FAZER LOGINAndre meraih tubuh ramping itu, merengkuhnya dengan kedua tangan. Ia melangkah perlahan dan membawanya masuk ke dalam kamar tidurnya.Ia dapat merasakan sepasang tangan Renxia yang melingkar di tengkuknya. Ia dapat merasakan hembusan napas hangat yang menyentuh lehernya dan getar tubuh yang berada dalam pelukannya. Andre membaringkan istrinya perlahan ke atas ranjangnya. Namun kedua tangan Renxia masih bergeming di tempatnya. Perempuan itu seperti tak ingin melepaskan pelukannya di leher suaminya.Andre menarik sudut bibirnya. Pelukan itu seolah sebuah pernyataan perasaan yang ditunjukkan oleh Renxia. Sebuah perasaan yang pada akhirnya didapatkan oleh Andre setelah sebuah perjuangan panjang. Dan ⦠ia tidak ingin melepaskannya. āKenapa kamu ketawa?ā tanya Renxia.āAku ⦠bahagia, Ren.ā āKarena ⦠berhasil menyingkirkan Johan?ā tebak Renxia, ākamu bahagia karena perceraianku sama kakak kamu?āāBukan,ā sahut Andre, āmasih dengan suara lembutnya.āLalu?āāKarena akhirnya perasaanku terba
āAndrean Sunggana! Kamu ⦠nakal sekali.ā Lagi Renxia mendorong dada bidang lelaki muda di hadapannya. Andre justru tersenyum. Sepasang tangannya melingkar di pinggang istrinya dan menariknya kembali merapat. āNakal? Tapi ⦠aku bahkan cuma bisa nakal kalau sama kamu. Perempuan yang tidak bisa lepas dari mataku. Perempuan paling cantik yang pernah kutemui,ā ucapnya. Tatapannya tertuju pada bibir merah Renxia yang terlihat lembut dan basah. āKamu ⦠kata-katamu āā Renxia menelan ludahnya dengan kasar. āsejak kapan mulut kamu jadi semanis madu.āAndre tertawa pelan. Pandangannya masih terkunci pada bibir basah yang bergerak sensual itu. āApa kamu ingin merasakannya?āMata Renxia membulat. Ia terkejut saat lelaki muda itu tiba-tiba melumat bibirnya dengan rakus. Lidahnya mendorong bibirnya seolah merayu. Renxia menelan ludahnya. Debaran dalam dirinya seolah membuat tubuhnya gemetar tanpa daya dan dengan pasrah membuka bibirnya, membiarkan gairah itu menelannya. āKamu benar, bibirku man
Dean menatap sosok yang kini melangkah masuk itu. Matanya membulat ketika mengenali sosok yang sama sekali tak diduganya akan menjadi penyokong putrinya. Lelaki muda itu melangkah menghampiri Renxia. Seulas senyuman hangat terkunci di sudut bibirnya, seolah hanya tertuju pada sosok perempuan cantik yang menjadi pusat perhatian seisi ruangan itu. āMaaf, apa aku terlambat?ā tanyanya dengan suara tenang. āPak Andrean.ā Viko langsung berdiri dari kursinya dan membungkukkan badannya, saat menyadari bahwa pemegang kendali perusahaan multinasional itu berada di hadapannya. Ia tidak ingin berurusan dengan taipan yang bisa saja menutup jalan rejeki keluarganya. Wajah Dean memucat seketika. Ia langsung melembutkan suaranya saat menyadari yang menjadi lawannya bukanlah orang biasa. āRen, jadi ⦠suami yang kamu maksud itu Andrean Sunggana?ā tanyanya seolah tak ingin salah paham dengan semua kejutan yang dilihatnya hari ini. Renxia tak
Dean mengepalkan tangannya. Ia melangkah dengan emosi yang tak bisa ditahannya. Tentu saja karena rangkaian peristiwa naas yang datang bertubi-tubi kepadanya.Mirna menahan langkahnya saat melihat bayangan Renxia, menuju toilet yang letaknya tak jauh dari ruang meeting Gunadi Grup. Sesaat ia hendak menghentikan suaminya, tapi akhirnya ia memutuskan untuk menyelesaikan sendiri urusannya dengan putri sambungnya itu. Ia tahu, Dean tak akan tega memberikan jantung Ren untuk Dara. Dengan satu bujukan Renxia, mungkin saja suaminya akan luluh. Tapi ia tidak bisa membiarkan putrinya tersiksa sementara Renxia hidup penuh kebahagiaan. Mirna perlahan memisahkan diri, ia menyelinap masuk ke dalam toilet wanita, tempat ia melihat keberadaan Renxia. Tapi matanya tak melihat siapapun di dalam sana. Sepi ⦠sunyi, dengan atmosfer yang sangat mencurigakan. Aroma melati yang pekat tercium dari diffuser. Aroma yang tiba-tiba membuat kepalanya terasa berat, pusing dan membuat tubuhnya terasa lemas. Sa
āYan, Dara butuh donor secepatnya. Kamu nggak mau kan, anak kita mati. Dia masih sangat muda.ā Mirna mengguncang lengan suaminya. Dean menghela napas kasar. Ia seperti berada di sebuah persimpangan. Dokter memang mengatakan bahwa hanya hubungan kekerabatan yang memungkinkan transplantasi akan berhasil. Tapi⦠bagaimana mungkin Ia mengorbankan putri yang satu untuk putrinya yang lain. Percakapan mereka terhenti saat sopir keluarga bergegas menghampiri mereka. Napasnya terengah saat langkahnya berhenti di depan atasannya. āTuan⦠saya⦠saya⦠dapat kabar dari rumah. Rumah kebakaran. Nona sengaja bakar kamarnya,ā tuturnya setengah tergagap. āBakar?ā Ulang Dean tak percaya. āDia lebih rela mati kebakar daripada dinikahkan?āPria muda di hadapannya langsung menundukkan kepalanya. Ia tak berani menatap wajah majikannya yang sedang tersulut emosinya itu. āSeret dia kemari sekarang juga!ā Dean seperti kehabisan kesabaran. Matanya mel
āTuan! Anda tidak boleh āā Andre mengabaikan peringatan pelayanan wanita itu. Ia masuk begitu ke rumah kediaman Gunadi. Matanya menatap nyalang setiap sudut ruangan yang ia lalui. Tapi ia sama sekali tidak menemukan sosok yang dicarinya. āTuan dan nyonya tidak ada di rumah. Sebaiknya Tuan pulang sebelum saya āāAndre terus melangkah. Ia membuka dan memeriksa satu demi satu ruangan yang dilaluinya. āRen! Renxia!ā teriaknya panik saat tak menemukan sosok istrinya di lantai dasar rumah itu. Sepasang kaki panjangnya melangkah cepat menaiki anak tangga menuju lantai atas. Satu-satunya harapan yang tersisa untuk menemukan istrinya. Ia mulai mengatur napas dan kembali melangkah cepat membuka setiap pintu, hingga menemukan satu pintu yang terkunci. Perasaannya mulai tak tenang, gelisah penuh rasa curiga. Tangannya terangkat dan mulai mengetuk pelan. āRen! Renxia? Apa kamu di dalam?ā Tak ada jawaban. Namun ha







