Share

Bab 135

Penulis: Saggyryes
last update Tanggal publikasi: 2026-02-15 16:01:39

"Nggak!" bentak Zaskia.

"Kamu nggak bisa begini sama aku, Sat!" lanjutnya.

"Oh ya? Kenapa nggak bisa?!" tanya Satria, nadanya tajam dan dingin. "Bukannya kamu juga udah beberapa kali menusuk dan memanfaatkan saya?!"

"Karena... Karena aku Ibu dari Siska! Anak kita!"

Satria tertawa. "Itu selalu menjadi alasan kamu, Zas! Lagipula, karena kejadian kemarin, aku jadi ragu, apa Siska benar anakku atau bukan!"

Dari balik ponselnya, mata Zaskia membulat. Dia benar-benar tersinggung dengan ucapan Satr
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 356

    "Akhirnya..," gumam Siska, pelan. Sesuai keputusan Siska sebelumnya, seluruh rangkaian acara akhirnya tetap berjalan seperti yang telah direncanakan.Selama tiga hari tiga malam berikutnya, hotel milik keluarga Jonathan dipenuhi para tamu yang datang dari berbagai daerah bahkan luar negeri. Acara demi acara berlangsung dengan lancar. Mulai dari jamuan makan keluarga, temu bisnis, hingga resepsi yang menjadi puncak perayaan. Di mata orang lain, semuanya terlihat sempurna. Karena Siska menjalankan perannya dengan sangat baik. Ia tersenyum saat menyambut para tamu, mengobrol dengan para kerabat, berfoto bersama keluarga besar dan tertawa ketika semua orang membahas hal-hal ringan. Namun orang-orang yang mengenalnya cukup lama, bisa melihat jelas perbedaannya. Salah satunya adalah Andini, sahabat terbaiknya. Sejak hari kedua mereka sampai di Joguar, dan itu adalah pertama acara, Andini beberapa kali memperhatikan sahabatnya itu dari kejauhan. Senyuman Siska memang tidak berubah, tetapi

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 355

    "Ayo. Kita duduk dulu," ucap Jonathan, sambil menghembuskan nafas pelan.Suaranya tenang, tetapi cukup tegas untuk menghentikan suasana yang sempat memanas.Johan menatap Jonathan beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan. Sedangkan Siska masih berdiri di tempatnya dengan wajah yang sulit untuk ditebak."Kalian pasti capek berdiri kan," lanjut Jonathan.Kalimat sederhana itu membuat ketegangan diantara mereka sedikit berkurang. Mereka akhirnya duduk kembali.Beberapa saat, tidak ada yang berbicara.Jonathan akhirnya menyandarkan tubuhnya ke bangku lalu menatap Johan secara langsung."Kita sama-sama tahu kenapa pernikahan itu akhirnya berlangsung," ucap Jonathan, tegas. "Keluarga kita, keluarga Hasan, para investor, mitra bisnis, semuanya udah terlibat terlalu jauh. Kamu pasti tau, kalo waktu itu nggak ada banyak pilihan."Johan menundukkan pandangannya perlahan, sedangkan Jonathan melanjutkan pembicaraan."Aku nggak pernah punya niat ngambil apa yang seharusnya jadi milik lo, J

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 354

    "Sis," panggil Johan, pelan. Tatapannya dipenuhi rasa bersalah yang sejak tadi tidak pernah benar-benar hilang. Hingga beberapa kali ia mencoba berbicara, tidak ada kata-kata yang ke luar dari mulutnya. Seolah, semua kata tertahan di dalam tenggorokannya.Sedangkan Siska berusaha sabar menunggu. Karena akhirnya, ia berada di hadapan orang yang selama ini ia cari dan ingin mendapatkan jawaban pasti akan kenyataan pahit yang ia terima. Johan mengembuskan nafas perlahan. "Aku nggak pergi karena aku nggak cinta lagi sama kamu, Sis. Justru sebaliknya, aku ngelakuin inti semua karena terlalu cinta dan sayang sama kamu."Air mata kembali memenuhi mata Siska. "Kalo gitu jawab dong. Alasannya apa coba?"Lagi-lagi Johan menundukkan kepalanya perlahan. "Dua hari sebelum aku berangkat ke Omeland, aku melakukan medical check-up."Siska terdiam, mendengarkan. Tidak ada niat sedikitpun untuk menyela. "Aku pikir itu cuma pemeriksaan rutin biasa yang aku lakukan dua atau tiga bulan sekali, Sis. Ta

