FAZER LOGINRara menyenderkan punggungnya di kursi dan menghela napas panjang. Ia merasa sangat lelah dan juga lemas. Pertemuan tadi benar-benar menyita energinya.
Dan itu baru satu pertemuan!
Masih ada banyak pertemuan lain yang harus ia hadiri mulai sekarang. Dan memikirkan hal itu sudah cukup membuat Rara sakit kepala.
Rara menyenderkan punggungnya di kursi dan menghela napas panjang. Ia merasa sangat lelah dan juga lemas. Pertemuan tadi benar-benar menyita energinya.Dan itu baru satu pertemuan!Masih ada banyak pertemuan lain yang harus ia hadiri mulai sekarang. Dan memikirkan hal itu sudah cukup membuat Rara sakit kepala.“Kerja bagus.”Rara menoleh ke Jefri yang mendekatinya. Pria itu mengulas senyum penuh penghargaan.“Kamu sudah bekerja dengan bagus di pertemuan tadi,” lanjut Jefri sambil mengulurkan satu tangannya ke sisi wajah Rara. Dielusnya lembut wajah wanita itu.Ra
Hani menelan ludah. Ia sedikit menundukkan pandangannya, tidak ingin bertatapan dengan Merphilus yang duduk di seberangnya dengan seringai kecil. Seminggu sudah berlalu sejak pembicaraan terakhirnya dengan Jefri dan Rara di meja makan. Sekarang, ia berada di pertemuan kecil bersama Merphilus ditemani dengan Jefri, Rara, dan Leo di kantor ayahnya itu.Leo berdiri di sisi kanannya. Yang membuat Hani bertambah susah untuk menghadapi pertemuan ini. Ia masih terbayang-bayang dengan sosok Leo dan Grace yang bersama saat pertemuan terakhir. Apalagi, ini pertemuan mereka lagi setelah hari itu juga. Sehingga wajar Hani masih kesulitan untuk bersama dengannya. “Terima kasih sudah bersedia hadir di pertemuan ini, Tuan Merphilus dan Tuan Liam,” Jefri mengangguk ke Liam yang berdiri di sebelah Merphilus.“Tentu. Saya justru berterima kasih dengan undangannya. Sudah lama saya tidak bertemu dengan anda langsung,” balas Merphilus, “Selain itu, ada wajah baru juga di sini.”Merphilus mengalihkan pan
“Ayah akan memasukkan Rara ke dalam proyekku?”Jefri mengangguk ke Hani. Perempuan itu melirik Rara yang seketika gugup. “Kenapa tiba-tiba?” tanya Hani. “Untuk membungkam keluarga sialan kita itu.”Hani menatap Jefri bingung mendengar jawaban tajamnya. Sementara, Rara menelan ludah. Ia mengusap pelan bahu Jefri, membuat wajah mengeras pria itu sedikit mengendur. “Apa terjadi sesuatu?” tanya Hani. Kali ini, dia menatap Rara. “Bukan sesuatu yang besar,” ucap Rara. Ia menghela napas sejenak lalu lanjut berkata, “Kamu mengenal bibi Tiara, kan?”Hani mengangguk. Segera mengingat wanita yang usianya sudah cukup tua itu. Ia juga memanggilnya bibi Tiara karena wanita itu yang memintanya—-menurut bisik-bisik keluarganya, hal ini karena Tiara menolak untuk tua. “Kemarin dia datang ke pesta,” lanjut Rara, “Kami mengobrol sebentar dan—”“Dia merendahkanmu. Kalian sama sekali tidak mengobrol,” potong Jefri tegas, membuat Rara menelan ludah lagi. “Apa? Apa yang dia bicarakan sebenarnya?” des
“Terburu-buru sekali. Anda bahkan belum beristirahat dengan benar.”Hani tidak segera menjawab. Lanjut memakaikan kancing kemejanya sambil masih membelakangi Merphilus. Setelah selesai, ia lalu menatap Merphilus yang masih merebahkan badannya di atas kasur dengan posisi menyamping. Tangannya yang berurat menopang kepalanya. “Saya harus kembali sebelum ayah saya pulang,” balas Hani akhirnya.Merphilus ber-hm pelan. Meski tatapannya seolah berkata, ‘untuk apa kamu mengkhawatirkan itu?’Hani mendengus pelan.“Pokoknya saya akan pergi sekarang,” tegas Hani, “Saya akan pergi sendiri ke rumah. Jadi, anda tidak perlu mengantarkan saya.”“Baiklah, saya juga tidak akan menghalangi,” balas Merphilus sambil mengangkat kedua bahunya santai. Membuat Hani menatapnya kesal. Hani kembali mengalihkan pandangannya ke cermin. Merapihkan dirinya sejenak. Setelah dirasa rapih, ia kemudian beranjak pergi. “Apa kita perlu
