تسجيل الدخول“Anda tidak apa-apa?” Hani melirik Leo yang sedang menyetir di depan kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke luar kaca mobil. Ia menjawab pelan, “Tidak apa-apa.” Leo melirik Hani dari kaca spion tengah. Melihat gadis itu sangat lemas sekarang, Leo jadi merasa sangsi dengan jawabannya tadi. “Apa anda sakit?” tanya Leo lagi, “Kalau anda sakit, kita bisa bilang–” “Aku tidak apa-apa, om,” tegas Hani membuat Leo seketika bungkam. “Aku hanya kelelahan karena pesta semalam.” “Baik. Maafkan kelancangan saya.” Hani menghela napas pelan. Ia jadi tidak sengaja berkata agak keras ke Leo. Tapi, mau bagaimana lagi? Perasaannya sedang sangat tidak karuan. Dan orang yang menyebabkan hal itu tidak jauh darinya sekarang. Hani butuh lebih dari istirahat. Ia ingin menghilang sekarang juga. Meski begitu, Leo tidak melakukan kesalahan semalam. Hal yang wajar kalau ia ingin bercumbu dengan tunangannya, terlebih lagi di malam bersenang-senang seperti itu. Ini salah Hani sendiri karena sudah
Hani membuka matanya perlahan saat nada dering ponselnya sama-samar masuk ke telinganya. Pusing langsung menghantam kepalanya, disusul rasa nyeri di selangkangannya.Hani mendesis pelan. Ia bangkit perlahan, duduk bersandar di kepala ranjang. Menarik napas panjang-panjang untuk menghilangkan pusingnya dulu. Barulah setelah beberapa saat, ia mengambil ponselnya yang sudah tidak berdering. Ada belasan notifikasi panggilan tidak terjawab dari Jefri dan Rara. Diiringi dengan puluhan pesan dari mereka juga.Hani pasti tidak akan selamat pagi ini.“Selamat pagi.”Hani menoleh ke samping. Ia mengerjapkan mata melihat Merphilus keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk di pinggang. Masih terdapat beberapa titik air di badan kekarnya.Perlahan, ingatan Hani kembali. Bayangan tentang kejadian semalam memenuhi benaknya, membuat Hani menghela napas panjang.Ternyata ia benar-benar melakukannya semalam. Dan kali ini, ia tidak melupakannya.Sepertinya metode Merphilus ampuh.“Anda tidak perg
Hani mengernyitkan alisnya. Menatap balik Merphilus di depannya. Gadis itu kemudian menghela napas pelan lalu memeluk leher Merphilus dengan kedua tangannya. Hani perlahan mendekatkan wajahnya. Ia memejamkan mata sebelum bibirnya menempel ke bibir Merphilus. Hanya ciuman singkat. Karena tak lama kemudian, Hani menarik kembali wajahnya. “Saya sudah membayarnya–” Hani tersentak ketika Merphilus tiba-tiba mendorong belakang kepalanya lalu menyatukan kembali bibir mereka. Matanya membelalak. Ciuman kali ini berbeda. Merphilus mencecap bibirnya, memaksa masuk lidahnya ke dalam bibirnya. Hani segera memejamkan mata ketika lidah pria itu akhirnya masuk. Wajahnya perlahan memerah, merasakan betapa lihainya lidah Merphilus ‘bermain’ di dalam mulutnya. Suara kecipak basah dari ciuman mereka menggema di dalam kamar. Ciuman mereka semakin intens dan dalam hingga Hani yang merasa lemas, akhirnya merebahkan dirinya di kasur diikuti Merphilus yang mengukungnya di atas. Bibir mereka akhirnya t
