Accueil / Romansa / Sentuhan Lembut Om Duda / CHAPTER 16: Keluarga Bahagia

Share

CHAPTER 16: Keluarga Bahagia

Auteur: Heiho
last update Date de publication: 2025-11-19 13:59:03

Pesta akhirnya berakhir. Meskipun begitu, suasana di aula masih riuh. Banyak tamu yang belum pulang dan masih mengobrol dengan sesama.

Karena Rara bagian mengembalikan piring-piring kotor ke dapur, ia sudah mulai bergerak untuk bekerja meski aula masih ramai. Bersama beberapa staf lainnya, mereka bolak-balik aula dan dapur.

“Mereka seperti keluarga, ya?”

“Bukannya memang sebentar lagi berkeluarga?”

“Loh, emang rumor tunangan itu bener ya?”

“Katanya sih bener!”

Rara baru saja balik dari dapur ke
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 231: Biar Aku Saja, Mas

    “Anda tidak apa-apa?” Hani melirik Leo yang sedang menyetir di depan kemudian mengalihkan pandangannya lagi ke luar kaca mobil. Ia menjawab pelan, “Tidak apa-apa.” Leo melirik Hani dari kaca spion tengah. Melihat gadis itu sangat lemas sekarang, Leo jadi merasa sangsi dengan jawabannya tadi. “Apa anda sakit?” tanya Leo lagi, “Kalau anda sakit, kita bisa bilang–” “Aku tidak apa-apa, om,” tegas Hani membuat Leo seketika bungkam. “Aku hanya kelelahan karena pesta semalam.” “Baik. Maafkan kelancangan saya.” Hani menghela napas pelan. Ia jadi tidak sengaja berkata agak keras ke Leo. Tapi, mau bagaimana lagi? Perasaannya sedang sangat tidak karuan. Dan orang yang menyebabkan hal itu tidak jauh darinya sekarang. Hani butuh lebih dari istirahat. Ia ingin menghilang sekarang juga. Meski begitu, Leo tidak melakukan kesalahan semalam. Hal yang wajar kalau ia ingin bercumbu dengan tunangannya, terlebih lagi di malam bersenang-senang seperti itu. Ini salah Hani sendiri karena sudah

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 230: Berhasil?

    Hani membuka matanya perlahan saat nada dering ponselnya sama-samar masuk ke telinganya. Pusing langsung menghantam kepalanya, disusul rasa nyeri di selangkangannya.Hani mendesis pelan. Ia bangkit perlahan, duduk bersandar di kepala ranjang. Menarik napas panjang-panjang untuk menghilangkan pusingnya dulu. Barulah setelah beberapa saat, ia mengambil ponselnya yang sudah tidak berdering. Ada belasan notifikasi panggilan tidak terjawab dari Jefri dan Rara. Diiringi dengan puluhan pesan dari mereka juga.Hani pasti tidak akan selamat pagi ini.“Selamat pagi.”Hani menoleh ke samping. Ia mengerjapkan mata melihat Merphilus keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk di pinggang. Masih terdapat beberapa titik air di badan kekarnya.Perlahan, ingatan Hani kembali. Bayangan tentang kejadian semalam memenuhi benaknya, membuat Hani menghela napas panjang.Ternyata ia benar-benar melakukannya semalam. Dan kali ini, ia tidak melupakannya.Sepertinya metode Merphilus ampuh.“Anda tidak perg

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 229: Jangan Ditahan

    Hani mengernyitkan alisnya. Menatap balik Merphilus di depannya. Gadis itu kemudian menghela napas pelan lalu memeluk leher Merphilus dengan kedua tangannya. Hani perlahan mendekatkan wajahnya. Ia memejamkan mata sebelum bibirnya menempel ke bibir Merphilus. Hanya ciuman singkat. Karena tak lama kemudian, Hani menarik kembali wajahnya. “Saya sudah membayarnya–” Hani tersentak ketika Merphilus tiba-tiba mendorong belakang kepalanya lalu menyatukan kembali bibir mereka. Matanya membelalak. Ciuman kali ini berbeda. Merphilus mencecap bibirnya, memaksa masuk lidahnya ke dalam bibirnya. Hani segera memejamkan mata ketika lidah pria itu akhirnya masuk. Wajahnya perlahan memerah, merasakan betapa lihainya lidah Merphilus ‘bermain’ di dalam mulutnya. Suara kecipak basah dari ciuman mereka menggema di dalam kamar. Ciuman mereka semakin intens dan dalam hingga Hani yang merasa lemas, akhirnya merebahkan dirinya di kasur diikuti Merphilus yang mengukungnya di atas. Bibir mereka akhirnya t

