Mag-log inBraden tidak bisa berlama-lama berbincang-bincang dengan Cassie karena saat ini dia harus segera menemukan wanita yang fotonya ada didalam liontin milik sang pengedar yang bunuh diri itu! Satu agen NCA yang sudah sejak tadi memperhatikan salah seorang kasir yang sedang bekerja seperti biasa melayani dan menghitung belanjaan pembeli, kasir tersebut mulai merasa curiga dan merasa jika dirinya sedang diperhatikan.
Braden pun saling melirik dengan salah seorang anggota NCA disana dan menganggukkan kepalanya! Keduanya kemudian tidak lagi membuang-buang waktu dan menghampiri wanita yang bekerja sebagai kasir tersebut. “Layla, kau Layla bukan?” panggil Braden. “Siapa kalian? Mau apa kalian? Aku tidak ada sangkut pautnya lagi dengan dia, tolong aku sedang bekerja jadi pergi dari sini!” ucap wanita kasir itu. “Kita perlu bicara!” ucap anggota NCA. Layla pun menampakkan ekspresi wajah yang sangat ketakutan dan gelisah, sepertinya ini bukan kali pertama Layla dihampiri oleh orang-orang yang tak dikenal akibat ulah si pengedar yang pernah menjadi kekasih hatinya itu. Braden terlihat terus berusaha membujuk Layla agar mau berbicara dan memberikan informasi apapun tentang mantan kekasihnya tersebut, tapi Layla terus berkelit dan berkata tidak tau apa-apa. Disaat yang sama Cassie yang trolinya sudah penuh dengan belanjaan melihat Braden yang sedang berbicara dengan salah satu kasir wanita disana, tak lama berselang sang ibu pun datang dengan satu troli penuh belanjaannya yang harus dia bayar sekarang. Melihat putrinya itu sedang bengong sambil melihat atau memperhatikan pria berpostur tinggi berbadan tegap dan kekar disana, Ella pun menggoda Cassie dengan menyenggol lengan Cassie. “Siapa pria itu? Seleramu bagus sekali Cass, dia kekar, tampan dan sangat tinggi!” ucap Ella. “Mommy bicara apa? Aku tidak mengerti yang mommy ucapkan,” “Sudahlah tidak usah berpura-pura, kenalkan pada mommy siapa pria itu?” tanya Ella sedikit memaksa putrinya agar mau bicara. “Mana aku tau, aku tidak kenal sudahlah cepat mommy bayar semua belanjaan ini!” ucap Cassie. Terlihat Braden, satu anggota NCA, dan kasir wanita bernama Layla itu pergi meninggalkan meja kasir, Layla kekeh enggan membantu penyelidikan Braden dan malah meminta izin pulang karena merasa tidak enak badan pada atasannya. Layla pun langsung terburu-buru masuk kedalam mobil tua miliknya meskipun Braden sudah mengatakan akan melindunginya jika dia bersedia bekerjasama memberikan informasi terkait mantan kekasihnya itu, akan tetapi Layla malah tetap pergi dan tidak mau sama sekali membuka informasi apapun. “Bagaimana sir?” tanya anggota NCA. “Oke kita ke rumahnya!” ucap Braden. Braden dan salah satu anggota National Crime Agency itu pun pergi bersama untuk menyusul Layla. Padahal Layla sudah berpindah-pindah tempat tinggal dan tempat kerja demi menghindari orang-orang yang mengincar mantan kekasihnya itu, tapi tetap saja kini Layla harus menghadapi kenyataan jika tetap ada yang bisa menemukannya. Begitu mobil tua miliknya itu tiba didepan rumah, Layla langsung segera masuk kedalam rumahnya! Namun begitu Layla memasuki pintu kamar putrinya yang baru berusia sekitar tujuh tahunan, Layla dikejutkan dengan adanya Henry yang sedang