Home / Romansa / Sentuhan Lembut Om Duda / CHAPTER 1: Ajarin Saya, Om!

Share

Sentuhan Lembut Om Duda
Sentuhan Lembut Om Duda
Author: Heiho

CHAPTER 1: Ajarin Saya, Om!

Author: Heiho
last update publish date: 2025-11-05 12:21:40

“Ra, bibir kamu luka kenapa itu?”

Rara tersentak kaget mendengar pertanyaan Hani, sahabatnya sejak masih kecil. Ia buru-buru menutupi luka di bibirnya dengan tangan dan berkata canggung, “Nggak kenapa-kenapa, kok! Ini tadi ada kulit terkelupas aja.”

Hani menatapnya curiga. Ia memandang sekelilingnya yang ramai kemudian berbisik di telinga Rara, “Karena Satrio, ya?”

Rara seketika menegang. Ia buru-buru menggeleng. “Mana ada. Aku kan nggak ketemu dia hari ini. Sibuk nyari hadiah ulang tahun buat sahabat aku ini!” ucap Rara kemudian tertawa-tawa sumbang. 

Jawaban Rara tidak mengendurkan tatapan curiga Hani. Malah, wajah gadis itu semakin mengeras. Tapi, ia akhirnya menghela napas pasrah. Toh, tidak ada yang bisa mengalahkan kekeraskepalaan Rara dalam menyimpan masalahnya sendiri. 

“Yaudah, nikmatin pestanya, ya. Kalau pengin sesuatu, kabarin aja,” ucap Hani akhirnya sambil menepuk-nepuk bahu Rara. 

Rara tersenyum lebar. Ia mengangguk-anggukkan kepala. “Selamat ulang tahun ya, Han. Hadiahnya aku taruh mana, nih?”

Hani menunjuk pojokan ruangan yang terdapat plang bertuliskan ‘Tempat Menaruh Hadiah”. “Di pojokan yang ada plang itu aja. Makasih hadiahnya, ya,”

Rara lagi-lagi mengangguk riang. Ia menatap kepergian Hani yang mulai menyambut tamu lainnya. Senyum lebar Rara kemudian memudar. Ia berbalik badan dan berjalan menuju pojok ruangan untuk menaruh hadiah. 

Setelah menaruhnya, Rara mengamati sekeliling. Orang-orang tengah asik berjoget di tengah ruangan, mengikuti irama musik yang dimainkan oleh DJ. Beberapanya lagi tengah bercengkrama di sofa-sofa yang bertebaran di ruangan sambil menyeruput minuman beralkohol. 

Rara menghela napas. Sejujurnya, ia sedang tidak mood untuk datang ke acara ramai ini. Tapi, tidak mungkin, kan, ia mangkir dari acara ulang tahun sahabatnya sendiri yang bahkan sudah ia anggap seperti saudara sendiri. 

Ini semua karena Satrio! Batin Rara emosi. Ia meneguk minuman alkohol yang ditawarkan pelayan sebelumnya. 

Kalau saja tadi dia tidak bertemu Satrio, pasti ia akan lebih menikmati pesta sahabatnya ini! 

Satrio adalah pacarnya sejak awal kuliah. Mereka pertama kali kenal ketika mengerjakan tugas kelompok untuk salah satu mata kuliah. Saat itu, kelompoknya berisikan orang-orang yang kabur-kaburan dan hanya Satrio yang aktif mengerjakan bersamanya. Hal itu memicu kedekatan Satrio dengan Rara hingga akhirnya mereka saling menyukai dan memutuskan untuk menjalin hubungan. 

Awalnya, semua berjalan dengan lancar. Hubungan mereka terasa manis dan menyenangkan hingga membuat teman-temannya iri. Hingga saat Satrio memintanya untuk berhubungan intim di tahun kedua hubungan mereka. 

Rara tidak mempermasalahkan hal itu. Toh, dia memang orang yang cukup masuk dalam pergaulan bebas. Tapi, ia tidak menyangka Satrio adalah orang yang cukup … gila.

