ホーム / Romansa / Sentuhan Lembut Om Duda / CHAPTER 142: Mereka Cocok

共有

CHAPTER 142: Mereka Cocok

作者: Heiho
last update 公開日: 2026-03-05 21:02:27

Rara menoleh cepat ke Sandra. Jantungnya berdetak kencang, cemas akan reaksi yang Sandra berikan. Tapi, ketika Rara menatapnya, wanita itu justru …

Terlihat biasa saja?

Sandra bahkan terkekeh pelan.

Rara menelan ludah. Apa itu berarti mereka aman?

“Kalian seperti ayah dan anak,” celetuk Sandra usai Jefri mengelap sudut bibir Rara, “Dibandingkan wali, tuan Jefri lebih mirip dengan ayah kandungmu, Ra,”

Rara tersenyum canggung. Ia melirik Jefri
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 172: Bertemu Tunangan Leo?

    “Oh, iya, tidak masalah,” balas Leo sebelum wajahnya berubah cemas. “Omong-omong nona Hani, mata anda–” “Aku tidak apa-apa,” sela Hani, “Ini bengkak karena aku menangis saat menonton film sedih kemarin,” Leo terlihat sangsi. Sebanyak apa film sedih yang Hani tonton hingga membuat matanya sebengkak ini? Tapi, Hani sepertinya tetap akan berkata hal yang sama jika bertanya lagi. Jadi, Leo akhirnya mengangguk. “Om kesana siang nanti?” tanya Hani. Leo mengangguk, “Sebenarnya, saya baru akan ke hotel lain setelah membantu nona Hani menyelesaikan dokumen–” “Kalau begitu, aku akan menyelesaikannya dengan cepat!” seru Hani kemudian segera fokus dengan berkas di depannya. Leo mengerjapkan mata. Merasa bingung dengan sikap Hani yang tiba-tiba. ‘Mungkin dia hanya ingin cepat kabur,’ batin Leo. Mengingat Hani selalu mengeluh tiap bekerja dengan dokumen, sepertin

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 171: Ikut, Om

    Jantung Rara berdebar kencang saat mulai merasakan hembusan napas Jefri mengenai wajahnya. Ia memejamkan mata lebih erat, pasrah dengan hal yang akan terjadi–CUPAlis Rara mengernyit dalam. Bibir Jefri tidak ia rasakan di bibirnya, tapi di …. dahi?Pria itu mencium dahinya?Rara seketika membuka matanya. Ia sekarang bisa melihat dengan jelas kalau Jefri tengah mencium dahinya.Pria itu tak lama menjauhkan dirinya. Ia menyeringai lebar ke Rara yang masih terbengong-bengong.Melihat seringai Jefri, wajah Rara seketika memerah padam.Ternyata ia salah paham! Memalukan sekali!Rara rasanya ingin mengubur dirinya sekarang.“Kenapa? Kamu terlihat sangat terkejut?” tanya Jefri berpura-pura bingung. Ia lalu memasang wajah baru tersadar.“Oh, kamu mengira om ingin menciummu di bibir, ya?”“Nggak!” bantah Rara cepat, “Udah om pulang aja! Aku udah selesai ngomong sama om!”Jefri tertawa

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 170: Mau Menciumku?!

    Jefri segera mengatur wajahnya dengan tersenyum tipis, “Iya, saya akan pergi sejenak,”“Kemana?”Bukankah wanita ini terlalu ingin tahu?Jefri menimbang-nimbang sejenak perlu memberitahu secara jujur atau tidak. Tapi, mengingat kelakuan Sandra tadi pagi, mungkin wanita itu akan melakukan sesuatu lagi jika Jefri berkata akan bertemu Rara sekarang. “Bertemu kolega di hotel saya,” balas Jefri ringan, “Sebentar lagi ada acara kembang api saat malam tahun baru, kan? Saya harus mengatur hotel sebagai persiapan menyambut para tamu,”Sandra masih menatapnya curiga. Tapi, ia akhirnya mengangguk-angguk. “Baiklah. Kalau begitu, hati-hati, tuan,” Jefri hanya mengangguk sekilas. Ia akhirnya berjalan menuju mobil di bawah tatapan Sandra. Begitu masuk mobil, Jefri menatap Sandra dingin dari jendela depan. Ia mencengkram kemudi mobil dengan erat lalu mulai mengeluarkan mobilnya dari motel.Jefri melirik Sandra yang

