Share

Romansa Mati Lampu

Author: Nofriza Rahma
last update publish date: 2026-10-12 21:29:25

Adipati perlahan berdiri. Wajahnya yang semula penuh tawa seketika mengeras kembali, memancarkan aura dingin yang tak kalah menakutkan. Ia menempatkan tubuh tegapnya sedikit di depan Citra, menyembunyikan gadis itu dari tatapan menusuk neneknya.

"Nenek?" jawab Adipati formal dan dingin. "Apa yang nenek lakukan di sini?"

Nenek terkekeh pelan, sebuah tawa dingin tanpa rasa humor sedikit pun. "Seharusnya aku yang bertanya padamu, cucuku. Kamu membatalkan pertemuan penting dengan investor Singapur
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Mengendalikan Trauma

    Serangan panic attack itu datang lagi. Meski Adipati tahu Citra berada tepat di sampingnya, refleks tubuhnya terhadap kegelapan total tidak bisa dibendung oleh logika. Otot-otot tubuhnya kembali mengencang secara mendadak. Ia bernapas menggebu-gebu, dan gemetar di jemarinya kembali terasa hebat."A-aku di sini... Adipati, aku di sini!" tegur Citra sigap. Kali ini ia tidak langsung mencari korek api. Citra meraih kepala Adipati dan mendekatkannya ke bahunya, membiarkan pria itu menyandarkan wajahnya di sana.Citra mengelus rambut tebal Adipati dengan penuh kasih sayang. "Napas pelan-pelan... dengarkan suaraku. Tarik napas... buang..."Adipati mencengkeram pinggang Citra dengan jemarinya yang menggigil. Dalam kegelapan pekat itu, ia berusaha keras memfokuskan pikirannya hanya pada aroma harum pandan nan lembut dari tubuh Citra dan suara bisikan gadis itu. Butuh waktu lebih lama dari yang pertama, namun perlahan-lahan gejolak ketakutan di dadanya mereda sebelum Citra menyalakan lilin ber

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Mati Lampu Berulang

    Kegelapan di dalam kondominium transit itu terasa makin menebal seiring berjalannya waktu. Lilin kecil beraroma parafin yang dinyalakan Citra beberapa saat lalu perlahan-lahan menipis, meneteskan lelehan lilin cair yang kian menggelembung di atas piring kecil. Nyala apinya bergoyang pelan, menari-nari mengikuti embusan angin malam yang menerobos tipis lewat celah jendela.Adipati mengamati nyala api kecil itu tanpa berkedip. Dalam sorot matanya yang redup, terpancar kehangatan yang amat langka. Ia menatap Citra yang duduk bersandarkan meja kayu, tersenyum kecil sembari memperhatikan raut wajahnya. Bayangan garis-garis lembut di wajah gadis itu tampak menyala dalam rona jingga."Mengapa menatapku seperti itu?" bisik Citra tipis, memecah kesunyian yang menggantung. Jemarinya merapikan rambutnya yang agak berantakan."Hanya... memikirkan betapa absurdnya malam ini," sahut Adipati. Suaranya pelan, berat, dan tenang, karakter suara khas pimpinan Group yang selama ini selalu disegani lawan

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Romansa Mati Lampu

    Adipati perlahan berdiri. Wajahnya yang semula penuh tawa seketika mengeras kembali, memancarkan aura dingin yang tak kalah menakutkan. Ia menempatkan tubuh tegapnya sedikit di depan Citra, menyembunyikan gadis itu dari tatapan menusuk neneknya."Nenek?" jawab Adipati formal dan dingin. "Apa yang nenek lakukan di sini?"Nenek terkekeh pelan, sebuah tawa dingin tanpa rasa humor sedikit pun. "Seharusnya aku yang bertanya padamu, cucuku. Kamu membatalkan pertemuan penting dengan investor Singapura, mematikan ponsel bisnismu, dan menghilang dari radar hanya untuk berada di tempat menjijikkan ini bersama... gadis desa ini?"Kata-kata nenek bagai sabetan cambuk yang mendarat tepat di wajah Citra. Gadis itu berdiri membeku di belakang Adipati, meremas erat gaun sederhananya."Jaga batasannyq, Nek!," tegas Adipati, suaranya memberat penuh ancaman. "Citra adalah istriku!.""Istri?" Nenek menaikkan alisnya dengan pandangan meremehkan yang sangat tajam. "Jangan mempermalukan dirimu sendiri, Adi

