LOGINBraden dan timnya kembali ke Inggris keesokan harinya setelah penggerebekan di Osaka itu, sedangkan Cassie dan Ava masih menghabiskan waktu di Jepang selama empat hari lagi karena mereka memang berkunjung untuk liburan ke beberapa tempat.
Hari-hari Cassie selalu berlalu dengan sangat menyenangkan dan berwarna, hal itu sangat berbanding terbalik sekali dengan kehidupan Braden yang sangat membosankan dan juga menegangkan. Hidup Braden sepenuhnya mengabdi untuk negara setiap harinya, dia selalu berurusan dengan kriminal kelas kakap, senjata, tembakan, perhelatan sengit, kejar-kejaran, bom dan banyak lagi hal mengerikan yang selalu menjadi teman setianya disetiap hari. Kesibukan Braden sebagai pemimpin di timnya membuat Braden selalu diputuskan oleh wanita yang dia kencani, kebanyakan mereka mengeluhkan sikap Braden yang kaku dan Braden selalu tidak memiliki waktu luang untuk berkencan. Setelah beberapa hari menghabiskan waktu di Jepang, akhirnya Cassie dan Ava pun kembali ke Inggris. Karena penerbangan mereka mendarat sore hari di bandara Inggris akhirnya Cassie pun meminta Ava untuk menginap saja di rumahnya, lagipula buku-buku untuk kuliah milik Ava pun ada di kamar Cassie. “Home sweet home,” ucap Cassie. Tiba di kediamannya, Cassie tidak disambut oleh kedua orangtuanya! Maklum saja Ibunya bernama Ella bekerja sebagai dosen di universitas tempat Cassie dan Ava kuliah, ketika libur semester seperti ini Ella pasti berkunjung ke rumah kakek dan neneknya Cassie, sementara ayahnya yang bernama Frans bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi sudah pasti selalu lembur dan baru pulang malam hari. “Ayah Ibumu kemana?” tanya Ava. “Mommy mungkin masih di rumah nenek kakek, kapan lagi dia bisa berkunjung ke rumah kakek nenekku jika tidak karena libur semester kampus maklum dosen killer!” ucap Cassie. “Jika tidak ada ibumu saja baru kau berani menyebutnya dosen killer, coba jika ibumu ada dihadapanmu kau pasti diam seperti patung liberty,” ucap Ava. Cassie pun tersenyum kecil kemudian pergi kearah dapur untuk mengambil beberapa makanan ringan dan minuman. “Come on kita ke kamarku saja! Ayahku juga paling pulang malam nanti,” ucap Cassie. Mereka berdua pun naik ke kamar Cassie yang terletak dilantai dua rumah tersebut. Capek karena penerbangan Jepang-Inggris membuat Cassie dan Ava tidak mengemil banyak dan keduanya langsung tertidur pulas. Malam harinya Frans dan Ella pun pulang ke rumah bersama-sama karena Frans menjemput Ella di rumah orangtuanya! “Apa mereka sudah pulang? Anak itu selalu saja mematikan ponselnya!” ucap Ella dengan sedikit kesal karena Cassie kerap abai dengan panggilan telepon darinya. “Pasti sudah pulang mom, Cassie kan sudah berjanji hanya lima hari Jepang!” “Dan kau percaya dad pada janji Cassie?” Frans pun hanya mengangkat kedua alisnya, karena sebenarnya dia juga ragu jika Cassie benar-benar menepati janjinya hanya liburan lima hari saja di Jepang. Tapi begitu keduanya membuka pintu kamar Cassie dan ternyata Cassie dan Ava sedang tidur pulas diatas tempat tidur, Frans dan Ella pun bisa bernafas lega. “Kau lihat kan kali ini dia memegang ucapannya,” ucap Frans. “Ya,” Ella pun tersenyum menatap wajah Cassie yang terlihat kelelahan. Pagi harinya Ava langsung berpamitan untuk pulang ke rumahnya karena Ibunya sudah marah-marah melalui telepon, sementara Cassie sarapan bersama kedua orangtuanya. “Honey, bagaimana liburanmu?” tanya Ella. “Ya begitu,” jawab Cassie sambil mengunyah sandwich