Rara awalnya mengira Satrio akan bermain dengan lembut dan perlahan mengingat sifat pria itu cukup gentlemen. Tapi, ternyata pria itu kasar dalam berhubungan! Ia suka memukulnya, menggunakan berbagai alat yang menyakitinya, dan tidak suka melakukan penetrasi kepada Rara lebih dulu sebelum melakukan penyatuan!

“Emang kalau berhubungan tuh gini, yang,” itu kata Satrio dulu ketika Rara menangis memohon agar Satrio berhenti bermain kasar. Maka, dalam rangka menuruti nafsu pacarnya, Rara harus pasrah menerima berbagai hal tersebut. 

Rara meringis ketika minuman di tangannya menyentuh luka di bibirnya. Luka di bibir ini juga karena Satrio. Ia tadi berbohong kepada Hani kalau ia tidak menemui Satrio walaupun sebenarnya memang benar, sih, karena Satrio sendirilah yang menemuinya!

Rara menghela napas pelan. Kepalanya mulai pusing ketika lampu ruangan menjadi kerlap-kerlip karena pesta semakin menggila. Rara menaruh gelas kosong di meja dan beranjak pergi dari ballroom hotel tersebut. 

Ia butuh minuman yang lebih keras. 

Rara menekan tombol di lift menuju lantai paling atas. Ada bar hotel di lantai tersebut. Sepertinya tidak akan masalah jika dia menghabiskan setengah tabungannya untuk meminum 2-3 gelas alkohol kuat. 

TING! Lift sampai di lantai tujuan Rara. Gadis itu segera menuju bar dan masuk ke dalamnya. 

Berbeda dengan ballroom tadi, suasana bar sangat damai dan hening. Tidak ada orang lain di sana selain dirinya. Sepertinya memang masih terlalu dini untuk mabuk-mabukan.

Rara segera duduk di kursi bartender dan memesan minuman. Ketika sampai, ia segera menyesapnya perlahan hingga habis dan memesan ulang lagi. Hal itu terus Rara lakukan selama beberapa menit hingga terdengar suara pintu bar dibuka. 

“Rara?”

Rara menoleh dengan mata sayu. Alkohol sudah mulai menguasainya. Ia menyipitkan mata 

“Om Jefri?” Rara buru-buru bangkit dari kursi, “Malam, om. Maaf tadi belum sempet nyapa om di ruang pesta,”

Jefri menggeleng sambil tersenyum tipis, “Om juga baru datang sebenarnya. Santai aja,”

Pria itu kemudian duduk di sebelah Rara dan memesan minuman ke bartender. Rara memerhatikan pria paruh baya itu lamat-lamat. 

Jefri Nicelson adalah ayah dari sahabatnya. Seorang duda sejak Hani  SMA. Sama seperti mengenal Hani, Rara juga mengenal pria paruh baya itu sedari kecil. Pria itu adalah definisi orang kaya sesungguhnya. 

Jefri berkecimpung dalam usaha perhotelan dan sudah memiliki banyak cabang hotel di negara ini. Hotel yang menjadi tempat pesta Hani sekarang, Hotel Amerson, juga adalah salah satu hotel yang dikelola Jefri. 

Meski begitu, Jefri bukanlah orang kaya yang arogan. Ia justru sangat ramah dan baik hati dengan perangai yang tenang. Pria itu selalu bersuara lembut. Rara tidak ingat Jefri pernah menaikkan nada suaranya meski dalam keadaan marah sekalipun. Berbeda sekali dengan ayah Rara yang kasar dan sukanya marah-marah.

Rara ingat Jefri suka mengajaknya tiap kali ingin bepergian bersama Hani. Berkat itu, Rara jadi bisa mencoba berbagai pengalaman baru, seperti bermain di taman bermain, mencoba jet ski, pergi ke kebun binatang, dan masih banyak lagi. 