mengajak putrinya itu berbincang sambil menonton televisi dan menyantap satu kotak pizza kesukaan putrinya itu. Dengan polosnya Henry pun melambaikan tangan pada Layla dan tersenyum menyapa. “Oh hai, kau sudah pulang?” tanya Henry dengan gaya sok kenal sok dekatnya itu. “Mommy,” anaknya itupun menghampiri Layla dan memeluknya. “Dasar anak nakal kenapa kau membukakan pintu untuk orang tidak dikenal? Bukankah sudah mommy katakan jangan pernah membuka pintu rumah jika mommy belum pulang, kenapa kau ini?” Layla memarahi putrinya itu. Henry kemudian berjalan menghampiri Layla dan mengusap-usap rambut putrinya Layla. “Tidak baik memarahinya ketika sudah meninggalkannya sendirian di rumah!” ucap Henry. “Persetan dengan kalian semua! Belum puas kalian menghabisinya? Kalian ingin nyawa kami juga? Dia sudah mengabdikan seluruh hidupnya untuk kalian tapi setelah dia menjadi incaran para penegak hukum kalian bahkan mengejarnya untuk menghabisi nyawanya!” ucap Layla sambil menangis. “Jadi kekasihmu itu memang dikejar oleh orang-orang diatasnya? Agar dia tidak membocorkannya pada kami? Oh ya, kenalkan namaku Henry aku dari kesatuan anggota National Crime Agency!” ucap Henry. “Aku tidak peduli kau itu polisi, penegak hukum lain, atau kau bagian dari para mafia brengsek itu! Aku tidak mau lagi berurusan dengan kalian semua! Ayo ikut mommy nak!” Layla pun menggenggam tangan putrinya itu hendak keluar dari dalam kamar, akan tetapi Braden dan satu anggota NCA datang dari arah pintu, sehingga Layla pun dikepung dari segala arah. “Itu putrimu dengannya bukan? Apa kau tidak kasihan pada putrimu? Hari ini mungkin kami yang berhasil menemukan kalian, tapi besok bisa jadi para mafia itu yang menemukan kalian!” ucap Braden. “Jika kau ingin selamat, sebaiknya kau dan putrimu ikut kami dan berikan kamu informasi! Kami berjanji akan memberikan tempat untuk kalian berlindung dengan aman!” ucap Henry menambahkan. Layla pun mulai bimbang dan dilema, disatu sisi dia benar-benar sudah lelah dan tidak mau ikut campur lagi tapi disisi lain ucapan orang-orang NCA ini ada benarnya juga. “Bantu kami, itu putrimu bersama denganya kan? Dia pasti juga ingin keselamatan untuk putrinya!” ucap Braden. Layla pun menangis kemudian menggendong putrinya. “Aku ikut dengan kalian! Tapi kalian harus berjanji lindungi kami!” ucap Layla. “Ya pasti!” ucap Braden. Malam harinya di Wishker Bar, Cassie yang baru saja tiba kemudian segera melayani pesanan dari tamu! Dari arah belakang bosnya yang kerap kali disapa Master oleh para anak buahnya datang dan langsung menyindir Cassie. Master pria bertubuh subur yang lucu namun sering dibuat kesal oleh Cassie ataupun karyawan barnya yang lain. “Sudah meminta cuti lama, hari pertama masuk kerja sudah telat!” ucap Master. “Kau menyindirku?” tanya Cassie. “Tidak! Aku menyindir para botol wine disini,” ucap Master dengan wajah meledek. Tidak lama berselang seorang pelanggan duduk dimeja Bar dan memesan minuman pada Cassie. “Hai cantik, akhirnya kau kembali juga!” ucap customer tersebut. “Hai juga tampan, ow apakah kau selalu mencariku? Kau selalu menghabiskan uangmu di Bar ini untuk berpesta membeli minuman karena ada aku disini?” tanya Cassie dengan nada manja. Membuat Master