buatan ayahnya. Ella dan Frans pun saling menoleh karena Cassie memang sangat tidak terbuka sekali pada orangtuanya. “Cass, mommy kan juga mau mendengar ceritamu ketika liburan kau makan apa saja kau pergi kemana saja kenapa si jawabnya singkat begitu,” ucap Ella. “Mom, sudahlah aku kan sudah dewasa bukan anak kecil lagi yang apa-apa harus cerita,” ucap Cassie. “Sudah, Cassie benar mom! Jika dia tidak ingin bercerita jangan dipaksa,” ucap Frans. “Nah ini baru Daddynya aku,” ucap Cassie. “Ayah dan anak sama saja menyebalkannya,” ucap Ella. “Kalian jadi pergi berbelanja kebutuhan bulanan bukan?” tanya Frans. “Hah, kalian? Maksudnya aku dan mommy?” tanya Cassie. “Iya, daddy kan harus lembur jadi mommymu bilang dia akan pergi berbelanja denganmu,” “What? Mom? Aku tidak mengatakan aku mau menemani mommy belanja,” ucap Cassie. “Mommy tidak terima alasan apapun, kau sedang libur kuliah dan kau pun bekerja sore nanti, jadi ini waktunya baktimu sebagai putriku harus dijalani,” ucap Ella. Cassie pun mendengus kesal karena dia memang paling kesal jika menemani ibunya berbelanja, sudah pasti akan banyak sekali yang dibeli dan akan memakan waktu yang sangat lama. Dengan wajah ditekuk Cassie bersama Ibunya pergi ke swalayan yang tak jauh dari rumahnya, bahkan hingga turun dari mobil pun Cassie masih terlihat sangat tidak ikhlas mengantar ibunya berbelanja. Disaat yang sama, Braden dan salah seorang anggota NCA tiba di swalayan yang sama dengan Cassie, saat ini Braden yang sedang menjalankan pekerjaannya sedang mengikuti seorang wanita yang sudah berhasil dia ketahui identitasnya sejak beberapa hari lalu, wanita tersebut merupakan mantan kekasih dari sang pengedar, Henry bertugas untuk pergi menuju alamat rumah wanita tersebut sedangkan Braden yang sudah mengetahui jika wanita tersebut merupakan seorang pegawai kasir di swalayan ini, pagi ini mendatangi swalayan untuk menemui wanita tersebut. “Honey, kau ambil satu troli dan kau bertugas untuk mengambil makanan dan minuman, mommy mau pergi mencari kebutuhan rumah lainnya oke?” “Oke,” dengan wajah cemberut. “Jangan lupa snack kesukaan Daddymu!” “Iya Mom,” Cassie kemudian mendorong trolinya sambil pandangan matanya terus fokus pada kanan dan kiri makanan-makanan ringan yang terdapat di rak-rak swalayan. Braden yang sudah masuk kedalam swalayan pun mendadak terdiam ketika bukan target yang dia buru yang dia temui saat ini didepan kedua matanya, melainkan gadis cantik yang sudah berani menghantam miliknya dengan lutut. “Dia lagi,” ucapnya. Braden pun berjalan perlahan menghampiri Cassie, sementara Cassie sedang terlihat berjinjit didepan rak makanan ringan untuk mengambil makanan ringan yang cukup jauh berada diatasnya. Tanpa disadari oleh Cassie Braden kini sudah berada tepat dibelakang tubuh Cassie dan membantu Cassie mengambilkan makanan ringan yang hendak dia ambil. Disodorkannya makanan ringan itu oleh Braden pada Cassie dan dengan senang hati Cassie pun tersenyum lalu hendak berterimakasih. “Terimakasih,” sambil berbalik badan. Kedua bola mata Cassie pun langsung memutar melihat tubuh kekar Braden benar-benar tepat dihadapannya saat ini, Cassie tercengang karena ternyata pria yang menolongnya mengambil snack ialah pria yang dia temui di Osaka dan ia teriaki maling plus bonus dia ciderai milik pria itu. “Ka-kau,” “Hai,” sapa Braden sambil menyelipkan senyum tipis dibibirnya. “Kenapa kau disini?” tanya Cassie. “Untuk menolongmu mengambilkan snack mungkin,” ucap Braden. Cassie