LOGINHari-hari setelah lamaran, berlalu begitu begitu cepat bagi Raynard dan Lira. Mereka mulai mempersiapkan pernikahan yang akan digelar kurang dari dua bulan lagi, sambil tetap menyelesaikan pekerjaan yang makin sibuk. Raynard sendiri harus berangkat ke luar negeri untuk menyelesaikan kontraknya menjadi juri di acara TV. Kontrak itu sudah ditandatangani sebelum ia pulang ke Indonesia. Begitu juga dengan Lira yang harus menyelesaikan tanggung jawabnya di Tanaya Group. Sebenarnya Melinda sudah mengijinkannya berhenti karena sudah ada pengganti Lira. Tapi hati Lira tidak tenang sebelum penggantinya bisa melakukan seperti dirinya. "Kau tidak akan bisa membentuknya hanya dalam satu bulan, Lira. Butuh waktu sampai dia bisa menjadi sepertimu," ucap Melinda. "Tapi aku tidak tenang, Melinda," sahut Lira yang kini sudah sangat akrab dengan sahabat barunya itu. "Kau tahu kalau kau itu sangat sibuk dan detail, asisten barumu harus bisa menghandle semuanya agar kau bisa tenang. Aku tidak mau kes
"Selamat, Lira! Selamat! Oh, aku tidak bisa berkata-kata lagi! Aku terharu sekali!" Mefi langsung menangis haru sambil memeluk Lira begitu Lira menunjukkan cincinnya. Cincin indah dengan berlian yang sama sekali tidak kecil, tapi tetap proporsional. "Terima kasih, Mefi! Aku tidak menyangka semuanya terjadi begitu cepat, tapi aku bersyukur, Mefi. Sungguh, sebelumnya aku tidak pernah memikirkan tentang menikah secepat ini, tapi bersama Raynard, aku mulai memikirkannya. Aku bahagia sekali, Mefi." Mefi yang masih memeluk Lira hanya terus mengangguk, ikut bahagia untuk sahabatnya itu. Keesokan harinya adalah hari yang mendebarkan untuk Lira. Setelah dilamar, ia punya kepastian masa depan dan ia harus mengatakan semuanya pada Melinda. Melinda adalah orang yang sudah sangat baik padanya selama ini dan Melinda harus tahu duluan tentang kabar ini. "Kau yakin tidak mau kutemani bicara dengannya, Sayang? Atau biar aku saja yang menemuinya langsung," seru Raynard saat mengantar Lira ke kant
Untungnya Lisbeth dan Rania sangat tahu apa yang harus dilakukan. Mereka pun langsung mencairkan suasana. "Lira ini orang kepercayaan Melinda, Ayah, Ibu, dia sangat pintar," seru Rania. "Aku juga sangat menyukai Lira, dia sangat baik dan ramah," kata Lisbeth. "Tapi nanti kalau dia sudah menikah dengan Raynard, ada baiknya dia bekerja untuk Skyline saja." Rosano mengangguk. "Itu benar, nanti kau bisa bekerja bersama Tante Camilla saja karena Om sendiri lebih banyak di luar negeri," sahut Rosano yang dengan santai menyebut dirinya Om. "Ah, iya, Pak ... hmm, maksudku ... Om," sahut Lira tegang. "Sudah berapa lama kau bekerja bersama Melinda?" tanya Camilla tiba-tiba. Lira makin tegang. "Dua tahun, Bu. Maksudku ... Tante." Camilla mengangguk sambil menyesap minumannya, seolah tidak masalah dengan panggilan apa pun. "Melinda pasti akan mengerti kalau kau akhirnya harus berhenti dari sana nanti. Ajak dia ke Skyline untuk melihat-lihat dulu, Raynard!" seru Camilla menyiratkan restunya
Lira pikir Raynard bercanda, tapi ternyata Raynard serius mempertemukan keluarga Lira dengan keluarganya. Lira sampai berpesan banyak hal saat memberitahu kedua orang tuanya tentang pertemuan ini.."Jadi orang tuanya tidak banyak bicara, bahkan cenderung dingin. Ayah dan Ibu juga tolong jangan banyak bicara ya. Maksudku ... aku hanya takut kalau kita salah bicara, apalagi mereka itu orang yang sangat kaya, mungkin saja pikirannya tidak sama dengan kita. Oh, aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya." Lira mendesah frustasi. Kalau Lira mengatakan ini sebelum mereka bermaafan, mungkin Dewi akan menganggap anaknya itu sombong. Mentang-mentang mendapat kekasih orang kaya lalu takut orang tuanya akan membuatnya malu.Ya, mungkin Dewi akan berpikir begitu dulu, tapi sekarang, Dewi sangat mengerti maksud Lira dan sama sekali tidak tersinggung. "Kau tenang saja, Lira. Ayah dan Ibu tahu harus melakukan apa. Kami tidak akan bicara yang aneh-aneh kalau tidak diminta." "Ibu, maafkan aku, ak
