Accueil / Rumah Tangga / Sentuhan Panas Ayah Tiri / Bertemu Orang Tua Angkat Raisa

Share

Bertemu Orang Tua Angkat Raisa

Auteur: Marssky
last update Dernière mise à jour: 2026-02-19 10:14:31

Alan merebahkan tubuhnya di atas kasur, kedua tangannya terlipat di bawah kepala sementara tatapannya terpaku pada langit-langit kamar. Pikirannya terus saja melayang pada Raisa. Ia diliputi kebimbangan. Apakah sekarang waktu yang tepat untuk mengajak Raisa pulang?

Ia takut orang tua angkat Raisa akan marah. Bagaimanapun, merekalah yang selama ini merawat dan menjaga Raisa setelah kecelakaan itu terjadi.

Namun, ada keraguan lain yang mengusiknya. Apakah Raisa mau ikut dengannya? Mengingat dua o
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Pulang Tanpa Raisa

    “Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Hidayat saat melihat ekspresi Alan yang mendadak pucat setelah menerima telepon.Alan tidak langsung menjawab. Ia menarik napas dalam, lalu memasukkan ponselnya kembali ke saku celana. “Maaf, Om… Tante… saya harus pulang ke Jakarta sekarang. Tolong sampaikan salam saya untuk Raisa kalau dia sudah bangun,” ucapnya dengan suara tertahan.Ia menunduk sebentar sebelum melanjutkan, “Bilang ke dia, kalau dia tidak mau pulang, tidak apa-apa. Saya tidak keberatan. Saya akan mencoba menyelesaikan masalah saya sendiri. Kalau begitu, saya pamit.”Tanpa menunggu jawaban, Alan berbalik dan melangkah cepat meninggalkan rumah itu.***Di kamar, Raisa baru saja terbangun. Ia melenguh pelan sambil mengerjapkan mata, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk dari sela tirai. “Aku di mana?” gumamnya lirih, kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul.Beberapa detik kemudian, ia menyadari bahwa itu adalah kamarnya sendiri.Tiba-tiba matanya membelalak saat ingat

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Tragedi

    Semua orang terdiam kaget mendengar ucapan Alan.“Maksudnya, Mas? Aku harus ikut sama kamu? Tapi—” ucapan Raisa terhenti. Ia langsung menoleh ke arah orang tuanya dengan wajah bingung.“Tidak!” potong Arum dengan suara keras. “Nesya tidak akan pergi dari sini. Dia sudah kami anggap anak sendiri. Mana mungkin kami membiarkan kamu membawanya pergi, sedangkan kami saja tidak benar-benar tahu kamu siapa,” lanjutnya tegas.Hidayat ikut menatap Alan dengan serius. Sementara Raisa hanya bisa duduk diam, merasa suasana kembali tegang.Alan menghela napas kasar, lalu menatap mereka satu per satu. “Saya tahu ini berat buat kalian. Tapi sekarang keadaannya cukup genting. Raisa harus ikut saya, karena—”Kalimatnya terhenti.Alan tampak ragu. Ia sempat melirik ke arah Raisa. Ia sebenarnya tidak yakin harus menyampaikan semuanya di depan Raisa atau tidak. Ia takut kalau kabar itu justru membuat trauma Raisa muncul lagi dan membuatnya semakin menolak pergi.Tapi di sisi lain, kalau ia tidak jujur, b

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Kebenaran yang Kembali Terungkap

    Orang tua Raisa saling memandang sebentar, lalu mengangguk. “Oke, kalau begitu kita bicara di dalam saja,” ucap ibunya.Kedua orang tua Raisa masuk lebih dulu ke dalam rumah, diikuti Raisa dan Alan dari belakang.“Apa maksud kamu, Mas? Memangnya apa yang ingin kamu bicarakan?” bisik Raisa pelan.Alan hanya tersenyum. “Nanti kamu juga akan tahu,” jawabnya santai, lalu tanpa ragu menggandeng tangan Raisa dan membawanya masuk.Raisa langsung terkejut. Jantungnya berdetak cepat. Ia tidak menyangka Alan akan menggandeng tangannya, apalagi di depan orang tuanya. Ia jadi salah tingkah sendiri, takut kalau mereka berpikir yang macam-macam.Kini mereka sudah duduk di ruang tengah. Raisa duduk di antara kedua orang tuanya, sementara Alan duduk sendiri di hadapan mereka, rasanya seperti sedang diinterogasi.Alan mulai merasa gugup saat melihat tatapan ayah Raisa yang terlihat tegas dan cukup menekan.“Jadi, apa yang ingin kamu bicarakan pada kami?” ayah Raisa membuka pembicaraan lebih dulu.Alan

