Share

Bab 294

Author: Saggyryes
last update publish date: 2026-05-04 17:11:59

"Udah, itu aja," gumam Bastian lagi, seolah sedang meyakinkan diri sendiri.

Ia masih duduk di sofa, ponselnya berada di tangan, tapi layar hanya menyala tanpa benar-benar ia gunakan. Beberapa kali ia membuka kontak Alya, lalu menutupnya lagi.

Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Dan akhirnya, ia mengetik pesan.

Bastian :

Al, kita perlu ngobrol lagi. Soal tadi.

Tidak lama kemudian, Alya membalas.

Alya :

Iya. Ngobrol soal apa?

Bastian menatap layar sebentar, lalu langsung m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 302

    "Akhirnya sampe juga," gumam Bastian, pelan.Jam tujuh lewat sedikit, mobil Bastian sudah berhenti di depan rumah Alya.Ia sempat terdiam cukup lama sambil menatap rumah itu dari balik kaca depan. Tangannya masih berada di atas setir. Ada rasa asing yang aneh. Di kursi sebelah, ada dua paper bag makanan yang tadi sempat ia beli di jalan.Bastian akhirnya menghembuskan nafas pelan, mengambil paper bag tersebut, dan turun dari mobil secara perlahan. Ia berjalan masuk ke depan rumah Alya, dan mengetuk pintu. Beberapa saat kemudian, pintu rumah terbuka.Alya berdiri di sana dengan setelan piyama dan rambut yang diikat ke atas."Masuk, Bas," ucap Alya."Iya," jawab Bastian, sambil menyerahkan paper bag di tangannya. "Ini, tadi aku sengaja beliin buat kamu dan Ibu."Alis Alya saling terpaut. "Duh, kamu ngapain repot-repot sih?""Nggak repot, lagian cuma sedikit. Semoga suka, ya."Alya tersenyum kecil. "Makasih. Yuk, masuk!"Begitu masuk ke dalam, suasana rumah terasa hangat dan jauh lebih

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 301

    "Joguar maksud lo?" tanya Siska. "Iyalah, kemana lagi. Kan Johan tinggal di sana," jawab Andini. Siska menghela napas pelan. "Kemungkinan besar sih iya. Karena salah satu alasan kita mempercepat pernikahan ya karena itu.""Karena apa?" tanya Andini, penasaran. "Karena hubungan jarak jauh yang kadang bikin sesak dan kurang nyaman, An.""Iya sih. Apalagi modelan kayak lo yang kepengenan mulu," ledek Andini. "Astaga, mulut lo ya An! Bener-bener.""Loh, tapi emang bener kan?"Siska nyengir. "Iya, sih."Andini tiba-tiba saja, mulai berpikir panjang. "Berarti banyak juga loh yang harus disiapin, Sis.""Iya.""Dokumen dan lain-lain," ucap Andini. "Iya, betul," jawab Siska. Saat Andini sudah membuka mulutnya lagi, seolah ingin membahas lebih jauh. Suara pintu toko terbuka. Hal itu langsung membuat keduanya menoleh.Beberapa pembeli masuk, hampir bersamaan."Permisi, Mbak."Andini dan Siska otomatis kembali fokus bekerja."Nanti kita lanjut lagi," bisik Andini cepat.Siska mengangguk pe

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 300 - Season 2 - Langkah Baru

    "Berangkat sekarang?" tanya Johan. "Iya," jawab Siska, setelah selesai mengunyah suapan terakhir. Pagi itu, suasana jalanan masih belum terlalu padat. Saat mobil Johan berhenti di depan toko, matahari baru naik sepenuhnya. Menyisakan udara yang masih cukup sejuk yang sepertinya diperuntukkan untuk siang nanti.Setelah mobil benar-benar berhenti, Johan menoleh ke arah Siska. Ia membantu melepas sabuk pengamannya perlahan.Rambut Siska yang tadinya diikat sederhana, kini sedikit berantakan karena ia beberapa kali bersandar selama perjalanan. Siska melihat kaca dan merapihkannya sebentar. "Kamu mau langsung ke bandara?" tanya Siska sambil menoleh ke arah Johan yang sudah kembali duduk tegak di kursinya. Johan mengangguk pelan. "Nggak. Aku ada ketemu orang dulu sebentar. Habis itu, baru ke bandara."Siska diam sebentar. Ada rasa berat yang tetap muncul meskipun semalam mereka sudah bicara cukup panjang.Johan memperhatikan wajahnya beberapa detik lalu tersenyum tipis. "Kamu kenapa? K