"Welcome home, Sasha ...." Bayi perempuan mungil Surya dan Sissy akhirnya pulang hari itu dan rumah keluarga mereka begitu ramai, apalagi si kembar David dan Raline juga ada di sana menantikan teman baru mereka. "Adik bayi!" "Adik bayi!" David dan Raline sudah antusias dan melongokkan kepala untuk melihat Sasha. "Oh, lihatlah Sasha Sayang, banyak yang menunggumu!" pekik Sissy. "Sekali lagi selamat, Sissy! Selamat!" Rania terus memeluk sahabatnya dan tidak terhitung berapa kali ia menangis melihat Sissy menggendong bayinya. "Haha, ini membahagiakan tapi kau terus menangis, Rania." "Aku hanya ingat bagaimana kita dulu bekerja bersama di Skyline. Dan persahabatan itu masih sama sampai sekarang kita sudah punya anak." "Oh, kau membuatku ingin ikut menangis, Rania. Kau adalah sahabat terbaikku, Rania!" Sissy memberikan Sasha pada ibunya dan ia pun memeluk Rania juga, sebelum mereka mulai membicarakan perut Sissy yang menggelambir setelah melahirkan. "Apa aku bisa seksi lagi na
"Oek ... oek ...." Setelah drama keganasan sang istri yang membuat Surya terus meringis, akhirnya suara tangisan bayi itu pun terdengar.Seketika rasa sakit yang Sissy alami tadi tidak berarti lagi melihat bayi mungil itu diangkat oleh dokter. Begitu juga Surya. Seketika rasa sakit disiksa oleh Sissy tadi juga terbayar begitu melihat bayi mereka akhirnya lahir juga. "Selamat, Bu, Pak. Bayinya perempuan, lengkap, dan sangat sehat," kata sang dokter sumringah. Air mata langsung mengalir di wajah Surya dan Sissy. "Surya ...." "Anak kita, Sissy. Anak kita ...." "Iya, Surya. Aku ternyata bisa, aku bisa melahirkannya secara normal. Tadi aku takut sekali, Surya. Tapi aku bisa ...." "Kau hebat, kau luar biasa, Sayang." Surya dan Sissy mendadak melow dan akhirnya berpelukan di sana sambil menatap bayi mereka dengan penuh haru. Sementara di luar ruangan, semua orang yang mendengar bahwa Sissy sudah melahirkan langsung bersorak bahagia. "Syukurlah! Cucu kita sudah lahir, Bu." Ibu Sissy
"Apa kakinya patah, Lucas? Mendadak aku merasa bersalah." Begitu Lucas dan Rania tiba di mobil, Rania baru berani bertanya pada suaminya itu. Tentu saja hati Rania masih sangat lembut, tapi ia sekarang mulai pandai menjaga sikapnya, sama seperti suaminya. "Hanya retak, tidak separah itu. Nanti ju
Saat Rosano mengatakan akan mengadakan pesta besar untuk ulang tahun si kembar, ia tidak berbohong karena pesta itu benar-benar besar dan meriah layaknya pesta pernikahan. Ballroom utama Skyline Grand Hotel malam itu berubah menjadi negeri dongeng kecil.Langit-langit tinggi dihiasi instalasi balon
"Tante Dita ... Kak Anggun ...." Rendy benar-benar menganga melihat kedua wanita itu. Dita dan Anggun, keluarga Elvan. Mereka berdiri di depan pintu dengan wajah yang bercucuran air mata. "Rendy, apa kabar? Senang bertemu denganmu lagi," seru Dita dengan sungguh-sungguh. Dita sempat melarang Elv
Rania lemas, ia tidak kuat berdiri tegak. Jantungnya yang sudah berdebar kencang memacu makin kencang mendengar ternyata Lucas punya anak lain. Bahkan tubuhnya sudah gemetar sekarang di pelukan Lucas. Namun, ekspresi Lucas tetap sama, tetap datar, seolah tidak terpengaruh sama sekali dengan kabar







