Share

Bab 127

Author: Saggyryes
last update publish date: 2026-02-07 10:32:37

"Aduh!"

Satria memijat keningnya yang masih pusing. Rasa dingin menerpa lembut tubuhnya dan membuatnya terbangun. Ia membuka mata perlahan dan melihat sekeliling.

"Ah! Di mana ini?!" tanyanya, seraya bergumam dalam hati.

Ia bangkit dari tidurnya, dan teringat akan kejadian semalam. Di mana ia datang ke hotel ini dan bertemu dengan Zaskia.

"Gila! Apa yang udah terjadi?!" tanyanya lagi.

Ingatan terakhirnya jatuh saat ia membalas ciuman Zaskia. Dengan cepat, ia menghapus muka dengan kasar, men
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Martini Wiyono
sebodoh itukah satria ,klu melakukan hub badan tentunya ada jejak sperma yg tercecer tp ini kan cuman dibuka doang Ama Zaskia .......... duuuh
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 281

    "Udah selesai," gumam Bastian. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar toko. Dan pintu toko berbunyi pelan saat Bastian keluar. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk menandai bahwa semuanya benar-benar telah selesai.Siska tetap berdiri di belakang kasir beberapa detik setelah itu. Tangannya masih bertumpu di meja. Napasnya ia tahan sebentar, lalu dihembuskan perlahan."Hah..," ucap Siska. Bukan lega sepenuhnya. Tapi juga bukan rasa ragu yang tiba-tiba muncul. Ia menunduk sedikit, lalu menggeser posisi berdirinya. Tangannya meraih sisi meja, seperti mencari pegangan.Beberapa detik berlalu. Lalu ia menarik napas lebih dalam."Aku ke toilet sebentar ya," ucapnya singkat ke arah karyawan yang ada di dekat kasir.Tanpa menunggu jawaban, Siska langsung berjalan ke arah dalam. Langkahnya masih terlihat tenang. Tidak terburu-buru ataupun goyah.Tapi begitu pintu toilet tertutup di belakangnya, Siska langsung bersandar ke dinding.Tangannya menutup mulut. Dan dalam hitungan detik,

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 280

    "Iya," jawab Siska. Menjelang siang, suasana mulai berubah. Tidak langsung sepi, tapi pengunjung perlahan mulai berkurang. Meja yang tadinya penuh mulai kosong satu per satu. Suara obrolan pelanggan juga tidak lagi seramai sebelumnya. Siska berdiri di belakang kasir, mengecek laporan singkat di tablet. Tangannya bergerak pelan, lebih santai dibanding tadi pagi. Andini mendekat sambil melipat tangan di depan dada."Udah mulai sepi nih, Sis," ucap Andini, pelan.Siska menganggukkan kepalanya. "Iya. Kayaknya udah bisa sedikit nafas, sekarang."Andini melirik ke arah salah satu meja."Bastian masih di situ tuh," bisiknya.Siska hanya mengangguk dan tidak langsung menoleh. Ia sudah tau karena tadi sempat lihat ke sana. "Iya,” jawabnya singkat."Lo mau samperin sekarang, apa gimana?" tanya Andini.Siska menghembuskan nafas pelan. "Gue selesain ini dulu palingan."Andini mengangguk. "Ya udah, gue ke depan, ya."Siska tidak menjawab lagi. Ia menyelesaikan beberapa catatan terakhir, memast

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 279

    "Gimana Sis, aman?""Aman," jawab Siska. Pagi itu terasa lebih hidup dari biasanya. Sejak pintu dibuka, pengunjung sudah mulai berdatangan. Tidak meledak, tapi stabil. Justru itu yang terasa lebih nyaman sekarang. Siska berdiri di belakang kasir, sesekali mencatat di tablet, atau membantu staf yang terlihat kewalahan.Di sisi lain, Andini terlihat jauh lebih aktif. Ia berdiri di area depan, menyapa beberapa tamu yang datang, sesekali tertawa kecil saat berbincang. Aura pemiliknya terasa jelas. Santai, tapi tetap mengontrol."Bundling yang ini banyak yang ambil ya," ucap Andini sambil melihat salah satu meja.Siska melirik sebentar. "Iya. Yang paket keluarga paling laku."Andini mengangguk puas. "Bagus banget. Berarti nggak sia-sia kemarin kita revisi."Siska mengangguk kecil, lalu kembali fokus ke layar. "Iya."Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Seorang perempuan masuk dengan langkah tenang. Penampilannya rapi, elegan, dengan gestur yang terbiasa berada di situasi formal. R

