Share

Bab 188

Penulis: Saggyryes
last update Tanggal publikasi: 2026-03-22 21:45:11

"Bob..." panggil Zaskia.

Ia melihat lurus ke arah Bob. Bob tersenyum kecil saat melihat Zaskia terbangun. Ia memegang lembut tangan Zaskia sambil mengelusnya perlahan.

"Iya, saya di sini. Kamu mau minum?" tanya Bob. Ia mengulurkan tangan ke atas nakas untuk mengambil air minum yang disediakan oleh rumah sakit.

Zaskia menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya, boleh."

"Ini," ucap Bob, sambil menyerahkan air minum tersebut.

"Makasih, Bob."

Bob menganggukkan kepalanya. Selesai minum, Zaskia meliha
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 215

    "Tenang ya, Tan. Aku udah ada di sini," ucap Andini. Ia menggenggam lembut tangan Cinta. Jemarinya terasa dingin dan sedikit kaku."Tadi dia seneng banget An. Dia pengen banget dateng ke acara wisuda kamu..," tutur Cinta. Air matanya semakin deras jatuh di pipi. "Iya, Tan… tenang ya. Om orang yang kuat. Aku yakin Om akan kembali sehat seperti sebelumnya," ucap Andini pelan. Ia berusaha agar suaranya tetap terdengar stabil, meski dadanya sendiri terasa sangat sesak dan nyeri. Siska ikut duduk di samping Cinta. Ia mengusap punggung wanita itu perlahan."Tante tarik napas dulu ya, pelan-pelan aja," ucap Siska.Cinta menganggukkan kepalanya. Tapi napasnya tetap tidak beraturan. Air matanya masih terus mengalir tanpa bisa ditahan."Tante.. Tante nggak tau harus gimana…" ucapnya terbata. "Tadi dia belum lama ngomong sama Tante dan Tante bilang bakal nunggu Om di ruang tamu. Tapi Om nggak dateng-dateng. Pas Tante dateng, dia udah..,"Kalimatnya terputus. Seolah Cinta tidak lagi sanggup m

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 214

    "Aku coba telpon lagi," gumam Andini. Ia kembali menekan tombol hijau di ponselnya. Namun sayangnya, tidak ada jawaban. Sama seperti sebelumnya. Waktu terus berjalan. Satu jam yang tadi terasa masih bisa ditunggu, sekarang berubah jadi beban yang sangat menekannya. Andini berdiri dengan ponsel yang masih berada di tangan. Ia kembali mencoba menghubungi Cinta. Nada sambung terdengar, namun tiba-tiba terputus lagi.Ia menutup mata sejenak. "Masih nggak diangkat," ucapnya. Siska yang berdiri di sampingnya langsung mendekat. "Coba Om Agung lagi."Andini mengangguk cepat, lalu mencari nama Agung. Hasilnya sama."Kenapa sih nggak ada yang angkat?" tanyanya seraya bergumam pelan, tapi jelas terdengar panik.Satria yang sejak tadi memperhatikan, akhirnya mengambil keputusan. "Kita jalan sekarang."Andini langsung menoleh. "Ke mana?""Ke rumah mereka dulu," jawab Satria tegas. "Kalau memang mereka nggak ada di sana, kita lanjut cari ke tempat lain.""Selain itu, saya juga bakal minta bantu

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 213

    "Yey... Akhirnya hari yang kita tungu-tunggu tiba.." ucap Siska. Penantiannya setelah dua bulan, akhirnya terwujud. "Iya, akhirnya.."Pagi itu suasana gedung yang menjadi tempat wisuda Universitas Negeri Omeron terasa sangat ramai dan dipadati banyak orang. Area parkir penuh. Halaman dipadati keluarga yang datang dengan berbagai ekspresi. Entah itu rasa bangga, haru, dan juga tidak sabar untuk segera selesai. Andini berdiri di depan cermin. Ia merapikan toga yang sejak tadi sudah ia kenakan. Tangannya bergerak pelan. Memastikan semuanya terlihat rapi."Gimana, udah pas belum?" tanyanya sambil sedikit menoleh ke arah Siska. Siska yang berdiri tidak jauh dari sana langsung mendekat. Ia memperhatikan sebentar, lalu mengangguk. "Udah oke kok. Tinggal senyumnya aja yang belum maksimal."Andini menghela napas kecil. "Sumpah! Deg degan banget gue, Sis."Siska tertawa pelan. "Apaan sih, kita kan tinggal jalan sama duduk doang. Ngapain coba lo sampe deg degan gitu.""Iya, tapi tetap aja r