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 299

    "Sis..," panggil Johan. "Iya," jawab Siska. Lampu kamar hotel itu sudah redup. Tirai tertutup rapat, menyisakan suasana yang tenang dan cukup privat.Johan berdiri beberapa langkah dari tempat tidur, menatap Siska yang baru saja merapikan rambutnya di depan cermin. Gaun merah yang ia kenakan memang mencolok, pas di tubuhnya, dan cukup untuk menarik perhatian siapa pun. Termasuk Johan yang sejak awal melihat Siska dengan mata berbinar. Ia mendekat tanpa banyak kata, lalu memeluk Siska dari belakang. Siska tidak menolak. Ia justru sedikit menyandarkan tubuhnya."Kamu capek?" tanya Johan pelan di dekat telinganya.Siska menggeleng pelan. "Nggak."Johan menghela napas pelan. Tangannya masih melingkar di pinggang Siska.Beberapa saat mereka diam. Suasananya tidak canggung, tapi juga tidak sepenuhnya ringan.Johan membalikkan tubuh Siska dan mencium bibirnya dengan lembut. Tanganya menjalar ke bokong Siska yang sejak tadi seolah memanggilnya untuk disentuh. Ia meremasnya perlahan. Dan me

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 298

    "Sayang..," panggil Andini, yang kini bersandar di dada Satria. "Iya," jawab Satria. "Kamu tau nggak, tadi Siska posting foto di sosmed," ucapnya, pelanSatria menoleh sedikit. "Belum lihat, sih. Dia posting foto sama Johan?""Iya," jawab Andini. Satria mengangguk pelan. "Bagus, dong. Berarti mereka udah mulai publish. Tapi klo begitu, kayaknya sebentar lagi bakal rame karena jabatan dan juga layar belakang Johan dan Siska yang sama-sama bukan dari keluarga main-main."Andini diam beberapa detik. "Bagus sih. Cuma..""Cuma kenapa?" tanya Satria."Cuma menurut aku, Johan itu emang ada, tapi kayak nggak selalu ada buat Siska,” ucap Andini pelan, berusaha memilih kata-kata terbaik.Satria tidak langsung menjawab. "Maksud kamu?""Dia datang, nemenin, bikin Siska seneng. Tapi kan, dia nggak tiap hari ada di sini," jelas Andini.Satria mengangguk pelan, mulai paham arah pembicaraan Andini."Jadi menurut kamu, itu ngaruh ke Siska?" tanyanya."Iya. Karena Siska tuh tipe yang kalo lagi sendi

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 297

    "Ah..," ucap Bastian. Rahangnya masih saja mengeras. Dadanya terasa sesak. "Harusnya, aku yang ada di situ," gumamnya lirih. "Padahal aku yang udah rusak semuanya, tapi tetep aja aku nggak rela banget Siska sama orang lain." Nada suaranya datar. Tapi jelas kali ini, ia tidak menyalahkan siapa pun. Ia mengusap wajahnya kasar. Ia menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. Tiba-tiba saja pikirannya otomatis memutar ulang masa-masa saat ia bersama Siska. Cara Siska tertawa, nunggu di apartemen karena hasrat yang memuncak, dan cara dia tetap ada saat Bastian pergi cukup lama dan kembali lagi karena berbagai urusan. Dan dia malah menyia-nyiakan itu semua. Bastian menggeleng pelan. "Bodoh" gumamnya lagi. Beberapa detik ia hanya diam. Sampai akhirnya pikirannya bergeser pelan ke arah lain. Soni. Wajah kecil itu muncul lagi tanpa diminta. Mata bulatnya, pipinya yang penuh, dan gerakan tangannya yang tadi sempat ia lihat. Ekspresi Bastian berubah sedikit. Tidak l

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 124

    "Seneng?" tanya Siska. Ia mengerutkan kening sambil sedikit memiringkan kepala menatap lurus ke arah Bastian. Bastian mengangguk. "Iya. Hidup nyaman seperti kedua Tante kamu, tanpa harus lelah bekerja. Bukannya itu yang kamu inginkan?""Kamu bener, Bas! Cuma pas denger akan ada saingan dalam hidu

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 123

    "An... "Panggil Agung, setengah berbisik, saat duduk dihadapan Andini. Ia tau saat ini Andini merasa sangat tidak nyaman berasa di sana. Tapi, ia masih belum beranjak karena kehadiran Agung yang baru saja sampai dan duduk dihadapannya. "Iya, Om.." jawab Andini, suaranya sedikit parau. "Kamu uda

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 126

    "Sempurna!" Zaskia berjalan ke luar kamar menuju tempat parkir dan segera masuk ke dalam mobil. Sesampainya di hotel, ia menuju meja resepsionis, lalu menerima digital key untuk masuk ke dalam kamar presiden suite. "Sat, kamu udah sampai?" tanya Zaskia, saat panggilan telpon sudah terhubung. Sa

    last updateLast Updated : 2026-03-30
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 116

    "Yah, aku mau bicara!"Pesan singkat yang diterima Satria pagi ini. Ia menaruh kembali ponselnya di atas nakas dan berjalan ke luar kamar. "Sis.. " panggilnya. Saat ia sedang berada di depan pintu kamar anak semata wayangnya. Namun, sudah beberapa kali ia mencoba memanggil, pintu kamar tidak juga

    last updateLast Updated : 2026-03-29
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status