Share

Bab 292

Author: Saggyryes
last update publish date: 2026-05-03 07:36:22

"Belum," jawab Alya.

Bastian membulatkan matanya. Ada rasa takut yang tiba-tiba mendera dalam dirinya.

Namun, belum sempat Bastian bertanya, Soni menangis. Alya bangkit dari duduknya, mengambil Soni secara perlahan, dan meminangnya dengan lembut.

Bastian terus memperhatikan. Namun saat melihat wajah Soni yang menggemaskan, ia jadi semakin penasaran dan tertarik untuk bertanya.

"Umur Soni berapa, Al?" tanya Bastian.

Soni sudah mulai tenang. Alya kembali duduk di bangku dengan Soni yang masi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 302

    "Akhirnya sampe juga," gumam Bastian, pelan.Jam tujuh lewat sedikit, mobil Bastian sudah berhenti di depan rumah Alya.Ia sempat terdiam cukup lama sambil menatap rumah itu dari balik kaca depan. Tangannya masih berada di atas setir. Ada rasa asing yang aneh. Di kursi sebelah, ada dua paper bag makanan yang tadi sempat ia beli di jalan.Bastian akhirnya menghembuskan nafas pelan, mengambil paper bag tersebut, dan turun dari mobil secara perlahan. Ia berjalan masuk ke depan rumah Alya, dan mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka.Alya berdiri di sana dengan setelan piyama dan rambut yang diikat ke atas."Masuk, Bas," ucap Alya."Iya," jawab Bastian, sambil menyerahkan paper bag di tangannya. "Ini, tadi aku sengaja beliin buat kamu dan Ibu."Alis Alya saling terpaut. "Duh, kamu ngapain repot-repot sih?""Nggak repot, lagian cuma sedikit. Semoga suka, ya."Alya tersenyum kecil. "Makasih. Yuk, masuk!"Begitu masuk ke dalam, suasana rumah terasa hangat dan jauh lebih

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 301

    "Joguar maksud lo?" tanya Siska. "Iyalah, kemana lagi. Kan Johan tinggal di sana," jawab Andini. Siska menghela napas pelan. "Kemungkinan besar sih iya. Karena salah satu alasan kita mempercepat pernikahan ya karena itu.""Karena apa?" tanya Andini, penasaran. "Karena hubungan jarak jauh yang kadang bikin sesak dan kurang nyaman, An.""Iya sih. Apalagi modelan kayak lo yang kepengenan mulu," ledek Andini. "Astaga, mulut lo ya An! Bener-bener.""Loh, tapi emang bener kan?"Siska nyengir. "Iya, sih."Andini tiba-tiba saja, mulai berpikir panjang. "Berarti banyak juga loh yang harus disiapin, Sis.""Iya.""Dokumen dan lain-lain," ucap Andini. "Iya, betul," jawab Siska. Saat Andini sudah membuka mulutnya lagi, seolah ingin membahas lebih jauh. Suara pintu toko terbuka. Hal itu langsung membuat keduanya menoleh.Beberapa pembeli masuk, hampir bersamaan."Permisi, Mbak."Andini dan Siska otomatis kembali fokus bekerja."Nanti kita lanjut lagi," bisik Andini cepat.Siska mengangguk pe

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 300 - Season 2 - Langkah Baru

    "Berangkat sekarang?" tanya Johan. "Iya," jawab Siska, setelah selesai mengunyah suapan terakhir. Pagi itu, suasana jalanan masih belum terlalu padat. Saat mobil Johan berhenti di depan toko, matahari baru naik sepenuhnya. Menyisakan udara yang masih cukup sejuk yang sepertinya diperuntukkan untuk siang nanti.Setelah mobil benar-benar berhenti, Johan menoleh ke arah Siska. Ia membantu melepas sabuk pengamannya perlahan.Rambut Siska yang tadinya diikat sederhana, kini sedikit berantakan karena ia beberapa kali bersandar selama perjalanan. Siska melihat kaca dan merapihkannya sebentar. "Kamu mau langsung ke bandara?" tanya Siska sambil menoleh ke arah Johan yang sudah kembali duduk tegak di kursinya. Johan mengangguk pelan. "Nggak. Aku ada ketemu orang dulu sebentar. Habis itu, baru ke bandara."Siska diam sebentar. Ada rasa berat yang tetap muncul meskipun semalam mereka sudah bicara cukup panjang.Johan memperhatikan wajahnya beberapa detik lalu tersenyum tipis. "Kamu kenapa? K

