Share

Titik Leleh

Penulis: Tinta Senyap
last update Tanggal publikasi: 2026-01-24 06:38:17

Pagi harinya, Bandung kembali diselimuti kabut tipis yang turun dari arah Lembang. Namun bagi Soraya, kabut itu tidak hanya berada di luar jendela kaca rumahnya, melainkan juga menggumpal tebal di dalam kepalanya sendiri. Dia duduk di meja makan rumahnya yang besar, megah, namun terasa sangat sepi. Di hadapannya, sepiring roti bakar yang sudah mulai mengeras dan secangkir kopi hitam yang uapnya telah lama hilang sama sekali tidak disentuh.

​Mata Soraya menatap lekat pada cincin kawin di jari m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Garis Paralel yang Abadi (TAMAT)

    ​Enam tahun kemudian. ​Wajah Jakarta telah berubah. Gedung-gedung pencakar langit baru bermunculan seperti jamur di musim hujan, jalan tol semakin bertingkat meliuk-liuk di angkasa, dan denyut kota metropolitan ini terasa semakin cepat. Namun, di tengah perubahan yang konstan dan bising itu, ada satu hal yang tetap tidak berubah. Sebuah rutinitas sunyi setiap hari Jumat siang di sebuah unit apartemen di Kuningan. ​Soraya berdiri di depan cermin besar di kamar tidurnya. Dia menatap pantulan dirinya sendiri dengan kritis namun damai. Sehelai uban perak mulai terlihat samar di antara rambut hitamnya yang kini dipotong pendek sebahu. Gaya rambut ini jauh lebih praktis untuk seorang Dekan Fakultas Ekonomi yang sibuk sepertinya. ​Ada kerutan halus yang mulai muncul di sudut matanya. Itu adalah jejak dari ribuan jam yang dihabiskan untuk membaca data, mengajar mahasiswa, dan menahan tawa atau tangis selama bertahun-tahun. ​Usianya sudah menginjak 44 tahun. ​Dia masih sendiri. Setida

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Arsitektur Dua Dunia

    ​Jumat siang di Jakarta Selatan. Hujan deras mengguyur kota tanpa ampun, menciptakan kemacetan panjang di jalan-jalan protokol. Suara klakson dan deru mesin samar-samar terdengar dari kejauhan, teredam oleh ketebalan kaca jendela apartemen lantai 35. ​Namun, di dalam unit apartemen Soraya, dunia terasa berbeda. Suasana begitu tenang, hangat, dan melambat. Aroma lilin vanilla bercampur dengan bau hujan yang lembab menciptakan kepompong kenyamanan yang membuai. ​Gilang berbaring di sofa panjang ruang tengah. Kepalanya berbantalkan paha Soraya yang terasa empuk. Matanya terpejam rapat, nafasnya teratur naik-turun. Dia tidak sedang tidur, hanya sedang melakukan ritual mingguannya: mengistirahatkan pikiran dari hiruk-pikuk dunia konstruksi, tuntutan klien yang rewel, dan tentu saja, sandiwara rumah tangga yang melelahkan. ​Soraya duduk bersandar dengan nyaman. Satu tangannya memegang tablet, membaca berita ekonomi global tentang fluktuasi pasar saham Asia, sementara tangan lainnya berger

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Cincin Berlian yang Ditolak

    ​Sejak malam ulang tahun Gilang yang penuh dosa dan kejujuran itu, rutinitas mereka kini terbentuk seperti mekanisme jam tangan buatan Swiss. Semuanya berjalan presisi, tersembunyi, dan sangat efisien. ​Soraya menjalani hari-harinya sebagai Profesor yang dihormati di kampus, mengajar mahasiswa dengan wajah tegak dan berwibawa. Gilang menjalani harinya sebagai Arsitek sukses dan Ayah teladan bagi ketiga anaknya. Namun, di sela-sela dua kehidupan yang tampak sempurna itu, ada celah waktu sempit yang mereka curi. Sebuah celah di mana mereka bisa menjadi "suami-istri" bayangan di apartemen Kuningan. ​Malam ini, rutinitas itu sedikit terganggu. Soraya tidak berada di apartemennya menunggu Gilang. Dia sedang duduk di restoran View di Fairmont Hotel, mengenakan gaun malam berwarna navy yang sopan namun membalut tubuhnya dengan elegan. ​Di hadapannya, duduk Pak Prasetyo. Pria itu adalah duda tanpa anak, seorang diplomat senior yang baru saja pulang dari penempatan di Eropa. Dia juga tema

