Beranda / Romansa / Sentuhan Lembut Om Duda / CHAPTER 142: Mereka Cocok

Share

CHAPTER 142: Mereka Cocok

Penulis: Heiho
last update Tanggal publikasi: 2026-03-05 21:02:27

Rara menoleh cepat ke Sandra. Jantungnya berdetak kencang, cemas akan reaksi yang Sandra berikan. Tapi, ketika Rara menatapnya, wanita itu justru …

Terlihat biasa saja?

Sandra bahkan terkekeh pelan.

Rara menelan ludah. Apa itu berarti mereka aman?

“Kalian seperti ayah dan anak,” celetuk Sandra usai Jefri mengelap sudut bibir Rara, “Dibandingkan wali, tuan Jefri lebih mirip dengan ayah kandungmu, Ra,”

Rara tersenyum canggung. Ia melirik Jefri
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 232: Jangan Terhanyut, Hani

    Jefri mengernyitkan alisnya ketika Rara mulai menciumi rahangnya. Matanya berkedut sedikit merasakan jemari Rara mulai meraba kemejanya setelah berhasil membuka kancing jasnya. Meski begitu, wajah pria itu tetap datar. Tidak ada perubahan ekspresi di wajahnya. Rara jadi tidak yakin apakah Jefri sudah terbuai atau belum. Atau dia justru marah? Jantung Rara berdebar takut setelah memikirkan hal itu. Ia berusaha menyangkal hal itu, mengingat terakhir kali Rara gampang meluluhkan pria itu ketika dia marah. Kalau begitu, mungkin rangsangannya masih kurang? Diingat-ingat, Rara tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Dia selalu membiarkan Jefri yang memimpin. Jadi wajar kalau Jefri tidak terbuai sekarang karena sentuhannya pasti kaku. Ugh, dia harus mengingat bagaimana cara Jefri melakukannya! Rara menaikkan ciumannya ke sekitar bibir Jefri. Jantungnya berdebar kencang melihat pria itu menatapi dirinya, seolah tengah memantau. Menyampingkan rasa malunya, Rara mulai memadukan bibirnya

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 231: Biar Aku Saja, Mas

    “Anda tidak apa-apa?” Hani melirik Leo yang sedang menyetir di depan kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke luar kaca mobil. Ia menjawab pelan, “Tidak apa-apa.” Leo melirik Hani dari kaca spion tengah. Melihat gadis itu sangat lemas sekarang, Leo jadi merasa sangsi dengan jawabannya tadi. “Apa anda sakit?” tanya Leo lagi, “Kalau anda sakit, kita bisa bilang–” “Aku tidak apa-apa, om,” tegas Hani membuat Leo seketika bungkam. “Aku hanya kelelahan karena pesta semalam.” “Baik. Maafkan kelancangan saya.” Hani menghela napas pelan. Ia jadi tidak sengaja berkata agak keras ke Leo. Tapi, mau bagaimana lagi? Perasaannya sedang sangat tidak karuan. Dan orang yang menyebabkan hal itu tidak jauh darinya sekarang. Hani butuh lebih dari istirahat. Ia ingin menghilang sekarang juga. Meski begitu, Leo tidak melakukan kesalahan semalam. Hal yang wajar kalau ia ingin bercumbu dengan tunangannya, terlebih lagi di malam bersenang-senang seperti itu. Ini salah Hani sendiri karena sudah m

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 230: Berhasil?

    Hani membuka matanya perlahan saat nada dering ponselnya sama-samar masuk ke telinganya. Pusing langsung menghantam kepalanya, disusul rasa nyeri di selangkangannya.Hani mendesis pelan. Ia bangkit perlahan, duduk bersandar di kepala ranjang. Menarik napas panjang-panjang untuk menghilangkan pusingnya dulu. Barulah setelah beberapa saat, ia mengambil ponselnya yang sudah tidak berdering. Ada belasan notifikasi panggilan tidak terjawab dari Jefri dan Rara. Diiringi dengan puluhan pesan dari mereka juga.Hani pasti tidak akan selamat pagi ini.“Selamat pagi.”Hani menoleh ke samping. Ia mengerjapkan mata melihat Merphilus keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk di pinggang. Masih terdapat beberapa titik air di badan kekarnya.Perlahan, ingatan Hani kembali. Bayangan tentang kejadian semalam memenuhi benaknya, membuat Hani menghela napas panjang.Ternyata ia benar-benar melakukannya semalam. Dan kali ini, ia tidak melupakannya.Sepertinya metode Merphilus ampuh.“Anda tidak perg