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 299

    "Sis..," panggil Johan. "Iya," jawab Siska. Lampu kamar hotel itu sudah redup. Tirai tertutup rapat, menyisakan suasana yang tenang dan cukup privat.Johan berdiri beberapa langkah dari tempat tidur, menatap Siska yang baru saja merapikan rambutnya di depan cermin. Gaun merah yang ia kenakan memang mencolok, pas di tubuhnya, dan cukup untuk menarik perhatian siapa pun. Termasuk Johan yang sejak awal melihat Siska dengan mata berbinar. Ia mendekat tanpa banyak kata, lalu memeluk Siska dari belakang. Siska tidak menolak. Ia justru sedikit menyandarkan tubuhnya."Kamu capek?" tanya Johan pelan di dekat telinganya.Siska menggeleng pelan. "Nggak."Johan menghela napas pelan. Tangannya masih melingkar di pinggang Siska.Beberapa saat mereka diam. Suasananya tidak canggung, tapi juga tidak sepenuhnya ringan.Johan membalikkan tubuh Siska dan mencium bibirnya dengan lembut. Tanganya menjalar ke bokong Siska yang sejak tadi seolah memanggilnya untuk disentuh. Ia meremasnya perlahan. Dan me

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 298

    "Sayang..," panggil Andini, yang kini bersandar di dada Satria. "Iya," jawab Satria. "Kamu tau nggak, tadi Siska posting foto di sosmed," ucapnya, pelanSatria menoleh sedikit. "Belum lihat, sih. Dia posting foto sama Johan?""Iya," jawab Andini. Satria mengangguk pelan. "Bagus, dong. Berarti mereka udah mulai publish. Tapi klo begitu, kayaknya sebentar lagi bakal rame karena jabatan dan juga layar belakang Johan dan Siska yang sama-sama bukan dari keluarga main-main."Andini diam beberapa detik. "Bagus sih. Cuma..""Cuma kenapa?" tanya Satria."Cuma menurut aku, Johan itu emang ada, tapi kayak nggak selalu ada buat Siska,” ucap Andini pelan, berusaha memilih kata-kata terbaik.Satria tidak langsung menjawab. "Maksud kamu?""Dia datang, nemenin, bikin Siska seneng. Tapi kan, dia nggak tiap hari ada di sini," jelas Andini.Satria mengangguk pelan, mulai paham arah pembicaraan Andini."Jadi menurut kamu, itu ngaruh ke Siska?" tanyanya."Iya. Karena Siska tuh tipe yang kalo lagi sendi

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 297

    "Ah..," ucap Bastian. Rahangnya masih saja mengeras. Dadanya terasa sesak. "Harusnya, aku yang ada di situ," gumamnya lirih. "Padahal aku yang udah rusak semuanya, tapi tetep aja aku nggak rela banget Siska sama orang lain." Nada suaranya datar. Tapi jelas kali ini, ia tidak menyalahkan siapa pun. Ia mengusap wajahnya kasar. Ia menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Tiba-tiba saja pikirannya otomatis memutar ulang masa-masa saat ia bersama Siska. Cara Siska tertawa, nunggu di apartemen karena hasrat yang memuncak, dan cara dia tetap ada saat Bastian pergi cukup lama dan kembali lagi karena berbagai urusan. Dan dia malah menyia-nyiakan itu semua. Bastian menggeleng pelan. "Bodoh" gumamnya lagi. Beberapa detik ia hanya diam. Sampai akhirnya pikirannya bergeser pelan ke arah lain. Soni. Wajah kecil itu muncul lagi tanpa diminta. Mata bulatnya, pipinya yang penuh, dan gerakan tangannya yang tadi sempat ia lihat. Ekspresi Bastian berubah sedikit. Tidak l

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 118

    "Siska.." Netra Andini melihat lurus ke arahnya. Namun kali ini sedikit berbeda. Tidak ada jawaban apapun dari Siska. Terlebih, saat tatapan mereka beradu, seketika Andini sedikit menunduk. Tubuhnya gemetar karena rasa takut yang tiba-tiba menjalar bagai listrik yang menyengat tubuhnya yang ramp

    last updateLast Updated : 2026-03-29
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 112

    "Tumben... " jawab Bastian dari tempatnya berada yang notabene adalah pacar Siska. Sudah berkali-kali mereka putus, tapi ujung-ujungnya, mereka balikkan lagi. Tapi, bukan karena Siska adalah anak dari Satria Hasan yang membuat mereka kembali bersama. Melainkan karena rasa cintanya yang sangat bes

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 110

    "An, kamu udah bangun?" panggil Cinta. "Udah, Tan."Pagi datang lebih cepat dari yang Andini harapkan.Alarm ponsel berdering pelan di samping bantal. Andini mengerang kecil sebelum akhirnya meraih ponsel dan mematikannya.“Pagi lagi…” gumamnya.Ia duduk perlahan, memastikan kepalanya tidak pusing

    last updateLast Updated : 2026-03-28
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 106

    "Andini... " panggil Siska sambil melambaikan tangan ke arah Andini. Sore itu, Andini bertemu Siska di kafe dekat kampus.Siska datang lebih dulu, wajahnya cerah seperti biasa.Andini menarik kursi dan duduk dipasang Siska. “Lo akhirnya hidup lagi,” godanya.Andini tertawa kecil. “Drama amat sih.

    last updateLast Updated : 2026-03-28
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status