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 353

    "Apa?" tanya Siska, pelan.Sebelumnya, ia sempat tidak bereaksi. Namun, beberapa saat setelahnya, ia menatap Jonathan seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya."Kamu yakin?" tanya Siska, memastikan. Jonathan menghela napas pelan. "Aku yakin seratus persen, kalo Johan emang udah kembali."Kalimat itu membuat dada Siska terasa sesak. Seakan ada sesuatu yang baru saja menghantamnya begitu keras hingga ia kesulitan untuk bernapas.Johan. Nama itu. Nama yang selama berbulan-bulan berusaha ia simpan rapat di sudut hatinya. Nama yang berusaha ia terima sebagai bagian dari masa lalu dan tidak pernah benar-benar berhasil ia lupakan.Siska menatap Jonathan tanpa berkedip."Kamu serius?" tanyanya lagi, kembali memastikan. Jonathan mengangguk pelan. "Iya. Aku baru dapat informasi sore ini."Siska masih terdiam. Sedangkan Jonathan kembali melanjutkan ucapannya. "Dia udah sampe di Jaguar dua jam yang lalu."Jemari Siska perlahan mengepal di atas pangkuannya. "Lalu?"Jonathan menat

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 352

    "Selamat malam," ucap Jonathan sambil tersenyum.Di belakangnya, beberapa anggota keluarga besarnya ikut menyapa dengan ramah."Selamat malam," balas Rania, yang sengaja menjadi wakil keluarga Hasan.Suasana kembali hangat seperti sebelumnya. Lalu mereka berjalan menuju meja yang sudah disiapkan khusus di dekat area kaca. Posisi meja itu menghadap langsung ke arah pemandangan kota Jaguar yang gemerlap oleh cahaya malam."Ini luar biasa," gumam Andini sambil duduk."Iya. Pemandangannya luar biasa bagus," sahut Satria.Tak lama kemudian, hidangan mulai disajikan satu persatu. Berbagai menu khas Jaguar yang merupakan makanan favorit keluarga besar Jonathan memenuhi meja makan.Percakapan mengalir ringan. Rania banyak berbincang dengan orang tua Jonathan. Sedangkan Satria sesekali membahas bisnis dan perkembangan kota Jaguar bersama beberapa anggota keluarga Hasan. Andini sendiri tampak lebih sibuk mengagumi pemandangan dan menikmati makanan yang ada di hadapannya."Ini kalo Arka sama Ros

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 351

    "Terima kasih, Jon," ucap Satria, sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.Jonathan menggelengkan kepalanya perlahan."Nggak usah berterima kasih terus, Yah. Kalian kan udah jauh-jauh datang ke sini. Jadi memang sudah tugas kami untuk memastikan semuanya nyaman."Rania ikut tersenyum mendengarnya. "Terima kasih itu memang sudah seharusnya diucapkan sebagai bentuk sopan santun, Jon. Khususnya untuk orang timur seperti kami."Jonathan tertawa pelan. "Kalo begitu, saya juga ucapkan terima kasih, karena sudah menerima saya sebagai menantu kalian."Semua orang ikut tersenyum.Jonathan kemudian melihat jam tangannya sekilas. "Sekarang istirahat dulu aja. Perjalanan tadi pasti sangat panjang dan melelahkan.""Iya, itu memang sudah menjadi salah satu rencana kami, Jon," jawab Satria.Jonathan tersenyum. "Baiklah. Nanti jam tujuh malam, kami tunggu di restoran yang ada di lantai paling atas.""Sky Garden?" tanya Siska.Jonathan mengangguk pelan. "Iya."Andini langsung menoleh. "Itu yang

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 7

    "Cukup, Sis!" tegas Satria masih dengan suara berbisik. Namun, Siska tidak mau kalah. “Aku butuh sosok Ibu. Yang seperti Andini, Yah." Siska sedikit menurunkan volume suara. Tidak mau Andini mendengarnya. Satria menghela napas. "Kamu tau kan pekerjaan Ayah sangat padat! Ayah nggak ada waktu beru

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 148

    "Beneran Ayah nggak mau istirahat dulu?" tanya Siska, saat masuk ke dalam ruang kerja Satria. Tadi, ia sempat mencari Satria di kamar, tapi tidak menemukannya. Sehingga ia berinisiatif untuk mencarinya di ruang kerja. Ternyata, dugaannya benar. "Ayah udah istirahat sayang...""Tapi itu.. pagi-pa

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 132

    "Siska!" panggil Satria.Ia membuka pintu kamar anak semata wayangnya dengan cukup kasar. Wajahnya terlihat tegang dan khawatir. Siska menoleh ke daun pintu yang baru saja terbuka. Di mana Ayahnya berada saat ini. Ia tersenyum tipis. Bukannya tidak enak hati, ia malah senang melihat rasa khawatir

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 14

    "Dion? Siapa?" Andini mengerutkan kening, bingung. Matanya mencari jawaban dengan melihat Siska dan Satria bergantian. "Dion itu CEO di kantor Ayah gue, An! Kan lo udah pernah ketemu sebelumnya."'Oh! Dion yang itu! Yang sering diceritain Mbak Dila!' pikir Andini. "Kapan?” ujar Andini tak tertar

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-17
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status