Share

Bab 214

Author: Saggyryes
last update publish date: 2026-04-01 13:15:50

"Aku coba telpon lagi," gumam Andini.

Ia kembali menekan tombol hijau di ponselnya. Namun sayangnya, tidak ada jawaban. Sama seperti sebelumnya.

Waktu terus berjalan. Satu jam yang tadi terasa masih bisa ditunggu, sekarang berubah jadi beban yang sangat menekannya.

Andini berdiri dengan ponsel yang masih berada di tangan. Ia kembali mencoba menghubungi Cinta. Nada sambung terdengar, namun tiba-tiba terputus lagi.

Ia menutup mata sejenak. "Masih nggak diangkat," ucapnya.

Siska yang berdiri d
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 221

    "Kita jalan sekarang, ya?" tanya Satria, memastikan. "Iya," jawab Andini dan Siska, hampir bersamaan. Mobil kembali melaju meninggalkan rumah. Sepanjang perjalanan, suasana tetap tenang. Cinta lebih banyak memejamkan mata, sementara Andini sesekali melirik untuk memastikan kondisinya baik-baik saja.Sekitar sepuluh menit kemudian, mobil memasuki halaman rumah Satria."Udah sampai, Tan," ucap Andini pelan.Cinta membuka matanya perlahan. Ia mengangguk kecil."Iya."Siska turun lebih dulu, lalu membantu membuka pintu.Andini menggenggam tangan Cinta. "Pelan-pelan ya, Tan."Cinta turun dengan hati-hati. Langkahnya masih pelan, tapi lebih stabil.Begitu masuk ke dalam rumah, suasana terasa jauh lebih tenang dibanding saat mereka berada di dua tempat sebelumnya. Tidak ramai dan juga tidak banyak suara.Satria berjalan lebih dulu. "Untuk Kamar Tante, kita pakai kamar tamu yang deket dengan kamar kita aja ya. Tadi saya udah minta Bi Sarmi untuk rapihkan," ucapnya kepada Andini. "Iya saya

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 220

    "Tan..," panggil Andini. Cinta tidak menjawab. Ia masih duduk dengan kepala sedikit tertunduk. Napasnya mulai lebih teratur, meski wajahnya tetap pucat.Satria menatap Andini sebentar, lalu kembali ke Cinta. "Tan, kita pulang sekarang ya," ucapnya lebih pelan.Cinta tidak langsung menjawab. Tangannya masih menggenggam ujung bajunya. Beberapa detik kemudian, ia menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya…"Satria menghela napas tipis. Ia lalu menoleh ke arah Bob yang berdiri tidak jauh dari area pemakaman."Bob," panggilnya.Bob segera berjalan mendekat. "Iya, Pak. Ada yang bisa saya bantu?""Kami mau pulang dulu. Untuk sisanya, tolong dibantu sampai selesai ya," ucap Satria.Bob mengangguk sigap. "Baik, Pak. Tenang aja, semua akan saya urus dan laporkan setelah selesai.""Terima kasih.""Sama-sama, Pak."Mereka bangkit dari duduknya dan berjalan pelan menuju mobil.Langkah Cinta masih sedikit berat, tapi kali ini sudah lebih stabil dibanding sebelumnya. Andini tetap di sampingnya, sement

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 219

    "Tenang, Tan..," ucap Andini. Lagi-lagi ia berusaha menenangkan. Tangannya menepuk lembut pundak Cinta. Cinta menarik nafas panjang. Ia masih berdiri di dekat jenazah Agung. Tangannya belum juga lepas dari lengan yang sudah dingin itu. Bahunya turun pelan, napasnya tidak lagi bergetar seperti tadi. Dan justru menjadi lebih berat, lebih dalam, seperti sedang ditahan. Beberapa orang mulai mendekati Cinta secara bergantian. Mulai dari tetangga dekat hingga keluarga besar. "Yang sabar ya, Bu Cinta. Kita semua benar-benar kaget. Pak Agung pergi mendadak banget."Ucapan-ucapan itu datang pelan, tidak ada yang berlebihan. Hanya sapaan singkat, jabat tangan, dan tatapan iba.Cinta mengangguk setiap kali seseorang berbicara. Tidak banyak yang ia jawab. Tangannya sesekali terangkat untuk membalas salam, lalu kembali jatuh di samping tubuhnya.Andini tetap di dekatnya. Sesekali, ia membantu menjawab atau sekadar menganggukkan kepalanya kepada orang-orang yang datang."Tan, duduk dulu ya," b

