LOGIN"Mudah-mudahan Andini belum tidur," gumam Satria. Setelah menutup pintu kamar dan memastikan Siska benar-benar sudah beristirahat. Langkahnya cukup panjang saat berjalan menuju kamarnya sendiri. Begitu membuka pintu, ia melihat Andini sudah terbaring di tempat tidur. Lampu samping menyala redup, selimut menutup sampai bahunya.Satria menghela napas kecil, lalu berjalan mendekat."Yah… kok kamu udah tidur sih. Padahal, saya kangen sama kamu."Andini bergerak sedikit. Suara Satria yang samar rupanya masih tertangkap olehnya. Ia membuka mata perlahan, lalu berbalik menghadap Satria."Kangen… mau apa?" tanyanya, suaranya masih berat karena kantuk.Satria tersenyum tipis. Ia duduk di sisi tempat tidur, lalu mengusap rambut Andini dengan lembut."Mau kamu," jawabnya singkat.Andini menatapnya beberapa detik. Tidak ada respon berlebihan, hanya senyum kecil yang perlahan muncul di sudut bibirnya. Ia sedikit menggeser posisi, memberi ruang.Satria mematikan lampu utama, menyisakan lampu redu
"Bagus," ucap Satria."Kok bagus sih, Yah?" tanya Siska dengan kening berkerut. "Iya, bagus. Karena itu berarti kamu udah belajar banyak."Beberapa saat, tidak ada lagi yang berbicara diantara mereka berdua. Lalu, Satria kembali membuka mulutnya."Apa Johan tau kondisi kamu saat ini?" tanya Satria."Tau, Yah. Lebih tepatnya sebagian. Karena aku belum cerita semuanya ke dia."Satria mengangguk pelan. "Nggak apa-apa. Nggak semua harus dibuka sekaligus."Siska menatap lurus ke wajah Ayahnya."Ayah cuma mau kamu nggak jadiin di pelampiasan. Atau hanya buat nutupin luka yang saat ini masih menganga."Siska terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan."Aku nggak gitu, Yah."Satria menatapnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan. "Ya udah, Ayah percaya sama kamu."Kalimat itu sederhana, tapi cukup membuat napas Siska terasa lebih ringan.Satria lalu menepuk kepala Siska pelan."Sekarang, istirahat yang cukup. Besok kamu kerja, kan?"Siska mengangguk kecil. "Iya, Yah."Satria bangkit dari dudukn
"Sayang..," panggil Andini. Ia duduk di tempat tidur, sambil bersandar pelan di bahu Satria. Tubuhnya sedikit lelah, seperti baru benar-benar berhenti setelah seharian menahan banyak hal.Satria membiarkannya. Tangannya sesekali mengusap lengan Andini, ritmenya cukup pelan."Kenapa? Kamu lagi capek?" tanya Satria. Suaranya terdengar pelan.Andini menggeleng kecil. "Capek sih, pasti. Tapi kali ini lebih ke pikiran."Satria menoleh sedikit. "Ada apa emangnya?"Andini menarik napas, lalu menghembuskannya perlahan. Ia mulai bercerita. Tidak terburu-buru, tapi cukup menggebu karena campuran emosi yang tidak tertahanlan. Ia menyampaikan semuanya, dari awal sampai akhir.Tentang Bastian yang datang, percakapan mereka, hingga sikap Siska yang tetap terlihat tenang dari biasanya, da akhirnya ia benar-benar runtuh saat ia sendirian.Satria mendengarkan tanpa menyela sedikitpun. Ia tau yang dibutuhkan Andini saat ini adalah, telinganya. "Dia sengaja nahan diri banget pas di depan kasir. Tapi p
"Udah selesai," gumam Bastian. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke luar toko. Dan pintu toko berbunyi pelan saat Bastian keluar. Suaranya tidak keras, tapi cukup untuk menandai bahwa semuanya benar-benar telah selesai.Siska tetap berdiri di belakang kasir beberapa detik setelah itu. Tangannya masih bertumpu di meja. Napasnya ia tahan sebentar, lalu dihembuskan perlahan."Hah..," ucap Siska. Bukan lega sepenuhnya. Tapi juga bukan rasa ragu yang tiba-tiba muncul. Ia menunduk sedikit, lalu menggeser posisi berdirinya. Tangannya meraih sisi meja, seperti mencari pegangan.Beberapa detik berlalu. Lalu ia menarik napas lebih dalam."Aku ke toilet sebentar ya," ucapnya singkat ke arah karyawan yang ada di dekat kasir.Tanpa menunggu jawaban, Siska langsung berjalan ke arah dalam. Langkahnya masih terlihat tenang. Tidak terburu-buru ataupun goyah.Tapi begitu pintu toilet tertutup di belakangnya, Siska langsung bersandar ke dinding.Tangannya menutup mulut. Dan dalam hitungan detik,
