Home / Romansa / Sentuhan Kedua yang Mematikan / BAB 118 GELORA ASMARA

Share

BAB 118 GELORA ASMARA

Author: Grei Graw
last update Petsa ng paglalathala: 2026-11-01 15:45:38

"Viktor..." bisik Julian tertahan, nyaris tanpa suara. Rahangnya mengatup sangat rapat hingga giginya bergemeretak menahan amarah yang meledak-ledak di dalam dada.

Pria berbadan tegap yang berdiri di hadapan Karen dan merangkulnya mesra di dalam pondok tua itu tidak lain adalah Viktor—pria yang sejak tadi sore bersikap manis dan penuh perhatian kepada Dara di hadapan banyak orang. Skenario busuk itu terbuka terang di hadapan Julian. Hubungan gelap antara Viktor dan Karen ternyata telah terjalin
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 156 RENCANA BARU

    Stefan mengamati ponsel Julian yang terus berdering. Setelah menghela napas panjang, Julian mengangkat panggilan video tersebut dan menyalakan mode pengeras suara. Layar langsung menampilkan wajah Karen dengan senyum miring yang menyebalkan. Nomor ponsel Karen ganti lagi.Sebelum Karen sempat membuka suara untuk memprovokasi lebih jauh, Julian menatap layar dengan pandangan dingin dan berbicara dengan nada sangat datar."Tidak usah ganggu Dara lagi," kata Julian tegas. "Aku akan menikah denganmu. Tapi beri aku waktu enam bulan untuk mempersiapkan segalanya."Karen tampak terkejut mendengar ucapan itu, namun senyum kemenangannya perlahan kembali mengembang di wajah liciknya. Tanpa menunggu balasan dari Karen, Julian langsung mematikan sambungan telepon tersebut dan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.Stefan berdiri terpaku di tempatnya. Ia menatap Julian dengan mata melotot, benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya."Kamu gila, Julian?" cetus Stefan sponta

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 155 SIAPA DALANGNYA?

    Julian menatap tajam ke arah Karen, tetapi ia sadar malam ini bukan waktu yang tepat untuk meladeni perdebatan panjang. Emosinya sedang di ujung tanduk, dan melangkah masuk ke dalam rumah yang sama dengan wanita itu hanya akan memicu pertengkaran yang tidak ada habisnya.Tanpa menjawab sepatah kata pun, Julian berbalik badan begitu saja. Ia kembali melangkah keluar meninggalkan teras mewah tersebut, mengabaikan suara Karen yang memanggilnya dengan nada tinggi dari belakang.Julian masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan langsung menginjak pedal gas meninggalkan halaman rumah orang tuanya. Daripada harus menghadapi tekanan keluarganya dan provokasi Karen malam ini, ia memilih memutar arah menuju penthouse pribadinya di pusat kota. Suasana tempat itu jauh lebih tenang dan memberikannya ruang untuk berpikir jernih.Sesampainya di penthouse, Julian langsung merebahkan diri sejenak di sofa ruang tamu dengan mantel yang masih melekat di tubuhnya. Kepalanya terasa pening. Tak lama kemudi

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 154 WANITA MEDUSA

    Suasana di dapur terasa begitu kaku, setelah Pak Felix menyampaikan keputusannya. Julian menarik napas panjang, berusaha mencerna setiap kata yang dilontarkan ayah Dara. Meski dadanya terasa sesak, ia sadar tak punya alasan untuk marah. Pak Felix hanya seorang ayah yang sedang berusaha melindungi anaknya.Julian menatap Pak Felix yang masih duduk terkulai di kursi. Wajah pria paruh baya itu tampak makin lesu setelah menguras tenaganya dengan bicara panjang lebar."Baik, Pak Felix," ujar Julian dengan suara pelan namun terdengar tegas. "Saya menghormati keputusan Bapak. Saya paham Bapak hanya ingin yang terbaik untuk Dara dan Claudya."Julian memalingkan pandangannya ke arah Dara. Wanita itu masih berdiri di belakang kursi ayahnya dengan kepala tertunduk."Dara," panggil Julian pelan.Dara mendongak, mempertemukan pandangannya dengan mata Julian. Ada kelelahan yang luar biasa terpancar dari sana, namun juga ada sedikit rasa bersalah yang tidak bisa ia sembunyikan."Aku pamit dulu," kat