terlihat bergidik geli karena dia tau Cassie bukan tipe wanita genit seperti itu. “Tentu saja! Bukan hanya aku tapi aku rasa semua pelanggan di Bar ini pasti ingin selalu datang kesini karena kau Cassie, kau wanita tercantik di dunia ini!” ucap pelanggan tersebut. “Jika tidak ada aku, apa Bar ini bisa bangkrut?” tanya Cassie lagi sembari mendelik meledek Master yang sedang melirik kearahnya. “Tentu saja! Bar ini akan langsung tutup permanen bila tidak memiliki bartender secantik dirimu!” Cassie pun tertawa halus dan langsung berbisik didekat Masker. “Aku rasa telingamu itu masih bisa mendengar dan berfungsi dengan baik, aku sangat berharga untuk bar ini jadi bersikaplah baik padaku Master,” ucap Cassie sambil menyajikan minuman untuk pelanggan tadi. “Itu benar!” ucap Ava yang datang dengan membawa nampan kosong untuk meminta pesanan kembali dari meja lain. “Kalian berdua sejenis!” ucap Master yang langsung mengerucutkan bibirnya. Ava dan Cassie pun langsung tersenyum meledek sang bos yang kekesalan. “Hei, kau kemana saja tadi?” tanya Ava. “Biasa, mengantar ibuku berbelanja kebutuhan dapur dan menemaninya sepanjang hari!” ucap Cassie. “Oh My God kau memang putri kesayangan,” ucap Ava. “Terpaksa kau tau ibuku sangat bawel, Oh dan kau tau ketika aku berada di swalayan aku bertemu dengan siapa,” “Siapa?” tanya Ava yang sangat penasaran. “Pria agen NCA itu! Yang kita temui di Jepang!” ucap Cassie. “Hah? Yang ku teriaki dia maling?” tanya Ava. “Iya, dan ternyata pria itu juga yang menabrakku ketika kita akan check-in di hotel, kau ingat bukan?" ucap Cassie. “Oh wow, dunia sempit sekali ternyata! Lalu apa kalian sudah saling bertukar nomor handphone? Dia mengajakmu kencan?” tanya Ava. “Kencan? Pikiranmu terlalu jauh, tentu saja tidak! Dia hanya kebetulan berada disana sepertinya untuk pekerjaannya dan membantuku mengambilkan snack!” ucap Cassie. “Hanya itu?” “Ya dan dia sempat memberitahu namanya Braden, lalu setelah itu dia pergi,” “What? Dari sekian banyak laki-laki sepertinya hanya pria itu yang tidak meminta nomor handphonemu biasanya para lelaki akan langsung tergila-gila padamu,” ucap Ava. “Tidak begitu, mungkin saja dia sudah memiliki isteri atau kekasih,” ucap Cassie. “Benar juga,” Obrolan mereka berdua pun harus terjeda karena Ava harus mengantarkan kembali pesanan-pesanan ke meja para pelanggan, begitu juga dengan Cassie yang harus melayani para pelanggan lain. Sementara itu di kantor National Crime Agency, Layla sedang diinterogasi di ruangan khusus oleh Braden dan juga Henry sementara putrinya berada di ruangan lain untuk diajak menggambar dan mewarnai oleh salah satu anggota wanita yang bertugas menjaganya. “Berikan kami semua informasi uang kau tau!” ucap Braden. Layla kemudian mengeluarkan handphone miliknya, ditunjukkan olehnya salah satu foto teman dekat kekasihnya yang juga merupakan pengedar dari anggota mafia besar yang menjual narkoba dan sejenisnya dalam jumlah sangat banyak! “Dia pernah mengirimkan foto ini padaku,” ucap Layla. Foto tersebut merupkan foto kekasih Layla yang merupakan pengedar yang bunuh diri di Osaka bersama rekan satu profesinya, berlatar disebuah bar dan terlihat keduanya berpose sambil tersenyum. Foto tersebut diambil