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 218

    "Ayo, Tan," ajak Andini, ketika tiba-tiba saja Cinta menghentikan langkahnya. "Iya."Mereka menggunakan taksi online untuk pulang ke rumah. Siska yang memesannya saat ia kembali setelah selesai mengurus administrasi. Siska jugalah yang mengabarkan kepada Satria kalau Cinta sudah sadar dan mereka pulang duluan. Saat perjalanan pulang, tidak ada satupun yang bicara. Siska duduk di depan. Sementara Andini duduk di belakang bersama Cinta. Sejak mobil berjalan, Cinta hanya menatap lurus ke depan. Tangannya terlipat di pangkuan. Sesekali, ia menggenggam ujung bajunya sendiri.Andini juga tidak banyak bicara. Ia berusaha menahan sesak dan nyeri yang mendera di dalam dada. Dan hanya sesekali melirik ke arah Cinta untuk memastikan kondisinya tetap stabil."Tan, kalo capek, sandaran aja," ucap Andini pelan.Cinta menggelengkan kepalanya perlahan. "Tante nggak capek kok."Mereka kembali terdiam. Tidak ada lagi suara yang ke luar dari dalam mobil. Di sana, hanya terdengar suara mesin dan klaks

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 217

    "Tenang ya, Tan," ucap Andini lagi. Ia bangkit dari duduknya dan memeluk lembut tubuh Cinta. Beberapa menit kemudian, Cinta masih terdiam. Tangisnya tidak lagi deras. Tapi napasnya masih sesekali tersendat.Beberapa saat kemudian, Cinta membuka matanya perlahan. Ia melepas pelukkan Andini perlahan. Sisa air mata masih tersisa di pipi Cinta. Andini menjulurkan tangannya dan menghapusnya dengan lembut. "An..," panggil Cinta, pelan."Iya, Tan," jawab Andini. "Om sekarang ada di mana?" tanya Cinta. Suaranya terdengar lemah. Tapi sudah lebih jelas dibanding sebelumnya.Andini menatapnya sebentar. Memastikan kondisi Cinta sudah cukup stabil untuk menerima jawabannya. "Sekarang Om ada di ruang jenazah, Tan," ucapnya pelan. "Lagi ditangani sama pihak rumah sakit."Cinta mengangguk kecil. Tatapannya kosong beberapa detik, seolah mencerna kalimat itu."Tante boleh lihat?" tanya Cinta lagi.Andini menatap Siska sebentar, lalu kembali ke Cinta."Nanti ya, Tan. Tunggu Tante agak kuat dulu,"

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 216

    "Sayang..," panggil Andini. "Iya, An.""Aku nggak nyangka ini bisa terjadi. Aku nggak pernah berfikir bakal kehilangan orang yang aku sayang seperti ini..," ucap Andini, pelan. "Saya paham, An. Tapi kita harus sadar, setiap yang hidup pasti akan mengalami kematian. Hanya saja, kita nggak tau kapan itu akan terjadi," ucap Satria. "Sekarang, tugas kamu adalah kuat. Bukan cuma untuk bayi kembar kita. Tapi juga Tante kamu. Tante yang udah besarin kamu dari kecil," lanjutnya. Satria melepas pelukkannya perlahan. Ia menghapus lembut air mata yang masih saja keluar dari mata indah istri cantiknya itu. "Iya. Kamu bener sayang," jawab Andini dengan suara yang masih terisak dan terdengar lirih. Ia menarik napas dalam-dalam. Dadanya masih terasa sangat berat. Tapi perlahan, ia memaksa dirinya untuk lebih stabil. Tangan Andini juga terulur dan mengelus lembut perutnya. Seolah, ia sedang mengingatkan dirinya sendiri bahwa ada dua bayi yang perlu dikontrol emosinya. Satria memperhatikan itu

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 166

    "Oh ya?" tanya Satria. Andini menganggukkan kepala perlahan. Satria menatap Andini beberapa detik setelah mendengar ucapannya. Ia menghela napas kecil sambil tersenyum tipis."Kamu ini… kalau ngomong suka bikin orang kehabisan kata-kata."Andini tertawa kecil. "Memangnya salah? Kamu juga ngerasa

    last updateLast Updated : 2026-04-04
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 169

    "Siapa lagi yang nelpon pagi-pagi gini?" umpat Siska. Ia baru saja selesai merapikan tempat tidur, ketika ponselnya berdering. Ia berjalan menuju nakas dan mengambil ponselnya. Lalu ia duduk di pinggir tempat tidur. Ia membuka layar ponsel dan melihat nama Andini muncul di sana.Ia sempat terdiam

    last updateLast Updated : 2026-04-04
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 172

    "Banyak," ucap Rania. Ia tersenyum tipis. Tangannya tetap memegang kemudi dengan tenang.Siska mengerutkan kening."Contohnya?"Rania menarik napas dan menghembuskannya perlahan sebelum menjawab."Nenek bangga karena kamu bisa menurunkan ego kamu, sayang."Siska terdiam sejenak. "Ego?" ulangnya p

    last updateLast Updated : 2026-04-04
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 170

    "Gimana, tadi seru kan?!" tanya Andini. Siska menoleh ke arah Andini. "Lumayan!"Saat ini, mobil yang ia kendarai, kembali melaju meninggalkan restoran.Andini menyetir dengan santai, sementara di kursi belakang Rania dan Cinta masih membicarakan beberapa menu yang tadi dicicipi."Menurutku supnya

    last updateLast Updated : 2026-04-04
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status