Share

Bab 42

Author: Saggyryes
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-16 06:29:15

"Om!" panggil Andini, nyaris seperti orang yang sedang teriak di tengah lapangan.

Satria yang belum lama kembali dari ruang rapat dan saat ini sedang duduk sambil menyandarkan kepalanya di bangku, sontak membuka matanya yang belum lama terpejam. Ia terpaksa harus melihat ke arah Andini. Padahal tadinya ia ingin istirahat sebentar sebelum pulang ke rumah.

Andini mempercepat langkahnya. Ia berjalan menuju meja kerja Satria.

Satria mengerutkan kening. "Kenapa, An? Apa ada masalah?"

Dengan cepat
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 350

    "Gimana? Udah semua?" tanya Siska. Ia baru turun dari lantai atas langsung melihat sekeliling dan tersenyum tipis. Suasana rumah memang sudah cukup ramai sejak pagi tadi. Beberapa koper berjejer rapi di ruang keluarga. Imah dan Oty sibuk memastikan seluruh kebutuhan Arka dan Rosa sudah masuk ke dalam tas. Andini beberapa kali memeriksa perlengkapan si kembar dengan teliti, sementara Satria membantu para staf rumah membawa koper-koper yang akan dibawa."Ini kita mau liburan apa pindahan sih?" tanya Siska lagi, sambil duduk di sofa.Andini yang baru sadar akan kehadiran Siska, langsung menoleh ke arahnya. "Coba aja nanti kalo lo udah punya anak kembar. Baru deh bisa ngerasain apa yang gue rasain sekarang."Siska tertawa kecil. "Kan di sana juga udah disiapin semuanya, An.""Iya. Tapi tetep aja. Gue lebih tenang kalo bawa sendiri. Apalagi kalo urusan kebutuhan si kembar.""Iya juga sih."Tak lama kemudian, Rania keluar dari kamarnya.Kondisinya sudah jauh lebih baik dibanding beberapa

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 349

    "Selesai juga," gumam Siska, pelan. Ia akhirnya memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, bangkit dari duduknya, dan berjalan kembali menuju ruang keluarga.Di sana, Rania, Satria, dan Andini masih duduk santai sambil mengobrol ringan."Gimana?" tanya Andini begitu melihatnya datang.Siska langsung duduk kembali di sofa."Katanya nggak perlu siapin apa-apa.""Hah? Serius?" tanya Andini, dengan alis yang saling bertaut."Iya. Katanya, semua kebutuhan selama di Joguar udah disiapkan sama keluarga Jonathan."Satria menganggukkan kepalanya perlahan. "Berarti, mereka emang udah pikirin banyak kemungkinan dari awal.""Iya, sepertinya begitu, Yah."Rania yang sejak tadi mendengarkan tersenyum tipis. "Kalian emang nggak salah memilih Jonathan dan keluarganya."Siska hanya tersenyum kecil.Sedangkan Rania melanjutkan, "Nggak semua orang bisa mempersiapkan segala sesuatu dengan baik seperti itu. Apalagi dalam kondisi seperti sekarang. Dan mereka, sama sekali nggak mau membuat kita cemas dan

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 348

    "Hah..," gumam Siska, sambil menghembuskan nafas perlahan. Ruangan menjadi hening beberapa saat.Siska menundukkan pandangannya. Ia mengerti apa yang dimaksud Rania. Hanya saja, setelah beberapa hari terakhir yang begitu melelahkan, rasanya sulit baginya untuk tidak merasa khawatir.Satria yang sejak tadi mendengarkan akhirnya ikut angkat bicara. "Nenek benar, Sis."Siska menoleh ke arah Ayahnya. "Kamu atur aja semuanya sesuai rencana kalian.""Tapi, Yah...""Nggak apa-apa," potong Satria pelan. "Sekarang yang penting justru kita memanfaatkan waktu yang ada dengan baik. Kalo emang tinggal dua hari lagi, ya mulai disiapkan dari sekarang."Siska terdiam sesaat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya perlahan.Satria lalu melanjutkan, "Nanti kamu tanya Jonathan apa saja yang perlu kita siapkan di sini. Biar semuanya bisa berjalan lebih cepat. Soalnya, waktu untuk persiapannya kan juga nggak banyak.""Iya, Yah."Andini yang duduk di samping Rania ikut mengangguk setuju. "Iya, Sis. Lo