beberapa bulan lalu ketika Layla meminta bukti jika memang kekasihnya itu tidak sedang bersama wanita. “Dia dan rekan senior pengedar itu selalu pergi ke tempat itu!” ucap Layla. “Apa nama Barnya? Apa kau ingat?” “Sayangnya tidak!” ucap Layla. “Oke, terimakasih Layla atas informasinya!” ucap Braden. Braden kemudian pergi ke bagian cyber bersama dengan Henry untuk mengidentifikasi foto tersebut diambil di Bar mana. Tidak butuh waktu lama, tim cyber pun berhasil melacak foto tersebut melalui background yang terlihat dari sekitar foto tersebut! Wishky Bar, adalah tempat dimana pengedar itu bertemu dengan rekan seniornya jika ingin membahas apapun itu. Braden pun terlihat memicingkan senyumnya begitu tau bahwa tempat yang akan dia datangi adalah Wishky Bar. “Kenapa kau tersenyum?” tanya Henry yang merasa aneh karena tidak biasanya Braden tersenyum begitu. “Tidak apa-apa, hanya merasa dunia itu sangat sempit bukan?” tanya Braden. “Ya memang sempit, lagipula yang sempit memang lebih enak,” ucap Henry sambil tertawa ringan. “Otakmu itu memang sudah benar-benar kemasukan terlalu banyak video-video begitu,” ucap Braden. Henry pun hanya tertawa saja mendengar ucapan Braden yang memang kenyataannya begitu, karena itu Henry tidak berusaha mengelak. “Apa kita akan pergi sekarang juga?” tanya Henry. “Ya, kau ikutlah denganku,” “Oh tentu, sekalian kita minum-minum pun tak apa,” ucap Henry. “Shit, tidak ada waktu untuk itu!” ucap Braden. Braden dan Henry pun segera pergi menuju Wishky Bar, waktu sudah menunjukkan jam dua belas malam. Bar pun semakin ramai sekali pengunjungnya. Karena ramainya pengunjung Cassie pun jadi sangat sibuk melayani pesana ln minuman para pelanggan, sampai-sampai dia tidak menyadari saat ini Braden dan Henry baru saja memasuki Wishky Bar tempat Cassie bekerja. Braden pun melihat ke tempat meja Bar dimana Cassie sedang sibuk meracik minuman! Barulah Henry pun tersadar jika ada Cassie wanita yang ditemui mereka di Osaka saat itu. “Itu, bukankah itu gadis yang meneriakimu maling?” tanya Henry. “Sepertinya begitu,” ucap Braden sambil tersenyum tipis. “Wah, benar-benar dunia sempit sekali,” ucap Henry. Braden dan Henry kemudian berjalan menghampiri meja Bar, tanpa menoleh kearah yang datang karena Cassie sedang fokus meracik minuman di gelas, Cassie pun menyapa Braden dan Henry. “Selamat malam tuan-tuan, mau pesan apa?” tanya Cassie. “Memesanmu apa bisa?” tanya Braden. Henry pun langsung berusaha menahan tawanya karena Braden langsung to The point sekali, Cassie pun akhirnya menoleh setelah mendengar jawaban dari Braden. “Kau,” “Hai,” sapa Braden. Cassie pun merasa tidak percaya jika dirinya kembali bertemu Braden disini. “Kau kesini untuk minum?” “Ya, lebih cepat dari dugaanku!” “Maksudmu?” tanya Cassie. “Wow, sepertinya aku akan duduk disana bung aku tidak ingin mengganggu kalian!” ucap Henry yang langsung pergi meninggalkan Braden dan juga Cassie. Kini hanya tinggal Braden dan Cassie yang berhadap-hadapan meskipun terhalang oleh meja panjang Bar tersebut. “Oke, jadi apa maksud ucapanmu lebih cepat dari dugaanku itu?” tanya Cassie. “Tadinya aku ingin datang ke Bar ini ketika sedang libur bekerja, tapi ternyata justru pekerjaan yang membawaku kesini!” ucap