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 228: Merepotkan

    “Apa istrimu ini sudah ‘isi’?” Yang dimaksud ‘isi’ itu … hamil, kan? Rara menelan ludah lalu menggeleng pelan. Ia lalu berkata, “Kami masih menahan program kehamilan sekarang.” “Oh, ya, ya. Itu bagus! Memang tidak sebaiknya buru-buru, ya.” Rara menghela napas lega mendengar jawaban ramah Tiara. Syukurlah. Sepertinya dia bukan tipikal orang yang suka nyinyir— “Apalagi Jefri juga sudah punya pewaris, ya. Jadi, sepertinya tidak butuh kamu hamil juga. Malah kalau kamu hamil nanti jadi repot!” Mata Rara membesar. Sementara Jefri mengernyitkan alisnya. Sorot wajahnya berubah menggelap. “Apa maksud bibi?” tanyanya rendah. Melihat ekspresi Jefri, Tiara memasang wajah kaget, seolah-olah dia baru saja salah berkata. Wanita itu kemudian memasang wajah bersalah. “Aduh, maaf. Bibi tidak bermaksud menyinggung kalian,” ucapnya penuh sesal, “Maksudnya, nanti ka

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 227: Penawaran Merphilus

    Hani tahu harusnya ia segera mengalihkan pandangan. Atau bahkan, kabur sejauh mungkin dari sana begitu merasakan nyeri teramat sangat di dadanya. Tapi, tubuhnya kaku dan gemetar. Isi kepalanya juga kosong, membuat Hani hanya mampu memerhatikan kedua insan tersebut yang semakin asik bercumbu.Dan sebelum terjadi sesuatu yang lebih buruk, seseorang tiba-tiba menariknya dari belakang. Menyembunyikan dirinya di balik tembok. Kini, Hani hanya bisa mendengar desah-desah lirih dari kedua orang itu. Yang justru semakin menyayat hati Hani. “Saya tidak menduga Tuan Leo akan melakukan hal mesum di sini.”Hani melirik ke pemilik suara di belakangnya. Dia tidak merasakan kekagetan begitu mengetahui orang tersebut adalah Merphilus. Sepertinya perasaannya masih mati setelah kejadian tadi. Merphilus terlihat menyeringai tipis. Tatapannya tidak terbaca oleh Hani, entah mengolok atau senang. Tapi, Hani tidak peduli karena desahan di dalam sana

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 226: Kedua Kalinya

    Rara duduk dengan tegang di kursi yang disediakan untuknya. Di sebelahnya, Jefri dan Hani ikut duduk. Para pramusaji segera menuangkan wine ke gelas di atas meja bundar. Rara mengucapkan terima kasih ke pramusaji tersebut. Ia lalu kembali menatap panggung di depannya. Mejanya ada di barisan paling depan sehingga bisa dekat dengan panggung. Menurut Jefri, tempat ini memang eksklusif untuk mereka sebagai penyelenggara acara. Rara benar-benar tidak menyangka bisa duduk di tempat seperti ini.Wanita itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Para tamu juga sudah mulai duduk di tempatnya masing-masing. Para pramusaji sibuk berkeliaran menuangkan wine. Begitu juga dengan Leo yang sibuk mengarahkan para tamu menempati tempat duduk yang sesuai.‘Jadi, pestanya seperti ini,’ batin Rara. Ini pertama kalinya dia menghadiri pesta seperti ini. Meski dalam hidupnya, dia baru sekali menghadiri pesta ketika acara keluarga Nickelson

  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 129: Mempromosikan Motel

    [Ayah sudah mulai pindah tempat. Dia pergi ke kota Timur, sih, tapi tetap berhati-hati, ya!]Rara menghela napas membaca pesan Hani. Sudah dua bulan berlalu sejak pertemuan tak sengajanya dengan Leo. akhirnya Jefri mulai bergerak ke daerah lain. ‘Berarti satu daerah totalnya tiga bulan, ya’ batin

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-01
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 125: Sekretaris Jefri?!

    “Apa?” Jantung Rara berdegup semakin kencang, “Apa maksud anda?” Leo mengamati lekat wajah di hadapannya. Matanya memicing. Ia sebenarnya tidak terlalu yakin dengan tebakannya itu. Meski sudah sering melihat foto Rara yang diberikan Jefri, tapi ia belum pe

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-01
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 130: Pelanggan Datang

    “Hari ini om Jefri pergi lagi untuk mencari Rara?” tanya Septa. Ia melirik Hani yang tengah merebahkan dirinya di sofa.“Iya. Dari kemarin juga kerjaannya begitu, sih,” balas

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-01
  • Sentuhan Lembut Om Duda   CHAPTER 118: Jefri Mencari Rara

    “Kalian bilang belum bisa menemukannya?”Leo menelan ludah ketika mendengar nada dingin Jefri. Ia melirik para staf lain di ruangan itu yang ikut menegang sambil menatap Jefri yang berdiri di depan jendela, membelakangi mereka semua. “Be-benar, pak,” ucap salah satu staf gugup,

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-31
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status