“Kenapa nggak di ballroom, Ra?” tanya Jefri memecahkan lamunan Rara. 

“Pusing dikit, om, soalnya rame banget hehe,” balas Rara dengan senyum malu. 

Jefri tertawa, “Bukannya kamu tipe orang yang suka keramaian? Biasanya paling heboh malah,”

Rara hanya meringis. Dalam hati, ia kembali mengutuk Satrio. 

“Ra, kamu luka?” Tanya Jefri sambil menunjuk bibir Rara, “Kenapa?”

Rara buru-buru menggeleng, “Karena kulit terkelupas aja, om!”

Jefri bergumam. Sama seperti Hani, pria itu juga menatapnya curiga. Rara meringis dalam hati, insting bapak dan anak memang sama kuatnya!

Rara mengalihkan pandangan kembali ke minumannya kemudian menegaknya hingga tandas. Ia kemudian menghela napas. 

Sudah terlanjur dicurigai begini, sebaiknya ia cerita saja, kan?

“Ini karena pacar saya, om,” ucap Rara, “Dia ngajak saya untuk begituan hari ini,”

Rara meremas dressnya kencang. Merasa Jefri tak menanggapinya, Rara melanjutkan ceritanya. 

“Awalnya, ia ngajak lewat sms tapi saya tolak karena mau cari hadiah Hani dan bilang kalau malam ini mau ke acara ultah Hani juga jadi nggak mau capek, tapi dia malah datengin saya ke toko dan seret saya ke mobil,”

Bulir-bulir air mata menumpuk di sudut mata Rara. Ingatannya akan pertengkaran tadi memunculkan kembali perasaan sakit hatinya. 

“Dia maksa saya terus-terusan. Baru pas saya mohon-mohon, dia akhirnya terima tapi katanya mau cium saya aja sebagai gantinya. Tapi, dia cium saya kasar, om, … dia gigit bibir saya kenceng banget sampe berdarah,”

Rara mulai terisak. Kepalanya jadi sangat sakit karena teringat dengan berbagai perlakuan kasar yang Satrio lakukan kepadanya. 

“Saya capek, om … Pacar saya selalu kasar tiap main. Saya nggak suka …”

Rara menutup wajahnya yang berair. Ia yakin make upnya sudah luntur semua sekarang. Di sebelahnya, Jefri khidmat mendengarkan sambil meminum alkoholnya pelan-pelan. 

“Tapi, tiap kali saya tegur, dia pasti selalu bilang emang kalau main pasti bakal gitu–”

“Nggak, Ra. Yang namanya berhubungan, kedua belah pihak harus sama-sama enak,” potong Jefri, “Pacar kamu bohongin kamu,”

“Tapi, gimana, om?! Dia selalu bilang kalau saya cuma ngibul! Ngejek saya tiap saya selalu ungkit itu! Saya sendiri juga nggak tahu berhubungan baik itu gimana!” seru Rara dengan wajah memerah padam. 

Ia menatap sengit ke Jefri yang menghela napas dan menggeleng-gelengkan kepala. 

“Pokoknya, pacar kamu itu gak bener. Hubungan intim itu harus baik-baik–”

“Kalau gitu, coba om tunjukkin gimana berhubungan yang baik itu!” seru Rara sengit membuat Jefri membelalakkan mata kaget. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 289: Hari Terakhir

    Tidak ada kejadian apa pun setelah itu.Hani akhirnya tidak melakukan apa pun. Hanya berdiri diam di tempatnya. Begitu juga dengan sosok itu. Setelah Hani memberikan senyum padanya, sosok itu beranjak pergi.Ia tidak menoleh. Tidak berubah pikiran untuk mendekati Hani. Tetap pergi di bawah tatapan sang perempuan yang bergetar menahan diri untuk tetap diam.Hari itu berlalu seperti biasanya.Setelah kejadian itu, Hani kemudian disibukkan dengan agenda selanjutnya. Persiapan acara penyerahan suksesi oleh ayahnya.Persiapan itu memakan waktu dan pikiran. Hani bahkan lebih sibuk dari saat mengurus proyek bersama Merphilus.