Braden. “Apa itu artinya kau juga sudah mengetahui tempat kerjaku dari dompetku itu?” “Ya,” ucap Braden. Cassie pun tersenyum lalu kemudian meracik sebuah minuman untuk diberikan kepada Braden. “Aku yang traktir, anggap saja ini permintaan maafku karena kesalahpahaman waktu itu!” ucap Cassie. “Tapi pantang bagiku menerima traktiran dari seorang wanita jika aku tidak bisa membalasnya,” ucap Braden. “So? Kau akan membalasnya?” “Tentu,” ucap Braden. “Oke,” ucap Cassie sambil tersenyum. Karena tidak bisa berlama-lama berbincang-bincang ketika sedang bertugas begini, Braden pun menenggak minuman pemberian Cassie tersebut. “Lain kali aku yang mentraktirmu,” ucap Braden lalu berjalan pergi meninggalkan meja. “Apa akan ada lain kali?” “Aku pastikan itu!” ucap Braden. Braden pun pergi untuk menemui Henry disudut sana yang sejak tadi sudah mulai mengawasi orang-orang disekitar! Ava yang sudah melihat dari jauh jika Cassie kembali bertemu dengan Braden lagi, kemudian menghampiri Cassie. “Kebetulan yang sangat indah,” ucap Ava. “Ya, dan berkali-kali,” ucap Cassie. “Aku bisa melihat aura wajah kasmaranmu sekarang,” ucap Ava. “Aku juga bisa melihatnya,” ucap Master uang sejak tadi juga ikut memperhatikan interaksi diantara Braden dan Cassie. Cassie dan Ava pun secara bersama-sama melirik kearah Master. “Kau tidak diajak sama sekali Master,” ucap Cassie dan Ava. “Ayolah, aku seorang pria dan aku bisa memberitahumu tentang pria itu!” ucap Master. Cassie dan Ava pun saling melirik satu sama lain kemudian segera merapat mendekati Master. “Benarkah? Bagaimana menurutmu?” tanya Cassie. “Ya, apa pria itu serius ingin mengenal Cassie atau hanya iseng?” tanya Ava. “Aku rasa pria itu hanya iseng!” ucap Master dengan yakinnya. “Shit, ucapanmu memang tidak bisa dipercaya,” ucap Ava. “Tidak tidak, Av dia benar! Pria itu pasti hanya iseng saja, dan dia mungkin terbiasa iseng begitu,” “Mengapa kau bisa berpikir seperti itu?” tanya Ava. “Ya karena kami setiap bertemu hanya berbincang sekedarnya dan singkat, dia juga tidak meminta nomor teleponku!” ucap Cassie. “Benar kan apa yang aku katakan?” tanya Master. “Iya juga, ya sudah jika begitu kau jangan terlalu ramah pada pria itu jika nanti bertemu dia lagi,” ucap Ava. “Oke,” Sementara disudut Bar, Braden dan Henry sangat seirus sekali mencari pria yang merupkan senior dari pengedar! Tapi agar tidak terlalu kelihatan jika keduanya sedang mencari target, Braden dan Henry pun bergabung dimeja tempat beberapa wanita sedang minum-minum. Mereka mencoba berbaur dan mencoba akrab dengan para wanita disana agar terlihat mereka seolah hanya pelanggan Bar bisa seperti yang lain. Cassie yang melihat hal itu pun langsung mengalihkan pandangannya dari sana, padahal sesekali Braden pun melihat kearah Cassie. Karena jam kerja Cassie dan Ava sudah selesai, keduanya kemudian pergi menuju loker mereka untuk mengambil tas. “Hei, kau lihat tadi?” tanya Ava. “Ya,” ucap Cassie. “Benar kata Master sepretinya pria tampan itu memang terbiasa iseng pada wanita-wanita,” ucap Ava. “Sudahlah biarkan saja, tidak penting!” “Ya benar juga tidak penting sekali,” ucap Ava. Cassie pun terlihat duduk sejenak untuk meregangkan otot-otot kakinya, sementara Ava yang sudah dijemput oleh kekasihnya di parkiran Bar harus segera pergi. “Cass, aku duluan ya pacarku sudah di parkiran!” ucap Ava. “Oke, hati-hati,” ucap Cassie. “Oke Bye,” ucap Ava lalu pergi meninggalkan Cassie yang masih berada di loker. