FAZER LOGIN"Ayo. Kita duduk dulu," ucap Jonathan, sambil menghembuskan nafas pelan.Suaranya tenang, tetapi cukup tegas untuk menghentikan suasana yang sempat memanas.Johan menatap Jonathan beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan. Sedangkan Siska masih berdiri di tempatnya dengan wajah yang sulit untuk ditebak."Kalian pasti capek berdiri kan," lanjut Jonathan.Kalimat sederhana itu membuat ketegangan diantara mereka sedikit berkurang. Mereka akhirnya duduk kembali.Beberapa saat, tidak ada yang berbicara.Jonathan akhirnya menyandarkan tubuhnya ke bangku lalu menatap Johan secara langsung."Kita sama-sama tahu kenapa pernikahan itu akhirnya berlangsung," ucap Jonathan, tegas. "Keluarga kita, keluarga Hasan, para investor, mitra bisnis, semuanya udah terlibat terlalu jauh. Kamu pasti tau, kalo waktu itu nggak ada banyak pilihan."Johan menundukkan pandangannya perlahan, sedangkan Jonathan melanjutkan pembicaraan."Aku nggak pernah punya niat ngambil apa yang seharusnya jadi milik lo, J
"Sis," panggil Johan, pelan. Tatapannya dipenuhi rasa bersalah yang sejak tadi tidak pernah benar-benar hilang. Hingga beberapa kali ia mencoba berbicara, tidak ada kata-kata yang ke luar dari mulutnya. Seolah, semua kata tertahan di dalam tenggorokannya.Sedangkan Siska berusaha sabar menunggu. Karena akhirnya, ia berada di hadapan orang yang selama ini ia cari dan ingin mendapatkan jawaban pasti akan kenyataan pahit yang ia terima. Johan mengembuskan nafas perlahan. "Aku nggak pergi karena aku nggak cinta lagi sama kamu, Sis. Justru sebaliknya, aku ngelakuin inti semua karena terlalu cinta dan sayang sama kamu."Air mata kembali memenuhi mata Siska. "Kalo gitu jawab dong. Alasannya apa coba?"Lagi-lagi Johan menundukkan kepalanya perlahan. "Dua hari sebelum aku berangkat ke Omeland, aku melakukan medical check-up."Siska terdiam, mendengarkan. Tidak ada niat sedikitpun untuk menyela. "Aku pikir itu cuma pemeriksaan rutin biasa yang aku lakukan dua atau tiga bulan sekali, Sis. Ta
"Apa?" tanya Siska, pelan.Sebelumnya, ia sempat tidak bereaksi. Namun, beberapa saat setelahnya, ia menatap Jonathan seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya."Kamu yakin?" tanya Siska, memastikan. Jonathan menghela napas pelan. "Aku yakin seratus persen, kalo Johan emang udah kembali."Kalimat itu membuat dada Siska terasa sesak. Seakan ada sesuatu yang baru saja menghantamnya begitu keras hingga ia kesulitan untuk bernapas.Johan. Nama itu. Nama yang selama berbulan-bulan berusaha ia simpan rapat di sudut hatinya. Nama yang berusaha ia terima sebagai bagian dari masa lalu dan tidak pernah benar-benar berhasil ia lupakan.Siska menatap Jonathan tanpa berkedip."Kamu serius?" tanyanya lagi, kembali memastikan. Jonathan mengangguk pelan. "Iya. Aku baru dapat informasi sore ini."Siska masih terdiam. Sedangkan Jonathan kembali melanjutkan ucapannya. "Dia udah sampe di Jaguar dua jam yang lalu."Jemari Siska perlahan mengepal di atas pangkuannya. "Lalu?"Jonathan menat
"Selamat malam," ucap Jonathan sambil tersenyum.Di belakangnya, beberapa anggota keluarga besarnya ikut menyapa dengan ramah."Selamat malam," balas Rania, yang sengaja menjadi wakil keluarga Hasan.Suasana kembali hangat seperti sebelumnya. Lalu mereka berjalan menuju meja yang sudah disiapkan khusus di dekat area kaca. Posisi meja itu menghadap langsung ke arah pemandangan kota Jaguar yang gemerlap oleh cahaya malam."Ini luar biasa," gumam Andini sambil duduk."Iya. Pemandangannya luar biasa bagus," sahut Satria.Tak lama kemudian, hidangan mulai disajikan satu persatu. Berbagai menu khas Jaguar yang merupakan makanan favorit keluarga besar Jonathan memenuhi meja makan.Percakapan mengalir ringan. Rania banyak berbincang dengan orang tua Jonathan. Sedangkan Satria sesekali membahas bisnis dan perkembangan kota Jaguar bersama beberapa anggota keluarga Hasan. Andini sendiri tampak lebih sibuk mengagumi pemandangan dan menikmati makanan yang ada di hadapannya."Ini kalo Arka sama Ros