"Iya," jawab Siska. Menjelang siang, suasana mulai berubah. Tidak langsung sepi, tapi pengunjung perlahan mulai berkurang. Meja yang tadinya penuh mulai kosong satu per satu. Suara obrolan pelanggan juga tidak lagi seramai sebelumnya. Siska berdiri di belakang kasir, mengecek laporan singkat di tablet. Tangannya bergerak pelan, lebih santai dibanding tadi pagi. Andini mendekat sambil melipat tangan di depan dada."Udah mulai sepi nih, Sis," ucap Andini, pelan.Siska menganggukkan kepalanya. "Iya. Kayaknya udah bisa sedikit nafas, sekarang."Andini melirik ke arah salah satu meja."Bastian masih di situ tuh," bisiknya.Siska hanya mengangguk dan tidak langsung menoleh. Ia sudah tau karena tadi sempat lihat ke sana. "Iya,” jawabnya singkat."Lo mau samperin sekarang, apa gimana?" tanya Andini.Siska menghembuskan nafas pelan. "Gue selesain ini dulu palingan."Andini mengangguk. "Ya udah, gue ke depan, ya."Siska tidak menjawab lagi. Ia menyelesaikan beberapa catatan terakhir, memast
"Gimana Sis, aman?""Aman," jawab Siska. Pagi itu terasa lebih hidup dari biasanya. Sejak pintu dibuka, pengunjung sudah mulai berdatangan. Tidak meledak, tapi stabil. Justru itu yang terasa lebih nyaman sekarang. Siska berdiri di belakang kasir, sesekali mencatat di tablet, atau membantu staf yang terlihat kewalahan.Di sisi lain, Andini terlihat jauh lebih aktif. Ia berdiri di area depan, menyapa beberapa tamu yang datang, sesekali tertawa kecil saat berbincang. Aura pemiliknya terasa jelas. Santai, tapi tetap mengontrol."Bundling yang ini banyak yang ambil ya," ucap Andini sambil melihat salah satu meja.Siska melirik sebentar. "Iya. Yang paket keluarga paling laku."Andini mengangguk puas. "Bagus banget. Berarti nggak sia-sia kemarin kita revisi."Siska mengangguk kecil, lalu kembali fokus ke layar. "Iya."Tidak lama kemudian, pintu kembali terbuka. Seorang perempuan masuk dengan langkah tenang. Penampilannya rapi, elegan, dengan gestur yang terbiasa berada di situasi formal. R
"Siska.." Netra Andini melihat lurus ke arahnya. Namun kali ini sedikit berbeda. Tidak ada jawaban apapun dari Siska. Terlebih, saat tatapan mereka beradu, seketika Andini sedikit menunduk. Tubuhnya gemetar karena rasa takut yang tiba-tiba menjalar bagai listrik yang menyengat tubuhnya yang ramp
"Tumben... " jawab Bastian dari tempatnya berada yang notabene adalah pacar Siska. Sudah berkali-kali mereka putus, tapi ujung-ujungnya, mereka balikkan lagi. Tapi, bukan karena Siska adalah anak dari Satria Hasan yang membuat mereka kembali bersama. Melainkan karena rasa cintanya yang sangat bes
"An, kamu udah bangun?" panggil Cinta. "Udah, Tan."Pagi datang lebih cepat dari yang Andini harapkan.Alarm ponsel berdering pelan di samping bantal. Andini mengerang kecil sebelum akhirnya meraih ponsel dan mematikannya.“Pagi lagi…” gumamnya.Ia duduk perlahan, memastikan kepalanya tidak pusing
"Andini... " panggil Siska sambil melambaikan tangan ke arah Andini. Sore itu, Andini bertemu Siska di kafe dekat kampus.Siska datang lebih dulu, wajahnya cerah seperti biasa.Andini menarik kursi dan duduk dipasang Siska. “Lo akhirnya hidup lagi,” godanya.Andini tertawa kecil. “Drama amat sih.