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Potongan Kue

    ​Ulang tahun ke-38 Gilang dirayakan dengan meriah di rumah Bintaro. Amara, sebagai istri yang berbakti dan citra sempurna dari sebuah keluarga bahagia, menggelar pesta kebun di halaman belakang rumah mereka.​Balon-balon berwarna emas dan hitam menghiasi taman. Meja prasmanan penuh dengan makanan katering mahal, dan tamu-tamu, mulai dari rekan bisnis, kerabat, hingga tetangga, tumpah ruah memberikan selamat.​"Selamat ulang tahun, Sayang." Amara mencium pipi Gilang di depan semua orang saat sesi pemotongan kue.​Wanita itu tersenyum lebar, memegang pisau kue bersama suaminya. Kamera fotografer sewaan mengabadikan momen itu. Cekrek.​Gilang tersenyum. Sebuah senyum yang sudah dia latih di depan cermin selama berbulan-bulan. Senyum "Suami Bahagia".​"Makasih, Ra," jawab Gilang.​Dia memotong kue tart cokelat itu, memberikan suapan pertama pada Amara, lalu pada Naya, Juna, dan si bungsu Kania. Tepuk tangan membahana. Musik akustik mengalun. Semua orang tertawa.​Akan tetapi, di dalam kep

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Ritual Jumat Siang

    Enam Bulan Kemudian. Jumat, pukul 11.45 WIB. Apartemen Soraya di lantai 35 kawasan Kuningan itu sudah wangi. Kali ini, bukan wangi parfum mahal atau lilin aromaterapi lavender yang biasanya menyambut tamu. Ruangan itu dipenuhi aroma masakan rumahan yang menggugah selera. Aroma serai, daun jeruk, dan kemangi menguar dari dapur, bercampur dengan uap nasi panas yang baru matang. Di atas meja makan, sudah tersaji menu spesial. Ikan kuah kuning yang segar, tumis bunga pepaya dengan cakalang suwir, dan sambal dabu-dabu yang pedas menggigit. Ini adalah menu Manado, request khusus dari satu-satunya "tamu" yang Soraya miliki dalam hidupnya saat ini. Soraya menata meja makan dengan gerakan efisien namun anggun. Dia meletakkan piring keramik putih, gelas berisi air dingin, dan melipat serbet kain dengan rapi. Hari ini, dia tidak mengenakan blazer kaku atau rok pensil seperti biasanya saat dia berdiri di depan mahasiswa atau pejabat kementerian. Dia mengenakan dress santai berbahan katun ber

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Vonis Tanpa Palu Hakim

    Malam itu, langit Bintaro gelap tanpa bintang. Gilang pulang ke rumah dengan langkah yang diseret, seolah ada beban besi ribuan kilo di kakinya. Di lehernya, masih terikat dasi Hermes baru pemberian Amara. Dasi sutra yang mahal dan halus itu kini terasa mencekik, seperti tali gantungan yang perlahan mengetat setiap detiknya. Dia membuka pintu rumah. Hening. Tidak ada suara TV, tidak ada celoteh Naya, tidak ada tangisan Juna. Lampu ruang tamu menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding. Di sana, di sofa tunggal favoritnya, Amara duduk membelakangi pintu masuk. Dia tidak sedang menonton, tidak sedang membaca buku, juga tidak sedang bermain ponsel. Dia hanya duduk diam seperti patung, menatap meja kopi kaca di hadapannya. "Assalamualaikum," sapa Gilang pelan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Waalaikumsalam," jawab Amara tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya tenang. Terlalu tenang. Ketenangan itu justru membuat bulu kuduk Gilang mere

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Jadwal Piket di Balik Dinding

    Sudah satu bulan berlalu sejak Gilang memutuskan untuk pulang ke rumahnya di Bintaro.Bagi orang luar, kehidupan rumah tangga keluarga Gilang Pratama terlihat sangat indah. Seperti sebuah foto keluarga bahagia yang dipajang di ruang tamu. Setiap pagi, kegiatan mereka selalu sama dan teratur. Gilang

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Skenario Pulang ke Rumah

    Malam itu, mobil Pajero Sport putih milik Gilang melaju pelan memasuki kawasan perumahan Pondok Indah, tempat tinggal mertuanya. Tidak ada lagi aksi ngebut atau manuver agresif yang biasa ia lakukan saat sedang stres. Gilang menyetir dengan kehati-hatian tingkat tinggi, layaknya seorang aktor yang

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Panggilan Video dari Tablet Anak

    Tiga hari berlalu sejak Gilang "mengungsi" di apartemen Soraya.Tiga hari itu terasa seperti mimpi demam yang indah sekaligus mengerikan. Di dalam apartemen lantai 35 itu, mereka hidup dalam gelembung waktu. Gilang tidak pergi ke kantor, Soraya mengambil cuti sakit. Mereka menghabiskan waktu dengan

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Kunci Pagar yang Diganti

    ​Matahari pagi menembus tirai apartemen Soraya dengan kurang ajar, seolah memaksa masuk ke dalam ruangan yang masih ingin bersembunyi dalam kelam. Cahaya itu jatuh di atas lantai marmer, menyoroti debu-debu halus yang melayang di udara, menciptakan kontras tajam dengan suasana suram yang menyelimut

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status