Se connecter"Akhirnya, bisa istirahat juga," gumam Siska, pelan. Kamarnya hanya diterangi lampu tidur kecil berwarna kuning. Setelah seharian mengurus pekerjaan toko sekaligus memastikan beberapa detail pernikahan terakhir, tubuhnya benar-benar terasa lelah.Ia baru saja selesai memakai skincare ketika ponselnya bergetar di atas kasur.Nama Johan muncul di layar. Siska langsung tersenyum kecil lalu segera menerima panggilan video itu."Wah..." gumamnya pelan saat wajah Johan muncul di layar. "Akhirnya calon suami muncul juga ke permukaan."Johan tertawa kecil dari seberang sana. Wajahnya terlihat lelah, tapi matanya langsung berubah hangat begitu melihat Siska."Jahat banget ngomongnya," ucap Johan, sambil tersenyum tipis. "Abisnya, sibuk terus sih. Kayak nggak ada jeda sama sekali.""Iya, maaf..," jawab Johan pelan.Ia menyandarkan tubuhnya di kursi hotel sambil memperhatikan wajah tunangannya cukup lama. Sedangkan Siska ikut duduk di atas kasur sambil memeluk bantal."Kamu kayaknya capek bang
"Semalam iya, Pak," jawab Bastian, sambil tersenyum tipis.Sedangkan Oni langsung fokus pada cucunya."Aduuuhh cucu Nenek... Nenek kangen banget sama kamu, sayang," ucapnya gemas sambil mengambil Soni perlahan dari gendongan Bastian.Soni langsung mengeluarkan suara kecil sambil menggerakkan kaki mungilnya."Tuh kan, Soni hafal sama suara Nenek. Makanya langsung senyum dan ketawa-ketawa ya," gumam Oni senang.Rudi duduk perlahan di sofa sambil memperhatikan Bastian beberapa saat."Kamu libur hari ini?" tanya Rudi. "Iya, Pak.""Liburnya setiap weekend apa gimana?" tanya Rudi, lagi. "Iya setiap weekend dan tanggal merah, Pak."Percakapan itu terdengar kaku, tapi tidak terlalu buruk.Alya yang melihat dari dapur sesekali melirik ke arah mereka sambil menahan gugup. Ia tahu ayahnya memang bukan tipe orang yang mudah akrab dengan orang baru."Mas, boleh tolong ambilin baskom di atas sini?" tanya Alya, seraya meminta bantuan Bastian dari arah dapur."Oke," jawab Bastian."Maaf, Pak saya i
"Ah, Mas..," desah Alya. Bastian langsung menggiring Alya ke tempat tidur. Bibirnya kembali menyesap dada Alya. Mirip seperti Soni, tapi jelas Bastian lebih agresif karena sambil menyesap kedua gununv secara bergantian, tangannya mereka gunung tersebut. Perlahan, bibir Bastian turun ke perut dan tangannya menurunkan dan melepas celana Alya. Tinggallah segitiga yang menutupi bagian intinya. Tangan Bastian menyusup masuk ke dal bagian inti Alya yang kini mulai basah. Ia bermain dan memasukkan jarinya perlahan di sana. Bagian inti Alya terasa sempit, meski sudah beberapa kali dimasukkan jari-jari Bastian. Berbeda jauh dengan milik Siska. "Punya kamu sempit banget, Al. Aku jadi makin penasaran," bisik Bastian, ditelinga Alya. "Lakukan aja, apa yang kamu mau lakukan ke aku, Mas."Sudut-susut bibir Bastian sedikit terangkat saat mendengar Alya mengucapkan hal itu. Seolah, ia baru saja mendapatkan persetujuan yang sangat berarti. Dengan cepat, Bastian melebarkan paha Alya dan membuka s
"Ah.."Tubuhnya hampir jatuh ke belakang. Untungnya, Bastian refleks langsung menarik lengannya dengan cepat. Dan akhirnya, Alya langsung menabrak dada Bastian cukup keras. Kedua tangan lelaki itu spontan menahan pinggang Alya agar tidak jatuh.Suasana mendadak menjadi hening.Alya masih memegang lengan Bastian cukup erat karena kaget. Sedangkan Bastian menunduk menatap Alya yang kini benar-benar berada sangat dekat dengannya."Kamu nggak apa-apa?" tanya Bastian pelan.Alya mengangguk pelan. Nafasnya sempat tidak teratur karena kaget."Nggak apa-apa. Lantainya licin..." gumamnya pelan.Bastian menghela napas pelan. "Untung nggak jatuh."Namun setelah itu, tidak ada lagi yang bicara. Dan entah kenapa, posisi mereka juga tidak berubah sedikitpun. Tangan Bastian masih berada di pinggang Alya. Sedangkan Alya perlahan sadar kalau jarak wajah mereka sekarang terlalu dekat.Degup jantung Bastian terdengar jelas.Dan Alya bisa merasakan itu. Tatapan mereka saling bertemu cukup lama. Bastian s