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Bertemu Orang Tua Angkat Raisa

    Alan merebahkan tubuhnya di atas kasur, kedua tangannya terlipat di bawah kepala sementara tatapannya terpaku pada langit-langit kamar. Pikirannya terus saja melayang pada Raisa. Ia diliputi kebimbangan. Apakah sekarang waktu yang tepat untuk mengajak Raisa pulang?Ia takut orang tua angkat Raisa akan marah. Bagaimanapun, merekalah yang selama ini merawat dan menjaga Raisa setelah kecelakaan itu terjadi.Namun, ada keraguan lain yang mengusiknya. Apakah Raisa mau ikut dengannya? Mengingat dua orang itulah yang menjadi sumber trauma terbesar dalam hidup wanita itu, Alan tak ingin memaksakan sesuatu yang justru akan membuka luka lama.Hembusan napas pelan keluar dari bibir Alan. Dengan gerakan lambat, ia meraih ponsel yang tergeletak di atas nakas di samping tempat tidur.Alan menatap lama layar ponselnya. Room chat dengan Raisa masih terbuka, tapi ia belum juga menekan tombol kirim. Ia masih ragu.“Tidak ada pilihan lain,” gumamnya pelan, mencoba meyakinkan diri. Akhirnya ia mengetik d

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Dilema

    “Raisa, lihat saya!” Alan menangkup kedua pipi Raisa, lalu memaksanya menoleh dan menatapnya. “Apa kamu sudah mengingat semuanya?” Raisa justru semakin menangis. Matanya memerah, wajahnya basah oleh air mata. Pemandangan yang terasa begitu menyayat hati Alan. Ia tak suka melihat Raisa menangis. Ia tak ingin wanita yang ia cintai itu terus menderita Tangan Alan masih menangkup wajah Raisa, jempolnya bergetar saat menyeka air mata yang terus mengalir. “Jawab saya,” ucapnya lirih, hampir putus asa. “Apa kamu sudah ingat…” Raisa terisak. Napasnya tersengal, dadanya naik turun tak beraturan. Perlahan, tangannya mencengkeram pergelangan Alan. “Aku ingat semuanya,” katanya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku menjijikkan, Mas… aku jahat sama ibuku sendiri. Seharusnya aku tidak melakukan itu!” Raisa berteriak histeris sambil menarik rambutnya sendiri. Melihat itu, Alan langsung menarik Raisa ke dalam pelukannya, menahan kedua tangannya agar ia tak melukai diri sendiri. “Hei,

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Mengingat?

    Bunyi sepatu beradu cepat memasuki ruangan itu. Sarah datang membawa sesuatu yang disuruhkan Alan. Ia langsung memberikan minyak kayu putih dan segelas air minum kepada Alan, lalu duduk di samping Raisa yang belum sadarkan diri.“Apa yang terjadi, Pak? Kenapa Bu Nesya bisa sampai seperti ini? Apa yang Bapak lakukan?”Sarah mencecar Alan dengan banyak pertanyaan. Tatapannya tajam, penuh tuduhan. Ia mencurigai Alan telah berbuat jahat pada bosnya, karena setahunya mereka sempat bertengkar tadi. Ada kemungkinan Alan-lah yang membuat Raisa tak sadarkan diri.Alan tak menghiraukan pertanyaan Sarah. Dengan cepat ia membuka penutup minyak kayu putih, lalu mengarahkannya ke bawah hidung Raisa agar ia menghirup aromanya dan segera sadar.Sarah berdecak kesal. Ia memutar bola matanya dengan malas dan tak lagi bertanya pada pria itu. Ia hanya memperhatikan apa yang dilakukan Alan pada bosnya, memantau, siapa tahu pria itu melakukan hal macam-macam.Tak lama kemudian terdengar lenguhan pelan kelu

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status