Mag-log in“Om gila ya?!” bisik Rara sambil memundurkan wajahnya. Ia memelototkan matanya ke Jefri yang kini tersenyum geli.
Sialan! Pria itu mempermainkannya ternyata! Sejak kapan ia suka menggoda seperti ini?
“Lagian, kamu keliatan tegang banget Ra,” Jefri menaikkan kedua bahunya tanpa dosa, “Jadi, om kira kamu–”
“Nggak!”
Jefri mendengus geli. Pelototan mata dari sahabat anaknya itu tidak membuatnya ketakutan sama sekali. Ia berusaha untuk menahan senyum lebar yang akan terkembang dan berkata,
“Kamu keliatan banyak pikiran,” ucap Jefri, “Kenapa?”
Rara tersentak pelan. Ia menggigit bibir sembari
Rara mengerutkan alis ketika mengecek riwayat panggilan di ponselnya saat pagi hari. Ia meng scroll layar ponselnya ke atas dan bawah berulang kali, tapi tetap tidak menemukan nama Jefri. Pria itu sama sekali tidak menelponnya tadi malam. Apa berarti dia tidak datang lagi semalam? Rara lanjut mengecek kolom chatnya dengan Rachel. Masih belum ada balasan untuk pesan terakhir yang Rara kirimkan. Mungkin wanita itu sedang sibuk menyiapkan fashion shownya yang semakin dekat dan lupa untuk membalas. Rara kembali menghela napas. Ia merebahkan badannya kembali ke kasur. Suasana ini terasa sangat membingungkan baginya. Ia tidak tahu apakah masalahnya sekarang sudah selesai atau belum. Tapi, mengingat Rachel tak lagi mengganggunya dan Jefri menjauhinya, mungkin ia bisa bilang kalau masalahnya selesai? Rasanya ada yang menyelekit di hati Rara ketika membayangkan Jefri dan Rachel bersama. Sek
Bagi Septa, kegiatan bermain sekarang adalah kesempatannya untuk mengorek informasi dari Rara. Tapi bagi Rara, ini adalah kesempatannya agar menghindari Jefri yang masih memiliki kemungkinan untuk datang malam ini.Meski kemarin malam pria itu tidak datang, tapi Rara masih merasa resah. Apalagi memikirkan kemungkinan Rachel selalu memata-matainya tiap malam. Jadi malam ini, ia akan menahan Septa semalam mungkin agar menghindari kemungkinan terburuk!Rara merubah ponselnya menjadi mode ‘jangan ganggu’. Hal ini ia lakukan untuk mencegah Jefri meneleponnya. “Ini kursi pijatnya, Ra!” seru Septa membuat Rara mengalihkan pandangannya dari ponsel. Keresahan Rara seketika berubah menjadi antusias. Ia segera duduk di kursi pijat dengan riang. Septa tertawa. “Masukin uangnya dulu baru duduk!” kekeh Septa. Ia mengeluarkan uang sepuluh ribu dari dompetnya lalu memasukkannya ke lubang penerima uang yang ada di sandaran kursi Rara.“Eh, nanti aku gantiin ya, Ta!” ucap Rara saat melihat Septa sud
‘Cari tahu apakah gadis kesayanganmu itu memang korban kekerasan atau bukan. Gampang saja buatmu, kan?’Septa mencebik ketika ucapan Rachel kembali terngiang di kepalanya. Ia menghela napas panjang, membuat Rara yang habis merapihkan alat kebersihan menoleh ke Septa. “Udah join sirkel pemuda jompo sekarang, ya?” ejek Rara menirukan Septa. Septa mendengus. Ia meremas pel untuk terakhir kali lalu keluar dari kamar mandi sambil membawa ember dan pel. Rara tertawa melihat wajah masam Septa. “Kenapa, sih? Ada masalah di acara keluarga kemarin?” tanya Rara. Septa tak menjawab. Ia menaruh pel dan ember ke tempatnya lagi, membelakangi Rara yang berdiri di belakangnya. “Nggak ada apa-apa,” jawab Septa pelan. Hal itu membuat alis Rara merengut bingung. Ia melongok ke depan, berusaha menelisik wajah Septa. Rara seketika menelan ludah saat melihat raut menggelap pria itu. Pasti ada sesuatu kemarin!Rara buru-buru menegakkan badannya lagi. “Ngomong-ngomong, jadi mau ke kursi pijat yang mau
“Semangat selesaiin urusan keluarganya!” kekeh Rara sembari turun dari motor Septa. Ia baru saja diantar pulang oleh rekannya itu. Septa mendengus, mengetahui rekannya hanya mengejeknya. Ia menyentil pelan dahi Rara yang membuat perempuan itu tertawa. “Tidur yang bener. Jangan sampai harus pake koyo lagi karena salah tidur,” ejek Septa. Rara mendelik mendengarnya. Wajahnya merengut kesal membuat Septa tertawa. Septa menyalakan kembali motornya. Ia menatap Rara sejenak yang mengerjap-ngerjapkan mata bingung melihat tatapan Septa. “Kenapa?” tanya Rara sambil mengerutkan alisnya. “Gapapa,” balas Septa cepat, “Jangan bukain pintu kalau ada tamu dateng malem-malem,”Tamu? Apa Septa juga mengetahui kalau Jefri suka datang ke rumahnya kemarin-kemarin?‘Tidak. Dia pasti hanya mengingatkan,’ batin Rara. Karena bukankah Septa memang orang yang seperti itu? Ia sangat peduli, jadi tidak heran jika suka memberikan pesan-pesan seperti ini.Iya. Tenang aja, tamu kayaknya juga ogah dateng ke ruma
Rachel menelusuri lamat-lamat ekspresi Jefri. Wajah pria itu mengeras dan sorot ekspresinya terlihat gelap. Tatapan tajamnya terasa dingin tapi tetap menusuk Rachel. Rachel menggigit bibirnya sejenak kemudian menyeringai lebar.“Jadi begitu, ya?” dengus Rachel, “Kau mengakui sendiri kalau kalian memang ada hubungan gelap,”Jefri tak menjawab. Tapi, tatapannya tetap lurus dan tajam ke Rachel.“Apa yang dia katakan padamu?” tanya Rachel sambil mendekat ke Jefri.“Tidak ada,” balas Jefri sambil mengikuti pergerakan Rachel yang kini berdiri lima senti darinya,“Aku hanya tahu ada sesu
“Aku akan bekerja sama dengan tante,” Ucapan Septa itu membuat senyum puas terukir lebar di wajah Rachel. Mata wanita itu berkilat-kilat senang, tapi hal itu terlihat mengerikan di mata Septa. Ia menatap Rachel gusar yang kini terkekeh. “Pikiranmu sudah tercerahkan ya sekarang,” kekeh Rachel. Septa mendengus. “Jadi, apa yang kita lakukan sekarang?”“Hanya menunggu,” balas Rachel sambil menyesap tehnya dengan elegan, “Kemarin aku sudah memintanya untuk berpisah dengan Jefri dalam satu minggu ini, jadi sekarang kita menunggu kabar darinya,”Septa menaikkan alis. Tidak ia duga wanita itu sangat santai. Septa pikir, Rachel akan lebih beringas untuk memisahkan Rara dan Jefri. “Baiklah,” balas Septa akhirnya, “Lalu kalau dalam satu minggu ini mereka tidak berpisah, apa rencana tante?”Raut wajah Rachel berubah menggelap. Sudut bibirnya terangkat naik. Septa seketika merasa was-was melihat ekspresi Rachel. Perasaannya tidak enak. Septa buru-buru meminum teh pesanannya untuk merilekskan d