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 153 SEBUAH ULTIMATUM

    Dara menggelengkan kepala perlahan. Ia menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya pelan, "Kalau begitu, masalahnya jauh lebih besar dari yang kita kira, Julian. Kamu tidak bisa melawan mereka sendirian.""Aku tidak sendirian, Dara," potong Julian cepat. Pria itu menatap lurus ke mata Dara dengan sorot penuh keyakinan. "Aku sudah memutuskan sejak semalam. Aku tidak akan membiarkan hidupku diatur oleh perjanjian bisnis yang kotor itu, apalagi sampai mengorbankan kamu dan Claudya.""Tapi risikonya terlalu besar," balas Dara dengan suara bergetar. "Keluargamu bisa kehilangan segalanya. Dan Karen... perempuan itu tidak akan tinggal diam melihat posisinya terancam."Julian bangkit dari duduknya, lalu melangkah mendekati Dara yang masih berdiri kaku di dekat meja dapur. Tanpa ragu, pria itu meraih kedua tangan Dara dan menggenggamnya erat. Hangat telapak tangan Julian sedikit meredakan gemetar di jemari Dara."Biarkan aku mengurus semuanya. Aku akan cari cara lain untuk menyelamatkan pe

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 152 KONSEKUENSI KECIL DARI KEPUTUSAN BESAR

    Julian mengabaikan panggilan dari Stefan sejenak. Ia langsung menggeser ikon hijau pada layar ponselnya untuk menerima panggilan dari nomor asing tersebut."Halo?" ucap Julian dengan suara berat dan waspada, menduga-duga apa lagi masalah yang harus ia hadapi malam ini."Selamat malam, apa benar ini dengan Bapak Julian?" suara seorang pria terdengar tegas dari seberang sambungan, diiringi suara bising kendaraan bermotor di latar belakang.Kening Julian berkerut dalam. "Ya, benar. Ini siapa?""Saya petugas kepolisian yang bertugas di sektor wilayah tempat kejadian kecelakaan tadi sore, Pak. Kami hanya ingin mengonfirmasi keadaan Bapak, sekaligus menanyakan kondisi wanita yang bersama Bapak tadi—Ibu Dara," ujar petugas tersebut dengan sopan.Julian menarik napas lega secara perlahan, meski ketegangan di dadanya belum sepenuhnya hilang. Ia menyandarkan punggungnya ke dinding."Ah, iya, Pak. Kami sudah berada di tempat aman. Kondisi kami baik-baik saja, tidak ada luka serius," jawab Julian

  • Sentuhan Kedua yang Mematikan   BAB 151 ANTARA PAKSAAN DAN KEBENARAN

    Mendengar kalimat itu, Karen langsung berdiri dari sofa sambil menjerit histeris. Wajahnya merah padam, menyangkal dengan suara bergetar dan air mata yang langsung tumpah membasahi pipinya."Jangan asal bicara, Julian! Kamu memfitnahku!" teriak Karen histeris, menatap Julian dengan kilat amarah dan kepanikan yang luar biasa.Viktor yang tadinya duduk dengan senyum meremehkan kini ikut berdiri secara spontan. Wajah pria itu mendadak pucat pasi, keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia kehilangan kata-kata, tidak menyangka Julian akan berbicara seperti itu.Ayah Julian terhuyung mundur satu langkah, mencengkeram tepi meja ruang tamu dengan jari-jarinya yang gemetar hebat. Napas pria paruh baya itu memburu, menatap Karen dan Viktor bergantian dengan pandangan tidak percaya."Apa benar apa yang dikatakan Julian, Karen?" suara Ibu Julian terdengar bergetar lemah, menatap calon menantunya dengan tatapan penuh kekecewaan dan jijik. "Jawab Ibu!"Karen menggeleng kuat-kuat, berlari mendekati I

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status