"Aku paham, Mas," ucap Alya. Ia masih berdiri di dekat meja makan. Kain lap di tangannya perlahan berhenti bergerak. Beberapa detik, ia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa selain apa yang barusan ia ucapkan. Tatapan Bastian terlihat serius, tidak menyiratkan rasa bercanda sama sekali. Hanya saja, Alya sadar kalau Bastian bicara seperti itu karena kasihan pada Soni. Hal itulah yang membuat dada Alya terasa semakin tidak nyaman."Aku tau ini tiba-tiba," ucap Bastian pelan.Alya sempat menunduk sebelum akhirnya menarik napas pelan."Kamu ngomong kayak gini karena Soni?" tanyanya hati-hati.Bastian terdiam sebentar. "Salah satunya, iya.""Dan yang lainnya?" tanya Alya, penasaran. Bastian terlihat berpikir sejenak sebelum akhirnya menjawab jujur."Entah kenapa, aku mulai capek hidup setengah-setengah kayak sekarang, Al."Alya menatap lurus ke wajah Bastian. Sedangkan Bastian bersandar di dekat wastafel sambil menatap lantai beberapa saat."Aku dateng ke sini hampir tiap hari. Main
"Wahh," ucap Alya. Ia tersenyum dan terpana karena tangisan Soni langsung berhenti seketika begitu melihat wajah Bastian. Mata kecil bayi itu membulat beberapa detik sebelum akhirnya bibirnya membentuk senyum lebar kecil yang menggemaskan. "Heh... ketawa dia," gumam Alya pelan. Bastian ikut tersenyum tanpa sadar. Raut wajahnya yang sejak tadi terlihat berat perlahan mulai melembut. "Jagoan Ayah seneng lihat Ayah, hm?" tanyanya lirih, sambil menggoyang pelan tubuh Soni. Soni malah semakin heboh menggerakkan tangan kecilnya sambil mengeluarkan suara-suara bayi yang belum jelas. Sesekali ia tertawa kecil saat Bastian sengaja mendekatkan wajahnya. "Aduh, kamu lucu banget sih, nak,” gumam Bastian pelan. Alya memperhatikan mereka berdua dari dekat sambil tersenyum tipis. Sudah beberapa kali ia melihat Bastian bermain dengan Soni. Namun setiap melihatnya lagi, perasaan Alya tetap terasa hangat. Karena Soni memang terlihat sangat dekat dengan Ayahnya. Bastian kemudian dud
"Masuk... " ucap Satria saat mendengar ketukkan dari balik pintu. Setelah ia mendengar Satria memperkenankannya masuk, ia segera melenggang masuk ke dalam ruangan. "Ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanya Bob. 'Sepertinya ia berhasil mendapatkan tanda tangan Satria.' batin Bob saat melihat Zaskia
"Yakin?" tanya Satria, memastikan. Andini mengangguk. Ia sangat yakin dengan keputusannya. "Baiklah kalau begitu." tutur Satria pasrah. "Ya udah, Ayah balik ke kantor gih!" perintah Siska. "Kan udah ada aku di sini.""Memang kamu bisa urus Andini sendirian?" tanya Satria, ragu. Siska mengerutk
"Satria... " panggil Zaskia. "Aku tau kamu sudah kembali dan ada di dalam, Sat!" lanjutnya. Ia kembali membuat kegaduhan. Dan kali ini, di kantor. Satria yang pandangannya sudah mulai fokus melihat laptop, beralih ke daun pintu sesaat. Di mana Zaskia dan Dila sedang berselisih karena Dila tidak
"Lepas... " teriak Andini. Brak! Tiba-tiba terdengar suara pintu di buka. Andini dan Dion yang tadi berada di balik pintu, kini sudah pindah di tembok sebelah kiri, dekat tangga. Jauh dari pintu. Hal itu disebabkan karena Andini yang terus memberontak dan membuat mereka bergeser. Sehingga Satri