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 288: Bertahan

    Beberapa hari berlalu setelah pengajuan syarat dari Jefri. Hingga tak terasa, tibalah hari wisuda kuliah Rara dan Hani dilaksanakan. …. Atau begitulah bagi sebagian orang. Karena bagi Hani, waktu sebulan itu berlalu sangat lama. Hani menghela napas. Seperti biasa menatap kalender di ponselnya dengan nelangsa. Di sisinya, hairstylist dan penata rias sibuk mengurus Hani. Mempersiapkan dirinya sebaik mungkin untuk tampil di wisuda. Merphilus ternyata menepati syarat Jefri dengan baik. Ia tidak menemui Hani, tidak mengajaknya untuk bertemu secara diam-diam, bahkan pria itu sama sekali tidak menghubunginya!Hani sebenarnya tidak menyangka ini. Mengenal Merphilus sebagai orang licik, ia berpikir pria itu setidaknya akan melakukan kecurangan sekali saja. Hani bahkan sudah bersiap kalau Merphilus memang mau melakukannya.Toh, ia sendiri tidak tahan dengan situasi ini.Tapi, Merphilus ternyata sangat menepati ucapannya. Bahkan, meski mereka sesekali bertemu di kantor karena pria itu menemui

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 287: Menagihnya Nanti

    “Bagaimana, Hani?”“Sa-saya mengerti,” Hani menelan ludah. Mengalihkan pandangannya malu.“Saya mengerti. Saya akan melakukannya. Janji.”Merphilus terkekeh pelan. Merasa gemas juga berseri mendengar balasan perempuannya itu. Ia kemudian menggamit dagu Hani lalu mengangkatnya, membuat Hani terpaksa menoleh padanya lagi.“Gadis pintar,” bisiknya membuat Hani kembali memerah padam.Perlahan, Merphilus mendekatkan lagi wajahnya. Semuanya terasa lambat dan buram sekarang di mata Hani. Ia hanya bisa terpaku pada wajah dan tatapan mendamba pria di hadapannya ini.Jarak keduanya semakin kecil. Napas keduanya mulai memburu dan tatapan Hani mulai menurun, hampir terpejam.Tinggal sedikit lagi sampai bibir mereka bertemu—TOK. TOK. TOK.“Tuan Merphilus, waktu Anda sudah habis.”Hani tersentak. Tubuhnya berubah kaku. Sementara Merphilus ikut tidak bergerak. Wajahnya mengeras.Tapi, saat Leo kembali mengetuk pintu, ia menghela napas panjang. “Sepertinya kita harus berhenti di sini,” ucap pria itu

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 286: Janji

    Hani terbelalak. Napasnya tercekat. Ia mencerna sejenak kalimat yang disampaikan ayahnya sebelum ekspresi wajahnya berubah mengeras.“Tidak boleh menemuiku? Apa-apaan itu?” Hani bersungut kesal, “Itu sama sekali tidak adil! Ayah pasti sengaja untuk menyusahkannya, kan?”“Kalau kalian tidak setuju, ya tidak apa-apa. Kalian tidak perlu melakukannya,” Jefri mengangkat kedua bahunya ringan. Tidak tergubris dengan amarah putrinya.“Tapi, kalau begitu, kalian tidak bisa bersama lagi. Hubungan kalian berakhir di sini.”Napas Hani kembali tercekat melihat tatapan dingin Jefri. Sorot wajah itu bertambah gelap, tidak menunjukkan ampun sedikit pun. Tangan Hani yang me