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 169: Rara Mengundang Jefri

    “Om Leo, orang yang kamu sukai itu, sudah memiliki tunangan,”“Bohong,” ucap Hani, suaranya sedikit bergetar. “Kamu pasti bohong,”Septa mengalihkan pandangannya dan menggelengkan kepala pelan. Hani menggeram. “Aku tidak pernah mendengar soal itu,” desis Hani, “Bagaimana mungkin kamu bisa tahu sedangkan aku, orang yang sudah mengenalnya sejak lama, tidak tahu apa-apa?!”“Om Leo memang sengaja menyembunyikannya,” balas Septa, “Walaupun aku tidak tahu apakah om Jefri mengetahui itu atau tidak,”“Menyembunyikan? Kenapa dia harus menyembunyikannya?” desak Hani, “Tidak, tunggu, kalau dia memang menyembunyikannya lalu kenapa kamu tahu?!”“Aku pernah melihatnya,”Napas Hani tercekat mendengar jawaban Septa. Dadanya sesak. “Melihatnya?” tanyanya dengan suara yang semakin bergetar. Septa mengangguk pelan. Ia merasa semakin tidak tega melihat Hani sekarang. Tapi, ia harus melakukannya. “Aku pernah me

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 168: Jauhi Dia

    “Apa benar tidak terjadi sesuatu antara kak Sandra dan om Jefri?” tanya Rara ke Sandra. Ia sudah berada di luar kantor sekarang, tapi masih belum beranjak pergi.Rara masih memikirkan interaksi Jefri dan Sandra tadi. Padahal, ini pertama kalinya Jefri menyetujui ajakan Sandra dengan cepat dan hal tersebutlah yang dinanti Rara selama ini.Apa Rara terlalu memikirkannya saja?Sandra menaikkan alisnya, “Kami baik-baik saja. Bahkan hubungan kami lebih dekat kan sekarang?“ Sandra menyeringai.“Buktinya tuan Jefri mau menerima ajakanku tanpa berpikir lama-lama,”Rara menelan ludah. Perkataan Sandra benar, tapi rasanya tidak benar juga. Entahlah, rasanya hubungan mereka tidak ‘baik’ yang seperti Rara bayangkan.Melihat wajah kesulitan Rara, Sandra menepuk pelan bahu perempuan itu hingga ia tersentak kaget.“Harusnya kamu senang karena tidak perlu susah payah lagi menyatukan kami sekarang, bukan malah berpikiran macam-macam,” de

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 167: Terlihat Baik?

    [Acaramu berjalan lancar? Besok temui aku di kantorku]Hani mengernyitkan alisnya ketika membaca pesan Septa. Kenapa tiba-tiba sekali pria itu mengajaknya bertemu? Apa Septa ingin Hani segera memenuhi janjinya? Bukankah dia terlalu buru-buru?Hani menghela napas. Yasudahlah, Septa memang kadang suka tidak sabaran. Hani membalas pesan tersebut dengan ‘ya’ singkat. Ia lalu memasukkan kembali ponselnya ke tas. Hani kemudian menatap tangannya.Tangan yang masih terasa hangat karena genggaman Leo saat berdansa tadi. Hal itu membuat Hani teringat wangi musk pria itu dan betapa hangat tubuh sang pria ketika mereka berdekatan.Baiklah, sepertinya dia harus berhenti mengingat karena Hani merasa seperti orang mesum sekarang.Hani menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. Ia menatap pantulan dirinya di cermin toilet, berusaha menguatkan dirinya untuk bertemu Leo lagi.Ya, tadi setelah berdansa, Hani buru-buru menuju

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 98: Rara Melawan Rachel

    ‘Apa dia baru saja menghancurkan pintu?!’ seru Rara tak percaya dalam hati. Ia segera menarik kepalanya lagi dan duduk dengan tegang di belakang sofa.Tangannya menutup mulut rapat-rapat

    last update最終更新日 : 2026-03-28
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 102: Tepati Perkataanmu

    “Tidak!” seru Jefri, “Keputusan om sudah final. Tidak ada lagi perubahan!” “Kalau begitu, aku akan tetap memaksa sampai om berubah pikiran,” balas Rara tenang. “Rara!” “Ayah, tenanglah!” seru Hani yang segera memegang pundak Jefri, “Rara pasti punya alasannya sendiri makanya berkata begitu. Kita

    last update最終更新日 : 2026-03-28
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 97: Bahaya

    “Apa Septa baik-baik saja?” “Dia baik-baik saja,” ucap Jefri sambil mematikan ponselnya. Ia baru saja menelepon Septa untuk menanyakan keadaannya setelah artikel tentang perundungan Rachel ke Rara dirilis. “Dia sedang menyiapkan diri untuk menghadapi reporter yang mulai datang,” lanjut Jefri.

    last update最終更新日 : 2026-03-28
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 89: Arti dari Tatapan Mereka

    “Ayah akan tetap menjalankan rencana yang ayah bicarakan semalam,”Hani tercenung mendengar perkataan Jefri. Ia menatap sejenak ayahnya dari belakang yang sedang memakai jas, bersiap untuk pergi. “Kenapa?” tanya Hani setelah beberapa saat, “Ayah tidak perlu memaksakan diri sebegitunya! Biarkan Rar

    last update最終更新日 : 2026-03-27
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status