"Terima kasih, Jon," ucap Satria, sambil tersenyum dan menganggukkan kepalanya.Jonathan menggelengkan kepalanya perlahan."Nggak usah berterima kasih terus, Yah. Kalian kan udah jauh-jauh datang ke sini. Jadi memang sudah tugas kami untuk memastikan semuanya nyaman."Rania ikut tersenyum mendengarnya. "Terima kasih itu memang sudah seharusnya diucapkan sebagai bentuk sopan santun, Jon. Khususnya untuk orang timur seperti kami."Jonathan tertawa pelan. "Kalo begitu, saya juga ucapkan terima kasih, karena sudah menerima saya sebagai menantu kalian."Semua orang ikut tersenyum.Jonathan kemudian melihat jam tangannya sekilas. "Sekarang istirahat dulu aja. Perjalanan tadi pasti sangat panjang dan melelahkan.""Iya, itu memang sudah menjadi salah satu rencana kami, Jon," jawab Satria.Jonathan tersenyum. "Baiklah. Nanti jam tujuh malam, kami tunggu di restoran yang ada di lantai paling atas.""Sky Garden?" tanya Siska.Jonathan mengangguk pelan. "Iya."Andini langsung menoleh. "Itu yang
"Gimana? Udah semua?" tanya Siska. Ia baru turun dari lantai atas langsung melihat sekeliling dan tersenyum tipis. Suasana rumah memang sudah cukup ramai sejak pagi tadi. Beberapa koper berjejer rapi di ruang keluarga. Imah dan Oty sibuk memastikan seluruh kebutuhan Arka dan Rosa sudah masuk ke dalam tas. Andini beberapa kali memeriksa perlengkapan si kembar dengan teliti, sementara Satria membantu para staf rumah membawa koper-koper yang akan dibawa."Ini kita mau liburan apa pindahan sih?" tanya Siska lagi, sambil duduk di sofa.Andini yang baru sadar akan kehadiran Siska, langsung menoleh ke arahnya. "Coba aja nanti kalo lo udah punya anak kembar. Baru deh bisa ngerasain apa yang gue rasain sekarang."Siska tertawa kecil. "Kan di sana juga udah disiapin semuanya, An.""Iya. Tapi tetep aja. Gue lebih tenang kalo bawa sendiri. Apalagi kalo urusan kebutuhan si kembar.""Iya juga sih."Tak lama kemudian, Rania keluar dari kamarnya.Kondisinya sudah jauh lebih baik dibanding beberapa
"Pe...ngaman?"Satria mengangguk pelan. Setelah beberapa kali mereka melakukannya, baru sekarang Satria menanyakan hal itu. Jujur, jika menuruti hati, ia tidak ingin mengenakannya. Tapi, ia tidak mau Andini merasa menyesal jika terjadi sesuatu yang mungkin tidak diinginkan olehnya. "Boleh... sa.
"Apa?" "Iya, An. Itulah kebenaran yang harus kamu tau!" jawab Dion. Kini Ia memandang lurus ke arah Andini. 'Nggak mungkin! Itu pasti salah!' batin Andini, menolak kebenaran informasi yang baru saja ia terima dari Dion. 'Setau gue Satria emang cuek dan dingin. Tapi dulu Siska sering bilang, kal
"Berhenti!" tegas Andini. Ia melepas ciuman secara tiba-tiba dan pergi berlari meninggalkan Dion begitu saja. Dion tersenyum. Ia memegang bibirnya dengan tangan kanan. Masih terasa aroma strawberry dan rasa manis di sana. "Akhirnya, aku bisa mencium bibir mungil Andini. Seberjalannya waktu, mung
"Satria?!" tanya Andini. Ia melihat ke arah suara yang berada di dalam mobil. Matanya tertuju pada laki-laki yang membuat jantungnya selalu berdegup kencang. Satria mengangguk pelan dari kursi penumpang. Kedua sudut bibir Andini terangkat membuat garis cukup lebar. Ia berjalan dan bergegas masuk







