Masuk“Hans kamu kenapa malah diam?” tanya Hani yang merasa heran dengan sang putra yang malah terdiam, tak membalas ucapannya.Hans yang memang tadi hanya bergumam di dalam hati. Tentu saja merasa terkejut, di saat mendengar ucapan Hani barusan. “Ah… Hans, cuma lagi mikirin pekerjaan yang tadi ditinggalin.” Bohongnya dengan refleks.Hani mendengus. “Hans, Mamah kan udah bilang. Kamu itu harus lebih perhatiaan sama istri kamu, bukannya perhatian sama pekerjaan.”Tau dirinya salah memberikan alasan. Hans akhirnya berkata. “Tapi kan Mah, Hans sibuk kerja juga buat masa depan anak Han—”“Jangan jadiin cucu Mamah sebagai alasan! Lagian juga, saat kamu ngeluangin waktu buat jaga istri dan cucu Mamah. Perusahaan kita ga mungki bangkrut Hans.” Ucap Hani dengan cepat memotong ucapan Hans yang belum selesai.Hans yang tau tak bisa membalas ucapan tajam sang Ibu. Akhirnya hanya bisa menghela napas dengan kasar.Sedangkan di sisi lain, Aina yang dari tadi hanya menyimak perdebatan antara Ibu dan anak
“Mamah!” ucap Aina yang merasa terkejut atas kedatangan Ibu mertuanya itu. Mendengar panggilan menantunya itu. Hani Dengan raut wajahnya yang tak terbaca, berjalan cepat menghampiri Aina.Mendapati Hani yang berjalan menghampirinya. Aina dengan cepat mematikan panggilannya dengan Rey.“Kenapa Mamah datang secepat ini? Dia denger ga ya, ucapan aku tadi?” gumamnya dengan raut wajah yang sekarang mulai khawatir.Sedangkan Hani, saat langkahnya sudah sampai di depan Aina. Tanpa aba-aba, ia bergegas memeluk menantunya itu dengan erat.Mendapatkan pelukan itu, Aina tentu saja merasa terkejut sekaligus dejavu. Lalu di saat lima menit berlalu dalam keterdiaman dengan Hani yang memeluk tubuh Aina. Terdengar suara wanita tua itu berkata. “Kamu beneran hamil Na?” tanyanya sambil melepaskan pelukan eratnya.Aina dengan sedikit paksaan, memperlihatkan senyum manisnya. Lalu setelahnya, ia dengan pelan mulai menganggukan kepalanya pelan.Mendapati anggukan kepala Aina. Tanpa diduga, Hani mulai men
Selepas tiga menit kepergian Hans. Aina mulai menghela napas. Lalu setelahnya, ia mulai mengambil ponselnya yang memang sepertinya tadi diletakan Amel di atas nakas sampingnya. “Rey angkat!” gumamnya dengan pelan, di saat dirinya ternyata mengambil ponselnya itu untuk menghubungi Rey.“Hallo… Bu Aina.“Ucap Rey yang ada di seberang dengan suaranya yang datar di saat panggilan mereka berdua tersambung.Dengan senyum manis terpancar cerah di wajahnya, Aina berkata. “Akhirnya kamu angkat juga.”Terdengar helaan napas dari arah seberang panggilan yang tentunya berasal dari sosok Rey. “Ada apa Ibu hubungi saya?” ucapnya dengan suara yang tak bersahabat.Mendengar suara Rey yang terasa seperti orang yang sedang marah, Aina tentu saja tidak terima. “Kamu ini kenapa? Ko tiba-tiba nada bicara kamu, kayak orang yang lagi marah sama saya?”Rey yang merasa tak bisa menjawab. Tentu saja membuatnya hanya bisa terdiam, tanpa kata dan suara.Tak kunjung mendapat jawaban Rey atas pertanyaannya. Aina
Aina yang mendengarkan ucapan suaminya itu, sekarang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut wajah tak terima. “Ga bisa gitu dong Hans!”Hans menatap datar wajah Aina. “Kenapa ga bisa? Bukannya kesepakatan awal, emang kaya gitu ya?”Dengan menggigit bibir bawahnya dengan keras, Aina berkata. “Iya kesepakatan kita memang begitu, cuma—”“Cuma?” tanya Hans tidak sabar dengan ucapan lanjutan Aina.Merasa semakin gugup, tentu saja membuat Aina hanya bisa semakin menundukkan kepalanya dalam-dalam. “Kenapa kamu malah diam?” tanya Hans lagi dengan suara yang sangat keras.Mendengar pertanyaan suaminya, Aina tetap tak bersuara dan terus menundukkan kepalanya.Mendapati perilaku Aina yang seperti itu, Hans mulai mendengus. “Oke kalo kamu ga mau jawab. Berarti sekarang udah fine kan, kalo hubungan kamu sama Rey itu ud—”“Ga bisa gitu Hans!” potong Aina dengan cepat sambil mulai kembali memandang wajah Hans.Lagi-lagi mendapati ucapan yang sama seperti tadi, Hans mulai tersenyum s
Jika Rey sedang merasa resah. Tampak di tempat lain, lebih tepatnya di ruang rawat Aina. Amel dengan wajahnya yang mulai jengah. Karena pelukan kedua orang di depannya yang tak kunjung lepas. Mulai berdehem dengan keras. “Hemm!”Aina yang memang shock dengan pelukan Rey. Tentu saja langsung tersadar, di saat ia mendengar deheman Amel yang sangat keras. “Ah, kenapa Mel?” tanyanya, setelah berhasil melepaskan pelukan suaminya, Hans.Mendengar Aina yang malah bertanya ada apa dengan dirinya. Amel hanya bisa menghela napasnya dengan pelan. “Gapapa si Na. Cuma mau nyadarin lo aja.” ucapnya dengan ambigu.Aina yang juga merasa heran dengan ucapan ambigu Amel. Hanya bisa mengernyitkan dahinya tanpa mengeluarkan suara.Melihat sahabatnya yang tak peka, Amel kembali menghela napas dan berkata. “Udahlah ga usah dilanjutin lagi pembicaraannya!”Mendengar itu, Aina dengan masih tanpa kata dan suaranya. Hanya bisa menatap Amel dengan tatapannya yang tak terbaca.Sedangkan di sisi lain, Hans yang t
Hans yang memang tadi hanya diberitahukan oleh orang suruhannya bahwa Aina jatuh pingsan dan dibawa ke rumah sakit oleh Rey. Tentu saja merasa terkejut, saat mengetahui alasan istrinya itu pingsan, karena sedang hamil.“Pak Hans!” panggil Rey lagi, di saat melihat Hans hanya terdiam dengan raut wajah yang tampak sangat terkejut.Mendengar panggilan Rey. Hans yang tersadar dari rasa terkejutnya, berkata. “Kamu ga bohong kan?”Rey menghela napas. “Saya sama sekali ga bohong Pak. Saya serius dan jika Bapak memang tidak percaya pada ucapan saya, silahkan tanyakan langsung pada Bu Aina.”Dengan raut wajahnya yang datar, Hans tanpa kata dan suara. Mulai berdiri dari jongkokannya dan dengan cepat, berjalan menuju pintu ruang rawat inap Aina.Melihat kepergian Hans, Rey lagi-lagi menghela napas. Lalu setelahnya, dengan perlahan ia mulai berdiri dari duduknya di lantai dan mengikuti langkah Hans yang ada di depannya.***Sedangkan di sisi lain, lebih tepatnya di dalam ruangan. Tampak Aina deng







