เข้าสู่ระบบRara menatap pantulan dirinya di cermin. Matanya masih terlihat membengkak meski sudah dikompres. Semalam dia memang kembali menangis setelah Jefri pergi dan itulah yang membuat matanya sangat bengkak pagi ini. Rara menghela napas. Setidaknya sudah tidak terlalu terlihat seperti sebelumnya. Rara mengambil ponselnya di atas meja ketika ponselnya berbunyi. Ada pesan dari Septa. [Maaf. Hari ini aku tidak bisa menjemputmu.]Rara segera mengetikkan balasan ‘tidak masalah’ dan mengirimnya. Ia justru bersyukur Septa tidak menjemputnya karena pria itu pasti akan menyadari matanya yang bengkak dan Rara harus mencari alasan jika ia bertanya. Rara melangkah keluar dari kamarnya. Perhatiannya teralihkan sejenak pada counter dapurnya yang kosong. Biasanya tiap pagi, ia akan melihat bungkusan plastik berisi makanan dari Jefri di sana. Hal itu membuat Rara kembali teringat dengan kejadian semalam. Rara menghela napas. Ia harus segera mencari cara ag
Alis Jefri mengernyit. Mata hitamnya menatap Rara lamat-lamat, tapi ia tetap memperdalam ciumannya. Suara kecipak basah dari ciuman mereka perlahan terdengar memenuhi ruangan. Rara memisahkan bibirnya ketika nafasnya mulai habis. Ia terengah-engah dengan mata sayu dan wajah memerah. Tapi, wajahnya kembali naik dan mencium rahang tegas Jefri. Suara kecupannya memenuhi telinga Jefri. Tangan Jefri perlahan mendekap punggung Rara dan menekan perempuan itu semakin dekat padanya. Rara tersentak pelan dan kembali lanjut menciumi rahang Jefri. Jantungnya berdebar-debar kencang. Rencananya berhasil–“Apa yang Rachel lakukan padamu?” bisik Jefri. Mata Rara seketika membesar. Ciumannya terhenti, tapi ia masih belum menjauhkan dirinya dari Jefri. Jefri melirik Rara. Ia tak bisa melihat wajah gadis itu karena Rara memalingkan wajahnya. Tapi, ia bisa merasakan tubuh gadis itu gemetar. “A-aku nggak ngerti maksud, om,” balas Rara terbata-ba
“Bukan seperti itu, nyonya!” Rara menggeleng cepat dengan panik, “Saya benar-benar tidak melakukan keduanya!”“Lalu apa?” buru Rachel, “Jefri itu pria yang tidak gampang tergoda. Kalau ia sampai terjatuh padamu, kau pasti sudah melakukan hal licik padanya!”“Kami melakukan kesepakatan!”“Apa?”Alis Rachel mengerut dalam. Raut wajahnya tampak tidak percaya. Tapi, melihat wajah putus asa Rara, ia tahu ucapan perempuan itu tidak bohong.“Kesepakatan apa?” tanya Rachel dengan nada rendah. Ia menurunkan tangannya yang memegang gaun.Melihat Rachel mau mendengarkannya, Rara buru-buru me
“Urusan? Urusan apa?” tanya Hani. Ia bolak-balik memandang Rachel dan Rara.“Rara tidak bilang apa-apa dari tadi!” lanjut Hani dengan alis mengerut.Rachel tertawa pelan yang membuat Rara berjengit sedikit. Tubuhnya kembali gemetar sedikit, tapi ia berusaha tetap bersikap normal agar tidak menimbulkan kecurigaan.“Rara pasti lupa bilang. Karena gaun dia tadi nggak muat, jadi tante mau ajak Rara ke butik buat cari penggantinya!” lanjut Rachel yang ditimpali anggukan dari Rara.Hani mengangguk-angguk paham. Ia melirik Rara sejenak lalu kembali menatap Rachel. “Emang mau ke butik mana, tan?” tanya Hani ke Rachel. Keduanya lalu lanjut dalam pembicar
‘Aku benar-benar tidak bisa memakai gaun ini,’ batin Rara resah ketika melihat pantulan dirinya di cermin yang sudah memakai gaun itu. Gaun yang memiliki model bahu terbuka itu membuat pundak Rara terekspos dan menampilkan dengan jelas kissmark yang ditinggalkan Jefri. Rara menggigit bibir. Ia merapihkan rambutnya, yang untungnya sedang digerai, untuk mencoba menutupi kissmark tersebut. Percobaannya berhasil, tapi hal itu tetap membuat Rara was-was karena tatanan rambutnya bisa saja berubah ketika ia bergerak yang akhirnya memperlihatkan kissmark itu lagi. Rara mengeratkan bibirnya. Sial! Kalau tahu begini, Rara akan menolak ketika ditawari tadi!Rara segera memutar cepat otaknya untuk mencari alasan agar tidak memakai dress itu. Kalau ia bilang ada bagian gaun yang rusak, Rachel pasti akan langsung menemukan kebohongannya dan mencurigainya!Apa ia bilang saja kalau gaun itu tidak muat karena badannya ternyata bertambah besar?Rara menelan ludah. Alasan itu memang masih tidak terlal
“Oh, iya. Sudah sembuh!” balas Rara. Rara buru-buru menaiki motor Septa agar percakapan barusan tidak berlanjut. Ia, tidak memerhatikan raut Septa yang berubah datar. “Ayo kita berangkat sekarang! Hani sama om Jefri pasti udah nunggu!” seru Rara ketika sudah di atas jok.Septa kembali tersenyum dan mengangguk. Setelah memberikan helm ke Rara, ia segera menjalankan motornya menuju hotel Diamond. Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya sampai di hotel Diamond. Rara terkagum-kagum melihat betapa megahnya hotel itu. Rasanya dua kali lebih besar dari hotel Amerson!“Ini memang hotel om Jefri yang terbesar di antara hotel lain,” jelas Septa ketika melihat tatapan takjub Rara, “Makanya suka diadain acara megah kayak fashion show di sini,”Rara mengangguk-angguk paham. Mereka akhirnya berjalan menuju pintu lobi. Ketika sampai di sana, mereka segera melihat Hani dan om Jefri berdiri di depannya. Hani melambai-lambaikan tangan riang ke Rara dan Septa. Rara balas melambaikan tangan. Ia berja