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya target Braden dan Henry pun muncul juga! Pengedar tersebut baru saja memasuki Bar dan langsung dihampiri oleh beberapa wanita. “Target terlihat!” ucap Henry. “Ya, aku akan mulai bergerak!” ucap Braden. Braden pun segera berdiri dari tempat duduknya sementara Henry akan menyusul nanti, terlihat senior pengedar itu kali ini menolak para wanita yang menghampirinya dan dia terlihat seperti terburu-buru untuk menemui seseorang. Pengedar senior itu akhirnya berjalan sendirian menuju ke lorong Bar disana terdapat beberapa ruangan khusus yang tertutup, Braden pun mengikuti dari jarak yang cukup dekat menyusuri lorong. Pria pengedar senior yang selalu waspada dimana pun itu selalu melirik kemana-mana karena tidak ingin ada yang mengikutinya, disaat yang sama Cassie yang baru keluar dari loker kembali berpapasan dengan Braden dan disaat yang sama pria pengedar itu mulai curiga ada yang mengikutinya hingga akhirnya pria pengedar senior itupun menoleh kebelakang. Dengan kesadaran penuh Braden menarik pinggul Cassie hingga tubuh wanita itu akhirnya jatuh kedalam pelukannya, kedua mata Cassie melotot tajam kala Braden langsung menghimpit tubuhnya ke tembok dan mencium bibir Cassie dengan cukup liar. Cassie yang terkejut hanya bisa pasrah menerima ciuman Braden, saat ini Braden semakin memperdalam ciumannya hingga Cassie merasakan bibirnya benar-benar dikuasai oleh Braden. Kedua mata Cassie dapat dengan jelas menatap kedua mata Braden yang menatap kedua matanya. Hingga akhirnya Braden memejamkan kedua matanya seraya menikmati ciuman pertamanya dengan Cassie dengan sangat panas. Pria pengedar senior yang semula merasa di ikuti pun langsung merasa tenang karena ternyata tidak ada yang mengikuti dirinya seperti apa yang dia pikirkan, yang ada hanya dua orang sejoli yang sama-sama sedang dimabuk kepayang dan sedang sama-sama saling menikmati ciuman liar itu. Henry yang baru saja tiba dihadapan Braden dan Cassie pun hanya bisa ternganga melihat Braden yang sedang berciuman dengan Cassie, ciuman yang sangat bersemangat dan liar sekali. Henry pun langsung menutupi kedua matanya san berjalan lurus melewati kedua sejoli itu tanpa sama sekaki berniat mengganggu keduanya yang sedang dalam posisi menikmati.Keesokan harinya!Karena tau ibunya tengah sakit Cassie kemudian pagi-pagi sekali sudah bangun dari tidurnya, ketika Cassie turun dari ranjangnya Cassie merasakan bagian bawahnya itu masih terasa sakit hingga membuatnya harus berjalan secara perlahan-lahan untuk turun kelantai bawah.“Shit, masih sakit! Kenapa harus sebesar itu miliknya,” gumam Cassie.Di dapur terlihat Frans sedang menyiapkan sarapan dan Ella hanya duduk manis terlihat wajahnya yang nampak masih pucat.“Pagi Mom, Dad,” sapa Cassie.Cassie duduk disamping Ella dan Frans pun ikut duduk bergabung karena sarapan telah selesai dibuat.“Pagi honey,” jawab Ella dan Frans.“Ya Tuhan Mom, wajah mommy pucat sekali,” ucap Cassie.“Benarkah? Hanya perasaanmu saja mungkin,” jawab Ella.“Mom aku serius, iya kan Dad?”“Iya, oleh karena itu sekarang Daddy izin tidak masuk kantor untun membawa ibumu ke rumah sakit untuk periksa,”“Daddymu itu terlalu berlebihan Cass, mommy sakit sedikit saja harus ke rumah sakit,” ucap Ella.“Sakit s