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 278

    "Sama tadi," ucap Andini. "Tadi kenapa?" tanya Siska. "Tadi gue sempet liat dari jauh, lo turun dari mobil agak lama. Lo dianter siapa?"Siska menatap Andini beberapa detik, lalu akhirnya menjawab jujur."Johan."Andini mengerutkan kening. "Johan?Yang kemaren dateng ke sini?"Siska menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya."Andini langsung menyandarkan tubuhnya ke meja. "Uhm.. Terus semalem?"Siska nyengir. "Sama dia juga."Andini langsung menutup mulutnya sebentar, antara kaget dan mencoba mencerna apa yang diucapkan Siska."Hah? Serius lo?" tanya Andini. Siska kembali menganggukkan kepalanya. "Seriuslah."Siska hanya tersenyum tipis, tidak terlihat defensif."Kok bisa sih, Sis?" tanya Andini. "Kacau juga lo, ih.. "Siska tertawa. "Kayak nggak ada bedanya kan sama Bastian?" tanya Siska, seolah sedang berasumsi dengan dirinya sendiri. Andini menggedikkan bahunya pelan. "Gue nggak bilang gitu ya. Tapi, yang ada dipikiran gue sekarang, kok lo bisa cepet banget sama dia. Terlebih, gue

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 277

    "Kita jalanin aja dulu," jawab Siska, lembut. "Baiklah kalo itu mau kamu. Tapi satu hal yang harus kamu ingat. Aku di sini, bukan untuk lewat gitu aja."Siska menatap tangannya yang masih digenggam Johan sekilas, lalu kembali melihat wajah Johan."Beneran?” tanya Siska, memastikan. Johan mengangguk pelan. "Bener. Aku nggak main-main sama kamu, Sis.”Nada suaranya terdengar tenang, tapi terasa lebih dalam.Siska tersenyum kecil, meskipun masih ada sisa ragu di sana."Aku bakal hubungin kamu setiap harinya di kala luang. Dan nggak akan ngilang gitu aja."Siska sedikit menyipitkan mata. "Bener ya? Jangan PHP, loh."Johan tersenyum. "Iya. Aku nggak mau kamu nunggu tanpa kabar.""Janji?" tanya Siska. "Janji," jawab Johan.Siska mengangguk pelan."Dan aku bakal balik lagi ke sini," tambah Johan.Siska menoleh cepat. "Serius?""Iya. Aku pasti cari waktu buat ketemu sama kamu lagi," jawab Johan. Suaranya terdengar lembut. Siska terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Ya udah, aku tunggu."

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 276

    "Tuhan, pastinya," ucap Johan. Tatapannya terlihat lebih lembut sekarang.Siska terdiam sejenak. Dan memandang Johan lebih syahdu dari sebelumnya. "Kita nggak selalu ngerti kenapa sesuatu terjadi. Tapi kadang, semua kayak jalan yang terbentang dan sadar atau nggak, itu harus dilewatin."Suasana kembali hening sejenak. Siska menatap Johan lebih serius. Lalu perlahan, sudut bibirnya kembali terangkat."Kalau gitu, sekarang aku lagi ada di jalur yang cukup membingungkan dong," ucap Siska pelan. "Belum tentu membingungkan, bisa jadi kamu cuma masih baru dan dalam proses penyesuaian," jawab Johan.Siska tersenyum kecil. Kali ini terlihat lebih ringan. Tanpa sadar, ia mendekati Johan. Dan jarak mereka berdua kembali menipis."Jo…""Hm?""Makasih ya, udah mau jelasin dan mau nemenin aku malam ini," ucap Siska lagi. Kali ini jauh lebih tulus. Johan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 35

    "Terus?" Andini menatap lurus ke arah Siska. 'Gimana nih kalau Siska mau bantu Ibunya? Hubungan gue sama Satria kan baru aja di mulai... ' batin Andini. 'Terlebih, kami juga udah.... ""Ya gue nggak maulah! Tapi... " jawab Siska, ragu. 'Baguslah! Tapi apa sih Sis?' lagi-lagi Andini membatin. "Ta

    last updateLast Updated : 2026-03-20
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 31

    "Lumayan... Om!" jawab Andini, ragu. Ia tidak mau Satria merasa bersalah dan mereka berhenti melakukannya. Karena sebenarnya Andini menginginkannya... Lagi! Satria mengerutkan kening. Jujur iya merasa sangat bersalah atas apa yang mereka lakukan kemarin dan... tadi pagi. "Lumayan apa? Sakit seka

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 26

    "Pedih banget.. " rengek Andini.Ia bangkit dari tidurnya dan bersandar di sandaran tempat tidur sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Andini tersenyum. Seolah ia baru saja memenangkan sesuatu. "Semalam luar biasa banget.. Emang nggak salah aku milih Om Satria untuk jadi yang pertama dan... te

    last updateLast Updated : 2026-03-19
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 30

    "Apa?" Satria mengerutkan kening. "Iya! Kamu lihat kan, aku baru aja sampai dan langsung ke sini. Kalau harus ke rumah atau hotel kan butuh waktu, sayang!" rengek Zaskia. Dia menunjuk koper yang tadi ia bawa. Satria melihat ke arah Siska untuk meminta jawaban. Sayangnya, Ia hanya diam tidak memb

    last updateLast Updated : 2026-03-19
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status