Mag-log in[Ayah salah mengira orang denganmu hari ini. Dia berniat ke kota Utara, tapi aku sudah berhasil membujuknya untuk tetap mencari di Selatan. Tapi, tetaplah berhati-hati.]
Jantung Rara berdegup kencang usai membaca pesan Hani. Ia membaca ulang pesan tersebut, berharap hanya salah membaca. Tapi, pesan itu tetap tertulis sama. Jefri berniat untuk pergi kesini. Meski rencana itu sudah digagalkan oleh Hani, tapi kecemasan t“Hubungan?” alis Hani mengerut dalam, “Hubungan kami atasan dan bawahan.”“Benarkah?” Merphilus menaikkan satu alisnya, “Kalian tidak pacaran?”“Pa–” Hani berdehem Wajahnya memerah samar.“Kami sama sekali tidak pacaran,” tegasnya.“Hmm.”Hani menelan ludah melihat tatapan lekat Merphilus. Apa-apaan pria ini? Kenapa dia bertanya seperti itu?Padahal Leo tidak menunjukkan tindakan apa pun tadi. Karena dia mengusap kepala Hani? Bukankah itu tindakan biasa orang dewasa ke orang lebih muda?
Kedua wanita di depan Hani terbelalak kaget. Merphilus ikut membesarkan matanya. Ia menatap lekat Hani dari belakang.Salah satu dari wanita itu tersadar duluan lalu menggeram kesal, “Kamu tidak bisa mengusir tante seperti itu, Hani!”Hani mendengus, “Kenapa tidak? Tante sudah menghina penyelenggara acara ini dan aku sebagai salah satu penyelenggara juga, berhak mengusir tante!”“Kami keluargamu, Han!” timpal wanita lainnya yang sudah tersadar juga. Wajahnya ikut mengeras.“Keluarga? Keluarga macam apa yang menjelekkan keluarganya sendiri?” desis Hani dingin, “Sudahlah. Sebaiknya tante pergi saja baik-baik sekarang sebelum aku membuat suasana semakin
“Senang bisa bertemu dengan anda lagi,” ucap Merphilus, “Terima kasih sudah mengundang saya,”Hani mengerutkan alisnya. Merasa bingung dengan ucapan Merphilus.Bukannya pria itu tidak diundang? Hani yakin sekali kalau tidak melihat nama Merphilus di undangan dan daftar tamu!‘Jangan-jangan pria ini menerobos masuk?’ duga Hani curiga. Hal itu mungkin saja, kan? Mengingat pesta sudah semakin meriah dan sibuk. Dan mungkin saja, Merphilus masuk saat upacara pernikahan berlangsung, yang mana penjagaan sedang longgar karena orang-orang sibuk memantau jalannya upacara. Benar. Pasti begitu. Ia tinggal mencari bukti sekarang dan meminta Merphilus keluar!Hani berdehem. Ia memasang senyum sebaik mungkin. “Tuan Merphilus, saya sama sekali tidak menyangka anda di sini,” ucap Hani pura-pura ramah, “Harusnya kita bertemu di bagian depan tadi karena saya bertugas menerima tamu. Tapi, saya belum sempat kesana lagi karena ada urusan.”“Karena itu,” Hani mengulurkan tangannya, “Bolehkah saya meliha
“Saya bersedia.” “Kedua mempelai dipersilahkan untuk berciuman.” Sorak sorai dan tepuk tangan bergema di dalam aula ketika Jefri dan Rara menyatukan bibir mereka. Ucapan selamat berhamburan keluar dari bibir para tamu. Jefri dan Rara memisahkan bibir mereka tak lama kemudian. Keduanya saling menatap dengan penuh kebahagiaan. Hani yang menonton di paling depan, bertepuk tangan kencang. Tatapan matanya penuh haru melihat Jefri dan Rara bersama. Akhirnya setelah dua minggu mempersiapkan pernikahan, keduanya kini resmi berstatus suami dan istri. Rara sendiri juga resmi menjadi bagian dari keluarga Nickelson. Omong-omong tentang keluarganya itu, mereka semua akhirnya datang ke pernikahan Rara. Termasuk Septa dan keluarganya. Hani bisa melihat wajah bahagia mereka dari tempatnya berdiri. Meski begitu, Hani tetap menaruh rasa sangsi pada keluarganya itu. “Mereka terlihat sangat bahagia, ya?” celetuk Hani yang didengar Leo. Tatapannya masih tertuju pada Rara dan Jefri yang