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 212

    "Untuk itu, biar Andini aja yang jelasin, Om," ucap Siska. Ia langsung melirik ke arah Andini sambil tersenyum kecil. Seolah, ia menyerahkan sepenuhnya kepada Andini untuk menjelaskan.Andini menarik napas pelan, lalu menjawab dengan tenang. "Kami berencana mau mulai usaha, Om. Tempat makan kecil dan sederhana, sekalian sama toko kue juga."Agung langsung terlihat tertarik. "Oh ya? Udah kepikiran konsepnya?""Udah. Tapi masih tahap awal," jawab Andini jujur. "Kita mau fokus ke makanan rumahan sama makanan penutupnya. Nggak terlalu banyak menu sih, biar kualitasnya tetep terjaga."Siska mengangguk. "Iya. Kita juga mikirnya bikin yang sederhana dulu dan menarik. Jadi nggak langsung besar."Andini lalu menoleh ke arah Cinta. "Dan soal dapur, masih sama seperti yang aku info kemarin ke Tante. Tante yang akan pegang dapur sama pengendali kualitas makanannya."Cinta tersenyum. Ia kembali mengingat pembicaraan mereka sebelumnya. "Iya, kamu udah bilang waktu itu."Agung langsung mengangguk m

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 211

    "An?" panggil Siska. Andini menoleh ke arah Siska sambil tersenyum. Suasana pagi di kampus terasa jauh lebih ramai dari biasanya. Beberapa mahasiswa dan mahasiswi masih sibuk dengan berkas. Ada juga yang duduk diam sambil membaca ulang catatan terakhir.Andini sendiri sedang duduk di salah satu kursi tunggu di depan ruang sidang. Tangannya menggenggam map cukup erat. Sementara matanya sesekali melihat ke arah pintu.Siska duduk di sampingnya, terlihat jauh lebih santai dibanding kemarin saat gilirannya sidang."Lo deg-degan ya?" tanya Siska sambil melihat ke arah Andini.Andini menghembuskan napas pelan. "Pasti. Gue takut banget nge-blank pas udah sampe di dalem!" ucap Andini. "Kalo itu terjadi, bisa ancur nilai gue!""Wajar," jawab Siska. "Gue juga kemarin gitu. Tapi pas udah masuk, malah lebih fokus ke jawab pertanyaan."Andini mengangguk pelan. "Kemarin lo dapet A kan?"Siska nyengir. Tapi jelas dari wajahnya terlihat rasa penuh kemenang. "Iya. Keren kan? tanya Siska, bangga."Ke

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 210

    "Oke sih..," jawab Siska. Siska mengangguk pelan, matanya masih tertuju pada layar laptop di hadapannya. Beberapa detik ia diam, seolah benar-benar mencerna semua yang sudah dijelaskan Andini."Gue setuju," lanjutnya.Andini langsung menoleh. "Serius nih?""Iya," jawab Siska mantap. "Ini jelas, rapi, dan realistis. Nggak muluk-muluk tapi tetap punya value."Andini menghela napas panjang. Ia benar-benar merasa lega sekarang. "Baguslah kalo gitu. Gue cuma takut kalo rencana gue ini terlalu sederhana.""Justru itu yang jadi kekuatannya," balas Siska. "Orang-orang sekarang lebih nyari yang nyaman, bukan yang ribet."Andini tersenyum kecil. "Berarti, kita lanjut nih ya?"Siska mengangguk pelan. "Lanjut dong.."Hening sejenak. Tapi bukan hening yang kosong, melainkan lebih ke arah hening yang penuh pikiran dan perhitungan.Siska menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Jujur ya, An…"Andini menoleh. "Apa Sis?""Gue nggak nyangka bakal sampai di titik ini," ucap Siska pelan. "Punya rencana usaha se

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 134

    "Beb.. " panggil Bastian lagi. Ia benar-benar menunggu jawaban dari Siska. "Kamu mau kan?" Siska mengangguk pelan. Wajahnya memerah karena malu. "Bagus! Makasih udah mau nerima aku ya Bab!" "Tapi Beb, saat ini kita hanya bahas kepastian hubungan. Untuk lamaran resminya, kamu tetap harus

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 133

    "Jadi?""Jadi apa, Yah?!" tanya Siska dengan suara sedikit parau. "Apa kamu udah merasa lebih baik sekarang?!" tanya Satria lagi. "Iya, udah baikkan kok, Yah."Satria tersenyum kecil. "Baguslah! Selain itu, apa ada lagi yang ganggu pikiran kamu, sayang?!"Siska mengangguk pelan. Alis Satria sali

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 132

    "Siska!" panggil Satria.Ia membuka pintu kamar anak semata wayangnya dengan cukup kasar. Wajahnya terlihat tegang dan khawatir. Siska menoleh ke daun pintu yang baru saja terbuka. Di mana Ayahnya berada saat ini. Ia tersenyum tipis. Bukannya tidak enak hati, ia malah senang melihat rasa khawatir

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 139

    "Nggak, An!" jawab Dila. "Tadi Pak Satria sempet hubungin aku, katanya untuk acara kali ini, kalau persiapan udah selesai, aku bisa langsung pulang!""Oh gitu, Mbak! Emangnya, sekarang Pak Satria belum sampe kantor?" tanyanya. Karena memang sejak tadi, ia belum sempat buka ponsel dan menghubungi S

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-31
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status