LOGINAlan tidak mau menyerah begitu saja. Dengan sisa waktu yang mendesak, ia langsung menghubungi Pak Yudha kembali agar mendesak kepala sipir untuk memberikan dispensasi. Berkat koneksi kuat Pak Yudha, surat izin darurat akhirnya turun.Petugas loket pun terpaksa mengizinkan Raisa dan Alan masuk ke ruang kunjungan khusus, memotong proses pemeriksaan sepihak yang sedang dilakukan oleh tim hukum bentukan ibu Raisa.Pintu besi ruang kunjungan terbuka dengan bunyi gemerincing yang berat. Di dalam ruangan bernuansa dingin itu, duduk Gendis di balik meja pembatas. Begitu melihat sosok Raisa melangkah masuk, tubuh Gendis langsung menegang. Matanya membelalak, tidak percaya bahwa sahabat yang dikiranya sudah tewas dalam kecelakaan itu kini berdiri tegak di depannya."Raisa...?" bisik Gendis dengan suara bergetar.Air mata Raisa langsung tumpah. Ia melangkah cepat dan langsung duduk di kursi hadapan Gendis. "Gendis... ini aku."Begitu menyadari bahwa ini bukan mimpi, tangis Gendis langsung pecah.
Alan mencengkeram ponselnya dengan sangat erat, hingga buku-buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras menahan amarah yang mendadak menyengat seluruh tubuhnya. Firasat buruknya terbukti. Ibu kandung dan ayah tiri Raisa benar-benar tidak membuang waktu. Baru saja ia menguburkan ibunya, kini mereka sudah bergerak lagi di belakang layar untuk membungkam Gendis."Nggak bisa dibiarin, Pak," desis Alan dengan suara tertahan, melirik ke arah pintu ruang kerja, memastikan Raisa di luar tidak mendengar percakapan ini. "Gendis itu satu-satunya harapan kita buat bongkar kelicikan mereka dan bebasin Papa. Kita gak boleh kalah cepat.""Saya tahu, Alan. Makanya sekarang saya sedang meluncur ke kejaksaan untuk menahan berkas permohonan mereka," sahut Pak Yudha dari seberang telepon. "Tapi kamu dan Raisa harus segera ke rutan sekarang juga. Gunakan sisa waktu kunjungan reguler siang ini sebelum jam tutup. Surat izin darurat dari saya akan menyusul lewat kurir digital langsung ke kepala sipir yang saya
Mendengar kata 'rutan', Raisa tertegun. Matanya membelalak, dan untuk beberapa detik, ia kehilangan kata-kata. Kenyataan bahwa sahabat yang paling setia menemaninya kini harus mendekam di balik jeruji besi membuat dadanya terasa sesak karena dirundung rasa bersalah."Rutan...?" bisik Raisa, suaranya mendadak bergetar. "Jadi dia benar-benar ditahan?”Alan mengangguk pelan saat lampu lalu lintas berubah hijau. Ia kembali menginjak pedal gas, membawa mobil melaju perlahan. "Iya, Sa. Waktu semuanya kacau, Gendis juga ikut ditangkap bersamaan dengan ibu dan ayah tirimu karena keterlibatannya waktu itu. Dia divonis satu tahun. Berarti masih ada sekitar tujuh bulan lagi."Raisa mengepalkan kedua tangannya di atas pangkuan. Amarah dan rasa bersalah bercampur aduk di dalam dadanya. Meskipun ia tahu Gendis ditahan karena sempat membantu ibunya menculik dirinya akibat mendapat ancaman, Raisa sama sekali tidak membenci sahabatnya itu. Ia tahu betul Gendis terpaksa melakukan itu, dan pada akhirnya
Di dalam mobil hitam legam itu, atmosfer mendadak berubah menjadi sangat tegang. Sorot mata ibu kandung Raisa menghunus tajam ke arah kaca mobil Alan.Kenyataan bahwa putri kandung yang dikiranya sudah tewas kini berada tepat di depan matanya—dan kembali bersama Alan—membuat dadanya naik turun menahan geram.Ayah tiri Raisa menyandarkan punggungnya ke jok kulit mobil, mengetukkan jarinya di setir dengan ritme yang lambat namun mengintimidasi. Otak liciknya langsung berputar cepat.Siasat mereka kemarin baru saja sukses besar, bahkan sampai menumbangkan ibu Alan. Namun, kemunculan Raisa yang tiba-tiba ini adalah sebuah variabel tak terduga yang bisa mengancam posisi mereka saat ini."Tenang," ucap pria itu dingin, senyum sinisnya kembali terkembang. "Dia memang masih hidup, tapi dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi sekarang. Alan cuma pemuda yang sedang hancur karena kematian ibunya. Mereka berdua tidak ada apa-apanya dibanding kekuatan kita yang sekarang."Ibu Raisa menoleh, menatap
Keesokan harinya, suasana di rumah duka sudah mulai ramai sejak pukul tujuh pagi. Para tetangga dan kerabat dekat datang silih berganti untuk memberikan penghormatan terakhir. Alan berdiri di dekat pintu masuk, menyalami mereka satu per satu dengan wajah yang tampak begitu lelah dan tatapan mata yang kosong.Di lantai atas, Raisa memilih untuk tetap di dalam kamar, mengamati keramaian itu dari balik tirai jendela yang tersingkap sedikit.Sekitar pukul delapan lewat lima belas menit, sebuah mobil minibus hitam berhenti tepat di depan pagar rumah. Pintu tengah terbuka, dan tiga orang petugas kepolisian berpakaian preman turun terlebih dahulu. Tak lama, sosok pria paruh baya dengan kemeja putih kusut melangkah turun. Kedua tangannya tertutup jaket yang disampirkan di lengan, menyembunyikan kilauan besi borgol yang mengikat pergelangan tangannya."Papa..." gumam Alan pelan.Para pelayat di ruang tengah mendadak senyap saat ayah Alan melangkah masuk ke dalam rumah dengan pengawalan ketat.
Raisa masih terduduk di lantai, menatap Alan dengan pandangan yang perlahan mulai menjernih. Kabut kepanikan yang tadi menguasai kepalanya perlahan terkikis oleh rasa bingung.Ia menyentuh bibirnya yang terasa hangat, lalu beralih menatap Alan yang masih menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangannya.Keheningan di kamar itu mendadak terasa begitu pekat dan canggung. Hanya ada suara helaan napas mereka yang berangsur-angsur normal."Mas Alan..." panggil Raisa lirih. Suaranya kecil, nyaris tenggelam di antara rasa bersalah yang tiba-tiba menjalar di dadanya. Ia sadar, dalam kondisi tidak stabil tadi, ia pun ikut larut dan membalas sentuhan Alan.Alan perlahan menurunkan tangannya. Wajahnya tampak luar biasa pucat, gurat penyesalan tercetak jelas di matanya. Ia tidak berani menatap langsung ke arah mata Raisa. Pandangannya tertuju pada lantai kamar, tepat di sebelah pecahan lampu tidur yang berserakan."Aku yang salah, Raisa. Nggak seharusnya aku kehilangan kendali," ucap Alan, s