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 285: Syarat

    Masih sangat pagi ketika Jefri tiba-tiba mengajak mereka bertemu.Hani duduk tegang di atas sofa. Pandangannya sedikit tertunduk, menatap tangannya yang meremas celana. Tidak sanggup bertatapan dengan Jefri yang begitu mengintimidasi di depannya.Di sampingnya, Merphilus juga duduk tegak. Ia terlihat tenang dan berwibawa. Bahkan, bisa membalas tatapan Jefri, berbeda dengan Hani. Tapi, jika diperhatikan lebih jelas, sorot matanya terlihat was-was. Sepertinya ia sama tegangnya dengan Hani dan ikut bertanya-tanya hal yang ingin disampaikan Jefri sekarang. Atmosfir di ruangan itu sangat berat. Leo yang juga datang untuk menemani sang bos bahkan bisa merasakan tekanan itu. Ia merasa gerah, padahal AC masih menyala di kamar itu.Pria itu menelan ludah pelan.“Kalian sudah tahu alasan kita berkumpul sekarang, kan?” Jefri akhirnya membuka suara. Suaranya terdengar berat dan dominan. Membuat Hani meremas celananya semakin erat.“Iya, Tuan. Kami tahu,” yang membalas adalah Merphilus. Sepertiny

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 284: Ganti Permainan

    Rara menaruh gelasnya di atas bar dapur. Ia menutup mulut, berusaha menahan agar minuman itu tidak keluar meski sekarang perutnya bergejolak tidak enak.Rara baru menyelesaikan gelas kedua. Tapi, ia rasanya sudah tidak ingin bersentuhan dengan minuman itu. Meski rasanya enak, tapi efeknya terlalu dahsyat. Rara tidak tahu masih bisa bertahan lebih lama atau tidak karena ia sekarang mulai merasa kepalanya berputar-putar.Berbeda dengan Rara yang kesusahan, Jefri justru terlihat menikmatinya. Ia menyesap minumannya dengan tenang. Habis dalam satu teguk sebelum menambah lagi minumannya.Itu sudah gelas keenamnya. Dan masih belum ada tanda-tanda Jefri akan tumbang. Rara melenguh dalam hati.“Apa mau Mas tuangkan juga?” tanya Jefri usai menuangkan miliknya.Rara ingin menolak. Ia butuh waktu untuk tidak melihat gelasnya terisi lagi, tapi senyum miring yang diulas Jefri itu terasa mengejeknya sekarang membuat dadanya memanas.Ia mengarahkannya ke Jefri dan berkata semantap mungkin, “Ya. Tuang

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 7: Enak, kan?

    Rara memejamkan matanya ketika bibir Jefri kembali menempel. Sama seperti sebelumnya, lidah Jefri kembali menyapu bibir Rara, meminta perizinan untuk masuk ke dalamnya. Rara membuka mulutnya ragu-ragu. Lidah Jefri seketika masuk ke dalam. Ia menyapu seisi mulut Rara, mulai dari langit-langitnya, d

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 11: Apa Benar Ia Sebaik Itu?

    Hembusan napas hangat Jefri yang menggelitik telinga Rara membuat tubuh perempuan itu bergetar. Ada gejolak aneh yang ia rasakan di perutnya. Terasa seperti mulas tapi tidak juga. Entahlah, ia sendiri juga tidak tahu kenapa tubuhnya bereaksi seperti ini. “Om, jangan aneh-aneh,” ucap Rara pelan set

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 13: Waktunya Kelas Lagi

    “Ra?” “Om Jefri?” Rara menggeleng dan buru-buru mengoreksi ucapannya, “Pak direktur, selamat malam,” Rara membungkukkan badan sopan yang dibalas anggukan Jefri. Meski sebelum bekerja Jefri telah mewanti-wantinya untuk bebas memanggil dia dengan sebutan apa pun kalau mereka bertemu di hotel, tapi

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 9: Hadiah Jefri

    Rasanya semua ini salah, batin Rara ketika teringat perbuatannya bersama Jefri selama beberapa hari terakhir.Sudah hampir seminggu berlalu sejak insiden di kamar mandi. Dan selama itu pula, Rara rut

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status