Masuk“Kenapa mas bilang seperti itu ke bibi Tiara tadi? Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak meladeninya?”Jefri mendengus. Pria itu menyedekapkan tangannya lalu membalas, “Dia terang-terangan mengolokmu. Bagaimana mungkin mas diam saja?”“Tapi, tetap saja …” Rara mendesah. Ia memijat pangkal hidungnya lelah, tak habis pikir karena Jefri tidak menurutinya.Sebelum berangkat meeting tadi, Rara memang sudah mewanti-wanti Jefri agar tidak tersulut emosi apa pun ucapan Tiara nanti. Ia tahu Tiara pasti akan memancing suasana dan itu bisa buruk jika Jefri meladeninya.Jefri menyepakati itu. Dan Rara mempercayai kalau Jefri akan memenuhi ucapannya.
Penampilan Rara sukses. Hani yakin itu.Karena sekarang, ia bisa melihat raut masam Tiara di wajahnya setelah sebelumnya memasang wajah cemooh. Dan hal itu membuat Hani hampir tertawa di tempat.Respons para tamu juga terlihat baik. Tatapan mereka yang awalnya ragu saat Rara maju, kini terlihat lebih menghargai. Hani bahkan bisa mendengar beberapa bisikan kecil yang memuji Rara.Ia menghela napas lega.“Tuan Jefri benar-benar ketat,” komentar Merphilus mengagetkan Hani lagi. Ia menoleh ke Merphilus yang kini menyeringai dengan wajah mengerut.“Sepertinya anda benar soal profesionalitas Tuan Jefri. Ia masih tetap membombardir Nyonya Rara, padahal itu istrinya sendiri.”Hani tidak tahu makna dari tatapan dan seringai Merphilus sekarang. Tapi, hal itu memunculkan debar tak nyaman di dadanya. Ia mengalihkan pandangan darinya. Berdehem pelan karena tenggorokannya tiba-tiba terasa kering lalu menjawab,“Begitulah ayah. Tapi, paling nanti dia akan berlutut meminta maaf ke Rara,” Hani terkeke
“Tempat yang bagus,” ucap Merphilus begitu mereka sudah duduk. Matanya memantau bagian depan.“Saya jadi bisa melihatnya dengan jelas.”Tubuh Hani sontak menegang. Ia menatap Merphilus dan berubah risau begitu melihat wajah puasnya.Yang dia maksud … soal presentasinya, kan? Ia jadi bisa melihat jelas presentasinya.Bukan melihat jelas Rara.Hani menghela napas pelan. Lagi-lagi ia terlalu berpikir berlebihan.‘Tahan dirimu, Hani. Sebentar lagi kamu akan tahu kebenarannya!’ batin Hani meneguhkan dirinya.
“Om kurang tidur ya akhir-akhir ini?”Leo tersentak. Mengalihkan pandangan ke Hani yang menatapnya khawatir. Ia berdehem sejenak dan tersenyum.“Kenapa tiba-tiba bertanya, nona?”“Soalnya kantong mata om keliatan tambah gelap,” balas Hani, “Terus wajah om juga keliatan lelah dan ngantuk banget! Jadi, aku rasa itu karena kurang tidur?”Leo meringis. Anak bosnya itu memang jeli seperti ayahnya. Ia memutar otak, mencari alasan yang tidak akan membocorkan rahasianya.“Saya dari kemarin sibuk mengecek dokumen proyek kita. Memastikan semuanya aman karena sebentar lagi waktunya peresmian.”Hani membulatkan mulutnya. Berkata oh panjang sambil mengangguk-angguk. Ia tidak lagi bertanya setelah itu, membuat Leo menghela napas lega.Alasan sebenarnya adalah karena ia sedang menjalankan misi rahasianya. Memantau hotel Amarose untuk memergoki keberadaan Merphilus dan Hani di sana. Leo akhirnya membulatkan tekad untuk mengikuti firasatnya. Bagaimana pun, ia merasa janggal karena Hani berubah muram s
“Ada apa? Kamu terlihat muram.”Rara mengangkat pandangannya ke Jefri. Pria itu menatapnya dengan satu alis terangkat, terlihat penasaran. Tangannya sibuk melepaskan kancing jasnya.Jefri baru pulang beberapa menit lalu. Sejam setelah Hani naik ke kamarnya, pria itu pulang ke rumah.Rara menghela napas pelan. Tangannya terulur untuk membantu Jefri membuka jasnya. Dari jarak sedekat ini, Jefri bisa melihat kantung mata istrinya semakin tebal.Ia mengelusnya pelan. “Sepertinya tidurmu semakin tidak teratur,” ucapnya, “Kamu khawatir dengan meeting besar nanti?”“Hm. Ya, lumayan.”
“Apa—”Hani menelan ludah sejenak.“Kenapa …. Menggunakan panggilan itu?” tanya Hani akhirnya berhasil menyelesaikan ucapannya itu.“Kenapa?”Merphilus mendekat lagi.“Bukankah panggilan itu terasa lebih intim?” bisik Merphilus, “Membayangkan dirimu menggunakannya saat terengah-engah di bawah saya—”“S-saya mengerti!” sela Hani sebelum ucapan Merphilus selesai. Wajahnya memerah padam.“Tapi …”
“Jangan khawatir, nona Rara,” ucap Lexus begitu melihat wajah Rara ketakutan, “Anda lupa kalau kita juga punya kartu AS sekarang?”Rara tersentak. Ia menoleh cepat ke Lexus. “A-anda benar,” ucapnya tidak yakin. Bagaimana pun, Rara belum mengetahui kesaksian yang akan diberikan nanti, jad
Kate menelan ludah. Ia menatap bergantian Rachel dan Jefri yang sedang saling berhadapan. Aura di antara mereka berdua sangat dingin, membuat Kate merinding. Kalau bukan karena tuntutan untuk menjaga Rachel yang baru siuman dari para petinggi agensi, Kate pasti sudah lari ketakutan. “Aku dengar
“Apa, sih,” gerutu Rara, berusaha menutupi jantungnya yang terlalu menggila. “Om kan bukan suka aku yang kayak gitu—”“Suka,” potong Jefri. Ia menatap Rara serius. “Om suka sama kamu, Ra. Dalam artian romantis,”Rara menggigit bibir. Ia menatap Jefri yang kini mengangkat satu tangannya dan menempe
“RARA!”Jefri tersentak begitu masuk ke dalam ruang kerjanya. Matanya membesar melihat tubuh Rachel di lantai dan sosok Rara yang gemetar ketakutan dengan wajah pucat. “Ada satu pasien luka berat di sini! Cepat datang!” seru Jefri ke arah luar. Tak lama, datang dua perawat membawa tandu. Sama sep







