MasukDinda melajukan motornya pulang malam itu. Ia sekantor dengan Ruli dan mereka pulang di jam yang sama. Sudah lama Dinda menyukai Ruli, tapi akhir-akhir ini, Dinda mulai merasa lelah. Ia memang bukan orang kaya sedangkan Ruli menyukai wanita kaya. Dinda mulai pasrah, walaupun hatinya masih belum berubah. Karena itu, saat melihat Ruli mendadak diserang oleh dua pria yang entah siapa, hati Dinda bergejolak. Selain memang hatinya yang baik, tapi yang di sana adalah pria yang ia sukai. Dinda ketakutan dan sangat cemas, apalagi ia melihat bagaimana para pria itu memukuli Ruli. Dinda menoleh ke sekeliling dan tidak ada siapa pun di sana. Ia sempat menelepon polisi, tapi entah itu nomor yang benar atau tidak karena tidak ada yang mengangkatnya. Dan Dinda tidak bisa menunggu. Ia pun akhirnya mengambil keputusan untuk menyelamatkan Ruli. Bukan agar dicintai oleh pria itu, tapi ia tidak akan tega membiarkan Ruli diserang. Dinda masih berpikir para pria itu adalah perampok. Tin tin tin tin .
Dua minggu berlalu dan dua minggu itu mengubah banyak hal di antara Raynard dan Lira.Hubungan mereka tidak bisa disebut sebagai pasangan. Bahkan, setiap kali Raynard mencoba menyinggung hal itu, Lira akan langsung menghindar atau mengganti topik. Namun, jika ditanya apakah mereka hanya teman biasa, jawabannya juga tidak sesederhana itu.Karena kenyataannya, mereka sudah terlalu dekat untuk sekadar disebut teman.Raynard sering menjemput Lira sepulang kerja, walaupun Lira selalu bilang tidak perlu. Mereka makan bersama, kadang hanya di warung sederhana, kadang di tempat yang sedikit lebih layak. Raynard tidak pernah memaksakan tempat mewah lagi setelah tahu Lira tidak nyaman.Lira sendiri mulai terbiasa dengan kehadiran Raynard. Ia tidak lagi terlalu gugup setiap kali pria itu mendekat. Ia tidak lagi kabur setiap kali Raynard menggoda. Bahkan beberapa kali, Lira bisa membalas candaan Raynard, walaupun tetap dengan wajah yang memerah.Namun satu hal yang tidak berubah, Lira tetap belum
"Tidak apa, aku juga salah. Seharusnya aku bisa menolaknya. Maafkan aku." Raynard begitu lega saat akhirnya membaca balasan pesan dari Lira pagi itu. Ia pikir Lira marah padanya, tapi ternyata tidak. Raynard pun membalasnya lagi dan mengajak Lira makan siang, tapi Lira menolaknya. Kalau tidak marah, seharusnya Lira menerima, tapi mengapa ia malah menolaknya. "Maaf, aku ada rapat siang ini, aku tidak keluar, aku makan di kantor saja," tulis Lira. "Bagaimana kalau nanti malam, Lira?" balas Raynard lagi penuh harap. "Maaf, aku tidak bisa malam ini. Besok aku hubungi lagi ya." Lira mengembuskan napas panjang setelah mengirim pesannya. Ia menggigit bibirnya. Bukan maksudnya menghindari Raynard lagi, tapi ia malah belum siap bertemu dengan pria itu lagi setelah ciuman singkat di mobil itu. Lira masih canggung dan setiap mengingat ciuman itu, jantung Lira memacu tidak karuan. Namun, bukan Raynard namanya kalau ia menyerah dan menjauh. Semakin ia dijauhi, ia akan semakin mendekat. Ka
Raynard tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Ia sudah ingin mencium Lira sejak kemarin, tapi ia menahan diri. Bahkan ia sudah bertekad tidak akan melakukannya sebelum Lira resmi menerimanya. Namun, ia tidak tahan lagi. Begitu bibirnya bertemu dengan bibir Lira, hasrat Raynard makin mengentak. Ia terdiam sejenak, membiarkan bibir mereka menempel, seolah meminta ijin pada Lira. Dan wanita itu tetap diam. Diamnya Lira, Raynard anggap sebagai persetujuan, sebelum akhirnya Raynard memagut bibir manis itu dengan super lembut. Lira yang merasakannya pun tersentak. Seolah akhirnya sadar, Lira sontak mendorong dada Raynard menjauh. "Raynard, apa yang kau lakukan?" pekiknya dengan tatapan yang goyah dan panik. Bahkan dadanya naik turun saking tersengal. "Ah, Lira, maafkan aku ... aku ...." "Aku turun dulu. Itu ... aku akan meminta Mefi membantu menurunkan parcelnya!" Buru-buru Lira keluar dan memanggil Mefi. Bahkan Raynard belum sempat mengejar untuk menjelaskan apa pun, tapi Mefi