pun terlihat tersenyum tipis, dan masih merasa tidak menyangka bisa bertemu dia lagi. “A-aku belum meminta maaf padamu dengan benar waktu itu, aku minta maaf ya!” ucap Cassie dengan nada malu-malu. “Aku sudah memaafkanmu,” “Apa masih sakit?” tanya Cassie. Lagi-lagi Cassie tidak bisa mengerem ucapannya, untuk apa dia bertanya masih sakit atau tidak, bukankah itu sangat memalukan! Sadar pertanyaannya seharusnya tidak usah ditanyakan, Cassie pun menepuk bibirnya sendiri. “Sudah tidak sakit, dia sudah sangat membaik dan normal tentunya!” “Aku tau dia normal,” ucap Cassie. “Hah?” tanya Braden yang tercengang mendengar jawaban Cassie. “Emm, maksudku karena keras aku tau dia normal,” “Oh wow,” ucap Braden. Lagi-lagi Cassie kelepasan sampai jujur sekali tau bahwa milik Braden itu memang sangat keras. Braden pun tersenyum mendengar hal itu, tapi wajah Cassie benar-benar seperti kepiting rebus saat ini. “Sudahlah jangan bahas hal itu,” “Ya sebaiknya begitu, karena kita sudah sama-sama dewasa jika membahas hal itu akan membuatku menginginkan hal lain,” ucap Braden. “Kalau begitu, apa kau bisa membantuku mengambil snack itu lebih banyak lagi?” tanya Cassie. “Ya tentu! Kau suka snack ini?” tanya Braden sambil kembali mengambilkan snack-snack tersebut. “Tidak, ini snack kesukaan ayahku!” ucap Cassie. “Apa cukup?” tanya Braden yang sudah mengambilkan cukup banyak snack itu dan memasukkannya ke troli milik Cassie. “Ya cukup, terimakasih banyak,” ucapan Cassie terhenti karena dia bingung mau mengucapkan terimakasih banyak tapi tidak tau nama Braden. Braden kemudian mendekatkan wajahnya pada daun telinga Cassie dan hal itu membuat tubuh Cassie langsung gemetar, Braden kemudian berbisik didaun telinga Cassie. “Namaku Braden!” ucap Braden. “O-oke terimakasih Braden,” ucap Cassie dengan nada gugup. “Sama-sama Cassandra Odelia Jhonson,” ucap Braden. Cassandra pun tercengang karena tidak menyangka bahkan Braden hafal nama lengkapnya. “Darimana kau tau namaku?” Wajah Cassie dan Braden kini saling menatap dari jarak yang sangat dekat, dari jarak sedekat ini Braden bahkan bisa melihat dengan jelas wajah Cassie yang teramat cantik dan bibirnya yang berwarna merah muda terlihat ranum dan lembab. “Dari dompetmu! Aku harus pergi sekarang, senang bertemu ketiga kalinya denganmu!” ucap Braden lalu Braden pun pergi dari hadapan Cassie. “Panggil aku Cassie saja, dan maksudmu bertemu ketiga kali? Bukankah baru dua kali? Yang pertama dimana?” tanya Cassie dengan nada cukup kencang karena Braden sudah berjalan jauh darinya. “Maaf telah menabrakmu didekat lift hotel!” ucap Braden sambil menoleh sebentar dan mengedipkan sebelah matanya. Cassie pun berpikir sejenak setelah mendapatkan jawaban dari rasa penasarannya, kemudian ingatan tentang dirinya yang ditabrak didekat lift hingga barang dan tasnya jatuh kelantai oleh pria yang berpakaian serba hitam bertubuh tegap kekar, memakai masker dan topi berwarna hitam! Cassie pun akhirnya menyadari jadi pria yang menatap kearahnya dengan tatapan mata tajam saat itu adalah Braden. Cassie pun tertawa kecil dia tidak menyangka pria yang hanya dia lihat kedua matanya saja, ternyata adalah pria yang dia teriaki maling pantas saja postur tubuhnya sama yaitu tinggi, tegap dan kekar.Keesokan harinya!Karena tau ibunya tengah sakit Cassie kemudian pagi-pagi sekali sudah bangun dari tidurnya, ketika Cassie turun dari ranjangnya Cassie merasakan bagian bawahnya itu masih terasa sakit hingga membuatnya harus berjalan secara perlahan-lahan untuk turun kelantai bawah.