Dengan nafas terengah-engah Cassie melepaskan ciuman tersebut sejenak! Kemudian ditatapnya kedua mata Braden yang kini hanya terdiam memandangi wajah cantik Cassie.“Kau boleh melakukannya!” lirih Cassie.“Kau yakin?” tanya Braden kembali memastikan.“Ya,” jawab Cassie sambil menganggukkan kepalanya.Terlihat senyum tipis dibibir Braden karena bahagia Cassie mengizinkannya untuk melakukan hal tersebut. Braden kemudian menanggalkan seluruh yang dirinya kenakan, Cassie pun memandangi tubuh Braden dengan tatapan yang menakjubkan.Tubuh Braden sangat kekar dan berotot ini adalah pertama kalinya bagi hidup Cassie melihat pemandangan indah seperti sekarang, Braden tau Cassie tengah menikmati sekali memandangi dirinya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, namun kini kedua pandangan mata Cassie tertuju pada satu hal terpenting yang ada ditubuh Braden.Dia begitu tegak menantang dihadapan Cassie dan tidak pernah Cassie bayangkan ternyata akan sebesar itu! Cassie pun menelan salivanya dan ota
Ketika Ava tiba dibelakang Bar, terlihat Cassie sedang duduk dianak tangga dekat pintu emergency! Ava kemudian duduk disamping Cassie sambil mengeluarkan sebatang rokok.“Kau mau cerita padaku?” tanya Ava sambil meniupkan asap rokok ke udara.“Aku hanya kepikiran dia saja, dan itu terjadi secara tiba-tiba begitu saja tanpa bisa aku tolak,” kata Cassie.“Itu reaksi wajar dari seseorang yang sudah mulai memakai hati kemudian tidak bisa bertemu dengan seseorang dihatinya dalam waktu yang tidak bisa diketahui, apa belum ada kabar darinya?” tanya Ava.“Handphonenya tidak aktif, mungkin aku yang tidak sabaran padahal dia sudah mengatakan padaku untuk memberinya waktu tapi pikiran ini benar-benar aneh karena terus memikirkannya,” jawab Cassie.“Aku mengerti, hei tapi kemarin malam sahabatnya kan datang menemuimu aku yakin Henry datang pasti atas perintah Braden, dia ingin memastikan kabarmu baik-baik saja, itu dugaanku,” ucap Ava.“Apa bisa begitu?” tanya Cassie.“Lalu kau pikir apakah ada a
Keesokan harinya!Ella yang sebenarnya merasa kurang enak badan, tetap memaksakan diri untuk berangkat mengajar ke kampus, sedangkan hari ini Cassie dan Ava bangun lebih awal karena Ava merasa dirinya sudah sehat dan akan kembali tinggal di rumahnya sendiri.“Morning Dad,”“Morning Frans,” Ava menyapa Frans.“Morning girls, tumben kalian sudah bangun,”“Sudah lama tidak sarapan bersama Daddy, apa mommy sudah berangkat ke kampus Dad?” tanya Cassie.“Ya, tadi bangun tidur sebenarnya mommymu mengeluh kurang enak badan Daddy sudah memintanya agar tidak perlu mengajar hari ini tapi ya begitulah mommymu!” jawab Frans.“Mommy selalu saja memaksakan diri,” ucap Cassie.“Mungkin Ella merasa dengan mengajar justru akan membuatnya sehat kembali Cass,” ucap Ava.“Ya sepertinya begitu,”Cassie kemudian melihat sebentar kelayar handphone miliknya, setelahnya Cassie segera mengambil piring dan gelas! Ava yang melihat Cassie menatap layar ponselnya berpikir pasti Cassie berharap bangun tidur ada kaba