"Hmm, sekali lagi terima kasih parcelnya, itu ... besar sekali, Grandma," seru Lira yang sejak tadi tidak bisa memalingkan tatapannya dari parcel buah yang tinggi, lebar, dan terlihat berat itu."Haha, begitulah Grandma. Prinsipnya lebih baik lebih daripada kurang. Dan sepertinya buahnya lebih berat dibanding kau sendiri, Lira," celetuk Lucas santai sambil tersenyum.Lisbeth terkekeh. "Tidak apa-apa. Kalau berat, suruh Raynard yang bawa. Memangnya dia ada gunanya selain memasak?""Grandma!" protes Raynard tidak terima. Rania tertawa kecil. "Raynard memang sering jadi kurir kalau di rumah, Lira. Jadi tidak usah sungkan."Lira yang tadinya masih tegang, perlahan ikut tersenyum. Bahkan tanpa sadar, bahunya yang sempat kaku mulai mengendur. Ia pun duduk di kursinya sambil memeluk Raline bersamanya. "Kami sudah pesan beberapa menu. Kalau ada yang tidak cocok, bilang saja ya," ujar Rania lembut."Iya, terima kasih, Bu," jawab Lira sopan."Rania saja," koreksi Rania sambil tersenyum. "Kita
Raynard bangkit dari sofanya dan melangkah perlahan menghampiri Lira. "Kau sudah selesai?" tanyanya lembut. Tatapan Lira goyah. "Kau ... kau sudah menunggu berapa lama?" Senyum Raynard kembali merekah. "Tidak lama, tapi kau yakin sudah selesai? Kalau belum, kau bisa menyelesaikannya dulu, aku bisa menunggumu lagi." "Tidak usah menunggu lagi, aku sudah selesai. Aku ... maaf aku tidak melihat pesanmu tadi." Raynard mengangguk. "Tidak apa, Lira. Aku tahu kau sibuk." Suara Raynard terdengar tetap lembut, seolah pria itu sangat tulus, bukan hanya sekedar basa-basi. Padahal seharusnya Raynard lebih sibuk dari Lira, tapi malah Lira yang membuat pria itu menunggu. "Jadi ... kita bisa pergi sekarang kan?" tanya Raynard lagi. Lira tidak bisa menolak lagi, ia terlalu sungkan. "Hmm, baiklah. Kita ... hanya makan malam kan? Anggap saja ini permintaan maafku karena membuatmu menunggu. Aku ... aku yang traktir." Raynard terdiam sejenak, ia belum memberitahu Lira kalau mereka akan makan mal
"Aku tidak percaya Pak Yara juga tahu tentang Rania. Bahkan anaknya suka menonton video Rania. Apa benar dia sehebat itu?" Rosano pulang larut malam hari itu dan mendapati Camilla yang belum tidur, ia akhirnya bercerita juga. Padahal sebelumnya, ia tidak pernah membahas tentang Rania sama sekali d
Camilla masih membelalak begitu lebar sampai matanya sakit. Bola mata Camilla bergetar. Wajahnya yang tadi bengis dan mengintimidasi mendadak pucat seolah seluruh darahnya mengalir turun ke kaki.Bukan karena teh yang tumpah, bukan karena cek dan sertifikat yang basah, melainkan karena wajah pelay
"Kita sudah tiba, turunlah!" seru Camilla. Terlihat asisten Camilla sudah keluar duluan dari mobil. Ia membuka pintu untuk Camilla, sebelum berlari memutar dan membuka pintu untuk Rania juga. Camilla turun duluan dan untuk sesaat, Rania tidak tahu harus ikut keluar atau menunggu, padahal jelas Ca
"Aku berjanji akan mencintainya dan menjaganya dengan seluruh hidupku, Ibu. Aku tidak akan membiarkan dia sendirian dan aku akan terus bersamanya melawati apa pun juga. Terima kasih sudah menyerahkannya padaku, Ibu," seru Lucas pada Yetty dengan air mata yang berlinang. Yetty mengangguk. "Ibu perca