“Shit, masih sakit! Kenapa harus sebesar itu miliknya,” gumam Cassie.Di dapur terlihat Frans sedang menyiapkan sarapan dan Ella hanya duduk manis terlihat wajahnya yang nampak masih pucat.“Pagi Mom, Dad,” sapa Cassie.Cassie duduk disamping Ella dan Frans pun ikut duduk bergabung karena sarapan telah selesai dibuat.“Pagi honey,” jawab Ella dan Frans.“Ya Tuhan Mom, wajah mommy pucat sekali,” ucap Cassie.“Benarkah? Hanya perasaanmu saja mungkin,” jawab Ella.“Mom aku serius, iya kan Dad?”“Iya, oleh karena itu sekarang Daddy izin tidak masuk kantor untun membawa ibumu ke rumah sakit untuk periksa,”“Daddymu itu terlalu berlebihan Cass, mommy sakit sedikit saja harus ke rumah sakit,” ucap Ella.“Sakit s
Dengan nafas terengah-engah Cassie melepaskan ciuman tersebut sejenak! Kemudian ditatapnya kedua mata Braden yang kini hanya terdiam memandangi wajah cantik Cassie.“Kau boleh melakukannya!” lirih Cassie.“Kau yakin?” tanya Braden kembali memastikan.“Ya,” jawab Cassie sambil menganggukkan kepalanya.Terlihat senyum tipis dibibir Braden karena bahagia Cassie mengizinkannya untuk melakukan hal tersebut. Braden kemudian menanggalkan seluruh yang dirinya kenakan, Cassie pun memandangi tubuh Braden dengan tatapan yang menakjubkan.Tubuh Braden sangat kekar dan berotot ini adalah pertama kalinya bagi hidup Cassie melihat pemandangan indah seperti sekarang, Braden tau Cassie tengah menikmati sekali memandangi dirinya dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, namun kini kedua pandangan mata Cassie tertuju pada satu hal terpenting yang ada ditubuh Braden.Dia begitu tegak menantang dihadapan Cassie dan tidak pernah Cassie bayangkan ternyata akan sebesar itu! Cassie pun menelan salivanya dan ota
Ketika Ava tiba dibelakang Bar, terlihat Cassie sedang duduk dianak tangga dekat pintu emergency! Ava kemudian duduk disamping Cassie sambil mengeluarkan sebatang rokok.“Kau mau cerita padaku?” tanya Ava sambil meniupkan asap rokok ke udara.“Aku hanya kepikiran dia saja, dan itu terjadi secara tiba-tiba begitu saja tanpa bisa aku tolak,” kata Cassie.“Itu reaksi wajar dari seseorang yang sudah mulai memakai hati kemudian tidak bisa bertemu dengan seseorang dihatinya dalam waktu yang tidak bisa diketahui, apa belum ada kabar darinya?” tanya Ava.“Handphonenya tidak aktif, mungkin aku yang tidak sabaran padahal dia sudah mengatakan padaku untuk memberinya waktu tapi pikiran ini benar-benar aneh karena terus memikirkannya,” jawab Cassie.“Aku mengerti, hei tapi kemarin malam sahabatnya kan datang menemuimu aku yakin Henry datang pasti atas perintah Braden, dia ingin memastikan kabarmu baik-baik saja, itu dugaanku,” ucap Ava.“Apa bisa begitu?” tanya Cassie.“Lalu kau pikir apakah ada a
Keesokan harinya!Ella yang sebenarnya merasa kurang enak badan, tetap memaksakan diri untuk berangkat mengajar ke kampus, sedangkan hari ini Cassie dan Ava bangun lebih awal karena Ava merasa dirinya sudah sehat dan akan kembali tinggal di rumahnya sendiri.“Morning Dad,”“Morning Frans,” Ava menyapa Frans.“Morning girls, tumben kalian sudah bangun,”“Sudah lama tidak sarapan bersama Daddy, apa mommy sudah berangkat ke kampus Dad?” tanya Cassie.“Ya, tadi bangun tidur sebenarnya mommymu mengeluh kurang enak badan Daddy sudah memintanya agar tidak perlu mengajar hari ini tapi ya begitulah mommymu!” jawab Frans.“Mommy selalu saja memaksakan diri,” ucap Cassie.“Mungkin Ella merasa dengan mengajar justru akan membuatnya sehat kembali Cass,” ucap Ava.“Ya sepertinya begitu,”Cassie kemudian melihat sebentar kelayar handphone miliknya, setelahnya Cassie segera mengambil piring dan gelas! Ava yang melihat Cassie menatap layar ponselnya berpikir pasti Cassie berharap bangun tidur ada kaba