Tidak lama berada di Wishker Bar karena tujuan Henry hanyalah mengetahui kabar Cassie karena itu merupakan amanah dari Braden, mungkin kedepannya juga Henry akan sering untuk datang ke Wishker Bar untuk mengetahui kabar Cassie walaupun kini Henry tidak bisa memberitahukan kabar Cassie pada Braden karena Braden tidak memegang alat komunikasi pribadinya.Henry kemudian berpamitan pada Cassie dan Ava setelah dia selesai minum-minum dan bersantai disana.“Kau oke?” tanya Ava pada Cassie.“Ya,” ucap Cassie.“Pembicaraan terakhirmu dengan Braden, mungkin itu memang akan membuatmu jarang bertemu dengannya tapi menurutku itu tidak masalah karena Braden sudah bicara untuk menunggunya iya kan?” tanya Ava.“Hmm, aku mengerti dia sedang sibuk bekerja untuk negara kita ini!”“Good,” ucap Ava.“Dua wanita cantik namun single rupanya sedang berbincang disini,” ucap Master sang pemilik Bar yang ikut bergabung ke obrolan mereka.“Tidak perlu menyindir kami single, kalau kau sendiri saja sudah hampir h
Tidak seperti kesehariannya yang berpakaian dengan memakai pakaian yang sangat simple dan nyaman, kini Braden sedang berhadapan dengan beberapa asisten pribadi yang akan mempersiapkan pakaian dan akaesoris yang harus dipakai oleh Braden.Kepala Braden nyaris pecah rasanya ketika seorang asisten membawakan pakaian berupa stelan jas lengkap ala CEO kaya, sepatu mahal, dan jam tangan mahal! Ini jelas sangat bertentangan dengan diri Beaden.“Aku tidak bisa memakai itu, bagaimana nanti jika aku harus mengejar kriminal atau menghajar kriminal yang aku temui jika pakaianku seperti itu?” tanya Braden.Seorang anggota NCA yang ditugaskan menjadi salah satu bodyguard pribadi Braden datang menghampiri.“Maaf Sir tapi anda harus memakai semua yang sudah disiapkan, dan anda juga tidak diizinkan untuk terlibat dengan kriminal manapun selama misi ini berlangsung!”“Apa? Jika kriminal itu ada didepan mataku?”“Anda harus mengacuhkan apapun itu!” jawab bodyguardnya itu.“Shit,” Braden mengumpat.Akhi
Ava kemudian melenggang masuk kedalam kamar Cassie, persahabatan keduanya memang sudah tidak diragukan lagi, terkadang Ava yang jahil membangunkan Cassie dan terkadang Cassie yang jahil membangunkan Ava baik itu dengan menyipatkan air ataupun dengan hal konyol lainnya.“Tumben anak ini belum bangun
“Membuatku ingin saja,” gumam Henry.Terlihat oleh Henry pengedar senior itu telah memasuki salah satu ruangan, dan seorang pelayan pria berjalan hendak mengantarkan minuman untuk ruangan tersebut! Henry pun langsung mencegat pelayan tersebut dan membawanya ke ruangan lain.“Buka bajumu!” ucap Henr
Braden dan timnya kembali ke Inggris keesokan harinya setelah penggerebekan di Osaka itu, sedangkan Cassie dan Ava masih menghabiskan waktu di Jepang selama empat hari lagi karena mereka memang berkunjung untuk liburan ke beberapa tempat.Hari-hari Cassie selalu berlalu dengan sangat menyenangkan d
Sementara itu Cassandra dan Ava yang sudah mulai tenang setelah mengalami kesalahpahaman konyol tadi, kembali ketempat duduk mereka jangankan untuk mengisi perut mereka berdua yang sudah keroncongan sejak tadi, memesan ramen saja belum sempat mereka lakukan. Sambil menunggu makanan mereka diantar,







