendengar suara Rey yang terasa seperti orang yang sedang marah, Aina tentu saja tidak terima. “Kamu ini kenapa? Ko tiba-tiba nada bicara kamu, kayak orang yang lagi marah sama saya?”Rey yang merasa tak bisa menjawab. Tentu saja membuatnya hanya bisa terdiam, tanpa kata dan suara.Tak kunjung mendapat jawaban Rey atas pertanyaannya. Aina







