Share

Bab 92

Penulis: Saggyryes
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-15 01:41:29

"Pulang bareng?" tanya Andini, dengan kening berkerut. Netranya melihat ke arah Lila, memastikan ia tidak salah dengar.

"Iya, yuk!" ajak Lila lagi. "Hujan deras gini, biasanya awet, An..."

"Kebetulan, aku lagi bawa mobil dan parkirnya nggak jauh dari sini." lanjut Lila. Ia menunjuk ke tempat parkir yang tidak jauh dari lobby.

Andini menggelengkan kepala. "Kayaknya, nggak usah deh Mbak, takut ngerepotin." tolak Andini, dengan nada lembut.

"Nggak repot kok, An.. Santai aja, sekalian aku jalan-jalan sambil berbuat baik sama kamu." Ia nyengir.

Alis sebelah kanan Andini sedikit terangkat. "Berbuat baik?"

"Iya. Antar kamu kan merupakan salah satu perbuatan baik." tutur D

Lila.

Lila sebenarnya adalah orang yang baik dan pengertian, tapi dibalik itu semua, Ia adalah orang yang cara bicaranya sering tidak terkontrol dan sulit ditebak.

"Nggak deh, Mbak. Lagian, emangnya rumah kita searah?" tanya Andini.

"Searah kok, kalau memang rumah kamu nggak jauh dari rumah Pak Satria, ya.. Soalnya,
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 96

    "Iya... " jawab Andini. Jika bukan karena Cinta yang menyuruhnya, ia tidak akan mengangkat telpon dari Satria. Yang saat ini bagi Andini sudah berubah status menjadi mantan kekasih. "Kamu udah pulang?" tanya Satria. Andini bangkit dari duduknya. Ia mengangguk ke arah Cinta, seolah meminta izin dan mendapatkan anggukan serupa dari Rania. Lalu, ia berjalan ke luar menuju ruang tamu. "Udah, ada apa?" tanya Satria. "Kok kamu nggak nungguin aku?" Satria kembali bertanya. "Kita kan udah putus. Ngapain aku nungguin kamu?" Andini balik bertanya. "Lagian, kerjaan aku juga udah selesai." lanjutnya. Ia sengaja menginfokan kepada Satria agar ia tidak berfikir Andini tidak profesional dalam bekerja.Satria terkekeh. "Putus? Tali yang putus, maksud kamu?" Candaan Satria sangat garing, tapi mampu membuat Andini tersenyum simpul. Andini berdesis. "Kok tali sih? Kita lah.." jawab Andini seraya berbisik karena khawatir Agung atau Cinta mendengar ucapannya. Satria tertawa. "Oh, kalau gitu ike

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 95

    Satria menoleh ke belakang. "Apalagi, Bun?" tanyanya. Jujur, ia sudah malas melanjutkan pembicaraan. Ia tau sifat Rania. Mau sebanyak apapun bukti yang Satria berikan, Rania tidak mau disalahkan. Dengan mudahnya ia akan berkelit, sama seperti sebelumnya. "Duduk dulu, Sat. Kita bicarakan baik-baik."Suara Rania terdengar lebih tenang sekarang. Ia benar-benar takut akan kejadian buruk yang mungkin menimpa RA Company dan keluarga besar Hasan jika Satria marah. Terlebih, salah satu hal terburuk yang terbesit dipikirannya saat ini yaitu Satria meninggalkan RA Company. Satria kembali duduk berhadapan dengan Rania. Sedangkan semua orang yang ada di dalam ruangan, masih terdiam melihat ketegangan antara Ibu dan Anak itu. Tidak ada yang berani bicara, apalagi beranjak dari tempatnya semula. "Bunda mau minta maaf atas apa yang telah Bunda lakukan kepada Andini. Bunda janji akan bertemu langsung dengannya besok untuk meminta maaf. tutur Rania."Tapi, Bunda harap kamu juga harus paham posisi