“Jadi anda sudah memutuskan, ya?”Hani hanya mendengus pelan melihat Merphilus menyeringai. Ia lalu melengang masuk ke dalam kamar. Pintu segera ditutup Merphilus. Ia kemudian mengikuti langkah Hani ke arah kasur. Keduanya kemudian bertatapan.“Apa anda perlu bersiap lagi?” tanya Merphilus.“Tidak. Kita langsung saja,” balas Hani datar. Tangannya sudah berada di kancing atas kemeja. “Saya akan membuka baju sekarang.”Merphilus menaikkan satu alisnya. Ia berjalan mendekat ke Hani lalu menahan tangannya yang hendak melepas kancing.“Jangan terburu-buru.”Tangannya yang lain menggamit dagu Hani dan menaikkannya. “Biarkan mengalir saja,” bisik Merphilus sebelum menyatukan bibirnya dengan Hani. Hani memejamkan matanya. Mengernyit pelan ketika lidah Merphilus mulai menerobos ke mulutnya. Mengingatkannya dengan ciuman mereka di malam sebelumnya. Tapi, berbeda dengan malam sebelumnya, ing
Mata Hani membesar. Ia segera menepis tangan Merphilus dan menjauhinya. Tapi, tidak ada bantahan dari Hani. Perempuan itu justru menundukkan kepalanya. Mengalihkan pandangannya dari Merphilus.Merphilus mengangkat satu alisnya. Tersenyum puas.“Sepertinya tebakan saya benar,” celetuknya yang segera ditatap tajam Hani. “Tapi itu hanya sementara,” sergah Hani, “Buktinya saya masih mengingat tentang mereka lagi sekarang.”“Mungkin karena kita tidak melakukannya lagi,” Merphilus mengangkat bahunya ringan, “Kalau kita melakukannya dengan sering, anda mungkin bisa melupakannya.”Mata Hani kembali membesar. Ia menatap Merphilus tidak percaya.“Apa anda …. Baru saja mengajak saya sebagai pasangan ranjang anda?” tanya Hani, “Jadi, memang itu permintaan anda sebenarnya?”“Tidak. Ini hanya tawaran bantuan biasa,” bantah Merphilus, “Lagipula, saya sendiri juga sudah bilang akan memberitahukan permintaan itu ketika di waktu yang tepat, kan?”“Kalau begitu, kenapa anda menawarkan bantuan ini?”“Te
Rachel bersenandung riang melihat artikel yang ia baca. Sudah kesekian kali Rachel membaca artikel yang menjelekkan Rara terkait gosip lalu, tapi ia rasanya tidak pernah bosan untuk membacanya. Hal ini juga semakin bagus untuknya karena artikel dengan topik sama tak berhenti muncul. “Semoga hal
“Om cuma mau sama kamu, Ra!”“Apa?” Rara rasanya linglung mendengar ucapan Jefri. Kepalanya terasa mengawang-awang. “Berhubungan … maksud om berhubungan sex, kan?” “Bukan!”Jefri menghela napas kencang membuat Rara berjengit kaget. Ia mengerjap-ngerjapkan mata kebingungan saat Jefri menundukkan k
“Resepsionis tadi memberitahu kalau paman-paman anda datang kesini,” ucap Leo ketika Jefri baru memasuki ruang kerja di hotel Diamond. Ruang kerja di hotel itu memang menjadi tempat kerja utamanya. Jefri menghela napas, “Apa kata mereka?” tanyanya sambil berjalan menuju meja kerjanya. “Mereka men
“Kerja bagus,” ucap Jefri ketika Rachel sudah kembali ke belakang panggung. Rachel mendengus menanggapi omongan Jefri. Ia menerima botol minum dari staf dan segera menenggaknya. “Lima menit lagi waktunya ganti baju,” ucap Jefri. “Aku tahu,” ketus Rachel tanpa menatap