“Selamat datang, Tuan Jefri! Nona Rara!”Rara menundukkan kepala ketika staf yang menyambut mereka tadi mendekat, “Kami sudah menunggu kalian!”“Maaf terlambat. Tadi ada sedikit masalah,” jelas Jefri sambil melirik Rara yang tertunduk semakin dalam. Seringai samar terukir di wajahnya.“Tidak masalah, Tuan. Mari, ikut saya.”Jefri dan Rara berjalan mengikuti staf itu yang mulai mengoceh. Jefri sesekali menanggapinya, sementara Rara hanya terdiam. Ia justru melirik Jefri dengan raut wajah masam.Bisa-bisanya pria itu bersikap biasa setelah membuat bibir Rara kebas! Bahkan Rara merasa bibirnya juga bengkak. Ugh, harusnya dia tadi tidak mengikuti perintah Jefri begitu saja. Tapi, mengingat sifat pria itu, ia pasti akan membuat Rara melakukannya bagaimana pun caranya. ‘Dasar pria mesum! Menyebalkan!’ umpat Rara dalam hati. Padahal dia hanya ingin berbaikan, tapi malah jadi b
Rara melirik Jefri yang sedang menyetir. Wajah pria itu masih mengeras sejak mereka pergi dari penthouse Septa. Genggamannya di kemudi juga sangat erat. Rara menelan ludah. Apa suasana hatinya masih buruk karena tadi?“Mas marah?” tanya Rara hati-hati. Jefri hanya ber-hm pelan. Sama sekali tidak berniat untuk menjawab. Hani yang memerhatikan dari belakang, mendengus pelan. “Ayah, nih, malu-maluin aja. Masa marah gara-gara itu doang?”“Ayah tidak marah,” jawab Jefri datar. “Cemburu?”Wajah Jefri bertambah masam, “Tidak.”Hani menghela napas malas. Ayahnya itu pasti bohong. Lihat saja, ekspresi wajahnya itu!“Biarkan saja, Ra. Nanti juga baik sendiri,” ucap Hani tak acuh. Rara meringis mendengarnya.Apa benar tidak apa-apa?Sisa perjalanan itu akhirnya diisi oleh percakapan Rara dan Hani. Sementara Jefri terus diam, tidak mengikuti pembicaraan mereka. Ia tetap seperti itu hingga mereka sampai di rumah. Hani segera membuka pintu mobil begitu mereka berhenti. Rara mengikutinya. Tapi,
“Hentikan, Hani!” seru Jefri yang dengan cepat menggenggam erat tangan putrinya sebelum mengenai pipi Rara lagi. . “LEPASIN, YAH!” bentak Hani sambil memberontak agar tangannya terlepas, “Kenapa ayah bela Rara terus padahal ayah juga dirugiin sekarang?!” “SEPTA! BAWA RARA PERG
Septa kembali ke hotel Diamond begitu Rara turun. Sesampainya di sana dan memasuki aula, Septa tidak melihat para tamu sebelumnya. Hanya ada para staf yang membersihkan aula dan Jefri yang tengah memantau stafnya.
“Gaun baru?” tanya Septa dengan satu alis terangkat begitu melihat penampilan Rara malam ini. Matanya memicing.“Dari siapa?” tanyanya yang entah kenapa terdengar agak ketus.&
Rachel menelusuri lamat-lamat ekspresi Jefri. Wajah pria itu mengeras dan sorot ekspresinya terlihat gelap. Tatapan tajamnya terasa dingin tapi tetap menusuk Rachel. Rachel menggigit bibirnya sejenak kemudian menyeringai lebar.