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Kencan di Pinggiran Kaki Lima

    Pendar panggung pasar malam Menteng yang hangat mendadak pudar, tergantikan oleh aura dingin yang menusuk dari dalam sedan Rolls-Royce Phantom di seberang jalan. Kaca penumpang yang pekat perlahan terulur naik, menutup rapat bayangan Nyonya Victoria sebelum kendaraan bernilai belasan miliar rupiah itu meluncur hening membelah kegelapan malam Kebayoran Baru.Adipati sempat merasakan tengkuknya meremang. Naluri bisnis dan kewaspadaannya meronta, tetapi ketika ia menoleh dan melihat Citra yang sedang mendekap boneka beruang cokelat dengan binar mata polos, rasa janggal itu menguap begitu saja."Adipati, es krimmu meleleh!" seru Citra, menarik-narik ujung lengan kemeja Adipati yang sudah tergulung hingga ke siku.Adipati terkekeh pelan, sebuah tawa lepas tanpa beban yang belum pernah terdengar sepanjang tiga puluh tahun usianya. "Ah, benar. Konduksi panas dari udara malam ini rupanya cukup tinggi."Citra tertawa renyah, menepuk dahinya sendiri. "Aduh, makan es krim lima ribu rupiah saja m

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Mereka Harus Bercerai!

    Ia membelikan satu kantong berisi dua puluh gelang plastik. Penjaga stan, seorang pria paruh baya bertopi kumal, tersenyum penuh arti melihat penampilan luar biasa mewah Adipati yang kontras dengan tempat tersebut.Adipati mengambil posisi. Ia memasang kuda-kuda kokoh seperti seorang atlet panahan profesional. Tangannya diangkat setinggi dada, matanya memicing mengukur jarak, sudut lemparan, dan perkiraan hembusan angin malam.Lemparan pertama, Gelang meluncur... dan memantul keras keluar arena.Lemparan kedua. Gelang mengenai ujung botol dan terlempar jauh ke selokan di belakang stan.Lemparan ketiga hingga kelima belas. Semuanya gagal total.Wajah Adipati mulai memerah karena frustrasi. Jas mahalnya kini melar di bagian bahu karena gerakan-gerakan ekstrem yang ia lakukan. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia menyingsingkan lengan kemejanya, melepaskan dasinya yang terasa mencekik, dan membuang semua formalitas."Ini tidak masuk akal," gumam Adipati geram. "Hukum gravitasi se

  • Sentuhan Nona Membuat Presdir Dingin Tergoda    Kartu Kredit

    Malam di kawasan Menteng semakin larut, namun riuk-pikuk kehidupan di sekitar kaki lima seolah baru saja dimulai. Di bawah pendar lampu neon yang berkedip-kedip dan kepulan asap bakaran sate yang membumbung tinggi, Adipati merasa seolah-olah dirinya telah melangkah keluar dari peta peradaban yang selama ini ia kenal.Ia telah menyetujui tawaran Citra untuk menjadi "pria biasa" malam ini. Namun, menjadi biasa ternyata membutuhkan usaha yang jauh lebih keras daripada memenangkan tender proyek bernilai miliaran rupiah."Baiklah," ujar Adipati, suaranya mencoba terdengar mantap meski ia baru saja menghabiskan gelas es teh keduanya untuk membersihkan sisa-sisa jejak cabai hijau dari tenggorokannya. "Jadi... apa protokol selanjutnya setelah kita menyelesaikan hidangan utama ini?"Citra terkekeh pelan. Ia menarik tangannya yang tadi sempat digenggam Adipati dengan lembut, meski rona merah masih tertinggal memoles kedua pipinya. "Pertama-tama, hapus kata 'protokol' dari kosakata Anda malam in

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status