Tidak lama berada di Wishker Bar karena tujuan Henry hanyalah mengetahui kabar Cassie karena itu merupakan amanah dari Braden, mungkin kedepannya juga Henry akan sering untuk datang ke Wishker Bar untuk mengetahui kabar Cassie walaupun kini Henry tidak bisa memberitahukan kabar Cassie pada Braden karena Braden tidak memegang alat komunikasi pribadinya.Henry kemudian berpamitan pada Cassie dan Ava setelah dia selesai minum-minum dan bersantai disana.“Kau oke?” tanya Ava pada Cassie.“Ya,” ucap Cassie.“Pembicaraan terakhirmu dengan Braden, mungkin itu memang akan membuatmu jarang bertemu dengannya tapi menurutku itu tidak masalah karena Braden sudah bicara untuk menunggunya iya kan?” tanya Ava.“Hmm, aku mengerti dia sedang sibuk bekerja untuk negara kita ini!”“Good,” ucap Ava.“Dua wanita cantik namun single rupanya sedang berbincang disini,” ucap Master sang pemilik Bar yang ikut bergabung ke obrolan mereka.“Tidak perlu menyindir kami single, kalau kau sendiri saja sudah hampir h
Tidak seperti kesehariannya yang berpakaian dengan memakai pakaian yang sangat simple dan nyaman, kini Braden sedang berhadapan dengan beberapa asisten pribadi yang akan mempersiapkan pakaian dan akaesoris yang harus dipakai oleh Braden.Kepala Braden nyaris pecah rasanya ketika seorang asisten membawakan pakaian berupa stelan jas lengkap ala CEO kaya, sepatu mahal, dan jam tangan mahal! Ini jelas sangat bertentangan dengan diri Beaden.“Aku tidak bisa memakai itu, bagaimana nanti jika aku harus mengejar kriminal atau menghajar kriminal yang aku temui jika pakaianku seperti itu?” tanya Braden.Seorang anggota NCA yang ditugaskan menjadi salah satu bodyguard pribadi Braden datang menghampiri.“Maaf Sir tapi anda harus memakai semua yang sudah disiapkan, dan anda juga tidak diizinkan untuk terlibat dengan kriminal manapun selama misi ini berlangsung!”“Apa? Jika kriminal itu ada didepan mataku?”“Anda harus mengacuhkan apapun itu!” jawab bodyguardnya itu.“Shit,” Braden mengumpat.Akhi
Ava kemudian melenggang masuk kedalam kamar Cassie, persahabatan keduanya memang sudah tidak diragukan lagi, terkadang Ava yang jahil membangunkan Cassie dan terkadang Cassie yang jahil membangunkan Ava baik itu dengan menyipatkan air ataupun dengan hal konyol lainnya.“Tumben anak ini belum bangun
“Membuatku ingin saja,” gumam Henry.Terlihat oleh Henry pengedar senior itu telah memasuki salah satu ruangan, dan seorang pelayan pria berjalan hendak mengantarkan minuman untuk ruangan tersebut! Henry pun langsung mencegat pelayan tersebut dan membawanya ke ruangan lain.“Buka bajumu!” ucap Henr
Braden tidak bisa berlama-lama berbincang-bincang dengan Cassie karena saat ini dia harus segera menemukan wanita yang fotonya ada didalam liontin milik sang pengedar yang bunuh diri itu! Satu agen NCA yang sudah sejak tadi memperhatikan salah seorang kasir yang sedang bekerja seperti biasa melayan
Sementara itu Cassandra dan Ava yang sudah mulai tenang setelah mengalami kesalahpahaman konyol tadi, kembali ketempat duduk mereka jangankan untuk mengisi perut mereka berdua yang sudah keroncongan sejak tadi, memesan ramen saja belum sempat mereka lakukan. Sambil menunggu makanan mereka diantar,







