MasukJari-jari Dara menari di atas keyboar laptop, memasukkan deretan kode akses yang diberikan Stefan untuk membuka enkripsi folder utama di dalam USB. Tak lama kemudian, layar menampilkan dokumen berformat PDF dengan tajuk laporan keuangan internal Zeroun Media yang berbasis di Berlin.Dara mulai membaca baris demi baris angka dan catatan transaksi dari tiga tahun ke belakang. Awalnya, semuanya terlihat wajar. Namun, saat ia memeriksa bagian alokasi investasi luar negeri, matanya menangkap kejanggalan pada aliran dana dalam jumlah besar yang ditransfer secara diam-diam. Dana dari kantor pusat Zeroun Media di Berlin itu mengalir ke sebuah perusahaan lokal di Indonesia tepatnya di wilayah Jakarta, bernama Pratama Corp."Pratama Corp..." gumam Dara pelan, membaca profil perusahaan lokal tersebut. "Perusahaan milik keluarga Viktor."Temuan itu membuat napas Dara tertahan. Selama ini, publik tahu bahwa Zeroun Media fokus pada ekspansi media global di Eropa. Namun, dokumen rahasia ini membukti
Langkah kaki Dara bergema pelan di sepanjang lorong lift gedung penthouse Julian. Sensasi sesak di dadanya belum juga hilang. Perintah Stefan agar ia menghilang selama enam bulan terasa seperti hukuman yang tak adil. Namun, di tengah rasa hancur itu, sebuah kesadaran mendadak menghantam kepalanya dengan keras saat ia menginjakkan kaki di trotoar depan gedung.Mengapa ia harus pasrah begitu saja? Mengapa ia harus membiarkan Julian menanggung semua beban sendirian demi melindunginya?Dara memejamkan mata sebentar, menghirup udara malam yang dingin untuk menenangkan pikirannya. Perasaannya pada Julian bukan sekadar cinta biasa yang mudah digoyahkan oleh gertakan ancaman. Selama ini, Julian selalu menjadi sosok yang penuh rahasia. Pria itu selalu menutupi konflik keluarganya. Dara sadar, jika ia terus-menerus bertindak sebagai pihak yang dilindungi, ia hanya akan menjadi beban.Ia tidak akan menyerah. Ia harus tahu siapa sebenarnya Julian dan rahasia besar apa yang selama ini disembunyika
Stefan mendongak tajam ke arah pintu masuk. Sosok yang berdiri di ambang pintu itu perlahan melangkah masuk ke dalam ruang tengah. Di bawah temaram lampu ruangan, wajah itu terlihat jelas.Dara.Wanita itu berdiri dengan napas tersengal dan raut wajah yang diliputi kepanikan luar biasa. Di tangannya, sebuah kantong plastik kecil berisi obat penurun panas dan bubur hangat tampak tergenggam erat."Dara...?" gumam Stefan, kaget setengah mati melihat kehadiran wanita itu di tempat ini.Dara tidak memedulikan keterkejutan Stefan. Begitu melihat Julian tergeletak lemas di lantai, ia langsung menjatuhkan kantong yang dibawanya dan bergegas menghampiri. Dara segera mengambil alih posisi Stefan, memangku kepala Julian dengan lembut ke atas pahanya."Julian... hei, buka mata kamu," bisik Dara dengan suara bergetar hebat, air matanya nyaris tumpah melihat kondisi pria itu yang begitu menyedihkan.Stefan yang masih terduduk di sebelah mereka buru-buru menjelaskan, "Tadi pagi badannya memang sudah
Taksi yang ditumpangi Stefan berhenti tepat di depan sebuah kafe bernuansa modern. Dari luar kaca bangunan tersebut, Stefan sudah bisa melihat Viktor duduk santai di sudut ruangan sambil menyesap kopinya. Pria itu tampak percaya diri, seolah yakin kesepakatan besar akan segera masuk ke dalam kantongnya.Stefan menghela napas panjang, merapikan kerah kemejanya, lalu melangkah masuk. Ia berjalan lurus menghampiri meja Viktor tanpa mengumbar senyum sedikit pun.Viktor menegakkan duduknya begitu melihat Stefan mendekat. "Akhirnya datang juga kamu, Stef. Gimana? Julian sudah menandatangani berkas pencairan dana untuk proyek film kita?" tanya Viktor langsung tanpa basa-basi.Stefan memundurkan kursi di hadapan Viktor lalu duduk dengan tenang. Ia meletakkan sebuah map hitam tebal di atas meja tepat di depan pria itu."Tidak ada pencairan dana, Viktor," ujar Stefan dengan suara datar namun sarat penegasan. "Aku ke sini untuk menyampaikan keputusan resmi dari Julian. Zeroun Media membatalkan s
Stefan mengamati ponsel Julian yang terus berdering. Setelah menghela napas panjang, Julian mengangkat panggilan video tersebut dan menyalakan mode pengeras suara. Layar langsung menampilkan wajah Karen dengan senyum miring yang menyebalkan. Nomor ponsel Karen ganti lagi.Sebelum Karen sempat membuka suara untuk memprovokasi lebih jauh, Julian menatap layar dengan pandangan dingin dan berbicara dengan nada sangat datar."Tidak usah ganggu Dara lagi," kata Julian tegas. "Aku akan menikah denganmu. Tapi beri aku waktu enam bulan untuk mempersiapkan segalanya."Karen tampak terkejut mendengar ucapan itu, namun senyum kemenangannya perlahan kembali mengembang di wajah liciknya. Tanpa menunggu balasan dari Karen, Julian langsung mematikan sambungan telepon tersebut dan meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.Stefan berdiri terpaku di tempatnya. Ia menatap Julian dengan mata melotot, benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya."Kamu gila, Julian?" cetus Stefan sponta
Julian menatap tajam ke arah Karen, tetapi ia sadar malam ini bukan waktu yang tepat untuk meladeni perdebatan panjang. Emosinya sedang di ujung tanduk, dan melangkah masuk ke dalam rumah yang sama dengan wanita itu hanya akan memicu pertengkaran yang tidak ada habisnya.Tanpa menjawab sepatah kata pun, Julian berbalik badan begitu saja. Ia kembali melangkah keluar meninggalkan teras mewah tersebut, mengabaikan suara Karen yang memanggilnya dengan nada tinggi dari belakang.Julian masuk ke dalam mobil, menyalakan mesin, dan langsung menginjak pedal gas meninggalkan halaman rumah orang tuanya. Daripada harus menghadapi tekanan keluarganya dan provokasi Karen malam ini, ia memilih memutar arah menuju penthouse pribadinya di pusat kota. Suasana tempat itu jauh lebih tenang dan memberikannya ruang untuk berpikir jernih.Sesampainya di penthouse, Julian langsung merebahkan diri sejenak di sofa ruang tamu dengan mantel yang masih melekat di tubuhnya. Kepalanya terasa pening. Tak lama kemudi