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 347

    "Hah..," gumam Siska, pelan. "Kenapa hidup ada aja sih masalahnya, belum selesai satu udah ada lagi yang lainnya. Dosa apa sih aku Tuhan... Kok kayaknya masalah datang terus ga berenti-berenti," lanjutnya, dengan rasa lelah yang tiba-tiba saja datang lebih besar dari sebelumnya. ***Pagi hari datang lebih cepat daripada yang Siska sadari. Ia bahkan tidak benar-benar tidur semalaman. Hanya beberapa kali memejamkan mata sebelum kembali terbangun dan melihat ke arah pintu ICU.Sekitar pukul enam pagi, seorang perawat keluar dari ruangan tersebut."Bu Siska?"Siska yang matanya masih terpejam, langsung membuka mata dan bangkit dari duduknya. "Iya."Perawat tersenyum tipis. "Ibu Rania sudah sadar, Bu."Mendengar kabar itu, membuat beban besar yang ada di pundak Siska terangkat seketika."Beneran, Sus?" tanya Siska, memastikan. "Iya, Bu. Tapi beliau masih lemas. Nanti Ibu bisa masuk sebentar.""Baik, terima kasih, Sus," ucap Siska, sambil mengangguk cepat dan berjalan menuju ruang ICU.

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 346

    "Aamiin," ucap Andini dan Satria, hampir bersamaan. Operasi yang berjalan dengan baik itu memang membuat mereka sedikit lebih tenang. Namun bukan berarti semuanya telah selesai. Masih ada masa pemulihan yang harus dilewati.Masih ada hasil patologi yang harus ditunggu. Dan yang paling penting, masih ada Rania yang harus berjuang untuk benar-benar pulih.Beberapa saat setelah dokter pergi, seorang perawat datang menghampiri mereka."Kalau ingin melihat pasien, nanti bisa bergantian ya, Pak, Bu."Satria menganggukkan kepalanya perlahan. "Saya duluan, ya.""Iya, Yah," jawab Siska. Perawat itu langsung mempersilakan Satria untuk masuk. Dan ia segera mengikuti perawat menuju area ICU.Begitu masuk ke dalam ruangan, langkahnya otomatis melambat. Rania sedang terbaring di atas ranjang dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya. Wajah perempuan yang selama ini selalu terlihat tegar itu tampak jauh lebih pucat.Satria berdiri cukup lama di samping ranjang. Ia tidak banyak bicara.

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 345

    "Ayo!" jawab Andini. Andini dan Siska tiba di rumah sakit kurang dari tiga puluh menit kemudian. Begitu pintu lift terbuka, keduanya langsung berjalan cepat menuju ruang tunggu yang berada di dekat area pemeriksaan. Satria sudah berada di sana lebih dulu. Pria itu sedang berdiri sambil berbicara dengan salah satu perawat ketika melihat kedatangan mereka. "Ayah!" panggil Siska. Satria yang sudah selesai bicara, segera berjalan menghampiri Siska dan Andini. "Gimana keadaan Nenek?" tanya Siska dan Andini hampir bersamaan. Satria menghela napas pelan. "Nenek masih dalam pemeriksaan." "Diperiksa apanya?" tanya Andini. "Dokter lagi melakukan pemeriksaan menyeluruh. CT Scan, MRI, sama beberapa pemeriksaan lain." Siska langsung mengangguk pelan. "Jadi, kita harus tunggu hasilnya dulu ya, Yah?" "Iya," jawab Satria, singkat. Mereka akhirnya duduk di ruang tunggu. Waktu terasa berjalan jauh lebih lambat dari biasanya. Siska beberapa kali melihat ke arah pintu ruang

  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 65

    "Om.. " panggil Andini. Satria menatap Andini sekilas, lalu kembali menaruh cangkir kopi di atas meja. "Kamu udah datang, ternyata. Silahkan duduk An." pinta Satria. Andini menarik bangku dan duduk berhadapan dengan Satria. Ada sedikit rasa ragu. Tapi, dengan cepat, ia menghempasnya. Ia tau Sat

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 66

    "Yang..." panggil Andini. "Kenapa?""Itu.. ponsel kamu dari tadi bergetar." ucap Andini sambil makan sandwich dan jus jeruk kesukaannya. Terlihat nama di layar ponselnya. Zaskia. 'Sekarang, dia pasti sudah tau dan sedang panik karena kartu debit dan kreditnya diblokir.' batin Satria. "Biarin aj

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 68

    "Satria!" panggil Zaskia saat batang hidungnya baru memasuki ruang tamu. 'Ah! Dia sudah ada di sini ternyata!' batin Satria. Wajah Satria yang tadinya sumringah karena baru selesai ganti oli, berubah masam seketika ketika mendengar suara Zaskia. Ia terus berjalan tanpa memperdulikan Zaskia yang

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
  • Sentuhan Panas Ayah Sahabatku   Bab 62

    "Nikah?" tanya Siska dengan kening berkerut. Ia tidak menyangka Ayahnya akan berfikir sejauh itu. Padahal baginya, saat ini pacaran adalah salah satu kegiatan yang sangat menyenangkan. Tidak ada terbesit sedikitpun niat baginya untuk melakukan hubungan lebih dari ini. Satria mengangguk pelan. Ia

    last updateHuling Na-update : 2026-03-23
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status