LOGIN"Aduh.. Badan kok jadi nggak enak banget..," gumam Andini. Menjelang sore, suasana toko dan rumah makan mulai sedikit longgar. Antrean masih ada, tapi tidak sepadat pagi sampai siang tadi. Beberapa meja sudah mulai kosong, dan ritme kerja di dapur mulai berjalan perlahan.Andini bangkit dari duduknya setelah cukup lama hanya memperhatikan sekitar karena tubuhnya yang semakin tidak mendukung untuk melakukan pekerjaan fisik. Ia berjalan menghampiri Cinta yang sedang mencatat pesanan tambahan."Tan," panggilnya.Cinta menoleh. "Iya, An?""Aku izin pulang dulu ya. Badan aku kayaknya udah nggak bisa diajak kerjasama."Cinta langsung mengangguk tanpa ragu. "Iya, pulang aja. Dari tadi juga Tante udah mau nyuruh kamu pulang, cuma ketahan terus karena banyak panggilan dari pelanggan.""Iya, nggak apa-apa Tan. Akubcapek banget soalnya. Pusing juga," kata Andini. "Itu wajar, An. Kamu tuh lagi hamil tua, jadi nggak bisa terlalu capek. Besok juga sebaiknya kamu nggak usah dateng dulu. Istiraha
"Mbak," panggil seorang pelanggan. "Iya, Kak," jawab salah satu karyawan, sambil tersenyum ramah. "Aku mau yang blueberry cheese 2 ya..""Siap.""Sama milkshake coklatnya 1.""Baik. Ada lagikah Kak?" tanya karyawan tersebut lagi. "Udah, itu aja."Sedangkan di dapur, Cinta sedang mengecek roti yang sedang di panggang dan persediaan bahan baku toko roti dan kue. Setelah memastikansemua berjalan dengan baik dan mencatat stok yang sudah menipis, ia beralih ke dapur belakang untuk mengecek makanan dan minuman pesanan pelanggan rumah makan. Aktivitas di dapur dan area depan berjalan hampir tanpa jeda. Suara pesanan dipanggil, bunyi peralatan, dan langkah kaki yang hilir mudik bercampur menjadi satu.Siska berpindah dari satu meja ke meja lain dan membantu menyiapkan pesanan yang semakin menumpuk. Tangannya bergerak cepat, tapi tetap rapi dan bersih.Di sisi lain, Andini terlihat masih ikut membantu, meskipun gerakannya tidak secepat biasanya.Cinta yang sejak tadi memperhatikan, akhirny
"Bas..," panggil Siska lagi, karena belum juga ada jawaban dari Bastian. Bastian menghela napas pelan, lalu menatap ke arah depan dengan ekspresi yang sedikit lebih serius."Awalnya, semua emang kelihatan aman dan masalah cuma ada di Ibu karena tergiur harga tinggi," ucapnya. "Secara administrasi, semuanya juga udah beres, nggak ada masalah. Tapi ternyata di lapangan beda ceritanya."Siska sedikit mengernyit. "Maksud kamu gimana?""Ada orang di desa yang nggak suka sama almarhum Bapak," ucap Bastian. "Bukan dari keluarga. Tapi salah satu orang yang cukup berpengaruh di desa kami. Dia punya banyak relasi, bahkan sampai ke kota," lanjutnya. Siska diam, mendengarkan dengan seksama. "Seperti yang kamu tau, kami sempat coba bertahan," kata Bastian lagi. "Cuma lama-lama jadi nggak nyaman. Bukan yang ribut besar sih, tapi lebih ke tekanan kecil yang terus menerus. Dipersulit, diawasi, kadang kayak sengaja bikin lingkungan sekitar juga jadi nggak nyaman.""Ngeri juga ya," gumam Siska pela
"Masa sih?" tanya Bastian. Ia merentangkan kedua tangan, bersiap menyambut kekasih hatinya masuk ke dalam pelukkan. Siska melangkah masuk tanpa ragu, lalu langsung memeluk Bastian. Beberapa saat kemudian ia menciumi bahu Bastian. "Aku mau kamu," gumamnya. Bastian refleks membalas pelukannya, tangannya menepuk pelan punggung Siska. "Mau aku layanin dengan gaya apa? Gaya kayang, gaya tenggelem, atau gaya apa? Kamu tinggal sebut aja," tanya Bastian, seraya meledek Siska. Siska mendongakkan kepalanya sedikit dan menatap wajah Bastian dengan senyum tipis dan sedikit jahil. "Apa aja, yang penting enak."Bastian menghela napas pendek sambil menggelengkan kepalanya. "Kamu tuh ya. Paling bisa kalo soal beginian."Siska tidak menjawab. Ia hanya tersenyum, lalu menarik tangan Bastian pelan ke arah kamar.Lampu kamar tidak dinyalakan sepenuhnya. Hanya cahaya redup yang membuat suasana terasa lebih tenang. Siska mulai mencium bibir Satria dengan lembut. Kelelahan Siska seolah bercampur deng