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 229: Jangan Ditahan

    Hani mengernyitkan alisnya. Menatap balik Merphilus di depannya. Gadis itu kemudian menghela napas pelan lalu memeluk leher Merphilus dengan kedua tangannya. Hani perlahan mendekatkan wajahnya. Ia memejamkan mata sebelum bibirnya menempel ke bibir Merphilus. Hanya ciuman singkat. Karena tak lama kemudian, Hani menarik kembali wajahnya. “Saya sudah membayarnya–” Hani tersentak ketika Merphilus tiba-tiba mendorong belakang kepalanya lalu menyatukan kembali bibir mereka. Matanya membelalak. Ciuman kali ini berbeda. Merphilus mencecap bibirnya, memaksa masuk lidahnya ke dalam bibirnya. Hani segera memejamkan mata ketika lidah pria itu akhirnya masuk. Wajahnya perlahan memerah, merasakan betapa lihainya lidah Merphilus ‘bermain’ di dalam mulutnya. Suara kecipak basah dari ciuman mereka menggema di dalam kamar. Ciuman mereka semakin intens dan dalam hingga Hani yang merasa lemas, akhirnya merebahkan dirinya di kasur diikuti Merphilus yang mengukungnya di atas. Bibir mereka akhirnya t

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 228: Merepotkan

    “Apa istrimu ini sudah ‘isi’?” Yang dimaksud ‘isi’ itu … hamil, kan? Rara menelan ludah lalu menggeleng pelan. Ia lalu berkata, “Kami masih menahan program kehamilan sekarang.” “Oh, ya, ya. Itu bagus! Memang tidak sebaiknya buru-buru, ya.” Rara menghela napas lega mendengar jawaban ramah Tiara. Syukurlah. Sepertinya dia bukan tipikal orang yang suka nyinyir— “Apalagi Jefri juga sudah punya pewaris, ya. Jadi, sepertinya tidak butuh kamu hamil juga. Malah kalau kamu hamil nanti jadi repot!” Mata Rara membesar. Sementara Jefri mengernyitkan alisnya. Sorot wajahnya berubah menggelap. “Apa maksud bibi?” tanyanya rendah. Melihat ekspresi Jefri, Tiara memasang wajah kaget, seolah-olah dia baru saja salah berkata. Wanita itu kemudian memasang wajah bersalah. “Aduh, maaf. Bibi tidak bermaksud menyinggung kalian,” ucapnya penuh sesal, “Maksudnya, nanti ka

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 227: Penawaran Merphilus

    Hani tahu harusnya ia segera mengalihkan pandangan. Atau bahkan, kabur sejauh mungkin dari sana begitu merasakan nyeri teramat sangat di dadanya. Tapi, tubuhnya kaku dan gemetar. Isi kepalanya juga kosong, membuat Hani hanya mampu memerhatikan kedua insan tersebut yang semakin asik bercumbu.Dan sebelum terjadi sesuatu yang lebih buruk, seseorang tiba-tiba menariknya dari belakang. Menyembunyikan dirinya di balik tembok. Kini, Hani hanya bisa mendengar desah-desah lirih dari kedua orang itu. Yang justru semakin menyayat hati Hani. “Saya tidak menduga Tuan Leo akan melakukan hal mesum di sini.”Hani melirik ke pemilik suara di belakangnya. Dia tidak merasakan kekagetan begitu mengetahui orang tersebut adalah Merphilus. Sepertinya perasaannya masih mati setelah kejadian tadi. Merphilus terlihat menyeringai tipis. Tatapannya tidak terbaca oleh Hani, entah mengolok atau senang. Tapi, Hani tidak peduli karena desahan di dalam sana

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 118: Jefri Mencari Rara

    “Kalian bilang belum bisa menemukannya?”Leo menelan ludah ketika mendengar nada dingin Jefri. Ia melirik para staf lain di ruangan itu yang ikut menegang sambil menatap Jefri yang berdiri di depan jendela, membelakangi mereka semua. “Be-benar, pak,” ucap salah satu staf gugup,

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 111: Pengakuan Rachel

    “Jadi, apakah benar kalau terdakwa datang pada malam itu untuk membeli palu?” tanya hakim ke staf kasir di hadapannya. Tubuh staf kasir itu gemetar. Wajahnya sedikit pucat, membuat Rara tidak tega. Pelan-pelan, kasir itu berkata dengan gagap, “Be-benar, Yang Mulia,”“Apakah kau

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-30
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 112: Berikan Jawabanmu Malam Ini

    “D-dia bilang apa tadi?” “Jadi, nyonya Rachel benar-benar menyerangnya?” “Tidak–tidak mungkin! Bisa saja dia mengatakan itu agar hukumannya diringankan! Bukankah kalau mengaku, hukuman akan dikurangi?” “.... Tapi, dia tidak terlihat berbohong …”

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-30
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 114: Apa Jawabanmu?

    “Aku sangat tersanjung melihatmu menemuiku setelah aku baru masuk penjara,” Rachel terkekeh pelan. Wanita itu mencondongkan sedikit badannya ke Jefri, “Apa kau sudah merindukanku?”Jefri hanya tersenyum. Meski begitu, senyumannya tidak mencapai matanya. Ia menatap Rachel dengan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-30
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status