Share

Bukti

Author: Day Lily
last update publish date: 2026-08-01 20:32:19

Perubahan ekspresi di wajah ayah tiri Raisa terlihat begitu jelas. Keangkuhan yang tadi menyelimutinya sirna seketika, berganti dengan kilat panik yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat. Ia melirik ke arah pintu keluar, namun dua petugas keamanan gedung sudah berdiri mengunci akses tersebut.

"Kamu gertak sambal, Alan," desis pria itu, berusaha keras menjaga suara beratnya agar tidak terdengar bergetar. "CCTV itu sudah hangus bersama seluruh isi gedung."

Alan tidak melayani perdebatan itu lagi
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Bukti

    Perubahan ekspresi di wajah ayah tiri Raisa terlihat begitu jelas. Keangkuhan yang tadi menyelimutinya sirna seketika, berganti dengan kilat panik yang berusaha ia sembunyikan rapat-rapat. Ia melirik ke arah pintu keluar, namun dua petugas keamanan gedung sudah berdiri mengunci akses tersebut."Kamu gertak sambal, Alan," desis pria itu, berusaha keras menjaga suara beratnya agar tidak terdengar bergetar. "CCTV itu sudah hangus bersama seluruh isi gedung."Alan tidak melayani perdebatan itu lagi. Sambil tetap merangkul shoulder Raisa yang masih terisak, Alan mengambil ponselnya dari saku jas dengan tangan kanan, menyalakan pengeras suara, dan menelepon seseorang.Hanya dalam dua kali nada panggil, suara Rain terdengar dari seberang telepon."Lan, tim penyidik dari Polresta sudah meluncur ke lokasi apartemenmu. Berkas digital rekaman server cadangan dan surat perintah penangkapan atas nama direksi perusahaan sudah resmi diterbitkan," ujar Rain tegas, cukup nyaring hingga terdengar ke se

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Ancaman

    Raisa mengepalkan kedua tangannya erat-erat, menolak untuk tunduk meski tubuhnya tak bisa menyembunyikan getaran hebat. Ia memutar otak dengan cepat, mencari celah untuk melarikan diri atau setidaknya meraih benda apa pun di sekitarnya untuk membela diri."Aku nggak akan pernah dengarin kamu lagi!" pangkas Raisa dengan napas memburu. Tangannya secara refleks meraba permukaan meja makan di belakang tubuhnya, hingga jemarinya menyentuh sebuah vas bunga kaca berukuran sedang.Tanpa berpikir panjang, Raisa menyambar vas itu dan melayangkan ancaman. "Mundur! Jangan mendekat, atau aku lempar vas ini!"Pria itu sempat menghentikan langkahnya, menatap vas bunga di tangan Raisa sebelum akhirnya terkekeh pelan—sebuah tawa meremehkan yang amat dingin."Kamu mau mencoba melawan aku pakai benda itu?" bisiknya seraya kembali melangkah maju tanpa rasa takut sedikit pun. "Kamu lupa siapa saya? Kamu selalu jadi anak kecil yang lemah.""Jangan mendekat!" jerit Raisa.Sesaat sebelum pria itu berhasil me

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Lama Tidak Bertemu

    Pagi harinya, Alan dan Raisa baru saja selesai sarapan ketika ponsel Alan di atas meja makan bergetar. Layarnya menampilkan nama Rain. Alan langsung mengangkatnya, sementara Raisa memperhatikan perubahan raut wajah Alan yang mendadak serius mendengarkan penjelasan di seberang telepon."Ada bukti baru yang ketemu di lokasi kebakaran kantor Papa," ujar Alan setelah mematikan ponselnya. Ia menatap Raisa dengan pandangan serba salah. "Rain minta aku ke sana sekarang buat ngecek langsung. Katanya ini penting banget sebelum kita bawa berkasnya ke LPSK nanti."Walaupun perasaan cemas langsung merayap karena harus ditinggal sendirian, Raisa mencoba menahan diri. Ia tahu bukti itu sangat krusial untuk kasus mereka."Nggak apa-apa, Mas. Pergi aja," ucap Raisa, berusaha meyakinkan Alan. "Aku aman di sini. Lagian apartemen ini kan penjagaannya ketat."Alan mengangguk, lalu menepuk pelan bahu Raisa untuk menenangkannya. "Aku usahain gak lama. Inget, kunci pintunya dan jangan sembarangan buka kalau