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 94

    "Andini!" tegas Satria. Rania mengerutkan kening. "Andini? Kenapa dengan dia?" tanya Rania berpura-pura tidak tau. Sebelah alis Satria terangkat dan matanya menyipit. "Kenapa, kata Bunda?!""Iya, kenapa, Sat? Bunda kan nggak punya indra keenam atau kemampuan lainnya" tanya Rania lagi. "Jadi, kalau kamu nggak bilang, gimana Bunda bisa tau?!"Satria menghembuskan nafas kasar. "Baiklah biar saya perjelas. Untuk apa Bunda meminta Andini menjauhi saya dan memberikan cek padanya?!""Ah! Ternyata itu!" ucap Rania. Ia yang tadinya menatap Satria, kini mengalihkan pandangan ke bawah sekilas, lalu kembali menatap Rania lagi. Jelas sekali kalau Rania malas membahas apa yang tadi Satria pertanyakan. "Iyalah, karena itu! Apa lagi?" Satria menekan ucapannya. "Tolong jelaskan sama saya, untuk apa Bunda melakukan itu semua?""Kamu tau semua itu dari mana, Sat?" tanya Rania. "Asisten pribadiku. Dia mencari tau alasan perubahan sikap Andini setelah Bunda datang ke kantor tadi pagi." Satria menjel

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 93

    "Bunda.. " panggil Satria dengan suara yang berat dan tegas, saat ia baru saja menginjakkan kaki di rumah utama. Rumah di mana ia dibesarkan dengan sangat keras sehingga membentuk Satria yang kuat seperti sekarang. Satria tidak mudah jatuh meski dihantam gunung ataupun gedung-gedung tinggi yang mencakar langit. Ia dididik demikian karena merupakan satu-satunya anak laki-laki yang merupakan pewaris murni keluarga Hasan. Yaitu Rano Hasan. Secara turun temurun, setiap keluarga Hasan hanya memiliki satu anak laki-laki. Tidak terkecuali Ayah Satria, Rano Hasan. Namun sayangnya, saat ini Satria hanya memiliki satu anak perempuan yang sangat ia manjakan. Inilah salah satu alasan kenapa Satria ingin memiliki anak laki-laki dari Andini. Ia ingin satu anak laki-laki yang kuat sepertinya. Atau jika memungkinkan, dua atau tiga anak laki-laki secara bersamaan atau dengan jarak yang tidak terlalu jauh. Tujuannya agar mereka tidak merasa berat dan bisa bekerja sama untuk membangun RA Company. H

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 92

    "Pulang bareng?" tanya Andini, dengan kening berkerut. Netranya melihat ke arah Lila, memastikan ia tidak salah dengar. "Iya, yuk!" ajak Lila lagi. "Hujan deras gini, biasanya awet, An...""Kebetulan, aku lagi bawa mobil dan parkirnya nggak jauh dari sini." lanjut Lila. Ia menunjuk ke tempat parkir yang tidak jauh dari lobby. Andini menggelengkan kepala. "Kayaknya, nggak usah deh Mbak, takut ngerepotin." tolak Andini, dengan nada lembut. "Nggak repot kok, An.. Santai aja, sekalian aku jalan-jalan sambil berbuat baik sama kamu." Ia nyengir. Alis sebelah kanan Andini sedikit terangkat. "Berbuat baik?" "Iya. Antar kamu kan merupakan salah satu perbuatan baik." tutur DLila. Lila sebenarnya adalah orang yang baik dan pengertian, tapi dibalik itu semua, Ia adalah orang yang cara bicaranya sering tidak terkontrol dan sulit ditebak. "Nggak deh, Mbak. Lagian, emangnya rumah kita searah?" tanya Andini. "Searah kok, kalau memang rumah kamu nggak jauh dari rumah Pak Satria, ya.. Soalnya,

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 91

    "Uhm.. " gumam Andini. "Saya ke luar kantor lagi ya, An!" ucap Satria. Ia berjalan ke luar ruangan dan melewati Andini yang masih menatap lurus ke arahnya. Tidak ada sedikitpun gerakkan kepala Satria untuk melihat kembali ke arah Andini. Mata Satria justru fokus melihat dokumen yang saat ini ia pegang. Padahal, sejak tadi netra Andini terus memandanginya. Ia menarik nafas, cukup panjang. Lalu menghembuskan perlahan. "Aku sedih-sedihan, dia mah udah fokus sama kerjaan." gerutu Andini. Andini sedikit mendengus, lalu masuk ke dalam ruangan. Ia menaruh dokumen yang perlu Satria cek dan tanda tangani di atas meja kerja. Setelah selesai, ia berbalik dan berjalan ke luar ruangan. Namun, tiba-tiba, ia berhenti sejenak. Entah kenapa, rasa sedih kembali memenuhi hati dan pikirannya. Air mata mulai mengalir dipipi. Sama seperti tadi, ketika ia berada di dalam toilet. Namun, tangisnya kali ini, tidak berlangsung lama. Ia menghapus sisa air mata di pipi dan mengedarkan pandangan ke seluruh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status