“Apa istrimu ini sudah ‘isi’?” Yang dimaksud ‘isi’ itu … hamil, kan? Rara menelan ludah lalu menggeleng pelan. Ia lalu berkata, “Kami masih menahan program kehamilan sekarang.” “Oh, ya, ya. Itu bagus! Memang tidak sebaiknya buru-buru, ya.” Rara menghela napas lega mendengar jawaban ramah Tiara. Syukurlah. Sepertinya dia bukan tipikal orang yang suka nyinyir— “Apalagi Jefri juga sudah punya pewaris, ya. Jadi, sepertinya tidak butuh kamu hamil juga. Malah kalau kamu hamil nanti jadi repot!” Mata Rara membesar. Sementara Jefri mengernyitkan alisnya. Sorot wajahnya berubah menggelap. “Apa maksud bibi?” tanyanya rendah. Melihat ekspresi Jefri, Tiara memasang wajah kaget, seolah-olah dia baru saja salah berkata. Wanita itu kemudian memasang wajah bersalah. “Aduh, maaf. Bibi tidak bermaksud menyinggung kalian,” ucapnya penuh sesal, “Maksudnya, nanti ka
Hani tahu harusnya ia segera mengalihkan pandangan. Atau bahkan, kabur sejauh mungkin dari sana begitu merasakan nyeri teramat sangat di dadanya. Tapi, tubuhnya kaku dan gemetar. Isi kepalanya juga kosong, membuat Hani hanya mampu memerhatikan kedua insan tersebut yang semakin asik bercumbu.Dan sebelum terjadi sesuatu yang lebih buruk, seseorang tiba-tiba menariknya dari belakang. Menyembunyikan dirinya di balik tembok. Kini, Hani hanya bisa mendengar desah-desah lirih dari kedua orang itu. Yang justru semakin menyayat hati Hani. “Saya tidak menduga Tuan Leo akan melakukan hal mesum di sini.”Hani melirik ke pemilik suara di belakangnya. Dia tidak merasakan kekagetan begitu mengetahui orang tersebut adalah Merphilus. Sepertinya perasaannya masih mati setelah kejadian tadi. Merphilus terlihat menyeringai tipis. Tatapannya tidak terbaca oleh Hani, entah mengolok atau senang. Tapi, Hani tidak peduli karena desahan di dalam sana
Rara duduk dengan tegang di kursi yang disediakan untuknya. Di sebelahnya, Jefri dan Hani ikut duduk. Para pramusaji segera menuangkan wine ke gelas di atas meja bundar. Rara mengucapkan terima kasih ke pramusaji tersebut. Ia lalu kembali menatap panggung di depannya. Mejanya ada di barisan paling depan sehingga bisa dekat dengan panggung. Menurut Jefri, tempat ini memang eksklusif untuk mereka sebagai penyelenggara acara. Rara benar-benar tidak menyangka bisa duduk di tempat seperti ini.Wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Para tamu juga sudah mulai duduk di tempatnya masing-masing. Para pramusaji sibuk berkeliaran menuangkan wine. Begitu juga dengan Leo yang sibuk mengarahkan para tamu menempati tempat duduk yang sesuai.‘Jadi, pestanya seperti ini,’ batin Rara. Ini pertama kalinya dia menghadiri pesta seperti ini. Meski dalam hidupnya, dia baru sekali menghadiri pesta ketika acara keluarga Nickelson
“Jadi, apakah benar kalau terdakwa datang pada malam itu untuk membeli palu?” tanya hakim ke staf kasir di hadapannya. Tubuh staf kasir itu gemetar. Wajahnya sedikit pucat, membuat Rara tidak tega. Pelan-pelan, kasir itu berkata dengan gagap, “Be-benar, Yang Mulia,”“Apakah kau
“D-dia bilang apa tadi?” “Jadi, nyonya Rachel benar-benar menyerangnya?” “Tidak–tidak mungkin! Bisa saja dia mengatakan itu agar hukumannya diringankan! Bukankah kalau mengaku, hukuman akan dikurangi?” “.... Tapi, dia tidak terlihat berbohong …”
“Aku sangat tersanjung melihatmu menemuiku setelah aku baru masuk penjara,” Rachel terkekeh pelan. Wanita itu mencondongkan sedikit badannya ke Jefri, “Apa kau sudah merindukanku?”Jefri hanya tersenyum. Meski begitu, senyumannya tidak mencapai matanya. Ia menatap Rachel dengan
“Sebenarnya apa yang kau lakukan?!” bentak Marco penuh amarah, “Kau sudah gila, ya?!”Rachel menghembuskan napas kasar. Ia memijat-mijat kepalanya yang berdenyut pusing.Mereka bertiga sekarang sedang di ruang tunggu kecil untuk menunggu istirahat sidang berakhir. Satu petu