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   LPSK

    Alan menatap Raisa dengan binar kelegaan yang tak bisa disembunyikan. Keberanian yang terpancar dari mata wanita itu seolah memberi suntikan energi baru bagi Alan yang baru saja kehilangan ibunya. Ia melangkah maju, meletakkan tangannya di bahu Raisa dan meremasnya lembut, menyalurkan seluruh dukungan yang ia punya."Terima kasih, Sa. Kita hadapi ini sama-sama. Aku gak akan biarkan kamu sendirian di depan mereka nanti," ucap Alan mantap.Di seberang meja pembatas, Gendis kembali menangis, namun kali ini air matanya adalah air mata haru dan syukur. "Terima kasih, Raisa... Terima kasih banyak. Aku gak tahu harus balas kebaikan kamu pakai apa lagi setelah semua yang udah aku lakuin.""Kamu cukup bertahan di sini beberapa hari lagi, Gendis. Jaga diri kamu baik-baik sampai Pak Yudha datang bawa berkas penangguhan," balas Raisa dengan senyum tipis, mencoba menguatkan sahabatnya.Pertemuan emosional itu terpaksa berakhir ketika seorang petugas sipir mengetuk pintu, menandakan bahwa waktu kun

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Melawan Rasa Takut

    Alan tidak mau menyerah begitu saja. Dengan sisa waktu yang mendesak, ia langsung menghubungi Pak Yudha kembali agar mendesak kepala sipir untuk memberikan dispensasi. Berkat koneksi kuat Pak Yudha, surat izin darurat akhirnya turun.Petugas loket pun terpaksa mengizinkan Raisa dan Alan masuk ke ruang kunjungan khusus, memotong proses pemeriksaan sepihak yang sedang dilakukan oleh tim hukum bentukan ibu Raisa.Pintu besi ruang kunjungan terbuka dengan bunyi gemerincing yang berat. Di dalam ruangan bernuansa dingin itu, duduk Gendis di balik meja pembatas. Begitu melihat sosok Raisa melangkah masuk, tubuh Gendis langsung menegang. Matanya membelalak, tidak percaya bahwa sahabat yang dikiranya sudah tewas dalam kecelakaan itu kini berdiri tegak di depannya."Raisa...?" bisik Gendis dengan suara bergetar.Air mata Raisa langsung tumpah. Ia melangkah cepat dan langsung duduk di kursi hadapan Gendis. "Gendis... ini aku."Begitu menyadari bahwa ini bukan mimpi, tangis Gendis langsung pecah.

  • Sentuhan Panas Ayah Tiri   Firasat Buruk

    Alan mencengkeram ponselnya dengan sangat erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras menahan amarah yang mendadak menyengat seluruh tubuhnya. Firasat buruknya terbukti. Ibu kandung dan ayah tiri Raisa benar-benar tidak membuang waktu. Baru saja ia menguburkan ibunya, kini mereka sudah bergerak lagi di belakang layar untuk membungkam Gendis."Nggak bisa dibiarin, Pak," desis Alan dengan suara tertahan, melirik ke arah pintu ruang kerja, memastikan Raisa di luar tidak mendengar percakapan ini. "Gendis itu satu-satunya harapan kita buat bongkar kelicikan mereka dan bebasin Papa. Kita gak boleh kalah cepat.""Saya tahu, Alan. Makanya sekarang saya sedang meluncur ke kejaksaan untuk menahan berkas permohonan mereka," sahut Pak Yudha dari seberang telepon. "Tapi kamu dan Raisa harus segera ke rutan sekarang juga. Gunakan sisa waktu kunjungan reguler siang ini sebelum jam tutup. Surat izin darurat dari saya akan menyusul lewat kurir digital langsung ke kepala sipir yang saya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status