"Lumayan banget ya responnya," ucap Cinta, sambil tersenyum kecil mendengar celetukkan para pelanggan.Satria menganggukkan kepalanya perlahan. "Iya. Ini bagus banget! Kalian emang hebat!"Andini tersenyum. Sudut-sudut bibirnya terangkat cukup lebar. "Syukurlah usaha kita selama ini membuahkan hasil yang sangat baik."Menjelang siang, mereka mulai bisa sedikit bernapas lega. Pengunjung masih datang, tapi tidak sepadat sebelumnya.Rania kembali menghampiri Andini dan Cinta."Parah sih, ini mah enak banget," ucap Rania.Cinta tersenyum kecil. "Serius?""Iya. Aku sih yakin kalo rumah makan dan toko roti dan kue ini bakal laku terus," ucap Rania dengan penuh keyakinan. "Aamiin," jawab Andini.Rania melirik ke sekeliling. "Dan satu lagi. Ini rame banget loh... Kalian harus segera melakukan persiapan lebih buat grand opening nanti."Andini menganggukkan kepalanya perlahan, "iya, Bun.""Emang rencananya kapan?" tanya Rania. "Mungkin dua minggu lagi, Bun," jawab Andini. "Bagus. Waktunya pa
"Iya," jawab Andini. Andini merapikan kembali beberapa kertas di atas meja. "Besok, kita datang lebih pagi ya. Minimal dua jam sebelum buka," lanjutnya. "Iya. Kalo bisa lebih pagi," jawab Siska. "Biar nggak kelabakan."Cinta ikut menambahkan, "Betul. Jadi kita bisa cek ulang dapur sama display."Satria bangkit dari duduknya. Ia berfikir kalo tidak dipotong, mungkin mereka bisa lebih di sana. "Ya udah, kita pulang sekarang.""Oke," jawab Andini, Cinta dan Siska bersamaan. Mereka bangkit dari duduknya. Namun sebelum itu mereka kembali memastikan tidak ada yang tertinggal. Lalu, satu per satu keluar dari rumah makan. Dalam perjalanan pulang, tidak ada satupun yang berbicara. Mereka sengaja menyimpan tenaga untuk esok hari ***Keesokan harinya, mereka sudah tiba lebih awal dari rencana. Jam masih menunjukkan pukul setengah tujuh ketika Satria membuka pintu utama rumah makan. Udara pagi masih terasa sejuk. Dan suasana di sekitar belum terlalu ramai."Suasananya enak banget ya. Udara
"Yakin?" tanya Satria, memastikan. Andini mengangguk. Ia sangat yakin dengan keputusannya. "Baiklah kalau begitu." tutur Satria pasrah. "Ya udah, Ayah balik ke kantor gih!" perintah Siska. "Kan udah ada aku di sini.""Memang kamu bisa urus Andini sendirian?" tanya Satria, ragu. Siska mengerutk
"Baguslah." jawab Satria. Ia bersyukur bisa kembali melihat senyuman di wajah Andini. Jujur, saat tadi mengantar Andini ke rumah sakit, ia sempat khawatir Andini membutuhkan waktu yang lama untuk kembali pulih seperti semula. Namun, perkiraannya ternyata salah. Andini, lebih kuat dari apa yang ia
"Nggak!" tegas Satria, lagi. Raya membulatkan matanya. Hancur sudah harapan yang sebelumnya ia pikir sudah mendapatkan titik terang. "Maksudnya nggak gimana, Sat?!" Satria berdecak sebal. "Bukankah Tante tau, kalau Ayah dan aku telah berbaik hati menerima dan memberikan ilmu terbaik kami tentang
"Masuk... " ucap Satria saat mendengar ketukkan dari balik pintu. Setelah ia mendengar Satria memperkenankannya masuk, ia segera melenggang masuk ke dalam ruangan. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Bob. 'Sepertinya ia berhasil mendapatkan tanda tangan Satria.' batin Bob saat melihat Zaskia







